Aku memaknaimu bunga yang terjaga,
oleh ksatria perkasa mempesona,
Sang Rama Wijaya.
Tapi tercelakah aku memimpikanmu?
bukan untuk menyentuh paras bidadarimu,
bukan pula memelukmu di malam syahdu.
Aku tak ingin menghitamkan cinta putihmu,
aku hanya menunggu sesaat khilafmu.
Tahukah kau bunga?
telah kupelangikan rambut ikalmu,
hingga berhelai-helai warnanya,
menyeruak dalam-dalam di sukmaku,
menghujam rimbun di hati bagai serumpun bambu.
Karena kau adalah permata berbias sinar surga,
siapa yang tak tergoda memilikinya,
walau harus kucuri bertaruh nyawa.
Jika sudi melihatku,
jangan lihat dengan mata lentikmu,
karena hanya akan kau dapati sang durjana,
raksasa penebar prahara,
tapi lihatlah aku dengan rasamu,
dan akan kau temukan Rahwana dengan cintanya,
Karena bagaimanapun juga,
akulah raja Alengka,
yang hendak membahagiakanmu dalam istana kasihku.

wah..puisinya gokil bro.. mantap. 🙂
masa sih? hehe
keren..
bertubi-tubi gitu ya…?
membara…
tiada tandingannya,
raja Alengka..
salam ya 🙂
haha… terima kasih mb astrid…
lama ga nongol ke mana aja nih?
mas guriiiit, tulisanmu ini berkali-kali kubaca..
di kalimat ini :
“Aku tak ingin menghitamkan cinta putihmu,
aku hanya menunggu sesaat khilafmu.”
(seperti kisah Ken Arok dgn Ken Dedes)
dan kalimat yg ini :
“karena hanya akan kau dapati sang durjana,
raksasa penebar prahara,”
SeReeem… xixixixi.. 🙂
How ever, i like this poem..
tp yg nulis ga serem kok mba… lemah lembut hahaha
terima kasih
wow keren beud gan
thanks gan..
awesome, bahasanya itu, haa
Kunjungan pertama nih kakak. 😀
salam kenal.
salam kenal juga 🙂
Dari beberapa puisi yang udah saya baca di sini, puisi ini yang paling saya suka. Untuk sementara. Hehe, karena mungkin aja kalau lain waktu saya menjelajahi lagi blog ini, ada puisi lain yang lebih saya suka. 😀
Salam kenal dari saya.
kalau berkenan silakan muter2 dulu di sini..heheh