Rara Part 2 : Seperti Enam Tahun Lalu

“Aha ha.. Jadi kamu tidak kangen?”.Tawanya masih sama seperti dulu. “Bagaimana.. Mau tidak?”.

“Mau.. Tapi…”.

“Tapi kenapa Rara?”

“Ndak bisa ka besok, hari senin mo na”.

“Tidak bisa. Minggu malam balik ka ke Jakarta. Rara, hanya ini kesempatan ke Makassar”.Terjadi hening yang lama ditelfon. “Hanya sehari di Makassar, dan mau ketemu Rara langsung ah aha”.

“Datang mi ke rumah besok” kataku. Baca lebih lanjut

Rara Part 1 : Kenangan Terukir Kembali

Enam tahun sejak hari itu.

Malamku berlalu begitu saja. Terpaku di depan layar televisi. Menggenggam erat remote di tangan kiriku, sambil ngemil kacang rebus dengan tangan satunya. Duduk dengan nyaman di sofa yang panjang berwarna kelabu.

HP ku bergetar, tanda ada yang menelfon. Muncul nomor yang tak dikenali di layar HPku. Spontan, aku bertanya-tanya, siapa yang menelfon jam 10 malam seperti ini? Aku masih diam sambil berpikir.

Aku coba mengangkatnya. “Halo.. Dengan siapa?” kataku Baca lebih lanjut

Karangan Kecil di Losari

Menikmati senja di sore hari. Memandangi langit orange yang jauh di sana. Memanjakan mata yang memandanginya. Duduk seorang diri diatas anjungan pantai losari. Menghadap ke laut yang keruh dengan sampah yang bertumpuk.

Merasa kesepian diantara ratusan orang. Begitu rapuh diterpa angin yang berhembus kencang. Menghembus dari laut ke daratan. Membawa segenap kerinduan kembali dalam hati.

Duduk bersila sambil mengunyah pisang epek. Dimakan dengan sambelnya yang lezat. Dibuat penuh harapan oleh penjualnya. Berharap dagangannya laku dan membuat orang sepertiku, merasa bahagia. Baca lebih lanjut

Perantau Asal Tanah Karaeng

Perantau asal tanah karaeng. Berlayar di lautan yang luas. Melewati derasnya ombak dan badai. Berbulan-bulan diatas kapal kayu buatan masyarakat Bulukumba, phinisi. Mengikuti jejak para leluhur, yang konon adalah pelaut tangguh.

Mengarungi indahnya lautan. Perjalanan yang akan mengubah hidupku. Berlayar untuk belajar tentang kehidupan dan mencari wanita sejati. Merantau untuk menimbah ilmu lalu membangun tanah kelahiranku, Makassar.

Aku masih ingat sewaktu kecil. Aku sering duduk diatas kapal tua di tepian pantai. Memandang laut biru yang tenang. Selalu terlintas di benakku untuk mengarunginya. Menaklukan lautan luas dengan jutaan makhluk indah dibawahnya. Aku tumbuh di Desa Manuikrae, desa kecil tepi pantai di kota Makassar. Menjadi pelaut adalah cita-cita ku sejak kecil. Baca lebih lanjut

Mimpi Jadi Kenyataan

Duduk di atas kasur empuk. Dibalut dalam pakian adat khas sulawesi selatan. Mengenakan bandol besi, seberat tiga kilogram. Ditambah sejumlah gelang di lengan kanan dan kiri. Berada di kamar ku yang indah. Penuh dekorasi warna. Mulai dari dinding, lemari, meja make-up, kasur, dan semuanya. Tampil menawan dengan tataan kain yang lucu.

Duduk manis, ditemani para sahabat dan orang tua (prempuan). Mereka kompak memandang ke arah ku. Beberapa dari mereka saling berbisik, sambil memandang ke arah ku. Ada juga yang memuji “Raraa.. Kamu memang cantik”.

Aku tampil berbeda dari biasanya. Rambut ku disanggul, sekaan menjadi mahkota ku untuk hari ini. Alisku dihias, semakin membuat ku terlihat cantik. Dengan pipi berwarna merah jambu. Membuat senyum ku semakin manis. Bibir ku merah merona, beda dengan yang lainnya. Baca lebih lanjut