0% found this document useful (0 votes)
47 views11 pages

Jurnal Analisis Permintaan Pangan Di Indonesia: Jurnal Ilmiah Peuradeun June 2020

This document summarizes a paper that analyzes food demand in Indonesia using survey data from the 1990s. The paper estimates food demand parameters and elasticities for different groups using an Almost Ideal Demand System model. The results show that over 1987-1990, the share of spending on food declined relative to non-food, indicating rising welfare. However, urban households saw greater increases in welfare than rural households. Food expenditure shares for protein-rich foods like fish, meat and eggs were also higher in urban areas. The analysis found that price elasticities for some foods like cereals and tubers decline with higher incomes, while income elasticities for protein sources increase with income.

Uploaded by

Dinda
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
47 views11 pages

Jurnal Analisis Permintaan Pangan Di Indonesia: Jurnal Ilmiah Peuradeun June 2020

This document summarizes a paper that analyzes food demand in Indonesia using survey data from the 1990s. The paper estimates food demand parameters and elasticities for different groups using an Almost Ideal Demand System model. The results show that over 1987-1990, the share of spending on food declined relative to non-food, indicating rising welfare. However, urban households saw greater increases in welfare than rural households. Food expenditure shares for protein-rich foods like fish, meat and eggs were also higher in urban areas. The analysis found that price elasticities for some foods like cereals and tubers decline with higher incomes, while income elasticities for protein sources increase with income.

Uploaded by

Dinda
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 11

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/342038704

JURNAL ANALISIS PERMINTAAN PANGAN DI INDONESIA

Article  in  Jurnal Ilmiah Peuradeun · June 2020

CITATIONS READS

0 133

1 author:

Jhon Mejer Purba


Bandung Institute of Technology
12 PUBLICATIONS   4 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

JURNAL ANALISIS PERMINTAAN PANGAN DI INDONESIA View project

PENGARUH PASAR MONOPOLI DI INDONESIA View project

All content following this page was uploaded by Jhon Mejer Purba on 09 June 2020.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


ANALISIS PERMINTAAN PANGAN DI INDONESIA

𝐓𝐮𝐦𝐩𝐚𝐤 𝐌𝐚𝐫𝐢𝐬𝐢 𝐒𝐢𝐡𝐨𝐭𝐚𝐧𝐠 𝟏


𝐑𝐨𝐡𝐨𝐭 𝐉𝐞𝐤𝐤𝐢 𝐌𝐚𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐠 𝟐
𝐉𝐨𝐧𝐚𝐭𝐚𝐧𝐝 𝐆𝐢𝐥𝐛𝐞𝐫𝐝 𝐏𝐚𝐧𝐝𝐢𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝟑
𝐀𝐝𝐞𝐥𝐢𝐚 𝐒𝐲𝐚𝐩𝐢𝐭𝐫𝐢 𝐍𝐚𝐬𝐮𝐭𝐢𝐨𝐧𝟒

Universitas Negeri Medan


Surel : [email protected], [email protected],

Abstrak
This paper is aimed at analysing food demand system in Indonesia using the 1990’s
National Socio-Economic Survey (SUSENAS) data. Using an Almost Ideal Demand System
(AIDS), the food demand parameter sand elasticities were estimated bothin aggregated and
disaggregated levels, that is an urban-rural and house hold’s income disaggregafion, respectively.
There sults show that during 1987-1990 period, the share of food expenditure in general has been
declining relative to non-food, in dicating an increasing welfare of the society. Never the less,
the increase in welfare appears to been joyed by urban citizen than those living in the rural
areas. This conclusionisal so supported by the fact that the expenditure shares on protein-
food (fish, meat, eggs, milk, and legumes) in urban area are higher than those in the rural
area. The analysis found that : (1) The price demand elasticity for a number of food groups,
including cereals and tuber, tend to decline as income increasing, (2) The income elasticity of
demand for cereals is low eras income levels get higher, and the opposite is true for the protein-
sources of food. There sults of this analysis is there for econfirm that increasing income of the
society will go along with the promotion of food diversification in consumption.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia adalah pangan, karena pangan
merupakan sumber energi yang diperlukan manusia untuk mempertahankan hidup. Oleh
karena itu adalah wajar apabila di banyak negara pemerintah memberi perhatian yang cukup besar
pada masalah yang berkaitan dengan pangan, baik dari sisi penawaran maupun permintaan. Hal-
hal yang berkaitan dengan aspek penawaran dan seringkali mendapat perhatian utama antara
lain adalah tingkat harga, produksi, ketersediaan pangan dan distribusinya kepada konsumen.
Sedangkan dari sisi permintaan, berbagai aspek yang dijadikan indicator oleh pengambil
keputusan antara lain adalah tingkat pendapatan konsumen, tingkat harga pangan serta respon
konsumen terhadap permintaan pangan tersebut apabila terjadi perubahan tingkat pendapatan dan
atau perubahan harga dari pangan tersebut.
Permasalahan pangan di Indonesia sangat relevan untuk dikaji, hal ini mengingat bahwa
pangsa (share) pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga pada tahun
1990 masih cukup tinggi yaitu sekitar 67 persen dan 5l persen masing- masing untuk rumah
tangga pedesaan dan perkotaan (Biro Pusat Statistik, 1990). Sebagai pembanding, pangsa
pengeluaran pangan rumah tangga di Amerika Serikat dan Jepang pada tahun 1975 masing-
masing adalah 12,76 persen dan 22,28 persen (Theil dan Clements, 1987 datum Pakpahan,
A. dkk., 1993).
Dengan latar belakang seperti diuraikan diatas, beberapa hal yang menarik untuk dikaji
antara lain adalah bagaimana alokasi pangsa pengeluaran pangan tersebut terdistribusikan
diantara berbagai kelompok pangan yang dikonsumsi rumah tangga? Adakah perbedaan
distribusi pangsa pengeluaran pangan bagi rumah tangga didaerah pedesaan dan perkotaan
dan bagaimana keragaannya bagi rumah tangga dengan tingkat pendapatan yang berbeda ?
Apabila terjadi perubahan harga maupun tingkat pendapatan rumah tangga bagaimana
respon permintaan rumah tangga terhadap pangan yang dikonsumsi tersebut? Adakah
perbedaan respon tersebut diantara rumah tangga didaerah pedesaan dan perkotaan serta di
antara berbagai kelas pendapatan?

Tujuan dan Kegunaan

Penelitian bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang telah dirumuskan diatas.
Secara eksplisit tujuan penelitian ini adalah :
1) Mengidentifikasi alokasi pangsa pengeluaran pangan dari berbagai kelompok
makanan yang dikonsumsi rumah tangga;
2) Menelaah alokasi pangsa pengeluaran tersebut bagi rumah tangga didaerah pedesaan
dan perkotaan serta rumah tangga dengan tingkat pendapatan yang berbeda;
3) Menduga sistem permintaan pangan, elastisitas permintaan serta elastisitas
pendapatan rumah tangga.
Hasil kajian tersebut diharapkan berguna bagi para pengambil keputusan untuk dijadikan
indikator dalam merumuskan kebijakan di bidang pangan.

METODE PENELITIAN
Cakupan Analisis
Sesuai dengan tujuan penelitian, analisis ditujukan untuk menghitung pangsa
pengeluaran pangan, sistem permintaan pangan, elastisitas permintaan, serta elastisitas
pendapatan dari masing-masing kelompok pangan (rincian pengelompokan jenis makanan
disajikan pada Tabel Lampiran I ). Analisis dilakukan untuk rumah tangga secara agregat
(nasional), daerah pedesaan, daerah perkotaan serta menurut kelas pendapatan yaitu kelas
pendapatan rendah, sedang, dan tinggi. Analisis semacam ini telah banyak dilakukan
(Kuntjoro, 1984; Daud, 1986; Rachmat dan Erwidodo 1993). Namun demikian penelitian
terdahulu menggunakan data SUSENAS sebelum 1990 dan atau meng- analisis kelompok
pangan yang lebih agregat atau untuk jenis-jenis komoditi tertentu.
Metode Analisis
Penghitungan pangsa pengeluaran masing-masing kelompok pangan dihitung terhadap
total pengeluaran untuk makanan. Criteria Bank Dunia digunakan untuk mengelompokan
rumah tangga ke dalam tiga kelas pendapatan berdasarkan sebarannya. Setelah diranking,
kelompok rumah tangga pendapatan rendah adalah 40 persen sampel pendapatan terendah,
kelompok pendapatan tinggi adalah 20 persen pendapatan tertinggi dan sisa diantaranya
adalah kelas pendapatan sedang. Dalam analisis, tingkat pendapatan diproksi dengan tingkat
pengeluaran rumahtangga.
Untuk menduga system permintaan pangan, elastisitas permintaan serta elastisitas
pendapatan rumah tangga digunakan model permintaan Almost Ideal Demand System
(AIDS). Model ini dikembangkan oleh Deaton dan Muellbuer (1980) dan telah banyak
diaplikasikandi Indonesia, diantaranya Suryana, (1986) ; Daud (1983) ; Rachmat dan
Erwidodo (1993). Sementara itu, Blanciforti dan Green (1983) menggunakan model tersebut
untuk berbagai kelompok pangan di Amerika Serikat. Sedangkan Budiono (1978) menelaah
elastisitas permintaan untuk berbagai barang di Indonesia. Kelebihan model AIDS antara
lain adalah cukup fleksibel dan dapat digunakan untuk menguji restriksi fungsi permintaan
seperti simetri, homogenitas dan "adding up". Deatondan Muellbauer (1980) seperti dikutip
oleh Rachmat dan Erwidodo (1993) menurunkan model AIDS dari fungsi biaya sebagai
berikut :
lOg C(U,}3) + Z k k ION Pk + 2ZkZjYkj lOg ) lOgPj + u Pk k (1)
Dengan menggunakan Shephard Lemma [c(u,p)/Pt] = Qi diperoleh:
jp PiQi Pi C 8logc
M c(u,p) Pt 8logPi

Wi = or + ZYijlogPj + §iu§onkPk§k ………………………………… (3)


dimana : ?2 (Yij + Yji) – Yjj

Dari hubungan dualitas pada permintaan dapat diperoleh fungsi utilitas tidak langsung.
Dengan memasukkan fungsi utilitas tidak langsung ke persamaan (3) diperoleh bentuk
fungsi "share" (W;) sebagai berikut :
Wi = oi + ZjYijlogPj + âilog (M) ………………………………… (4)
Dimana P adalah pendapatan yang dibagi oleh indeks harga P.
Persamaan (4) menyajikan system fungsi permintaan yang konsisten jika memenuhi restriksi-
restriksi berikut :
Agregasi Engel/adding up : £ti - I j ZJ{j - 0; (6)
Melalui sifat agregasi/adding up berarti bahwa penjumlahan dari permintaan
merupakan pengeluaran. Sifat homogenitas berarti permintaan adalah homogen berderajat
nol dalam harga dan dalam pengeluaran. Sedangkan sifat simetri berarti pula penurunan harga
silang daripermintaan adalah simetri. Disamping itu teori perilaku konsumen juga bersifat
"weak separability" (Leontief, 1947 dalam Teklu dan Johnson 1980). Melalui sifat ini suatu
gugus komoditi dapat disekat menjadi anak gugus yang diasumsikan memiliki beberapa ciri
umum. Setiap anak gugus tersebut dapat terdiri dari sejumlah komoditi. Selanjutnya bila indeks
Stonelog P*= ZbWklOgPr diterapkan pada persamaan (4), akan didapat:
Wi(p,x) = eg + ZYijlogPj + §I (M/P)
Fungsi ini dikenal sebagai aproksimasi linear dari AIDS.
Pendugaan parameter model AIDS dilakukan dengan membedakan data agregat (nasional),
desa, kota, kelompok pendapatan rendah, sedang, dan tinggi. Perlu dicatat bahwa nilai elastisitas
pengeluaran yang diperoleh dari hasil perhitungan dengan model AIDS tersebut merupakan
elastisitas pengeluaran dari masing-masing kelompok makanan terhadap total pengeluaran
pangan dan hasil estimasi diduga bias keatas. Untuk memperoleh besaran elastisitas
pengeluaran dari masing-masing kelompok makanan terhadap total pengeluaran rumah
tangga, nilai elastisitas hasil perhitungan dari model AIDS dikoreksi (dikalikan) dengan nilai
elastisitas pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga (r{F).
Elastisitas pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga diduga melalui
model logaritma linear sebagai berikut :
In Yp = a + blnYT
Dimana :
Yp = total pengeluaran pangan
YT = total pengeluaran rumah tangga
Elastisitas pengeluaran kelompok pangan tertentu terhadap total pengeluaran rumah
tangga (elastisitas pendapatan) dihitung berdasar rumus berikut :

Dimana :
9iT = elastisitas pendapatan kelompok makanan ke-i.
rlF = elastisitas pengeluaran pangan terhadap total pengeluara rumah tangga.
rJi= elastisitas pengeluaran kelompok makanan ke-i terhadap total pengeluaran pangan
(hasil analisis dari model AIDS)

Data
Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data SUSENAS 1990 dari Biro Pusat
Statistik berupa data konsumsi dan pengeluaran rumah tangga. Pengolahan data dilakukan
terhadap seluruh contoh rumah tangga, dengan melakukan pengelompokan beberapa rumah
tangga menjadi satu Primary Samplfing Unit (PSU). Dengan demikian sebagai unit contoh
bukan lagi rumah tangga melainkan PSU. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa tidak
semua rumah tangga contoh mengkonsumsi semua komoditas yang dianalisis. Rachmat dan
Erwidodo (1993) menyimpulkan bahwa pendugaan model AIDS dengan menggunakan PSU
menghasilkan dugaan yang lebih sesuai dengan teori permintaan dibandingkan dengan
pemakaian unit analisa rumah tangga.

HASIL ANALISIS

Pangsa Pengeluaran Pangan


Sebelum menelaah kontribusi masing-masing kelompok makanan terhadap total
pengeluaran pangan, terlebih dahulu diberikan gambaran tentang pangsa pengeluaran pangan
dan non pangan bagi total rumah tangga contoh SUSENAS 1990 (Tabel 1). Dari Tabel 1
terlihat bahwa baik secara agregat maupun berdasarkan daerah dan kelas pendapatan, pangsa
pengeluaran pangan masih menunjukan porsi yang cukup besar (rata- rata lebih dari 50 persen
pengeluaran rumah tangga dialokasikan untuk pengeluaran pangan). Apabila pangsa
pengeluaran pangan dijadikan indikator tingkat kesejahteraan, data pada tahun 1990
dibandingkan dengan tahun 1987, memperlihatkan bahwa secara agregat terjadi penurunan
pangsa pengeluaran pangan. Hal ini menunjukan adanya peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Namun demikian, peningkatan kesejahteraan tersebut banyak dinikmati oleh
penduduk kota, ditunjukkan oleh pangsa pengeluaran pangan di kota yang menurun dari sekitar
52 persen di tahun 1987 menjadi sekitar 51 persen di tahun 1990. Sedangkan rumah tangga di
pedesaan secara relatif tidak menikmati peningkatan kesejahteraan tersebut karena pangsa
pengeluaran pangan tidak menurun selama periode 1987-1990 bahkan ada kecenderungan
sedikit meningkat. Namun demikian apabila dilihat dari peningkatan pendapatan per kapita
ternyata di desa peningkatannya lebih besar dari pada di kota (34,4 persen di desa dan 31,8
persen di kota). Hal ini memberikan indikasi bahwa walaupun peningkatan pendapatan per
kapita di kota lebih rendah namun tingkat kesadaran dan pengetahuan akan gizi serta
diversifikasi pangan penduduk kota lebih baik, terlihat dari realokasi konsumsi penurunan
pangan untuk dialokasikan ke non pangan maupun antar jenis pangan.

Tabel 1. Pangsa pengeluamn pangan dan non pangan rumah tnngga SUSENAS tnhun 1987 dan 1990
Jenis Indonesia Kota Kelas pendapatnn•)

Pengeluaran
1987 1990 1987 1990 1987 1990 Rendah Sedang Tinggi

Pangan 61,28 60,36 67,21 67,41 52.36 51.40 73,23 59,60 38,22
Non Pangan 38.72 39,64 32,79 32,59 47,64 48.60 26.77 40,40 61,68

Toul ioo lfD lfD HD in ion inn l on


Rpfknp/bln 22125 30271 18073 24296 33413 44029 11695 43884 139877
ñ pcningkaun 36,8 34,4 31,8 - -

Keterangan: •) Publikasi SUSENAS 1990

Disamping itu, dari Tabel 1 juga terlihat bahwa di daerah pedesaan pangsa penge-
luaran pangan lebih tinggi dari pada daerah perkotaan. Sedangkan apabila ditelaah ber-
dasarkan kelas pendapatan, terlihat bahwa pangsa pengeluaran pangan semakin rendah
dengan semakin tingginya kelas pendapatan. Hal ini sejalan dengan hukum Working
(Working, 1943 dalam Pakpahan, A. dkk. 1993) yang menyatakan bahwa pangsa penge-
luaran pangan memiliki hubungan yang negatif dengan pengeluaran rumah tangga. Dengan
perkataan lain, pangsa pengeluaran pangan menurun secara proporsional sesuai dengan
logaritmik kenaikan pengeluaran rumah tangga.

Studi kasus dua desa di Jawa Barat yang dilakukan oleh Sajuti (1990) menemukan
keadaan yang berlawanan dengan pernyataan diatas. Hasil penelitian justru menyimpulkan
bahwa tingkat pendapatan total rumah tangga mempunyai hubungan positif dengan
pengeluaran pangan. Namun demikian, pengeluaran pangan dalam studi Sajuti (1990)
terbatas pada pengeluaran untuk beras, daging, ikan, telur, tahu, gula dan minyak goreng.

Table 2. Pangsa pengeluaran masing-rinsing kelompok makanan terhadap total pengeluaran


maka iunber- dasur &crah dan kelas pendapatan, l990

Kelas Pendapatan
Kelompok Makanan Desa Kota
Indonesia Rendah Sedang Tinggi
1. Padi-padian 0.32495 0.349IXI 0.25657 0.39113 0.31389 0.21518
2. Umbi-umbian 0Tl24384 0.02415 0.01138 0.02911 0.01706 0.01223
3. Ikan ) 0.08437 0.09292 0.09846 0.07990 0.10149 0.10851
4. Daging / 0.04967 0.04556 0.05931 0.03970 0.04693 0.06901
5. Telur & Susu 0.03988 0.03242 0.06024 0.02609 0.03942 0.06622
6. Sayuran 0.09047 0.09206 0.08594 0.09309 0.08976 0.08666
7. Kacang kacangan 0.03990 0.03948 0.04100 0.04262 0.03847 0.03770
8. Buah-buahan 0.04982 0.04764 0.05595 0.04021 0.05143 0.%544
9. Lemak 0.04837 0.05040 0.04260 0.05251 0.04760 0.HI65
10. Bahan minuman 0.%276 0.06425 0.05853 0.06627 0.06253 0.05623
11. Bumbu-bumbuan 0.03376 0.03480 0.03078 0.03470 0.03421 0.03097
12. Makanan lain 0.01222 0.01158 0.01373 0.01137 0.01120 0.01531
13. Makanan & mi- 0.07594 0.%188 0.11391 0.06033 0.07576 0.12347
numan jadi
14. Tembakau & Sirih 0.07729 0.07711 0.07775 0.07313 0.08232 0.07553

Apabila ditelaah lebih rinci pangsa pengeluaran pangan tersebut terhadap berbagai
kelompok makanan yang dikonsumsi rumah tangga, terlihat bahwa kelompok padi-padian
(dimana beras termasuk didalamnya) memiliki kontribusi yang paling besar yaitu
meliputi 32 persen dari total pengeluaran pangan (Tabel 2), sedangkan kelompok jenis
makanan yang lainnya masing-masing memiliki pangsa kurang dari 10 persen terhadap
total pengeluaran pangan. Data SUSENAS 1981 yang dianalisis oleh Daud (1986)
memperlihatkan hasil yang tidak jauh berbeda yakni 32,3 persen pengeluaran makanan
dialokasikan untuk kelompok padi/ubi. Hal serupa juga terlihat bagi rumah tangga
didaerah kota maupun desa dan bagi ketiga kelompok kelas pendapatan. Namun
demikian apabila pengelompokan rumah tangga diamati lebih lanjut terdapat
kecenderungan bahwa proporsi pengeluaran kelompok padi-padian rumah tangga di kota
lebih rendah dari pada di desa, sedangkan proporsi pengeluaran ikan, daging, telur dan
susu,kacang- kacangan, buah-buahan serta makanan dan minuman jadi bagi rumah
tangga di kota relatif lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tangga di desa. Hasil
serupa ditemukan pula oleh Kuntjoro (1984) dan Daud (1986).

Apabila analisis dibedakan berdasarkan tingkat pendapatan, terlihat bahwa :

1) Semakin tinggi kelas pendapatan, pangsa pengeluaran padi-padian semakin


rendah, hal serupa terjadi untuk pangsa pengeluaran umbi-umbian, sayuran serta
minyak dan lemak,
2) Pangsa pengeluaran kelompok ikan, daging, telur dan susu, kacang- kacangan,
buah- budhan serta makanan dan minuman jadi terlihat semakin besar dengan
semakin tinggi- nya kelas pendapatan.

Tabel 3. Elastisitas permintaan (harga sendiri) dari masing-masing kelompok makanan berdosar
daerah dan kelas pendapatan

lndonesia Desa Kota Kelas Pendapatan


Rendah Sedang Tinggi
1. Padi-padian -0.57338 -0.64020 -0.51166 -0.67251 -0.77874 -0.56149
2. Umbi-umbian -I.(O346 -0.97521 -0.89995 -1.00961 -0.85556 -0.84563
3. lkan -0.66497 -0.59516 -0.83055 -0.70052 -0.66485 -0.72115
4.Daging -0.95754 -1.07608 -0.77354 -1.12539 -1.10711 -0.81177
5.Telur& Susu -0.57335 -0.68904 -0.56878 -0.76d74 -0.70RJ0 -0.62917
6.Sayuran -0.94803 -0.95424 -0.91140 -0.95517 -0.96300 -0.89785
7.Kacang-kacangan -1.22032 -1.22254 -1.19025 -1.22775 -1.09919 -1.04286
8.Buah-buahan -0.64736 -0.62921 -0.63583 -0.75434 -0.72444 -0.65480
9.Minyak&Lemak -1.04488 -1.04618 -1.08333 -1.03684 -1.12872 -0.94677
10.Bhn minuman -1.03158 -1.%326 -0.95467 -1.03690 -1.07217 -0.99269
11. Bumbu-bumbuan -0.85917 -0.83418 -0.89887 -0.87193 -0.84327 -0.85887
12. Makanan lain -1.04630 -1.03468 -1.06345 -1.17055 -0.98486 -1.02897
13. Makanan jadi -1.02862 -1.04689 -0.99263 -1.07041 -1.06560 -1.01391
14. Tembakau & Rokok -0.71815 -0.70731 -0.2£i6l0 -0.73525 -0.44401 -1.29566

Analisis Parameter Dugaan


Dengan model AIDS hasil pendugaan fungsi permintaan pangan rumah tangga disajikan dalam
Tabel Lampiran 2 sampai dengan Tabel Lampiran 4. Dari nilai dugaan parameter dapat
dikemukakan bahwa hampir semua nilai dugaan parameter menunjukan kontribusi yang nyata
terhadap model, hal ini ditunjukkan oleh tingkat kepercayaan 99 persen (a = 0.01), sebagian
kecil saja nilai dugaan parameter yang tidak nyata atau nyata pada taraf n = 0.05. Hal ini
memperlihatkan bahwa harga dan tingkat pendapatan merupakan factor penjelas dari perubahan
pangsa pengeluaran dari setiap komoditas yang dikonsumsi atau dengan perkataan lain, pangsa
pengeluaran konsumsi untuk komoditas merupakan fungsi dari harga seluruh komoditas yang
dikonsumsi dan pendapatan rumah tangga.

Elastisitas Permintaan
Seperti telah diungkapkan dalam metoda analisis bahwa dari koefisien dugaan
parameter sistem permintaan dapat dihitung nilai elastisitas permintaan dari masing- masing
kelompok pangan. Hasil perhitungan tersebut disajikan pada Tabel 3. Dari Tabel 3 terlihat
bahwa elastisitas permintaan harga sendiri memiliki tanda negatif, hal ini sesuai dengan teori
permintaan yang menurun dengan makin tingginya tingkat harga komoditi yang
bersangkutan.
Apabila analisis dibedakan menurut daerah, terlihat bahwa hampir semua kelompok
makanan, permintaan di daerah desa relatif lebih elastik dibanding di daerah kota, kecuali
ikan, buah-buahan serta minyak dan lemak. Hal ini menunjukan bahwa respon rumah tangga
didaerah pedesaan terhadap permintaan pangan (apabila terjadi perubahan harga pangan)
relatif lebih besar dari pada rumah tangga di daerah kota.
Dengan pengelompokan bahan makanan yang lebih agregat pada data SUSENAS 1981
(yaitu padi/ubi, ikan, daging, telur/susu, kacang- kacangan/sayuran/buah-buahan dan
kelompok lainnya), Daud (1986) menemukan nilai elastisitas harga sendiri dan relatif lebih
rendah dan nilainya berada antara kedua atau ketika nilai elastisitas kelompok pangan hasil
analisis pada Tabel 3. Sebagai contoh nilai elastisitas kelompok padi/ ubi yang diperoleh
oleh Daud (1986) sebesar 0.93 ; 0.97 dan 0.76 masing-masing untuk Indonesia, kota dan
desa. Sementara itu hasil analisis data SUSENAS 1990 nilai elastisitas (harga sendiri) untuk
kelompok padi-padian masing-masing sebesar 0.57, 0,51 dan 0,64 untuk Indonesia, kota dan
desa, sedangkan untuk kelompok umbi-umbian nilainya 1.00; 0.90 dan0.97.
Elastisitas permintaan pangan pada ketiga kelas pendapatan menunjukan
kecenderungan sebagai berikut :
1) Untuk kelompok umbi-umbian, daging, telur & susu, kacang-kacangan, dan
makanan jadi relative semakin kurang elastic dengan semakin tingginya kelas
pendapatan,
2) Untuk kelompok makanan yang lainnya (selain (1) tidak terlihat pola yang konsisten
antar kelompok kelas pendapatan. Hal tersebut menunjukan bahwa elastisitas
permintaan terhadap berbagai kelompok pangan suatu rumah tangga dipengaruhi
oleh tingkat pendapatan rumah tangga yang bersangkutan.
Elastisitas permintaan (silang) antar komoditi memperlihatkan perubahan jumlah
permintaan suatu (kelompok) komoditi karena adanya perubahan harga komoditi lainnya,
dimana hubungan antar (kelompok) komoditi tersebut dapat bersifat saling melengkapi
(komplemen) atau saling menggantikan (substitusi). Tanda negatif dari nilai elastisitas silang
antar komoditi memperlihatkan hubungan kedua komoditi tersebut komplementer,
sedangkan tanda positif menunjukkan hubungan antar komoditi tersebut bersifat substitusi.
Hasil analisis dugaan elastisitas silang antar komoditi untuk data agregat (pooled) Indonesia
disajikan pada Tabel Lampiran 8. Dari Tabel Lampiran 8 dapat dikemukakan beberapa hal
menarik sebagai berikut :
(1) Secara agregat kelompok padi-padian dan umbi-umbian memiliki nilai elastisitas silang
yang positif yang berarti pula hubungan kedua kelompok komoditi tersebut dapat saling
menggantikan.
(2) Tanda negatif elastisitas silang antara kelompok padi-padian dengan kelompok lainnya
memberikan indikasi adanya hubungan komplementaritas antara kelompok padi-padian
dengan kelompok pangan lainnya.
(3) Secara umum terlihat adanya hubungan substitusi antara kelompok lauk pauk (ikan dan
daging, ikan dan telur, daging dan telur) yang ditunjukan oleh tanda positif dari nilai
elastisitas silangnya. Hal ini sesuai dengan kenyataannya dimana penggunaan untuk
konsumsi masing-masing kelompok pangan tersebut dapat saling menggantikan.

Tabel 4. Elastisitas pendnpatan dari masing-masing kelompok makanan berdasar daerah dan kelas
pendapatan

Kelas
Pendapatan
Kelompok makanan Indo- Desa KOtR
nesia Rendah Sedang Tinggi
1. Padi-padian 0.2802 0.3177 0.2485 0.5508 0.2441 0.1712
2. Umbi-umbian 0.3839 0.4528 0.3059 0.8502 0.3782 0.2244
3. Ikan 0.4358 0.5217 0.3558 0.7(J02 0.3480 0.2180
4. Daging 0.3762 0.3794 0.3226 0.4395 0.1866 0.22%
5. Telur & Susu 0.3933 0.4299 0.3103 0.3619 0.2258 0.1773
6. Sayuran 0.3743 0.4419 0.3153 0.7129 0.3047 0.1953
7. Kacang-kacangan 0.2937 0.2958 0.2859 0.5068 0.1869 0.1737
8. Buah-buahan 1.4984 0.6055 0.3977 0.8285 0.3470 0.2350
9. Minyak&Lemak 0.35£D 0.4057 0.2955 0.6601 0.2735 0.1842
10. Minuman 0.4049 0.4937 0.3179 0.8361 0.3411 0.2092
11. Bumbu-bumbuan 0.3736 0.4222 0.3341 0.6165 0.2960 0.2136
12. Makanan lain 0.4129 0.3781 0.4163 0.4767 0.2422 0.2363
13. Makananjadi 0.8899 0.9219 0.6930 1.4162 0.5876 0.3988
14. Tembakau & 0.3871 0.4517 0.3363 0.6288 0.3270 0.2100
Rokok

Catatan: Elastisitas pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga (r}F) adalah 0.3945
(Indonesia), 0.4356 (Pedesaan), 0.3513 (Perkotaan), 0.6569 (Pendapatan rendah), 0.3034 (Pendapatan
sedang) dan 0.2201 (pendapatan tinggi).
DAFTAR PUSTAKA
Daud,L.A.1986.Kajian Sistem Permintaan Makanan Penting diIndonesia : Suatu Penerapan
Model Almost Ideal Demand System (AIDS) dengan Data SUSENAS 1981. Thesis
Magister Sains - IPB,Bogor.
Kuntjoro,SriUtami.l98d.PermintaanBahanMakananPentingdiIndonesia.DisertasiDoktor.Fakulta
sPasca Sarjana. IPB.Bogor.
Pakpahan, A., Handewi P.S. Rachman; dan S. Hastuh. 1993. Penelitian Tentang Ketahanan
Pangan Masyarakat Berpendapatan Rendah. Monograph Series No. 14, Pusat Penelitian
Sosial Ekonomi Pertanian.
Rachmat, M. dan Erwidodo. 1993. Pendugaan Permintaan Pangan Utama di Indonesia:
Penerapan Model
AlmostIdealmmandSystem(AIDS)DenganDatnSusenas1990.JurnalAgromonomiVol.12,No.
2 hal. 24-38.
Sajuti,Rosmiyati.1990.PengaruhPendapatanTerhadapKonsumsiPangandiPedesaan(StudiKasusp
adadua
desadiKabupatenBandungPropinsiJawaBarat).ThesisMagisterSainspadaFakultasPascaSarja
na. Universitas PadjadjaranBandung.
Suryana,A.1986.TradeProspectofIndonesianPalmOilinTheInternationalMarketsforFatsand
Oils. Unpublished Ph.D. Diseriation. Department of Economic and Bussiness, North
Carolina State University.Raleigh.
TeMu,T.andS.R.loknson.\986.AReviewofConsumerDemandTheoryandFoodDemandStudiesin
Indonesia.FAPRI.GenterforNationalFoodandAgriculturalPolicyandCard/TradeandAgricult
ural Policy. Missouri andAlms.

View publication stats

You might also like