| setiap orang pasti punya masalah dalam hidupnya. tapi yakinlah bawha tuhan tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan hambanya. mungkin masalah itu sudah allah tentukan untuk kita,untuk belajar tegar dalam menghadapi hidup . janganlah mengeluh dengan masalah yg kita hadapi,karna mengeluh itu hanya akan membuat kita semakin terpuruk.belajarlah mencari solusinya dan tentukan mana yg baik untuk kita dan mana yg tdk baik untuk kita. dan belajarlah memecah kan masalah dengan hati yg penuh ketenangan.karna apabila hati kita tenang maka pikiran kita pun jernih,dan apabila pikiran kita jernih maka tutur kata pun akan baik dan sopan. tuk itu jangan larilah dari masalah cari solusinya,pecahkan masalahnya dengan penuh kebijakan. itu akan menjadikan hidup lebih baik. |
Humaniora
| setiap orang pasti punya masalah dalam hidupnya. tapi yakinlah bawha tuhan tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan hambanya. mungkin masalah itu sudah allah tentukan untuk kita,untuk belajar tegar dalam menghadapi hidup . janganlah mengeluh dengan masalah yg kita hadapi,karna mengeluh itu hanya akan membuat kita semakin terpuruk.belajarlah mencari solusinya dan tentukan mana yg baik untuk kita dan mana yg tdk baik untuk kita. dan belajarlah memecah kan masalah dengan hati yg penuh ketenangan.karna apabila hati kita tenang maka pikiran kita pun jernih,dan apabila pikiran kita jernih maka tutur kata pun akan baik dan sopan. tuk itu jangan larilah dari masalah cari solusinya,pecahkan masalahnya dengan penuh kebijakan. itu akan menjadikan hidup lebih baik. |
Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Adapun panitia Kongres Pemuda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
- Abdul Muthalib Sangadji
- Purnama Wulan
- Abdul Rachman
- Raden Soeharto
- Abu Hanifah
- Raden Soekamso
- Adnan Kapau Gani
- Ramelan
- Amir (Dienaren van Indie)
- Saerun (Keng Po)
- Anta Permana
- Sahardjo
- Anwari
- Sarbini
- Arnold Manonutu
- Sarmidi Mangunsarkoro
- Assaat
- Sartono
- Bahder Djohan
- S.M. Kartosoewirjo
- Dali
- Setiawan
- Darsa
- Sigit (Indonesische Studieclub)
- Dien Pantouw
- Siti Sundari
- Djuanda
- Sjahpuddin Latif
- Dr.Pijper
- Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
- Emma Puradiredja
- Soejono Djoenoed Poeponegoro
- Halim
- R.M. Djoko Marsaid
- Hamami
- Soekamto
- Jo Tumbuhan
- Soekmono
- Joesoepadi
- Soekowati (Volksraad)
- Jos Masdani
- Soemanang
- Kadir
- Soemarto
- Karto Menggolo
- Soenario (PAPI & INPO)
- Kasman Singodimedjo
- Soerjadi
- Koentjoro Poerbopranoto
- Soewadji Prawirohardjo
- Martakusuma
- Soewirjo
- Masmoen Rasid
- Soeworo
- Mohammad Ali Hanafiah
- Suhara
- Mohammad Nazif
- Sujono (Volksraad)
- Mohammad Roem
- Sulaeman
- Mohammad Tabrani
- Suwarni
- Mohammad Tamzil
- Tjahija
- Muhidin (Pasundan)
- Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
- Mukarno
- Wilopo
- Muwardi
- Wage Rudolf Soepratman
- Nona Tumbel
Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua adalah sebagai berikut :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).
Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.
Apabila kita ingin mengetahui lebih lanjut mengenai banyak hal tentang Sumpah Pemuda kita bisa menunjungi Museum Sumpah Pemuda yang berada di Gedung Sekretariat PPI Jl. Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi utama seperti biola asli milik Wage Rudolf Supratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta foto-foto bersejarah peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda-pemudi Indonesia.
Acara yang dipimpin oleh ustadz Fadlan Garamatan ini merupakan pengukuwah Islamiyah Kepala Suku Asmat bersama istri dan seorang putranya yang berusia 12 tahun serta pengukuhan kembali pernikahan Kepala suku bersama istrinya secara Islam.
![]() |
| [Ust. Fadzlan Rabbani Al Garamatan] |
M Zaaf Fadzlan Rabbani Al-Garamatan adalah seorang ustad asli Papua / Irian.
Cita-citanya sungguh mulia, yaitu mendengar suara azan Shubuh berkumandang di seantero tanah Papua alias Irian, sehingga mampu “membangunkan” kaum Muslimin di Indonesia. Berbagai upaya pun dilakukan.
Hasilnya : 900-an masjid telah tersebar di Papua, ribuan orang dimandikan secara massal, diajari cara berpakaian, dikhitan, kemudian dituntun mengucapkan kalimah syahadat.
Saat ini 1.400 anak asli Papua telah disekolahkan gratis. Awalnya dimasukkan ke berbagai pesantren di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, kemudian menempuh jenjang perguruan tinggi, dalam dan luar negeri. Ratusan di antaranya tengah menempuh jenjang S-1, dan sudah ada 29 orang yang menggondol gelar S-2.
Data di atas hanyalah sedikit dari prestasi yang diukir para da’i Yayasan Al-Fatih Kaafah Nusantara (AFKN). Lembaga ini dikomandani pria gagah bernama M Zaaf Fadzlan Rabbani Al-Garamatan (40).
Dakwah di Papua memang istimewa. Tantangan alam begitu berat. Kultur dan kebiasaan masyarakat pun tak mudah ditaklukkan. Biayanya tinggi. Belum lagi harus berpacu dengan misionaris, yang selama ini sukses mencitrakan Papua identik dengan Kristen.
“Namun berdakwah di wilayah seperti itu luaarr biasa nikmatnya!” ujar Fadzlan dengan mata berbinar.
Nikmat, sehingga pria kelahiran Fak-Fak ini senantiasa menyunggingkan senyum meski harus jalan kaki berhari-hari demi menemui warga binaan. Bahkan tetap tersenyum mendakwahi seseorang yang telah tega memanahnya sehingga siku tangan kanannya berdarah-darah.
Apa saja yang dilakukannya bersama da’i AFKN sehingga mampu menuai prestasi luar biasa itu ? Apa pula tanggapannya tentang “koteka” dan Papua di masa depan ? Simak kisahnya kepada Dwi Budiman, Mahladi, dan Pambudi Utomo, serta fotografer Ahmad Lutfi Effendi dari Suara Hidayatullah.
Perbincangan berlangsung di markas AFKN di Bekasi (Jawa Barat), suatu sore ketika hujan rintik-rintik, ditemani manisan pala, sagu, teh manis, serta kerupuk ubi suku abun Sorong yang rasanya benar-benar khas.
Apa kabar Ustadz ?
Alhamdulillah. Maaf Anda terpaksa menunggu. Saya baru pulang dari (Pelabuhan) Tanjung Priok, mengirim sabun, sarung, mukena, Al-Qur`an, sajadah, dan pakaian ke Papua. Kemudian ke Departemen Agama, mengurus pengangkatan tenaga penyuluh agama.
Seberapa sering pengiriman bantuan semacam itu dilakukan ?
Paling tidak seminggu dua kali. Setahun kami kirim sekitar 29 ton pakaian layak pakai. Orang-orang PT Pelni sampai komentar, ‘Pak Fadzlan ini kerjaannya ngurusin pakaian bekas melulu’. “Biar saja, memang kenyataannya begitu.”
Dakwah saya di berbagai majelis ta’lim di Jakarta, akhirnya ya urusan sabun dan pakaian. Saya bilang, “Daripada pakaian Anda dibuang-buang, kirimlah kepada saya.”
Barang kiriman itu bertruk-truk. Bahkan AFKN (atas kerjasama dengan instansi pemerintah) pernah mengirim belasan sepeda motor untuk keperluan operasional para da’i. Pelabuhan pun kami buat sibuk. He…he…
Mengapa barang-barang semacam itu penting bagi kaum Muslimin Papua ?
Sebelum berdakwah, kami mempelajari medan dulu untuk mengetahui kebutuhan masyarakat. Apa maunya, akan dibawa ke mana, lalu kami tawarkan konsep. Kalau tidak ada listrik, kami bikin listrik. Tidak ada air bersih, bikin sarana air bersih. Perlu pakaian, kami drop dari Jakarta, lengkap dengan mesin jahitnya sehingga mereka bisa berkarya.
Seperti apa gambaran kondisi masyarakat binaan Anda sehingga memerlukan hal-hal di atas?
Telepon mereka adalah nyamuk, listriknya cahaya bulan dan matahari. Mandi dan pakaian pun baru dikenalnya.
Tentang kondisi alam, semua orang tahulah bagaimana Irian.
Kami lalu peragakan Islam, perilakunya, aturannya. Setelah mereka lihat, kemudian bertanya-tanya. Misalnya ketika kami shalat, mereka perhatikan mulai dari takbiratul-ihram, ruku’, sujud, sampai salam. Kami jelaskan dengan bahasa sederhana.
Penjelasan seperti apa ?
Mereka bertanya, “Kenapa Anda angkat tangan dan mulutnya bicara-bicara ?” Saya jelaskan bahwa bapak dan ibu kami beragama Islam. Kami diperintah oleh Tuhan kami, Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam satu hari lima kali menghadap-Nya. Ketika mengangkat tangan itu, kami menyebut Allah Maha Besar. Dia yang pantas dibesarkan, sementara kami ini nggak ada maknanya.
Mereka bertanya lagi, “Kenapa membungkukkan badan ?” Supaya menyaksikan bahwa Allah menyediakan kekayaan alam di bumi. Ada batu, pohon, sayur, ikan. Ketika mengambil kekayaan alam, manusia tidak boleh sombong dan merusak, maka kami menunduk.
“Kenapa mencium papan ?” Di pedalaman, kami membuat tempat shalat di panggung, karena banyak babi berseliweran seperti mobil di Jakarta. Kami sujud, agar bisa menangis karena suatu hari nanti tubuh ini akan kembali dilebur dengan tanah.
“Mengapa menengok ke kanan dan kiri kemudian mulutnya bicara-bicara ?” Itu salam. Setelah berkomunikasi dengan Allah, kami harus menengok ke kanan dan kiri, mungkin ada orang yang belum berpakaian, maka kami ajari berpakaian. Jika ada yang belum mandi, tugas kami mengajari mandi. Bila belum ada yang pintar, tugas kami mengajar. Tumbuhlah hubungan dengan Allah, kemudian hubungan dengan manusia di atas bumi. Terciptalah kedamaian dan keamanan.
Alhamdulillah, penjelasan semacam itu mampu mengetuk hati orang yang belum mengenal Islam. Mereka lantas bilang, “Kalau begitu, kami masuk Islam.” Ada yang bersyahadat sendiri, banyak pula yang massal.”
Ketika menjumpai masyarakat yang belum berpakaian, apa yang Anda lakukan ?
Pakaian memang proses awal yang agak susah. Ini sasaran dakwah yang benar-benar pemula.
Awalnya kami kenalkan celana kolor, mereka tertawa. Namun ketika mereka memakainya dan lama-lama enjoy, malah akhirnya malu melepasnya. Kami bawakan cermin. Ketika masih telanjang, mereka takut melihat bayangannya sendiri. Setelah memakai celana dan baju, mereka merasakan perubahan dalam dirinya. Ternyata lebih bagus.
Bagaimana Anda menjelaskan fungsi pakaian ?
Kami kisahkan tentang Nabi Adam ‘alaihissalaam. Barangkali pakaian koteka itu seperti Adam dan Hawa yang telanjang ketika diusir dari surga. Tapi setelah ada ilmu, maka tidak boleh lagi berpakaian seperti itu. Manusia kan punya akal, bukan binatang. Lalu kami perkenalkan pakaian, cara memakai, dan semacamnya. Kini kami kewalahan memenuhi permintaan pakaian. Alhamdulillah.
Bagaimana mengajari kebiasaan mandi ?
Memang mereka mandinya dengan melulur minyak babi di tubuh. Kenapa begitu ? Katanya untuk menghindari nyamuk dan udara dingin.
Kami ajari mereka mandi dengan air dan sabun. Tak jarang harus mandi massal orang sekampung. Ibu-ibu keramas memakai sampo.
Pernah ada seorang kepala suku yang begitu menikmati sabun mandi. Tanpa dibilas, dia langsung keliling kampung karena merasa amat senang dengan bau wangi sabun di tubuhnya.
Kami lakukan dakwah tentang kebersihan itu dengan bertahap. Akhirnya mereka menyadari, ini anak-anak Islam ternyata lebih meyakinkan dibanding orang-orang bule yang biasa mendatanginya dengan naik pesawat.
Apa yang Anda jelaskan tentang makna kebersihan ?
Misalnya tentang wudhu, kami jelaskan bahwa hidup ini harus bersih. Sebelum menghadap-Nya, kami diperintah untuk bersih dulu. Dengan demikian, ketika ber-takbiratul-ihram, Allah akan mengatakan, “Tangan kamu sudah dicuci, sudah bersih.” Mulut yang mengucap “Allahu Akbar,” juga bersih. Begitu juga bagian tubuh lainnya. Nah, kalau bapak-bapak dan ibu-ibu sudah bersih, mari tegakkan harumnya Islam di tengah-tengah kita.
Bagaimana menjelaskan aspek kebersihan dan pakaian, khususnya untuk kaum wanita ?
Ini diajarkan oleh akhwat-akhwat binaan kami, yang tak kalah semangatnya di “medan tempur”, terutama bila kondisi geografisnya tidak terlampau sulit. Bahkan kami pernah dakwah dengan salon.
Maksudnya ?
Ceritanya bermula dari akhwat binaan kami yang jadi karyawan salon di Mojokerto (Jawa Timur). Dia jadi familier dengan masalah kecantikan. Rambutnya di-rebounding sehingga lurus, tubuhnya (maaf) bersih.
Suatu saat dia pulang kampung ke Enarotali, Paniai, dan ceramah. Ibu-ibu kagum. Ini anak jadi cantik, lancar mengaji, bisa ceramah, tutup auratnya pake mukena. Dia katakan, perubahan fisik dan keilmuannya itu karena ajaran Islam. Akhirnya ibu-ibu bilang, “Kami mau masuk Islam tapi pingin cantik seperti kamu.”
Kami kemudian menyewa perlengkapan salon dan dibawa ke kampung itu, selama 3 bulan. Alhamdulillah, banyak yang akhirnya bersyahadat.
Bagaimana mengajarkan pemahaman tauhid kepada penganut kepercayaan animisme-dinamisme seperti di Papua ?
Aspek perilaku sangat menentukan. Ada orang yang takut dengan pohon besar. Kami tunjukkan bahwa di pohon tidak ada yang perlu ditakuti. Ada komunitas yang suka berperang, maka kami jelaskan agar tidak melakukannya lagi, apalagi jika sudah sama-sama bersyahadat. Yang suka mencuri, kami larang karena itu merugikan.
Kami jelaskan hal itu mulai dari tokoh masyarakatnya, semisal kepala suku. Dia yang kemudian akan mengkampanyekan ke masyarakatnya. Bahkan kalau di situ ada misionaris, mereka sendiri yang mengusirnya.
Pernah ada sekelompok masyarakat yang memasang kayu-kayu di lapangan terbang perintis agar misionaris tak bisa mendarat. Kami tidak menyuruhnya, tapi mereka sendiri yang berinisiatif melakukannya.
Pernah ada bentrok ?
Banyak. Tombak, panah, diusir, adalah hal yang biasa menimpa kami. Namun saya sampaikan kepada teman-teman agar tombak itu dijadikan shiraathal-mustaqiim. Kalau dipenjara, jadikan itu sebagai rumah surga awal. Jika difitnah, itu adalah untaian hidup dan puisi baru kita. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dilempari, dicaci-maki, difitnah, tapi beliau terus menebarkan senyum. Subhanallah!
Anda sendiri pernah mengalami tindak kekerasan ?
Pernah kena panah, sampai ini patah (sambil memperlihatkan bekas tusukan panah di lengan kanannya), bengkok sampai sekarang. Tapi bagi kami, tidak perlu bicara tantangan. Seorang yang mau maju, bicara kebajikan, pasti ada tantangan. Itu hal biasa bagi seorang da’i.
Bagaimana kejadiannya ?
Sekitar tahun 1994, antara wilayah Mapenduma dan Timika. Saya bersama delapan orang da’i sedang survei ke sebuah kampung untuk dijadikan binaan. Tiba-tiba tangan saya kena panah.
Saya tidak tahu persis penyebabnya. Barangkali karena pemanah itu belum memahami apa yang kami lakukan. Bisa pula orang-orang itu diprovokasi pemahaman yang keliru. Atau mungkin kami hanya salah sasaran konflik aparat dan kelompok yang menyebut dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Apa yang kemudian Anda lakukan ?
Anak panah itu dicabut, lalu kami bakar pisau kemudian ditusukkan ke luka itu agar racunnya tidak bekerja. Kemudian saya ke dokter.
Dokter dimana ?
Di Timika. Jalan kaki empat hari. Alhamdulillah lukanya tidak terus mengeluarkan darah. Alhamdulillah pula orang yang memanah itu akhirnya masuk Islam.
Bagaimana bisa ?
Nabi itu, diapain saja oleh lawan yang memang belum faham, tetap tersenyum. Allah pun berfirman, “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)
Apalagi jika hal itu dilakukan ketika dia sakit, atau saat susah. Saat itulah insya Allah akan gugur naluri kebenciannya.
Itu pula yang saya lakukan terhadap orang itu.
Menurut pengamatan Anda, apakah orang yang kemudian memeluk Islam berubah menjadi lebih baik ?
Luar biasa. Setiap ke mushalla atau masjid, mereka mengaku merasa tenang. Barangkali Islamnya justru lebih baik dibanding saya. Mereka itu sangat jujur. Perang antar suku pun akhirnya berhenti.
Ada seorang kepala suku yang menyatakan masuk Islam, kemudian dianiaya sekelompok orang, ditindih kayu, ditelanjangi, namun tetap teguh memegang syahadat. Luar biasa. Saya menangis bila menjumpai hal seperti ini.
Pernahkah punya pengalaman mengesankan terkait dengan pensyahadatan massal, misalnya ?
Pernah di kawasan Sorong. Ketika banyak orang bersyahadat, pohon di sekelilingnya seperti merunduk. Padahal tak ada angin tak ada hujan. Kawanan rusa liar pun tiba-tiba tenang, tidak bergerak. Wallahu a’lam, barangkali mereka selama ini belum pernah mendengar kalimat suci itu dari mulut manusia, meski semua makhluk sebenarnya selalu bertasbih menyebut asma-Nya.
Menilik apa yang Anda lakukan, tampaknya memerlukan waktu lama untuk berdakwah di suatu lokasi ya ?
Paling tidak lima tahun di suatu tempat. Ada da’i yang musti stand by di sana. Saya sendiri jaga markas di Jakarta, namun sering mengunjungi mereka di berbagai daerah. Sekali ke Papua, saya bisa menghabiskan waktu 9 bulan.
Kemudian ke Jakarta untuk bikin proposal, mendapat bantuan, lalu ke Papua lagi.
Selama 9 bulan itu, apa saja yang Anda lakukan ?
Keliling ke desa-desa binaan. Safari ini berfungsi untuk mendata kebutuhan masyarakat dan mengevaluasi perkembangan dakwah.
Apakah da’i yang stand by itu kader binaan AFKN ?
Ya, tapi kami juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Hidayatullah. Alhamdulillah, sebagian da’i itu kini sudah tercatat di Departemen Agama sebagai penyuluh, sehingga punya gaji.
Semua da’i itu asli orang Papua ?
Kebanyakan asli Papua, namun tak sedikit pula yang dari luar. Keduanya kami “kawinkan”, saling melengkapi.
Da’i asli Papua lebih bagus pendekatan sosial-kemasyarakatannya. Itulah sebabnya mereka bertugas “membuka lahan” dakwah. Banyak warga yang kemudian bersyahadat. Sementara da’i non-Papua biasanya unggul dalam hal ilmu agama dan keterampilan. Mereka ini bertugas meneruskan apa yang telah dirintis da’i asli Papua.
Seberapa banyak da’i dari luar Papua yang aktif bersama AFKN ?
Alhamdulillah banyak. Ada yang dari Garut, Tasikmalaya (Jawa Barat), Lamongan, Gresik (Jawa Timur), Makassar, dan lain-lain. Para da’i ini punya keterampilan lain sehingga bisa mengembangkan berbagai potensi yang ada di Papua.
Tidak mengalami kendala bahasa ?
Memakai bahasa Indonesia saja, insya Allah masyarakat bisa mengerti. Memang akan lebih bagus kalau bisa bahasa setempat. Tapi harap tahu, di Papua ada 234 bahasa.
Anda sendiri bisa berapa bahasa ?
Alhamdulillah, Allah kasih anugerah saya bisa berkomunikasi dalam 49 bahasa.
Subhanallah, banyak sekali, misalnya bahasa apa ?
Bahasa Kokoda, Kaimana, Wamena, Asmat, Babo, Irarutu, dan sebagainya.
Budaya Koteka adalah Pembodohan !
Fadzlan sebenarnya lebih sreg menyebut nama Nuu Waar bagi tanah kelahirannya, bukan Papua atau Irian. “Itu nama Irian dulu, bahasa Irian. Nuu artinya cahaya, waar menyimpan rahasia,” jelasnya.
Pria yang juga pendiri Pesantren Al-Khairat Rawalumbu Bekasi ini kemudian mengungkap “rahasia” itu.
“Salah satunya barangkali rahasia di balik anugerah Allah kepada Irian sebagai bagian dari Indonesia. Muslim Papua-lah yang pertama kali mengumandangkan azan Shubuh. ‘Ashalaatu khairu min an-naum!’ Ayo bangun!”
“Bangunlah kebersamaan, ukhuwah Islamiyah. Jika orang Irian tidak shalat, tidak akan terdengar takbir di pagi hari. Padahal matahari dan bulan ingin mendengar takbir.”
“Allah pun berfirman dalam Surat An-Nashr: 2, ‘…dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong’. Itu terjadi di Irian,” ujarnya.
Dalam sejarahnya, nama itu kemudian diganti oleh Portugis menjadi Papua, lalu diganti oleh Indonesia menjadi Irian, sekarang jadi Papua lagi. “Semoga di masa depan menjadi Nuu Waar lagi,” harap Fadzlan.
Sejatinya, Islam telah menjadi bagian integral dari perkembangan masyarakat Papua. Seperti tertulis di buku Islam atau Kristen Agama Orang Irian karya Ali Athwa (wartawan Suara Hidayatullah), Islam justru datang lebih dulu dibanding Kristen. Fadzlan pun meyakini hal itu.
“Islam adalah agama pertama yang masuk Papua. Orang Islamlah yang mengantar Pendeta CW Otto dan JG Gensller ke Irian tanggal 5 Februari tahun 1855. Saat itu, Syaikh Iskandar Syah dari Samudera Pasai sudah datang, pengaruh Raden Fattah dari Kesultanan Demak juga sudah ada, hubungan Muslim Irian dengan Kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku pun erat.”
“Menurut data yang saya temukan, saat itu sudah ada halaqah-halaqah yang digerakkan para da’i sejak abad ke-12. Raja berperan besar dalam menggerakkan dakwah,” jelas pria yang masih keturunan Raja Pattipi ini.
Menurut Fadzlan, kerajaan-kerajaan Islam saat itu berdiri di berbagai wilayah. “Ada 12 kerajaan, di bagian selatan ada 9, ada pula di utara, termasuk di kawasan Wamena, namanya Kerajaan Abdussalam Nowak. Salah satu keturunan Nowak ini adalah Haji Aipon Asso, tokoh masyarakat Wamena,” urai Fadzlan yang kini tengah melakukan penelitian tentang sejarah Islam di Nuu Waar.
Islam lebih dulu berkiprah di Papua, namun sekarang wilayah ini identik dengan Kristen. Tanggapan Anda ?
Ini korban opini media massa. Cerita tentang Irian kan tidak jauh dari koteka. Dalam waktu yang sama, posisi-posisi birokrasi dikuasai oleh saudara-saudara kami yang Kristen. Merekalah yang akhirnya lebih menonjol.
Menurut Anda, kenapa birokrasi bisa dikuasai mereka ?
Kesalahan pemerintah pusat. Dulu waktu berjuang mengembalikan Papua ke pangkuan ibu pertiwi, dimulai dari basis massa Islam, terutama di wilayah barat. Jiwa raga Muslim Irian dipertaruhkan. Tapi setelah berhasil, Islam tidak dibesarkan, dakwah tidak dikembangkan. Alur informasi pun tidak pernah diterima dengan baik oleh basis-basis Islam. Apalagi basis birokrasi kemudian beralih ke Jayapura, sebuah wilayah warisan penjajah Portugis.
Apakah Irian yang identik dengan Kristen itu juga dipengaruhi oleh aktivitas misionaris ?
Jelas. Seperti Timor Timur. Awalnya banyak yang Muslim, tapi karena ada proses pembodohan maka jadi murtad.
Di Irian, ada proses pembodohan seperti apa ?
Contoh kecilnya adalah masalah pakaian dan mandi. Kami dibiarkan tetap memakai koteka dan mandi minyak babi, ini adalah pembodohan yang diajarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kami menjadi korban ketidakadilan pembangunan.

Telanjang dianggap sebagai kebudayaan kami, padahal itu adalah pembunuhan karakter sebagai mahluk, sebagai hamba Allah. Kalau di antara kami ada yang jadi menteri atau anggota DPR, apakah ke Jakarta pakai koteka ? Nggak bisa, manusia!
Ibu yang meneteki anaknya dan babi sekaligus juga dibiarkan. Tradisi perang antarsuku dipertahankan. Akibatnya, muncul anggapan bahwa orang Irian itu jahat. Mereka juga membawa minuman keras untuk membuat generasi muda kami mabuk-mabukan.
Apa yang Anda lakukan untuk memberantas pembodohan itu ?
Pendidikan. Ini adalah sumber utama untuk mengubah manusia. Kalau tidak dimulai dengan pendidikan, ke depan kita akan hancur, termasuk tatanan tauhid atau aqidahnya.

Masyarakat Irian butuh pemikiran, perubahan, butuh ketenangan hidup. Bukan dijual untuk dijadikan ladang hidup.
Selama ini kami dibiarkan miskin agar bisa jadi proyek.
Generasi Irian harus dibekali dengan konsep ilmu yang benar. Dengan demikian, ketika sudah berilmu dan kembali ke kampung halaman, jiwanya akan terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya. Dan untuk mendapatkan ilmu yang benar, generasi muda Muslim Papua tidak boleh di lingkungan asalnya, tapi harus hijrah.
Mengapa begitu ?
Seperti ember kosong, diambil dari akar lingkungannya yang belum berilmu dan beraqidah secara benar. Ketika ember ini penuh, kemudian harus menuang ke negerinya sendiri. Jadi, harus pulang ke Papua. Dengan begitu, diharapkan mereka dan masyarakatnya akan tumbuh dan berkembang.
Ketika kuliah, apakah anak-anak diarahkan untuk mengambil jurusan tertentu ?
Terserah mau ngambil apa, sesuai potensinya. Mau jadi guru, tentara, polisi, pengusaha, arsitek, dokter, wartawan, tidak masalah. Asal, profesi sebagai da’i tidak boleh lupa. Ketika masuk di kelompok masyarakat, dakwah dulu baru bicara struktur atau birokrasi. Ini adalah amanah yang kami berikan kepada seluruh anak. Kalau tidak, bagaimana orang bisa tahu bahwa Islam bisa tumbuh dari Irian?
Dan perlu dicatat, 10 atau 20 tahun lagi merekalah yang bakal menentukan masa depan Papua.
Bagaimana cara meyakinkan keluarganya agar rela anak-anak dibawa ke tempat yang jauh ?
Mereka sudah melihat apa yang sering kami lakukan di kampung. Kami biasa shalat berjamaah Shubuh di tempat mereka, ada kultum, kemudian bekerja. Waktu zhuhur ke mushalla lagi, habis Ashar ada ta’lim.
Kami tunjukkan foto, majalah, atau apapun yang bisa menunjukkan tentang anak-anak Irian yang berhasil, berkat pendidikan. Mereka pun bertanya, “Bagaimana caranya sekolah?”
Kami jelaskan, “Di sini gurunya susah. Bagaimana kalau anak Bapak atau Ibu kami bawa?” Mereka pun setuju.
Agar lebih meyakinkan, orangtua atau keluarganya kami bawa ke Jawa. Matanya terbuka. Begitu kembali ke kampung, mereka bercerita kepada tetangga. Begitu seterusnya.
Bagaimana proses rekrutmennya ?
Sebelum anak-anak dibawa, kami “tidur” dulu di kampungnya 2-3 bulan, bahkan bisa sampai 2 tahun. Kami bicarakan dari hati ke hati bagaimana jika anak-anak ini dibina. Ternyata responsnya luar biasa. Kadang-kadang saya bisa bawa 50-60 anak ke Jawa, baik yang sudah Muslim atau masih mualaf.
Ketika datang ke Jawa, apakah mereka mengalami masalah, karena perbedaan kultur misalnya ?
Ketika awal di pesantren, memang agak susah. Perlu adaptasi, mulai dari kebiasaan sampai masalah makan.
Anak-anak ini terbiasa makan sagu atau ubi, maka ketika makan nasi jadi sakit perut. Atau, kalau makan nasi habis sebakul. Alhamdulillah, lama-lama bisa adaptasi dan berprestasi. Ada beberapa kader kami di Pesantren Gontor, misalnya, yang hafidz Al-Qur`an.
Bagaimana memantau perkembangan anak-anak yang tersebar di berbagai tempat itu ?
Setiap Ramadhan kami kumpulkan di Bekasi. Anak-anak bisa ketemu, tukar pikiran dan pengalaman. Masing-masing akan termotivasi dengan perkembangan temannya. Kami pun bisa memantau sejauhmana perkembangan anak-anak.
Kantor di Bekasi yang aktif sejak tahun 1985 ini menjadi semacam markas dan pusat informasi. Di sinilah jadi tempat bertanya.
Sebelum ada markas, saya banyak di hutan. Komunikasi tidak lancar sehingga banyak masalah tak terselesaikan.
Alhamdulillah, sekarang lebih mudah, meskipun tempat ini (di Bekasi) masih sewa. Ada lagi pusat-pusat informasi seperti di Surabaya dan Makassar.
Selain menggarap pendidikan, adakah kegiatan lain ?
Ada program pemberdayaan ekonomi. Contohnya sagu. Kami kirim mesin pengolah sagu ke Irian sehingga produksi bisa meningkat. Kalau menggunakan cara tradisional, satu pohon saja sehari tidak selesai. Tapi kalau memakai mesin, sehari bisa menghasilkan 5 ton tepung. Warnanya pun putih karena memakai air tanah, bukan air rawa seperti sebelumnya. Untuk itu, kami buatkan sumur bor.

Juga usaha ikan tenggiri. Krupuk 1.000 kantong per hari. Ikan asin, sarang semut, buah merah, sagu, terasi udang, abon ikan, abon kambing, abon rusa, dan semacamnya. Kami juga sedang menggerakkan peternakan kambing, untuk mengganti peternakan babi. Alhamdulillah, beberapa produk kami sudah bisa menembus hipermarket. Para da’i dan anak-anaklah yang jadi tenaga marketing-nya. (Dwi, Pambudi/Suara Hidayatullah)
Dikira Misionaris
M Zaaf Fadzlan Rabbani Al-Garamatan terlahir dari keluarga Muslim. Ayahnya, Machmud Ibnu Abubakar Ibnu Husein Ibnu Suar Al-Garamatan, dan sang ibu, Siti Rukiah binti Ismail Ibnu Muhammad Iribaram, sudah menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini. “Dari kecil saya sudah mengaji dan suruh jaga itu Islam,” ujar anak ketiga dari delapan bersaudara ini.
Fadzlan masih keturunan Raja Pattipi, penguasa kerajaan Islam pertama di Irian. Belum lama ini keluarga kerajaan mewakafkan tanah seluas 150 hektar untuk dakwah Islam. “Saat ini baru dimanfaatkan untuk pertanian. Insya Allah akan dibangun untuk Islamic Center,” kata Fadzlan.
Pendidikan dasar sampai SMA ditempuh di Fak-Fak. Tahun 1980 melanjutkan ke Fakultas Ekonomi universitas ternama di Makassar, lulus 1984. “Sebenarnya mau masuk Tarbiyah, ingin jadi guru seperti orangtua saya. Tapi keterpurukan ekonomi masyarakat di sekitar saya mendorong untuk masuk Ekonomi, barangkali saya bisa berbuat sesuatu kelak,” kenangnya.
Meski orangtuanya guru dan punya penghasilan lumayan dibanding warga sekitarnya, Fadzlan kuliah dengan biaya sendiri. Ia jualan minuman ringan dengan gerobag dorong. “Itu namanya perjuangan. Di Irian yang bergunung-gunung saja bisa saya taklukkan, masak daerah rata gini tidak bisa he…he…”
Semasa kuliah, Fadzlan aktif di berbagai kegiatan. Misalnya menjadi Sekretaris Bidang Pembinaan Remaja Masjid Raya Makassar, pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan berbagai kegiatan keagamaan di kampus.
Aktivitasnya itu membuat Fadzlan kerap tampil di atas mimbar. Tiap pulang kampung, yang dilakukannya bukan bercengkerama dengan keluarga, tetapi berdakwah. Mula-mula di sekitar Fak-Fak, lalu ke Sorong, Nabire, Jayapura, dan seterusnya.
“Saya datangi masjid-masijd, silaturrahim dengan pengurusnya, juga lembaga-lembaga Islam, sehingga terbangun jaringan silaturrahim di berbagai daerah di Irian. Inilah yang kelak sangat membantu terbentuknya jaringan AFKN.”
Kesibukan berdakwah itu membuat Fadzlan jadi “telat” menikah. Baru kesampaian tahun 1998, dengan menyunting Sri Ratu Fiftin Irjani, Muslimah berdarah Bugis. Allah telah menganugerahinya seorang putra tampan bernama Muhammad Fakar al-Fakih (7 tahun).
Apa yang mendorong Anda jadi da’i ?
Saya ini sekolahnya umum, bukan pesantren. Dulu kalau tidak pakai kopiah dan baju koko, saya ucapkan salam kepada orang Jawa, Makassar, orang Padang, kok seringkali tidak dijawab. Barangkali mereka melihat penampilan fisik saya yang rambutnya keriting, kulit hitam, dari Irian, pasti Kristen.
Padahal saya terang-terangan berwudhu, shalat berjamaah di masjid, namun masih saja dicurigai. Barangkali saya dianggap misionaris yang menyusup. Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Satu-satunya cara agar orang mengakui saya sebagai Muslim adalah dengan menjadi da’i.
Selain di AFKN, apa aktivitas lainnya ?
Di Pesantren Al-Khairat Bekasi, juga mengajar majelis ta’lim di beberapa instansi di sekitar Jakarta. Namun saya membatasi kegiatan ceramah di Jakarta, sebab kalau terlalu padat nanti jadi tidak bisa sering “tempur” di Irian.
Anda sudah menjelajahi seluruh wilayah Papua ?
Sebagian besar, namun ada beberapa wilayah di sekitar Merauke yang belum. Masih banyak yang belum bisa ditembus para da’i, mungkin sekitar 20%. Maklum, kondisi alam yang sulit. Itulah kawasan yang sering diklaim misioaris sebagai kawasan Kristen, padahal tidak seperti itu.
Tantangan terberat di daerah mana ?
Semua berat. Tapi kalau berpikir berat-berat terus, kapan orang mau masuk Islam ? Biar satu kampung cuma ada 5-6 orang yang potensial kami bina, yang penting kami sampai.
Bagaimana menjaga stamina ruhani agar tetap fight menghadapi tantangan semacam itu ?
Tanamkan dan belilah nafsu dunia dengan keikhlasan dan kesabaran. Tancapkan pedang amanah di atas pundak, ini adalah tugas yang mulia.
Sumber: hasil wawancara ustadz Fadlan dgn majalah Suara Hidayatullah.
Lihat juga: http://dakwahafkn.wordpress.com/tentang-kami/
.
:::PROGRAM DAKWAH BAGI MUALAF DI PAPUA:::
MUALLAF BERSERU
Assalaamu’alaikum.
Ditengah Fitnah, Hujatan cacian dan makian yang di tujukan untuk Islam Kami Muallaf dan para pembina grup Mualaf Indonesia, laman Mualaf Center Indonesia serta laman Mualaf, serta aneka grup dan laman FB lain, serta Mailing List, bekerjasama dengan Ustad Fadlan Garamatan dari AFKN (Al Fatih Kaaffah Nusantara); mengadakan penggalangan Dana bagi pembangunan Atap Masjid (Kubah) serta MCK bagi para mualaf di Papua. Dana tersebut juga akan dimanfaatkan bagi pembinaan para mualaf.
Salurkan zakat, infak, atau sedekah terbaik Anda untuk membantu dakwah ini, melalui:
BRI 020601016785505
Mandiri 1540098085941
BCA 0911318031
An. MZ Fadzlan Garamatan
JAZAKUMULLAH KHAIRAN
Al Quran Surat Ash Shaff 2-4 (61:2-4):
(2) Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
(3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
(4) Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berjihad (amar ma’ruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kejahatan dengan cara yang baik dan penuh perhitungan dan sedapat mungkin kedamaian sebagaimana dicontohkan para Nabi dan Rasul) di jalan-Nya, dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh ( = dengan menggunakan Manajemen yang baik dan bersama-sama ).
Al Quran Surat Ash Shaff 10-13 (61:10-13):
(10) Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan (bisnis) yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(11) (yaitu) Kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
(12) Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah (surga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
(13) Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
“Manusia yang paling dekat derajatnya kepada derajat kenabian ialah para mujahiddin (pejuang agama) dan ‘alim-‘ulama-ilmuwan (cendekiawan), karena kaum mujahiddin melaksanakan ajaran para rasul (utusan), dan ‘alim-‘ulama-ilmuwan membimbing manusia untuk melaksanakan ajaran nabi-nabi.” (HR. Ad-Dailami)
“Barangsiapa memberikan perlengkapan bagi seorang yang berperang di jalan Allah maka dia terhitung ikut berperang dan barangsiapa ikut memenuhi kebutuhan keluarga (menyantuni) orang yang berperang maka dia terhitung ikut berperang di jalan Allah.” (HR. Bukhari)
“Barangsiapa ingin agar do’anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan.” (HR. Ahmad)
“Orang yang berbelas-kasihan akan dikasihi Ar Rahmaan (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di langit.” (HR. Bukhari)
Info Lengkap : http://dakwahafkn.wordpress.com/
![]() |
| [Kapal Dakwah Papua] |
Anting-anting adalah jenis tanaman liar yang banyak tumbuh dimana-mana serta beberapa orang yang tidak atau belum tahu bila daun anting-anting ini memiliki manfaat herbal yang bagus untuk pengobatan berbagai penyakit.
Anting – anting atau nama ilmiahnya Acalypha australis L memiliki rasa pahit serta berbentuk sejuk. Kandungan kimia yang terdalam dalam tumbuhan ini belum banyak di ketahui, namun dari kegunaan dari tumbuhan ini sudah banyak di ketahui mulai sejak jaman dulu secara turun temurun.
Efek farmakologis yang dipunyai oleh tumbuhan anting – anting ini salah satunya antibiotik, peluruh kencing, sebagai astringen, serta hentikan pendarahan.
Ramuan Obat Herbal dengan Daun Anting-anting
Berak Darah, Mimisan, serta Batuk
Cuci bersih 30 – 60 g tumbuhan anting – anting kering
Rebus dengan 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas
Dinginkan
Diminum 2 kali satu hari dengan masing – masing 1/2 gelas.
Disentri
Cuci bersih 30 – 60 g tumbuhan anting – anting kering
Rebus dengan 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas
Dinginkan
Minum 2 kali satu hari masing – masing 1/2 gelas
Kerjakan dengan teratur 5 – 10 hari.
Diare dan Muntah Darah
Siapkan daun anting-anting kering
Rebus 30 – 60 g tumbuhan anting – anting kering dengan 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Dinginkan
Diminum air rebusannya 2 kali sehari
Setiap kali minum masing – masing 1/2 gelas.
Pendarahan serta Luka Bakar
Lumatkan herba anting – anting fresh secukupnya
Campurkan dengan gula pasir secukupnya
Tempelkan hasil lumatannya ke sisi yang luka.
Tanaman Anting-anting untuk Obat Diabetes Jenis 2
Pengembangan tanaman anting-anting jadi obat herbal sudah lewat step uji pra klinis terbukti dapat turunkan kadar gula darah. Ekstrak zat aktif anting-anting dikemas dalam kapsul yang higienis serta praktis. Bahan baku obat herbal penurun kadar gula darah ini merupakan tanaman asli dari Indonesia hingga memberikan momentum untuk menjadi raja di negeri sendiri.
Sebagian penyakit mengakibatkan ketergantungan pada obat serta butuh dikonsumsi terus menerus. Menggantikannya dengan obat herbal terstandar dari tanaman lokal bakal mengurangi dampak negatif pemakaian jangka panjang sekalian memudahkan biaya pengobatan pasien.
Tanaman anting-anting ini dipakai untuk diabetes jenis 2 yakni diabetes yg tidak memerlukan insulin. Tanaman ini memiliki ciri-ciri tinggi seputar 30cm serta kelopak daunnya berupa anting-anting seperti terompet. Pengembangannya sendiri dengan cara pri-klinis murni dari ekstrak tanaman anting-anting.
Keunggulan obat ini terkecuali harganya ekonomis serta terjangkau, dampak samping negatif pemakaian obat herbal untuk jangka waktu panjang relatif kecil serta dari tanaman asli Indonesia.
“Saya mengujikan pada mencit satu filia/keturunan itu dapat meminimalisir hasil yang menyimpang jauh. Dengan cara farmakologis kami memakai obat perusak gula darah yang secara standar dapat diproduksi jika kita tahu kandungan pertama, kedua serta ketiga. Dari situ kita bisa mengetahui preventif kenaikan serta keturunan gula darah dari hasil uji laboratorium, ” terang M. Indung, peneliti Lembaga Riset dan Pengembangan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka pada siaran radio yang diadakan Kementerian Penelitian serta Teknologi. Dosis yang efektif itu 300miligram tanaman anting-anting.
Sisi dari tanaman anting-anting yang banyak mengandung zat aktif yaitu sisi atas, sejenis daun, batang, serta kelopak yang seluruhnya lalu bisa di ekstrak. Tanaman yang memiliki zat aktif maksimal yaitu tanaman yang minimum telah berumur dua – tiga bln.. Bila terlalu tua, kadarnya bakal berkurang.
Demikian ulasan tentang manfaat daun anting-anting serta sebagian resep herbal daun anting-anting untuk mengobati beberapa penyakit. Bijaksanalah dalam konsumsi obat, walau namanya obat herbal terus ada ketentuan pakai serta dosis menggunakannya. Jangan berlebihan dalam memakai obat apa sajakah karena semua suatu hal yang berlebihan pasti ada efek sampingnya. Semoga bermanfaat.
angka angka telah berguguran, dari kalender, hari yang kau lewati, hari yang kau khidmati, dengan langkah tak henti
mungkin ingin kau lupakan kekalahan demi kekalahan, kesedihan demi kesedihan, peristiwa yang menyakitkan
mungkin kau abadikan segala yang membuatmu bahagia. sebagai kenang. sebagai bayang.
huruf huruf yang gemetar di jemarimu, menanda hari berganti, jam berganti, detik berganti
apa yang telah kau lakukan, apa yang telah kau rencanakan, apa yang telah kau katakan, apa yang telah kau inginkan
Oleh karena mata manusia hanya mampu melihat gejala permukaan dari dunia materi ini. Oleh karena itu informasi yang tertangkap mata belum tentu benar. Begitu juga indera manusia yang lain memiliki keterbatasan, walaupun sudah melewati otak untuk disaring terkadang juga belum tentu tepat 100%.
Manusia mengalami hambatan dari konsep dalam masyarakat nyata, seringkali mengira benda-benda yang dilihat oleh mata adalah benar benar nyata. Benda yang tidak bisa dideteksi oleh mata, sama sekali tidak dipercayai keberadaannya, sebenarnya pandangan dari manusia hanya bisa melihat sebagian dari dunia materi dan kebanyakan yang terlihat adalah penampilan palsu.
Dalam cerita klasik “Perjalanan ke Barat” bisa kita lihat, hanya Sun Gokong yang memiliki mata api sejati, baru bisa mengungkap wujud asli dari siluman tengkorak putih.
Sedang di mata Tang Sen , Zhu Ba Jie dan Sha Heng Shang perubahan wujud siluman tengkorak putih menjadi wanita desa, nenek tua, kakek tua semuanya dipandang sebagai penduduk desa baik dan lugu, bagaimanapun juga mereka tidak akan percaya wujud itu adalah perubahan dari wujud siluman.
Di dalam kehidupan nyata, ada banyak hal yang dilihat oleh mata kepala sendiri atau yang dialami sendiri, semuanya adalah semacam penampilan palsu yang “nyata”. Orang sering kali hanya berdasarkan gejala sesaat yang terlihat, secara spontan telah menetapkan serta memutuskan, sehingga mengakibatkan terjadi banyak kesalahan dan menyesal untuk selamanya.
Menurut cerita, dahulu kala ada sepasang suami istri yang saling mencintai. Suatu hari sang suami berdagang di luar kota sedang istrinya menanti di rumah. Beberapa bulan kemudian sang suami yang sangat merindukan istrinya pulang ke rumah.
Ketika bulan bersinar di atas pohon Liu, dia yang telah menempuh perjalanan jauh, akhirnya sampai juga di depan desa, sinar lampu dalam rumah yang membuat orang merasakan kehangatan itu telah membuat dia semakin memacu langkahnya untuk bergegas pulang ke rumah.
Ketika sampai di depan rumah dia telah melihat sebuah adegan yang membuat hatinya sangat sakit. Dari jendela terlihat istrinya yang selama ini sangat dia rindukan sedang makan dengan seorang pria asing, saat itu istrinya sedang tersenyum sambil mengambilkan sayuran dan menyuapkan ke mulut pria asing itu, tampaknya sangat mesra.
Dia segera berpikir bahwa istrinya pasti mengkhianatinya, dia sudah tidak ingin melangkah maju lagi, hatinya yang marah membara membuat dia memalingkan kepala dan melangkah pergi, sejak saat itu tidak pernah kembali lagi.
Ketika rambutnya sudah memutih, teringat bahwa hari esok sudah tidak lama lagi, selagi dia masih hidup ingin menguraikan ganjalan hatinya yang selama ini. Maka dari itu kembalilah dia ke rumahnya yang dulu menemui istrinya yang rambutnya juga telah memutih. Tetapi istrinya ternyata hidup menyendiri.
Dengan penuh pertanyaan dia bertanya, “Mengapa?” Sang istri bilang selama bertahun-tahun ini dia selalu menantikan kepulangannya, dan bertanya mengapa dia pergi meninggalkannya hingga sekarang baru kembali?
Dia mengutarakan kecurigaannya dulu. Dengan jujur dan tulus istrinya memberitahukan bahwa pria itu adalah saudara kandungnya yang telah lama berpisah dan hanya mampir sebentar untuk menjenguknya.
Kongzi cikal bakal dari Konghucuisme mempunyai seorang murid bernama Yan Hui. Suatu hari ketika Yan Hui memasak bubur, mendapati ada benda kotor yang masuk ke dalam kuali, dia segera menggunakan sendok sup untuk mengambil, ketika benda kotor itu akan dibuang mendadak terpikir olehnya bahwa tidaklah mudah untuk mendapatkan beras walaupun hanya sebutir, lalu dimakannya bubur di sendok tersebut.
Kebetulan saat itu Kongzi berjalan masuk ke dapur, melihat kejadian ini dia mengira bahwa Yan Hui sedang mencuri makanan maka dengan tegas Kongzi memberi pelajaran kepada Yang Hui.
Melalui suatu proses penjelasan semua orang baru menyadari kejadian yang sesungguhnya. Dengan nada mengeluh Kongzi berkata, “Kejadian yang saya lihat dengan mata kepala sendiri juga belum pasti apalagi yang hanya dengar dari kabar angin.”
Dari sini bisa dilihat, telinga mendengar belum tentu betul, mata melihat juga belum tentu benar. Segala sesuatu jika hanya mempercayai mata sendiri dan kurang dipikir serta dianalisa dengan hati yang tenang, sering kali bisa dikelabui oleh penampilan palsu.
Kadang kala seperti orang buta meraba gajah, melihat macan tutul melalui sedotan minuman, walaupun dilihat oleh mata kepala sendiri, juga sangatlah sulit mengenali watak hakiki dari masalah itu.
Banyak sekali kebenaran dalam dunia ini yang harus menggunakan hati yang benar-benar tulus baru dapat menghayati, ketika melepaskan konsep dari “keakuan” kecerdasan untuk membedakan kebenaran dan kepalsuan bisa keluar dengan sendirinya. (The Epoch Times/lin)

Zonalinenews-Kalabahi , Kejadian Aneh tapi nyata, Jumat, 11 Septemeber 2015 warga Kota Kalabahi, yang berdomisili dipinggiran pantai Bungawaru hingga pantai Kadelang dihebohkan dengan air laut berubah menjadi warna merah. Belum diketahui apa penyebabnya, namun hal ini membuat warga dari berbagai penjuru berdatangan untuk menyaksikan peristiwa aneh itu.
Beberapa warga yang berdomisili disekitar pinggiran pantai Kadelang kepada wartawan mengaku, tidak ada tanda apa-apa sebelumnya. Menurut mereka, pagi sekitar pukul 07.00 Wita, tiba-tiba air laut di pantai Bungawaru hingga Kadelang berubah warna merah seperti darah. “Kami juga heran, tidak ada tanda-tanda ko air laut berubah menjadi merah seperti darah,” katanya.
Kepala Kesbangpol Alor, Ilham Duru kepada wartawan saat menyaksikan peristiwa itu mengaku sama sekali tidak tahu apa penyebabnya air laut berubah menjadi merah. “Tidak tahu ini om. Ini kejadian aneh, air laut seperti darah,” tandasnya.
Pantauan zonalinenews, warga dari berbagai penjuru memadati mulai dari pantai Bungawaru hingga pantai Kadelang untuk menyaksikan kejadian itu. Hingga berita ini tayang, belum ada Dinas Teknis terkait yang menyatakan penyebab air laut berubah menjadi darah.( *Kol
Salah satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga…akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibupun ikut bekerja.
Ibu yang ikut bekerja mempunyai banyak pilihan. Ada ibu yang memilih bekerja di rumah dan ada ibu yang memilih bekerja di luar rumah. Jika ibu memilih bekerja di luar rumah maka ibu harus pandai-pandai mengatur waktu untuk keluarga karena pada hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama yaitu mengatur urusan rumah tangga termasuk mengawasi, mengatur dan membimbing anak-anak. Apalagi jika ibu mempunyai anak yang masih kecil atau balita maka seorang ibu harus tahu betul bagaimana mengatur waktu dengan bijaksana. Seorang anak usia 0-5 tahun masih sangat tergantung dengan ibunya. Karena anak usia 0-5 tahun belum dapat melakukan tugas pribadinya seperti makan, mandi, belajar, dan sebagainya. Mereka masih perlu bantuan dari orang tua dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Bila anak itu dititipkan pada seorang pembantu maka orang tua atau khususnya ibu harus tahu betul bahwa pembantu tersebut mampu membimbing dan membantu anak-anak dalam melakukan pekerjaannya. Kalau pembantu ternyata tidak dapat melakukannya maka anak-anak yang akan menderita kerugian.
Pembentukan kepribadian seorang anak dimulai ketika anak berusia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya tentang hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang sering marah, memukul, dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, anak tersebut juga akan bertumbuh menjadi pribadi yang keras. Untuk itu ibu atau orang tua harus bijaksana dalam menitipkan anak sewaktu orang tua bekerja.
Kadang-kadang hanya karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu anak masih kecil akan mengakibatkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya. Seperti kasus-kasus kenakalan remaja, keterlibatan anak dalam dunia narkoba, dan sebagainya bisa jadi karena pembentukan kepribadian di masa kanak-kanak yang tidak terbentuk dengan baik.
Untuk itu maka ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolahnya meskipun ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil.
Sedangkan untuk ibu yang bekerja di dalam rumahpun tetap harus mampu mengatur waktu dengan bijaksana.
Tetapi tugas tersebut tentunya bukan hanya tugas ibu saja tetapi ayah juga harus ikut menolong ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapun akan tetap terjaga dengan baik.
Ibnu Abbas berkata: Semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193). Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.
Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.
Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah
·



















