Boleh dikata saya ini memang pacar yang nggak pernah ngerti perasaan pasangan sendiri. Rony yang sudah sejak setengah bulan lalu mengisi kekosongan saya ternyata masih belum bisa membuat tabiat buruk saya sebagai gadis tomboy berubah. Saya yang punya teman mayoritas laki-laki dari pada perempuan ternyata membuat Budi cemburu. Bagaimana tidak, waktu luang yang saya habiskan justru lebih banyak bersama mereka, sedangkan Budi yang selalu setia saat saya perlukan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Anto dan Okki adalah sahabat saya yang selalu ingin menemani saya dimanapun berada, tentunya tidak saat saya bersama Budi. Kepribadian mereka yang sama dengan saya membuat kami selalu kompak dalam berbagai hal, dan lagi-lagi itu membuat Budi semakin cemburu.
“ Saya nggak suka kamu sering-sering bersama mereka.” Ungkap Budi jujur membuat saya sangat terkejut.
Budi memang punya hak untuk melarang saya untuk tidak selalu menemani Anto maupun Okki, tapi kejujuran Budi membuat saya sedikit syock Saya sudah terlanjur menyayangi mereka, walaupun itu bukan berarti saya menyukai keduanya.
“ Saya nggak bisa, mereka itu sahabat saya. Konsekuensinya kan kamu sudah tahu, persahabatan saya dengan mereka itu sangat penting bagi saya.” Balas saya sengit.
Tampaknya Budi juga terkejut mendengar apa yang barusan saya katakan, ia memegang tangan saya erat. Tatapannya sendu seolah berkata aku mohon Rey.
“ Yang saya tahu kamu lebih memperhatikan mereka daripada saya. Bukannya saya egois, tapi perlakuan kamu itu tidak adil.” Ujarnya memelas.
Apakah saya memang sejahat itu, sehingga Budi memohon dengan teramat sangat agar saya bisa berlaku adil? Saya tak tahu lagi harus berkata apa, yang jelas ini terlalu mendadak buat saya.
Budi melepaskan tangan saya kemudian menjauh pergi dengan tertunduk lesu.
Ia berbalik, kemudian berkata sambil tersenyum kecut.
“ Saya sudah tahu jawaban kamu Rey.”
Kali ini penuturan Budi membuat saya trenyuh, perih hati saya mendengarnya. Saya sangat menyukai Budi, tapi tidak bisa membuatnya bahagia. Padahal ia begitu mencintai saya, ia pengertian, dan terlalu baik buat saya.
***
“ Kok kamu lesu gitu, ada masalah ya?” tanya Anto membuyarkan lamunan saya.
Saya menggeleng lemah, mereka tidak boleh tahu masalah saya. Karena ini berhubungan dengan mereka.
Okki menghampiri saya kemudian menyerahkan dua kaleng minuman kepada saya dan Anto.” Akhir-akhir ini kamu jarang ketumu Budi, lagi marahan ya?” tanya Runa penasaran.
Saya menggeleng untuk yang kedua kalinya.
“ Nggak ada masalah apa-apa. Saya Cuma lagi nggak enak badan.” Ujar saya berbohong.
“ Gitu, tapi Budi kenapa nggak pernah nyamperin kamu lagi?” Anto menatap saya lekat-lekat seolah ingin menemukan sendiri jawaban dari mata saya.
“ Dia lagi sibuk.” Jawab saya singkat. Saya berdiri meninggalkan mereka yang masih penasaran ingin mendengar alasan saya. Saya menuju perpustakaan untuk menenangkan diri, duduk menyendiri di pojok ruangan lalu membaca buku. Rasanya tidak ada yang masuk di otak saya, bayangan Rony selalu berputar di otak ini, sambil berkata “ Saya nggak suka kamu sering-sering bersama mereka.”
Sudah seminggu berlalu sejak pertemuan terakhir itu, dan Budi sudah tidak pernah lagi terlihat oleh saya, ia seolah menjauhkan diri. Setiap kali saya datang ke kelasnya ia tak pernah ada. Walaupun setiap kali pelajaran dimulai ia tak pernah absen, tapi saat istirahat tiba ia seolah menghilang, kemudian muncul lagi saat bel masuk berbunyi.
“ Hai Rey. Tumben kamu datang ke sini, bukannya kamu itu anti banget baca buku di perpustakaan?” tanya seseorang mengagetkan lamunan saya. Saya berbalik, Denis sahabat saya yang paling ceriwis itu memang selalu ada di mana-mana, di kantin, koperasi, atau di perpustakaan sekalipun dia selalu menjadi tempat faforitnya untuk mengumbar gosip.
“ Nggak ada Undang-Undang yang larang saya untuk ke sini kan?” tanya saya balik.
Denis tersenyum, kemudian mengangguk pelan.
“ Emang nggak ada, Cuma aneh aja sih. Ngomong-ngomong, bodyguard mu pada kemana sih, kok nggak kelihatan?” Denis clingak-clinguk ingin menemukan sosok Anto dan Okki yang biasanya selalu bersama saya. “ Kayaknya nggak seru aja kalau mereka berdua itu nggak ada.” Lanjutnya.
“ Mereka di kelas, saya sengaja nggak sama-sama mereka, pengen refreshing aja.” Jawab saya tanpa mengalihkan pandangan dari novel di hadapan saya.
“ Jadi kamu merasa nggak nyaman setiap kali bersama mereka? Sampai-sampai pengen refresing segala.”
“ Bukan begitu, saya Cuma nggak pengen mereka tahu masalah saya, makanya saya menjauh.” Entah kenapa saya ingin menceritakan semua masalah saya pada Denis, saya bingung, rasanya tidak tenang jika Denis tidak tahu masalah saya. Karena selama ini, hanya Denis sajalah tempat saya menumpahkan keluh kesah saya, dan dia selalu bisa menyelesaikan persoalan yang saya hadapi.
Saya menatap wajah Monika erat, kemudian mendesah keras.
“ Akibat kedekatan saya dengan mereka, hubungan saya dengan Budi berantakan. Padahal selama ini nggak pernah ada masalah, dia selalu paham dengan keadaan saya yang nggak bisa lepas dengan Anto dan Okki. Tapi belakangan ini dia jadi cemburuan. Saya nggak tahu apakah itu salah saya atau dia yang memang kelewatan karena ingin mengekang saya?”
Denis diam, seperti sedang berpikir.
“ kamu sayang banget sama Budi?” tanya Denis setelah berpikir sejaenak.
Saya mengangguk pelan tapi pasti.
“ Lalu kenapa kamu nggak pernah mau mengerti perasaannya? Dia nggak pernah marah dengan persahabatan kalian, bahkan dia mendukung. Masalahnya kamu justru memanfaatkan kepercayaan Budi hingga kamu lupa bahwa kesabaran Budi juga ada batasnya kan?”
Denis benar, saya memang sudah kelewatan karena sudah membuat Budi sakit hati. Saya paham itu, tapi nggak mudah bagi saya menjelaskan semuanya pada Anto dan Okki. Mereka pasti tidak setuju.
“ Sekarang terserah kamu saja, mana yang menurut kamu baik.” Lanjut Denis. Ia berdiri kemudian meninggalkan saya menjauh.
Sepertinya ada yang eneh dengan Anto dan Okki hari ini, tak seperti biasanya mereka tak banyak bicara. Jangan kan bercanda atau sekedar melakukan lelucan, mengobrol ringan saja tampaknya mereka enggan, dan itu membuat saya semakin penasaran. Wajah lesu mereka menandakan mereka juga mempunyai masalah, tapi mereka tak mau jujur dengan saya.
Malam harinya juga tidak datang, padahal mereka tidak pernah telat. Kami selalu kumpul di kafetaria, tempat faforit kami saat malam hari. Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Namun saat di depan pintu saya menemukan sosok Budi yang sedang menuju ke arah saya sambil tersenyum manis.
“ Sudah mau pulang?” tegur Budi pada saya yang masih tak percaya dengan apa yang saya lihat. “ Ada yang mau saya bicarakan, kamu nggak lagi sibuk kan?” sambungnya. Saya menggeleng, ia kemudian meuntun saya masuk dan duduk di kursi.
“ Jika saya masih punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, izinkan saya untuk mengucap maaf.” Tuturnya memulai pembicaraan.
Ia memegang kedua tangan saya, kemudian meletakkan sebuah kotak kecil di telapak tangan saya.
“ Dan cincin ini sabagai saksi dari ucapan saya.” Ia membuka kotak kecil yang berisi sebuah Cincin berhiaskan permata kecil warna pitih. Cincin itu sangat indah, dan saat ia memasukkannya di jari manis saya rasanya seakan membuat hati saya berbunga-bunga.
Saya begitu terharu hingga tak terasa butiran air mata mulai membasahi kedua pipi saya.
“ Saya lah yang seharusnya minta maaf, karena tidak bisa membuat kamu bahagia. Saya nggak pernah mau tahu tentang perasaan kamu yang terluka saat saya lebih mementingkan sahabat dari pada kamu.” Roni memeluk saya erat, seolah tak ingin melepaskan saya lagi.
“ Kami berdua yang salah dan seharusnya kamilah yang minta maaf.” Seseorang berkata dengan sangat menyesal dari samping kami.
Mendengar itu rangkulan Budi melepas rangkulannya. Anto, Okki, dan Denis berdiri di hadapan kami. Tampaknya mereka mendengar pembicaraan kami, atau mungkin mereka yang justru merencanakan pertemuan kami ini.
“ Sedang apa kalian di sini?” tanya saya antara kaget dan tak percaya.
Denis hanya tersenyum kemudian duduk bersama kami. “ Anggap saja ini surprize buat kamu.” Jawab Denis santai.
“ Budi, kamu kayak nggak kenal kami aja. Denger ya, kami itu kalau nggak ditegur makin jadi-jadi. Makanya kalau kamu diam-diam aja kami nggak pernah tahu kalau ternyata selama ini kamu nggak suka kedekatan kami.” Tegur Okki pada Budi.
“ Benar. Lagian apa susahnya sih ngomong gitu? Takut kami marah, terus mukulin kamu?” sambung Denis.
“ Saya nggak pernak melarang hubungan kalian, hanya kalian terlau dekat. Melebihi kedekatan saya dengan Rey.” Jawab Budi jujur.
“ Kalian berdua juga sama-sama salah, kayak nggak pernah pacaran aja. Bagaimana kalau seandainya kamu jadi Budi, apa kamu bisa sabar?” Monika menengahi.
Saya hanya bisa tersenyum, ternyata letak permasalahan bukan hanya pada saya dan Budi, tetapi puncaknya justru tertuju pada Anto dan Okki. Kami sama-sama salah karena tidak pernah mengerti dan memahami perasaan masing-masing. Padahal kami saling menyayangi, tapi tak pernah mau tahu tentang apa yang ada di hati.
Saya tahu ini semua siasat Denis agar kami bisa bersatu kembali. Ternyata Denis memang orang yang tepat untuk di jadikan seorang sahabat, karena hanya dialah yang mengerti perasaan kami.
Budi, cowok ganteng yang pendiam. Tapi keberaniannya mengungkapkan isi hatinya di depan banyak orang membuat saya terharu dan sangat mengaguminya. Hingga akhirnya ia benar-benar membuat saya jatuh cinta. Walau pribadi kami jauh berbeda tapi dia cowok baik yang rela bersabar, demi mempertahankan cinta kami.
Anto dan Okki adalah sahabat saya sejak duduk di bangku SMP, entah mereka serius atau tidak, yang jelas dulu mereka pernah bersaing untuk mendapatkan cinta saya. Walaupun akhirnya hanya bisa bersabar karena cintanya saya tolak. Bagi saya persahabatan kami lebih berharga dari pada harus bertengkar demi memperoleh satu hati yang pada akhirnya membuat orang yang satunya sakit hati.
Sedangkan Denis, sahabat lama saya. Tinggal berdampingan dengan rumah saya. Tak pernah terpisahkan, karena hanya dialah satu-satunya pembangkit semangat saya agar terus maju. Selain itu ia juga gadis yang cantik, tak heran jika banyak yang menawarkannya untuk menjadi pendamping Denis, sebagai seorang kekasih tentunya. Denis memang patut di acungi jempol, kesetiaannya terhadap kekasihnya yang kini berada jauh di Jakarta ternyata tak membuatnya melirik pria lain.
Betapa bahagianya memiliki mereka, kasih sayang kami tak ternilai harganya. Tak dapat dibayar dengan apapun juga, dan semoga semuanya kekal abadi selamanya.