Jaket Pemberian

Hari yang melelahkan dengan suhu udara 35 derajat. Matahari bersinar terang, bertengger di puncak tertinggi. Menyengat kulit siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan.

Aku dan Ulfah baru saja pulang dari sekolah, dan tengah dalam perjalanan pulang ke rumah. Berjalan kaki menyusuri trotoar yang sempit dan berlubang. Berlindung dari terik matahari dengan mengangkat tas lalu menutupi kepala kami. Sesekali kami berlari kecil menuju tempat rindang, berteduh beberapa saat di bawah pohon, mengumpulkan energi dan kembali menyusuri jalan pulang.

Hari ini terasa lebih panas dari hari lainnya. Andai uang jajanku tidak habis untuk membeli minuman, mungkin sekarang aku sudah tiba di rumah dengan naik ojek. Namun terik ini membuat tenggorokan ku kering, memaksa aku untuk membeli segelas minuman dengan sisa uang jajanku. Baca lebih lanjut

Ashila Cantika Part 1 : Aku, Rani, dan Pria Misterius

Siang begitu panas di tempat ini. Dalam ruangan berukuran sedang dengan tembok bercat putih bersama tiga puluh satu orang lainnya. Mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Putih abu-abu. Tidak ada yang bersuara selain seorang bapak tua paru baya dalam balutan seragam dinas lengkap dengan papan nama di bajunya. .

Pak Ramlam. Begitu biasa kami menyapanya. Guru mata pelajaran matematika yang sekaligus wali kelas kami.

“Kita belajar matematika, bukan untuk mencari nilai dari x, y, atau apalah itu”. Setiap kalimat yang terlontar dari mulut guru tua ini selalu didengar dengan seksama. Mendengar penjelasan dan pertanyaan dari Pak Ramlam sangat membosankan. Sangat. Hanya satu alasan kami bertahan untuk tetap mendengarkan. Agar nilai kami tidak jauh semester ini. Semester penentu.

“Kenapa kalian belajar?” tanya Pak Ramlam kepada murid-muridnya. Tidak ada yang menjawab. Hening. Baca lebih lanjut

Tak Harus Diungkap

Ciee yang suka dengan seseorang, bahkan untuk menatap matanya tidak sanggup. Sering liat akunnya di sosial media, tapi tidak berani menyapa. Hanya bisa memandang kolom chat yang kosong. Sesekali mengetik kalimat sapa “Haaloo..” tapi tidak pernah terkirim.

Selalu perhatikan update terbaru dari dia. Ingin rasanya berkomentar, tapi sama seperti kolom chat. Semua kalimat yang ku ketik, tidak pernah terkirim. Hanya terketik dan aku hapus setelahnya.

Hanya bisa ingat wajahnya dari sebuah foto lama. Birinya tersenyum di foto itu. Walaupun, karena sebuah kecerobohan, fotonya kini hilang entah kemana. Padahal seharusnya foto itu tersimpan di tempat tersembunyi di tas. Ya, sebagai cowok yang tidak pernah memakai dompet, tas adalah dompet berjalan. Baca lebih lanjut

Rara Part 3 : Dering Pintu Kerinduan

Hari semakin sore. Matahari turun dari titik tertingginya, menuju barat tempat tenggelamnya. Jalan yang tadinya sepi, kini ramai dengan mobil dan motor. Salah satunya aku. Melaju cepat dengan motor matic berwarna putih. Menyalip mobil-mobil mewah khas perkotaan.

Namaku Rara, cewek berumur 23 tahun yang tinggal di pinggiran kota Makassar. Ini kisah ku, tentang dua orang yang sebenarnya terpisahkan, tetapi punya kesempatan untuk bertemu. Bagai air hujan yang jatuh di tempat berbeda, akan bertemu kembali di lautan yang luas.

Aku tiba tepat waktu. Seperti perkataannya di telfon waktu itu, jam 3 sore ditempat yang dulu sering kami datangi. Aku membuka pintu kaca dan melangkah pelan ke dalam. Tempat ini tidak banyak berubah. Suasananya masih sama seperti enam tahun lalu. Tenang dengan alunan musik akustik yang khas. Baca lebih lanjut

Rara Part 3 : Merah Jambu

Pertengahan bulan Juli, minggu yang cerah. Matahari bersinar terang di atas rumahku. Menyinari jemuran yang baru saja ku jemur di teras lantai dua. Namaku Rara, anak tunggal yang terbiasa hidup mandiri sejak SMA.

Semua urusan bisa ku kerjakan dengan baik, kecuali masalah makanan. Terakhir kali aku mencobanya, hasilnya selalu saja gosong. Dan karena itu, aku tidak berbakat jadi istri idaman. Mungkin memasak bukan keahlianku.

Dengan langkah kecil, aku berjalan ke kamar. Menyalakan lampu, menutup pintu agar tidak ada yang melihat. Menarik napas panjang sebelum membuka lemari. Bersiap menahan tumpukan baju yang selalu jatuh setiap pintu lemari terbuka. Baca lebih lanjut