Kiranya tiada siapa pun yang tidak tertarik dengan cahaya yang olehnya mata kita menemukan merah, biru, kuning, jingga, dan sederet warna lainnya. Cahaya yang memperkenankan mata menamai apa-apa yang dalam sapuan pandangan. Cahaya itu mengayakan selaksa rasa. Cahaya jua menghidupkan kegelapan.
Bagaimana jika seandainya pakaian yang kita kenakan tertenun dari benang-benang cahaya? Bagaimana jika wajah-wajah kita memendarkan kilau cahaya? Apalagi jika kita bertelekan di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya? Tidakkah kita mengingininya? Jawabnya telah mantab dan tegas. Ya!
Namun, ternyata seorang saja tiada pernah mampu memercikkan cahaya. Seorang saja hanya menarikan diam. Seorang saja tak lebih dari merayakan sepi. Lalu kisah-kisah pun surup bersama kidung sendu begitu. Suram menenggelamkan kejora, yang perlahan karam. Continue Reading








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.