3 hari untuk selamanya
Sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku untuk menjenguk dirimu dinegeri seberang. Jauh sebelum hari kita mengikrarkan janji untuk saling menyayangi dan mengerti satu sama lain, kita telah saling mengenal. Tetapi hanya sebatas aliran dunia maya yang menghubungi kita berdua. Sejak saat itu, mulai kuatur sedikit rencana untuk mempertemukan kita berdua. Bisa dibayangkan dua insan yang mengucapkan janji setia tetapi belum pernah bertemu sebelumnya. Dirimu juga menginginkan agar kita bertemu terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh lagi.
Rencana
Ku rencanakan agar dirimu yang menemuiku disini untuk bertemu sapa, mengenal satu sama lain lebih jauh lagi dan terlebih lagi … aku ingin melihat mu dari dekat. Karena kesibukan sehari-hari dengan pekerjaan dan kuliah yang belum terselesaikan, makanya aku meminta dirimu untuk menemuiku disini. Tetapi rasanya tidak mungkin membiarkan dirimu mengarungi perjalanan jauh sendirian. Terpikirkanlah rencana lain, yaitu untuk menemuimu disaat hari bahagia mu diwaktu wisuda Master dikampus mu. Sekitar awal Agustus kita akan bertemu, semoga. Hari terus berlalu, dengan menjalankan kegiatan sehari-hari pikiran ini selalu dipenuhi oleh bayangan dirimu. Terbesit suatu rencana, ketika melihat sebuah tanggal merah dipenghujung pekan. “Akhir Mei 2010 ada hari libur”, ku katakan padamu disaat kita online bersama. Mungkinkan aku akan datang menemuimu disana? Dengan menyimpan sedikit harapan, semoga aku dapat mengunjungimu dinegeri seberang, ditengah jadwal akhir pekan yang tak pasti. Saat itu, dirimu minta untuk bertemu dengan Ibu, “Enak yah kak, klo Na bisa jalan sama ibu, pergi belanja berdua” (kakak adalah panggilan diriku olehnya, dan Na adalah nama panggilan sehari-hari untuk dirinya). Saat itu pula ku telp Ibu yang berada dirumah dan mengatakan rencana kepergianku untuk menemui mu dinegeri jiran, dan disaat itu pula aku mencerikan dirimu kepada Ibu. Ku tutup telepon dan meneruskan obrolan kita dijalur messenger. Tak lama kemudian hp ku berdering, sepertinya dari Indonesia, setelah ku angkat terdengar suara Ibu diline telpon. “Gimana kalo Ibu juga ikut ke Malaysia, sekalian sama Bapak dan adek mu yang kecil?”. Dengan perasaan senang, aku mengiyakan permintaan Ibu. Tetapi mungkin doa mu belum dikabulkan, hari berikutnya Ibu memberi kabar kalau mereka tidak dapat pergi ke Malaysia saat itu dikarenakan waktu perjalanan yang lama dan waktu liburan yang sangat singkat. Mungkin suatu saat ada waktu yang lebih tepat agar Ibu dapat mengenalimu lebih jauh lagi. Read the rest of this entry »
Doa ku pada Mu
Entah kenapa hati ku terasah bimbang dan gundah, entah kenapa aku selalu memikirkan dirinya, entah kenapa hari yang ku lalui terasa berat tanpa mengetahui kabarnya … semoga Allah selalu menjaga niat baik kami, amien.
“Ya Allah, aku mohon Engkau memilihkan yang baik dengan pengetahuan-Mu, aku mohon ditakdirkan yang baik dengan kodrat-Mu, aku mengharapkan karunia-Mu yang Maha besar, Engkau maha mampu dan aku tidak mampu, Engkau Maha tau dan aku tidak tau, Engkau Maha mengetahui semua yang gaib. Ya Allah, jika hal ini lebih baik bagiku dalam agamaku, baik bagi kehidupanku dan akibatnya kelak cepat atau lambat, maka takdirkanlah dan mudahkanlah bagiku kemudian berkahilan aku padanya. Dan jika dalam ilmu-Mu hal itu buruk bagiku dan agamaku, kehidupanku, dan akibatnya kelak cepat atau lambat, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya dan takdirkanlah aku pada yang baik serta ridhailah aku dengannya”.
Amien.
Wajah pendidikan negeriku
Sebentar lagi negara kita akan memperingati hari pendidikan nasional pada tanggal 2 Mei. Masih teringat ketika saya duduk dibangku sekolah dasar, semboyan pendidikan dibumi pertiwi ini: Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani, yang artinya Didepan memberikan panutan atau tauladan; Ditengah ikut bersama membangun dengan ide dan prakarsa; dan Dibelakang memberikan dorongan, semangat dan motivasi.
Pendidikan selama ini selalu dimaknai secara sempit oleh masyarakat Indonesia. Kita hanya mengenal sekolah yang memiliki gedung, bangku dan guru sebagai sarana pendidikan. Padahal jika dikaji lebih lanjut tentang makna dari pendidikan itu, tidak ada batasan yang mengurung didalamnya. Sekolah juga selama ini sepertinya telah salah kaprah dalam menjalankan tujuannya. Tujuannya yang utama adalah mendidik masyarakat Indonesia. Hal yang ditekankan disini adalah “mendidik”. Mendidik tidak hanya mengajarkan pelajaran kepada murid-murid sehingga mereka semua mendapat nilai yang bagus saat ujian, tetapi mendidik juga bertanggung jawab dalam memberikan nilai-nilai moral kehidupan kepada siswa yang diajarkan.
Menurut hemat saya, lebih mudah membuat seorang siswa mengerti pelajaran Matematika yang super sulit dengan rumus-rumus aneh bin ajaib dari pada mengajarkan seorang siswa tentang nilai moral kehidupan. Bagaimana seorang guru dapat menanamkan nilai moral tadi kedalam jiwa siswa, sehingga yang dididik dapat sadar dengan sendirinya mana yang baik dan mana yang buruk. Jika untuk mendapatkan nilai harus dengan cara curang dan menghalalkan segala cara, jika untuk mendapatkan reputasi sekolah yang baik para pendidik juga harus ikutan berlaku curang, kemana arah pendidikan negeri ini akan dibawan? Saat ini sudah banyak siswa-siswa Indonesia yang berprestasi ditingkat internasional dari berbagai even dan perlombaan yang diikutinya, tetapi tidak sedikit juga masyarakat Indonesia yang belum bermoral.
Tulisan ini murni hanya opini pribadi, tidak ada maksud untuk menyalahkan pihak lain. Terlebih lagi, semoga tulisan ini dapat menjadi bahan introspeksi pribadi penulis.
inspirasi
Pernah dengar sebuah kata “inspirasi”? klo dari kamus besar bahasa Indonesia inspirasi berarti ilham. Inspirasi disini bermakna kita akan melakukan sesuatu dikarenakan oleh sesuatu yang terjadi sebelumnya, entah itu perbuatan orang, perkatan orang, tingkah laku orang lain, bahkan tidak hanya orang … makhluk hidup lainnya juga dapat dijadikan acuan untuk inspirasi.
Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang bercerita jujur kepada saya. Bahwa sang ‘catatan kecil’ ini telah menjadi inspirasi bagi dirinya. Hwaaa… merasa terharu mendengarnya ^^. Blog yang hanya saya tulis untuk mengisi kekosongan hidup, bercerita ketika ada sesuatu yang ingin saya ceritakan, atau bahkan hanya mengupload beberapa buah gambar hasil jepretan pribadi telah menjadi inspirasi bagi orang tersebut sejak pertama kali dibuat. Alhamdulillah, ternyata tulisan yang selama ini saya buat ada juga manfaatnya bagi orang lain 🙂 . Semoga hari-hari kedepan saya akan lebih sering posting seperti sedia kala, maklum udah sibuk gak karuan akhir-akhir ini ^^.
*for you : terima kasih yang tak ternilai harganya ^^
Hongkong – Beijing (Bagian 5)
Forbidden City, Tiananmen Square dan Wang Fu Jing Market

Sebelum semuanya lupa dari ingatan, akan saya tuliskan kelanjutan kisah perjalanan musim dingin pada blog ini. Ketiga tempat tersebut; Forbidden city, Tiananmen square dan Wang Fu Jing market terletak sangat berdekatan. Setelah hari-hari sebelumnya kami bergaya bak turis mancanegara, sekarang saatnya menjalankan niatan awal, yaitu backpacker ^^. Dari tempat kami menginap, kami dapat mencapai lokasi forbidden city dengan menggunakan subway (MRT). Kebetulan Forbidden city memiliki sebuah stasiun subway sendiri (Tiananmen station). Berpergian menggunakan MRT di Bejing, tidaklah sama dengan bepergian menggunakan MRT di Taipei. Jujur, pertama kali melihat lalu lintas MRT di Beijing, saya tidak begitu kaget. Sudah hampir mirip KRL di Jakarta, hehehe. Mungkin yang membedakannya adalah biaya MRT di Beijing sangat murah. Dari dan kemanapun kita hanya membayar RMB 2, dengan keterhubungan MRT yang sangat luas. Bisa kita bayangkan seluruh daerah di Beijing dapat kita kunjungi dengan harga yang murah, dari ujung timur ke barat, utara ke selatan hanya RMB 2 🙂 .
Hari ini tanggal 2 Februari 2010, cahaya matahari cukup terang untuk menyinari kota Beijing, tetapi suhu udara masih daja berkisaran antara 0-2 derajat celcius. Tepat pukul 13 siang, kami sampai di Forbidden City area, didepannya terdapat lapangan terluas didunia Tiananmen square. Jika ingin melihat upacara penurunan bendera dilapangan tersebut, datanglah sore hari pada jam 5. Banyak pengunjung, baik turis lokal maupun mancanegara yang menyaksikan apel penurunan bendera setiap harinya. Perjalanan di Forbidden city pun dimulai, satu demi satu lorang dan pintu gerbang kami lewati. Sepertinya memang daerah ini sangat angker dlunya, bangunan tua, bahkan mungkin tidak habis pikir kita menilainya, ada berapa ribu orang yang tinggal diistana ini pada zaman dahulu kala. Luasnya … biyuh, minta ampun ^^. Sampai-sampai dengan udara yg begitu dingin, saya sudah lelah berjalan sebelum sampai diujungnya. Tiket masuk yang dibutuhkan sebanyak RMB 40. Sepertinya kita tidak membutuhkan bantuan audio untuk setiap daerah yg dikunjungi, karena kita harus mengeluarkan uang sebesar RMB 60 (deposit 40) untuk menyewanya. Setelah sampai dipenghujung lorong terakhir, terlihatlah jalan raya yang menandakan berakhirnya perjalanan di Forbidden city. Jika masih memiliki waktu untuk berjalan-jalan santai, para pembaca dapat mengunjungi beberapa tempat wisata alam disekitar forbidden city, diantaranya : Beihai lake, zhonghai lake dan nanhai lake yang terletak dibagian barat forbidden city.
*tips : sebaiknya pergi ke forbidden city dipagi hari, karena pada pukul 16.00 semua pengunjung telah diusir dengan paksa oleh penjaga istana.
Selanjutnya perjalan dilanjutkan untuk mencari oleh-oleh dan melihat-lihat keadaan kota Beijing dikala malam. Tempat yang dikunjungi adalah Wangfujing market. Pasar Wangfujing cukup dekat dari forbidden city, hanya satu stasiun subway setelah/sebelum tiananmen station. Karena kami telah berjalan menyusuri forbidden city sebelumnya, maka kami memutuskan untuk menaiki bis menuju wangfujing market.
Wanfujing market sebenarnya bukanlah pasar tradisional, tetapi lebih kepada pasar yang telah modern. Ibaratnya pusat perbelanjaan, selain terdapat grosir2 kecil, juga terdapat toko2 yang berada didalam mall. Jika berbelanja di mall, pilihlah toko yg menawarkan diskon, dah secara keseluruhan harga dimall juga termasuk murah. Jika berbelanja dipasar grosir, tawarlah barang yang ingin anda beli dibawah separuh harga yang diberikan oleh sipenjual ^^. Semakin pintar anda menawar, semakin murah barang yg anda dapatkan. Karena di Beijing masih berlaku sistem tawar menawar dalam transaksi pembelian.
Disekitar wangfujing market ini juga ada sebuah jalan yang digunakan untuk berjualan beraneka ragam kuliner. Dari seafood, hingga aneka jenis buah-buahan dan manisan. Harga yang ditawarkan juga bervariasi, tapi kali ini gak bisa nawar lho … hehehe.
Hongkong – Beijing (Bagian 4)
The Great Wall of China

Hari ketiga dikota Beijing. Agenda hari ini adalah mengunjungi tembok besar China. Dari rencana perjalanan yang telah diatur, kami akan menuju Badaling Great Wall dengan menggunakan transportasi umum (Subway/Bus). Tetapi hari itu kami diberikan fasilitas lagi, untuk menggunakan mobil yang telah disewa dan khusus mengantarkan kami ketembok besar China. Sang supir begitu ramah kepada kami, hanya saja diantara kami berlima yang sangat faseh zhongwennya (mandarin) adalah jeng Devi. So, dialah yang menemani supir selama perjalanan didalam mobil pada hari itu, yang laen? bisa … molor, hahaha. Diawal-awal perjalanan, sang supir bercerita sesuatu tentang kota Beijing, Tembok China dan cuaca semasa musim dingin. Supir menyarankan agar kita pergi ke Juyongguan Great Wall, karena lokasi yang lebih dekat dengan kota Beijing. Estimasi menggunakan mobil untuk Badaling great wall adalah 2 jam, sedangkan Juyongguan great wall hanya 1 jam 30 menit. Kita dapat menyusuri tembok besar Juyongguan yang akhirnya akan sampai pada Badaling great wall.
*pada bagian akhir cerita akan saya berikan itinerary yang seharusnya kami jalani, beserta tips-tips untuk menghemat waktu perjalanan selama di Beijing.
Entah beruntung atau bagaimana, pada hari itu salju turun dari langit tepat beberapa saat setelah sang supir bercerita tentang salju. Begitu terkagum-kagum melihatnya, sontak yang lagi tidur ikut bangun menyaksikan salju turun dari dalam mobil, hehe. Setelah sampai di Juyongguan great wall, akhirnya bisa menikmati turunnya salju. Dingiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnn, sampai-sampai tangan saya tidak merasakan apa-apa lagi. Deary yang pertama kali menyadari bentuk salju yang sangat unik. Bentuknya simetris dari beberapa buah segitiga yang digabungkan, sungguh suatu ciptaan tuhan yang maha kuasa. Dari butiran air bisa menjadi butiran es yang sangat halus.
Tiket masuk Juyongguan great wall sebesar RMB40. Saran yang harus diperhatikan untuk melewati tembok besar adalah, jangan memilih tembok yang berbukit dan menanjak. Kita akan kehabisan tenaga terlebih dahulu, sebelum mencapai puncaknya. Pilihlah tembok China yang datar, sehingga kita dapat berjalan dari ujung yang satu ke ujung yg lainnya. Ditambah lagi sewaktu kami kesana, suhu udara sedang tidak bersahabat. Alhasil, napas sudah tinggal 0.5 cc diparu-paru 😀 . Sebagai informasi, tembok besar China terbentang dari ujung timur dan hingga barat daratan China. Ada beberapa bagian tembok yang tidak menyatu dengan bagian tembok utama. Juyungguan adalah view point terdekat dari kota Beijing. Selain Juyungguan juga ada Badaling dan Mutianyu great wall. Kita dapat memilih sendiri tujuan dari tembok besar yang ingin kita lihat.
Setelah lelah mendaki dan puas berfoto ria, saatnya melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata berikutnya. Yang ingin dituju kali ini adalah air terjun. Sebenarnya tidak masuk dalam daftar perjalanan kami selama di bejing. Tapi mumpung mobil dapat membawa kami kesana, ya sudahlah .. dijalani saja ^^. Setibanya disini, bukan malah dapat air terjun, tetapi malah melihat gurung tertimbun salju dan sungai-sungai yang beku. Ditambah lagi dengan biaya masuk daerah wisata sebesar RMB 100, maka kami memilih untuk tidak memasukinya. Untuk mengobati rasa kecewa, kami berjalan kaki pulang menuju gerbang depan (sebelumnya harus menggunakan mobil khusus untuk mencapai daerah air terjun). Diperjalanan inilah, kami bermain-main salju dan bersuka ria dengan sisa-sisa salju dipinggiran jalan. Setelah sampai diparkiran mobil, perutpun terasa lapar dan saatnya makan siang (sudah lewat sebenarnya).
Sang supir membawa kami kesebuah rumah makan all you can eat. Menu yang tersedia adalah daging sapi, kambing, cumi, ikan, bakso ikan, udang, sayur-mayur, buah2an dan minuman susu kedelai. Dalam pikiran saya, pastilah harganya mahal untuk makanan ini. Setelah tidak sengaja terlihat disalah satu tembok, tertera angka 29 kuai a.k.a RMB29, saya pun menanyakan harga makanan ini. Ternyata memang RMB29 untuk setiap orang, dengan porsi makanan sepuasnya. Betapa murahnya jika dibandingkan dengan menu serupa di Taipei. Setelah kenyang, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Beijing. Sebelum pulang ke apartemen, perjalanan hari ini kami habiskan dengan mengunjungi sahabat jeng Devi untuk berliturahmi.
Untuk mengisi kekosongan dimalam hari, kami keluar untuk membeli makanan disebuah restoran dekat dengan apartment. Disambi juga dengan adanya akses internet direstoran tersebut, jadinya lumayan untuk hanya sekedar mengecek email atu berskype ria. Secara di China gak bisa buka youtube dan facebook, jadilah internet dihabiskan untuk membaca email-email yang telah masuk inbox.
Hongkong – Beijing (Bagian 3)
Dinginnya suhu Beijing dan Ski resort area
Hari-hari berikutnya selama lebih kurang seminggu akan kami lalui dikota besar ini. Setibanya di Beijing west station, kami berlima dijemput oleh Mr. Chang untuk diantarkan kerumah abangnya Deari, Chicco Mutaqin. Sebelumnya kami sempat mengambil beberapa video tentang kedatangan di Beijing west station, kami berlima telah menggunakan pakaian yang super tebal, hehehe. Suhu di Beijing saat itu adalah nol derajat. Lebih dari satu jam perjalanan menggunakan mobil, akhirnya kami tiba di US Federal apartment. Sebuah apartment dikawasan Chaoyang, komplek kedutaan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan China.
Sore itu, Beijing terasa sangat dingin bagi kami berlima. Setelah beristirahat sejenak, makan malam dan membersihkan diri. Kami memutuskan untuk menggeledah area disekitar tempat kami tinggal. Berjalan yang tak memiliki arah dimalam hari yang dingin, sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Sisa-sisa salju masih berserakan dipinggiran jalanan kota Beijing. Akhirnya dapat juga memegang dan merasakan salju, walaupun hanya sisa dipinggiran jalan.
Keesokan harinya, kami dijemput oleh Mr.Chang dan diantar ketempat wisata Yu Fon Shan Ski resort. Perjalanan menggunakan mobil sekitar 1 jam 30 menit. Tiket masuk kearea ski sebesar RMB 20 dan biaya sewa peralatan ski adalah RMB 140 untuk 2 jam. Kelebihan dari waktu yang telah ditentukan akan dikenakan biaya tambahan per sepuluh menit sebesar RMB 20.
Dengan segala keterbatasan kemampuan dan kesempatan pertama untuk mencoba papan ski, kami begitu antusias untuk langsung mencobanya. Kesan pertama? susaaaaaaahhhhhhhhh … hehehehehe. Bahkan untuk memasang papan ski pada sepatu khusus yang telah dipakai, harus menghabiskan waktu hingga setengah jam 😀 . Setelah mencoba untuk beberapa waktu, akhirnya memberanikan diri meluncur dari ketinggian yang paling landai ^^. Read the rest of this entry »

