Teruntuk Dua Orang Hebat

Aku pernah dengar perkataan dari seseorang, katanya seorang anak yang hebat lahir dari orang tua yang hebat juga.

Aku belum menjadi anak yang hebat, tetapi aku punya orang tua yang hebat, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, beliau sejak dulu tidak pernah berniat untuk menjadi seorang ibu pekerja, katanya kalo keduanya bekerja nanti tidak ada yang bisa melihat perkembangan anaknya secara langsung, ibu tidak mau anaknya tumbuh dewasa tanpa pantauan ibu, ibu ingin menemani anak-anaknya proses bertumbuh.

Ayahku juga, tidak pernah menyuruh ibu untuk bekerja karena bagi ayah, ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya, pendidikan pertama yang didapatkan oleh anak-anaknya sebelum menginjak usia sekolah adalah dari seorang ibu, katanya selama ini gaji ayah sudah cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya, untuk menyekolahkan anak-anaknya, untuk menjadikan anak pertamanya sebagai sarjana dan anak keduanya segera menjadi sarjana, dan kami tidak pernah merasa kekurangan, jadi ayah tidak perlu tambahan lagi uang dari keringat ibu.

Karena, orang tuaku selalu mengajarkan kami untuk hidup di dalam kesederhanaan, mereka bilang hidup bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk hari-hari berikutnya juga, meskipun kita belum tahu kapan perjalanan hidup kita akan berakhir.

Alhamdulillah, suatu anugerah terbesar karena lahir dari orang tua yang baik, yang selalu support anaknya, yang selalu bangga akan besar atau kecilnya sebuah pencapaian dari anaknya, yang tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anaknya, yang selalu memberikan ruang kepada anaknya untuk bisa mengeksplor kemampuan anaknya, yang selalu mengepakkan sayap yang besar agak anaknya bisa terbang tinggi mencapai mimpinya, yang rela basah kuyup agar anaknya tidak kehujanan, yang rela tidur larut malam untuk memastikan apakah anaknya sudah tidur nyenyak atau belum.

Ma, pa, anak keduamu sudah menyelesaikan sidang akhirnya, sebentar lagi akan menjadi seorang sarjana seperti apa yang kalian harapkan, terima kasih yang tak terhingga untuk segala dukungan yang sudah diberikan selama ini sampai anakmu bisa berada di tahap ini, terima kasih karena sudah percaya, semoga anakmu bisa menjadi orang hebat seperti kalian.

Semua Indah Dengan Caranya Sendiri

Coba deh buang stigma kalo cantik dan ganteng itu harus wajah glowing tanpa jerawat, body goals, alis tebel, hidung mancung, mata sempurna. Kata-kata “Jangan insecure!” mungkin gak akan jadi kalimat yang cuma berguna sebagai penenang aja.

Koar-koar soal cyber bullying di sosmed, faktanya masih sering memandang sebelah mata orang yang belum sempurna secara fisik, alhasil terlalu mengagung-agungkan bahwa cantik dan ganteng adalah standar kebahagiaan.

Banyak orang jadi insecure sebenernya bukan karena mereka merasa kurang, tapi komentar orang-orang yang membuat mereka ada di posisi selalu merasa kurang.

Semua orang indah dengan caranya sendiri.

Bunga Tidur – Kamu

Semalam aku bermimpi..


Kamu tiba-tiba datang padaku dan membawa sepucuk surat yang sudah kamu tulis dengan tanganmu sendiri, isi suratnya seperti ini,


“Hati kamu udah baikan? Udah bisa maafin diri kamu sendiri?”


Aku tanya, kenapa kamu tidak menanyakan langsung dan kenapa harus lewat surat? Toh kamu sendiri yang mengirim surat itu padaku.


Kamu jawab “Tadinya aku ingin mengirim surat ini lewat kantor pos, tapi aku rindu kamu dan ingin melihat senyum kamu.”
Aku tertawa kecil, ah senangnya rinduku tidak bertepuk sebelah tangan ternyata.


Kamu tersenyum manis padaku.
“Suratnya gak akan kamu balas?”
Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.


“Kenapa senyum?” tanyamu.
Aku bilang “Katanya kamu pengen liat senyum aku.”
“Hahaha manis” katamu dengan penuh tawa.


Setelahnya kita berkeliling kota dengan menaik motormu, bercerita tentang apa saja yang ingin masing-masing kita ceritakan. Menumpahkan segala rindu yang telah kita tabung berbulan-bulan lalu.

Dan kemudian mimpinya selesai,


Aku tidak ingat lagi kelanjutan mimpinya.
Aku terbangun dan tersenyum.


Besok-besok kamu mampir lagi ya ke mimpiku? Aku rindu kamu.

Good Bye

Sore itu aku duduk di kursi stasiun tempat orang-orang biasa menunggu kereta tiba. Lalu ponselku bergetar, ada sebuah pesan darinya.⁣⁣
⁣⁣
“Lagi di mana?”⁣⁣
⁣⁣
“Stasiun.”⁣⁣
⁣⁣
“Kamu serius? Ngapain di stasiun, kok gak bilang?”⁣⁣
⁣⁣
“Aku enggak perlu bilang apa-apa kan sama kamu?”⁣⁣
⁣⁣
“Tunggu aku, aku ke sana sekarang.”⁣⁣
⁣⁣
“Kereta aku lima menit lagi datang. Kamu gak usah kesini.”⁣⁣
⁣⁣
Dengan geram aku membalasnya, untuk apa dia menahanku agar tidak pergi?⁣⁣
⁣⁣
“Bisa batalkan pemberangkatanmu gak? Aku mohon.”⁣⁣
⁣⁣
Mataku melotot tajam membaca pesannya, enak saja!⁣⁣
⁣⁣
“Kamu gila? Aku udah bayar untuk tiket ini.”⁣⁣
⁣⁣
“Uangnya nanti aku yang ganti.”⁣⁣
⁣⁣
“Jogja menungguku.”⁣⁣
⁣⁣
“Tapi Bandung membutuhkanmu, dan akupun.”⁣⁣
⁣⁣
“Kamu sudah terlambat, aku sudah memutuskan untuk melupakan kamu.”⁣⁣
⁣⁣
“Aku minta maaf, aku nyesel.”⁣⁣
⁣⁣
“Kata maaf gak akan bisa bikin aku balik lagi, kita sama-sama perlu waktu untuk menyadari bahwa ego kita sama-sama besar.”⁣⁣
⁣⁣
“Aku tunggu kamu di Bandung kapanpun kamu ingin kembali.”⁣⁣
⁣⁣
Terima kasih, tapi selamat tinggal.IMG_20191227_165559

Akun Twitter Dikunci Oleh Pihak Twitter

Disini aku mau curhat soal akun twitter aku yang dikunci oleh pihak twitter karena telah diberlakukannya aturan pengguna twitter berusia 13 tahun keatas, akun twitter aku waktu itu dibuat pada bulan Mei 2012, sedangkan aku lahir pada bulan November 1999 itu artinya aku membuat twitter pada usia 12 tahun lebih 6 bulan atau 13 tahun kurang. Dulu aku iseng aja bikin twitter, dulu sih belum ngerti namun semakin tumbuh dewasa aku mulai asyik sama twitter hingga saat ini aku sayang banget sama akun twitter aku.

Kejadian ini bermula waktu empat hari yang lalu aku iseng ganti tanggal,bulan dan tahun lahir aku di twitter, dan bodohnya aku engga malsuin tahun lahir aku padahal aku sendiri udah tahu kasus akun yang dikunci oleh twitter dari temen aku tapi aku tetep masukin tahun lahir aku yang asli, dan jeng jeng setelah aku mengubah settingan tanggal lahir di twitter tiba-tiba akun twitter aku kekunci dengan sendirinya dan engga bisa dibuka. Alhasil aku galau, serius sih ini galau banget. Ya, emang sih followers aku di twitter itu engga seberapa cuma ratusan belum nyampe ribuan kayak orang lain tapi bukan jumlah followersnya yang aku sedihin tapi orang-orang yang jadi followers aku atau suka disebut sebagai mutual aku, mereka baik-baik dan peduli sama aku walaupun aku engga kenal langsung sama mereka, dan akun-akun receh yang udah aku ikutin sejak akun twitter aku dibuat sampai sekarang, juga bacotan demi bacotan aku di twitter itu akan jadi kenangan yang belum bisa aku ikhlasin gitu aja.

 

Plis, twitter come back. I want you.

Dimensi Tentangmu

Hujan di bulan Oktober itu indah entah kenapa aku suka sekali dengan hujan, bukan karena mengingatkanku pada kenangan atau semacamnya, namun hujan bisa menyejukkan. Ibuku bilang jangan terlalu sering bermain air hujan nanti sakit, ternyata benar tubuhku selalu manja.

Aku suka hujan namun hujan sering membuatku sakit, sama seperti halnya aku menyukaimu tapi kamu sendiri sering membuatku sakit, miris sekali, ah tidak juga ini hanya sebuah istilah.

Kamu selalu berusaha keras berjuang untuk mendapatkan cinta lamamu kembali, sebegitu berharga kah wanita itu dihidupmu? Dia beruntung ya, punya kamu.

“Aku gagal, dia nolak aku gamau balikan lagi” aku tertawa sinis dalam hati menurutuki kebodohan wanita itu. Angkuh sekali dia. Dia cantik, pantas saja kamu bersikeras ingin mempertahankan nya, dibanding aku apa sih yang bisa diunggulkan? Lalu, kamu yang sudah berusaha sekeras ini dia abaikan. Bodoh, kamu terlalu berharga untuk diabaikan.

Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu oleh Tuhan, menggatikan posisi dia yang dulu hadir sempat mewarnai kisahmu, aku senang telah mengenalmu lalu jatuh cinta padamu, namamu kini menjadi salah satu yang sering aku sebut dalam diskusiku pada Tuhan selepas sholatku setelah keluarga dan sahabat-sahabatku, namamu telah mengangkasa dilangit-langit do’aku, dengan bangga aku meminta kepada Tuhan untuk menetapkan kamu dihatiku sebagai laki-laki yang akan ku cintai dengan amat penuh setelah ayahku.

Inilah hidup, banyak sekali kisah yang tak pernah terduga sebelumnya, kisah yang tidak pernah terimpikan namun nyata terlebih dahulu. Seperti perjumpaan kita, yang hingga saat ini masih nyata. Benar, skenario Tuhan tak akan ada yang bisa membantahnya.

Sudah satu tahun kita berada dalam lapangan yang sama, bangunan yang bersebelahan, dan menghirup amtosfer yang sama. Aku tidak pernah sedikitpun memperhatikanmu bahwa jarak kita tidaklah jauh, hanya terhalang oleh beberapa bangunan saja, tapi entah tiba-tiba takdir kita berada dalam satu bangunan yang sama, atap yang sama, dan ruangan kelas yang sama, kebetulan? Aku rasa tidak, ini adalah salah satu dari sekian ratus juta skenario indah yang Tuhan rancang –kita saling mengenal.

Berawal dari kamu yang sering bercerita tentang rasa dulu yang masih ada namun sudah tak terbalaskan, dan tentang cerita cintaku yang masih selalu berada dalam zona pertemanan, membuat kita menjadi semakin dekat dan semakin menyemangati untuk terus memperjuangkan rasa masing-masing pada lain orang. Tapi, ternyata itu tidaklah seperti apa yang kita harapkan, kamu tanpa berkompromi dulu dengan rasaku tiba-tiba mengatakan bahwa, kamu menyukaiku. Bodohnya aku pun menyukaimu.

Aku sadar saat itu, posisiku hanya sebagai pengganti dia yang sudah mencampakkanmu beberapa kali, tidak lebih. Perasaanmu juga tidak sekuat seperti saat kamu memperjuangkan kembali cintamu yang sudah pergi. Aku sadar, kita tak pernah lebih dari sebatas teman meski kamu sudah berkata bahwa kamu menginginkan hatiku. 

Tak ada yang tahu kapan

hati bisa dengan mudah

menerima orang yang baru

saat ia patah begitu sendu

oleh cinta yang ternyata hanya benalu.

–Boy Candra,

pada Novel Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang

Dan, kamu hadir meruntuhkan benteng pertahananku untuk tidak lagi membuka hati pada siapapun yang hanya berniat ingin bermain-main, tapi tidak padamu. Hadirmu awalnya mengubah asumsiku tentang luka yang dulu sulit untuk ku hilangkan jejaknya, saat itu. Tentang bahagia yang aku rasa kembali setelah beberapa kali kehilangannya, hingga tentang luka yang kembali menyerang hati sampai saat ini masih membekas berapa kalipun kamu memperbaikinya.

Hati itu, jika sudah retak ya sulit untuk diutuhkan kembali, sekalipun diperbaiki bekasnya akan tetap ada, abadi. Ini salahku sendiri, aku menyusun bahagia dengan menaruh kamu sebagai pondasi awalnya, hingga saat ketika susunan bahagia yang telah kutata sedemikian susahnya runtuh seketika, bahagiaku pun ikut runtuh.

 

Bodoh, memang.

Teruntuk Sang Pejuang

Teruntuk kamu sang pejuang.

Apa kabar, bagaimana persiapannya, sudah sejauh mana?

Bangun, jangan terus menerus berdiam diri di zona nyaman,

Mau jadi apa kamu?

Pertempuran sudah didepan mata, masih mau santai-santai?
Teruntuk kamu sang pemimpi.

Aku tahu kamu sudah terlalu lelah untuk ini, tapi tahan sebentar.

Didepan akan ada badai yang lebih dahsyat dari ini.

Percayalah, lelah itu karena tidak Lillah,

Berusaha ikhlas karena Allah ta’ala.

Allah dulu, Allah terus, Allah lagi, lagi-lagi Allah.

 

Teruntuk sang pemeluk harapan.

Semangat, jangan berhenti berjuang.

Kalaupun jatuh, ayo bangkit lagi.

Kalaupun gagal, mari berjuang lagi.

Ingat, dirumahmu ada dua orang yang sudah tua renta

Menunggu kamu sukses dengan mimpimu sendiri.

Semangat.

Dengan segenap cinta dan kasih sayang, selamat berjuang.

Asa Yang Terbunuh

Pernah aku berharap pada seseorang

Yang kini sudah mematahkan harapanku

Padahal secercah harapan itu sudah mulai mengangkasa

Namun, ia tega membunuhnya perlahan

Menarik jauh hingga tak tersisa

 

Pernah aku percaya sepenuh hati

Namun ia hancurkan sekuat hati

Padahal aku sudah menyusunnya jauh-jauh hari

Namun ia tega membuatku hampir bunuh diri

 

Kini aku harus bertahan sekuat hati

Untuk sebuah harapan yang hampir mati

Yang tenggelam berhari-hari

Namun sinarnya harus tetap hidup

Demi sebuah asa yang telah terbunuh.

Dia Mencintaiku, Katanya?

“Dia mencintaiku katanya.”

“Alah, paling cuma omong doang.”

“Tapi dia serius katanya.”

“Orang kayak dia engga usah dipercaya.”

“Itu cuma asumsimu.”

“Bukan asumsi, tapi ini realistis.”

“Tapi dia mencintaiku katanya.”

“Baru katanya kan? Kalo dia mencintaimu kenapa dulu dia sering menyakiti dan mengabaikanmu?.”

“Mungkin saja dia sudah berubah sekarang.”

“Terlambat.”

“Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?”

“Dasar bodoh.”

“Apa sih.”

“Kamu kenapa masih kasih dia kesempatan, kamu dulu kan sering banget nangis gara-gara dia.”

“Aku masih sayang dia.”

“Buka hati kamu buat orang lain yang lebih bisa ngehargai perasaan kamu.”

“Gak bisa, udah mentok sama dia.”

“Aku gak mau denger kamu nangis lagi gara-gara dia.”

“Kamu engga tau rasanya jadi aku yang mencintai dia teramat tulus.”

“Tulus? Sampe rela jatuh berkali-kali?”

Rampung

[Tak ada lagi kata kita di antara kita]

Sejak kamu memutuskan untuk menyudahi kata kita, semestapun tahu bahwa kita sudah sama-sama berada di batas lelah.

Aku tak pernah sekalipun menyesal telah mencintaimu, bagiku jatuh cinta padamu adalah sebuah keindahan namun berakhir tidak nyata, hanya sebuah ilusi yang kubangun sendiri di dalam dimensi cerita yang kubuat sendiri.

Yang aku sesalkan saat ini hanyalah, mengapa dari sepersekian miliar manusia di muka bumi, hanya kamu yang selalu menetap di hatiku hingga detik ini, tak pernah pergi dan tak pernah terganti.

Kini, sudah rampung cerita indah kita. Tidak lagi ada kata kita di dalam kamus aku dan kamu. Kamu menghilangkan genapku bersama semua kenangan yang kamu bawa pergi selepas kepergianmu.

Namun aku dengan bodohnya tetap mencintai hati yang jahat itu.