Langsung ke konten utama

Postingan

Menghamba

Bukannya takdir kita udah ditulis jauh sebelum ini? Sekali waktu, saya pernah sampai pada pertanyaan semacam ini dalam perbincangan tengah malam melalui GoogleMeet dengan beberapa orang kawan. Temu maya malam itu mulanya kami agendakan untuk berlatih sekaligus membahas beberapa soal ujian, lalu di- extend hingga larut demi menghibur salah seorang dari kami yang tengah putus cinta karena belakangan ini rupanya perasaannya tak berbalas, walaupun pada akhirnya kami jadi ngoceh ngalor-ngidul  sampai ke rencana hidup kami masing-masing usai tamat dari sekolah—di samping memberinya petuah soal cinta yang bertepuk sebelah tangan itu. Kemudian, sampailah kami pada topik jodoh yang lagi-lagi diinisiasi karena kawan kami itu masih belum bisa merelakan cintanya—yang pernah diusahakannya hingga menempuh ratusan kilometer dari perantauannya—yang baru kandas. Salah nggak, sih, kalau aku masih berdoa minta dijodohkan, walaupun mungkin takdirnya nggak begitu? Pertanyaan itu dilontarkan dengan sed...
Postingan terbaru

Remahan Angan di Depan Pintu Wakasek

Semoga sukses, Mba Ama. Selamat ya ... Dahulu, sebelum berkelana sampai kota orang, mimpi saya sederhana: hidup sesantai dan semudah mungkin, masuk sekolah negeri di kabupaten, lalu dapat undangan di kampus medioker setempat selepas SMA dan menjalani sisa hidup yang tenang di kabupaten sebagai bukan siapa-siapa dengan orang tua yang sudah pensiun. Dengan tujuan seremeh itu, saya berangkat ke suatu kabupaten di Jawa Tengah tanpa tahu apa-apa dan diterima begitu saja di sekolah negeri yang bukan sekolah favorit di kabupaten itu dengan senang hati, sebab sekolah mana pun sama saja bagi saya saat itu. Kemudian, misi selanjutnya hanyalah belajar sebaik mungkin untuk bertahan di sana hingga kelulusan tiba. Namun, rupanya bukan saya seorang yang berpikir begitu. Ada banyak orang yang juga menjalani masa SMA-nya dengan menginginkan segala kemudahan itu dalam hidup untuk sekadar tetap hidup tanpa mimpi-mimpi muluk, bahkan hingga rela mencari segala macam jalan pintas yang juga sama mudahnya aga...

Sawang-Sinawang: Memimpikan Hidup yang Bukan Miliknya

  Urip kuwi pancen sawang-sinawang, Nok. Menghabiskan beberapa tahun bersekolah di kaki Gunung Ungaran mengajari saya banyak hal, salah satunya Bahasa Jawa beserta segala unsur kebudayaannya. Lalu, apa maksudnya "sawang-sinawang"? Makna "Sawang-sinawang" dalam Bahasa Jawa Ujaran "sawang sinawang" berasal dari kata sawang yang bermakna 'pandang' sehingga secara harfiah sawang-sinawang diartikan sebagai pandang-memandang atau saling pandang. Dalam hal ini, yang dimaksud saling pandang bukanlah saling bertatap mata. Sawang-sinawang lebih umum digunakan sebagai ungkapan yang menjadikan kata pandang pada ungkapan tersebut tak bisa dimaknai mentah-mentah karena mengandung konotasi 'memandang dengan pandangan yang sarat akan hasrat, terlebih pada kehidupan yang orang lain jalani'. Menemui "Sawang-sinawang" dalam Kehidupan Sebagai contoh bila kalimat saya sebelumnya masih terasa membingungkan, kamu mungkin pernah menemui masa ketika hi...

Tutorial Pandai Matematika dalam Sekejap

... Kadang kita terlalu serakah, maunya semua dikuasai saat ini juga, tapi lupa kalau kita manusia. ... Jika kamu membaca postingan ini dengan mengira saya akan memberimu kiat-kiat rahasia agar bisa menguasai Matematika dalam waktu yang singkat, maka harus saya tegaskan bahwa kamu 100% keliru. Postingan ini tidak akan membahas siasat belajar yang tepat maupun amalan-amalan mistis yang akan membuat otakmu seketika ditempeli roh-roh cendekiawan ternama di masa lampau. Sebab, sama seperti banyak orang lainnya yang—secara terang-terangan ataupun tidak—mendeklarasikan permusuhannya kepada hal-hal berbau Matematika, saya pun belum mampu "membujuk" Matematika agar mau berkawan akrab dengan saya. Sama sekali tidak masuk akal. Karenanya harus saya akui, judul postingan ini memang terkesan agak clickbait . Tetapi walau  terdengar amat tidak masuk akal, suatu ketika saya pernah melontarkan hal tersebut sebagai gurauan kepada Bapak yang memang sejak muda banyak mengulik ilmu-ilmu perhitu...

Mencari Kacamata yang Bertengger di Kepala

  Is writing just not for me? Butuh waktu yang tak sebentar bagi saya sebelum pada akhirnya kembali mempublikasikan blog ini untuk diakses lebih banyak orang dan—bersamaan dengan itu—mempublikasikan tulisan ini sebagai unggahan pertama saya yang bisa dibaca secara luas. Termasuk menyoal naskah-naskah cerpen dan novel karangan saya, blog ini juga mulanya menjadi salah satu hal yang masih saya tutup rapat-rapat selama beberapa tahun belakangan. Rasanya, saya masih belum siap untuk membiarkan karya-karya saya dengan mudahnya disebarkan, disalahartikan, dikritik, atau dijiplak orang lain secara bebas di internet. Sebab, sejak awal saya menulis tidak lain untuk menjadi 'teman' bagi diri saya sendiri. Bukan untuk mendapat harta materi, popularitas, maupun kekuasaan jabatan. Tetapi nyatanya membatasi karya saya untuk diakses orang lain juga berarti membatasi kesempatan bagi orang lain untuk menikmati, mengenang, atau menemukan tilikan baru dari karya-karya saya. Baru saya sadari bahwa...