Blog ini...

sering gonta-ganti templete dan berisi cerita penting nggak penting saat terkena atau tidak terkena badai hormonal

Tampilkan postingan dengan label Dreaming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dreaming. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2010

Curiousity List



Tahun baru kemarin tak ada resolusi yang saya bikin. Sekarang, lha kok mendadak terpikir buat bikin list hal-hal yang ingin sekali saya coba. Penasaran gitu. Cita-cita yang sampai saat ini belum kesampaian. Padahal tahun sudah mencapai 2010 dan saya sudah twenty something. Berharap suatu saat nanti bisa terwujud. Hoho, padahal bukan impian yang heboh gitu. Bukan pula obsesi hidup yang setinggi langit. Hanya sekedar kepenasaran saya saja, soalnya ada aja yang menyebabkan gagal  untuk dilakukan. Ini dia.
1.       Nyobain martabak india, atau martabak mesir.
2.       Nyobain kopi luwak
3.       Nyobain ayam taliwang
4.       Nyobain nasi merah di Gunung Kidul yang pernah ditulis Pohon dulu
5.       Nyobain…..
Loh kok listnya makanan mulu. Tapi serius, saya pengen banget tuh nyobain makanan-makanan itu. Sebentar, sebentar, saya ulang lagi. Nah, ini dia list yang benar.
1.       Lihat Danau Tiga Warna
2.       Belajar nge-drum (sudah merengek ke suami minta diajarin, belum dikabulkan juga L)
3.       Masak-masak sama Vidhi
4.       Facial  (Wuah….sampe segede gini masih takut juga mau facial)
5.       Belajar budidaya jamur, lumayan loh bisa buat side job
6.       Rafting di Citarik
7.       Menjenguk kembali pulau kelahiran ayah, yang terakhir kami kunjungi pas saya masih SD
8.       Ke Ujung Kulon lihat badak
9.       Seneng-seneng di Karimunjawa, mumpung ada yang nawarin nginep gratis di sana
10.   Ngopi bareng Nicholas Saputra, Dian Sastro dan Fedi Nuril (mimpi kali yeeeeee)
11.   Nyeker bareng temen-temen di soto ceker Gandaria, nah kan…makanan lagi.
Hehehe, postingan nggak jelas ni ah. Kebetulan lagi nyoba postingan terjadwal. Berhasilkah kira-kira ? Postingan terjadwal memang sangat berguna untuk mengakali penggunaan waktu. Jadi saat ada waktu luang, bisa nulis rapelan asal pas ada idenya aja sih. Lah ini saya lagi nggak ada ide tapi maksa posting.
Teruuus, pas lagi googling tersesat di sini nih. Nemu gambar-gambar keren. Jadi pengen dipajang di blog ini. Bagi yang suka mix and match, boleh nih jadi bahan acuan. Kalau kurang puas, bisa deh langsung meluncur ke sana sendiri.


casual as i use to be




 bagus juga pake obi begini, eh obi apa cuma pita ya



simpel tapi gaya



    pengen banget cardigan ijonya



suka sama padu padan ini




NB : ini harusnya postingan buat Sabtu Minggu, eh gagal pakai postingan terjadwal. Sepertinya salah ngeset tanggal. LOL. hehehe


read more...

Jumat, 23 Oktober 2009

Tidak segampang itu bicara....



Beberapa hari yang lalu, seorang adik kelas menghubungi dan meminta saya untuk jadi pembahas di sebuah seminar tentang hutan rakyat. Pembahas ? Iya, pembahas. Tugasnya mengupas materi yang disampaikan pembicara, menguji kesahihannya, memberi saran dan masukan, mempertanyakan argumentasinya. Duh, kok seperti dosen penguji ya. Terang saja itu bukan keahlian saya. Saya belum punya kapasitas yang memadai untuk jadi pembahas, jawab saya. Tapi dia malah bilang, dosen pembimbing saya yang merekomendasikannya. Terdiam cukup lama dan berpikir, haruskah saya menyanggupi ini ? Pada saat bersamaan saya teringat bapak dosen itu, yang sudah membimbing saya sampai lulus. Kebaikan hatinya. Kesempatan yang dibentangkannya untuk saya.

Dan, di sanalah saya hari itu. Duduk diantara para pakar. Tentu saja saya bukan pakar, biasanya pakar kan tua...saya ? masih hijau, muda, dan menggoda, yang ini bisa dibilang fakta..hehhehhe. Saya merasa salah tempat. Harusnya saya duduk di jajaran kursi peserta, turut menyimak penuturan para pembicara. Bukannya di sini, sibuk berpikir saya nanti harus membahas apa, berbicara apa, berteori yang mana. Mendadak saya ingin kabur saja. Tapi alasannya apa ? Sakit perut. Klise. Pingsan. Tidak bisa akting pingsan. Epilepsi. Masa epilepsi, nanti saya dibawa ke rumah sakit siapa yang bayar....

Pembicara-pembicara itu semuanya berpengalaman, berilmu luas dan tentu saja jam terbangnya sudah tinggi. Sementara saya ? Sangat jauh dari itu semua. Bahkan moderatornya saja adalah dosen saya, yang mengenalkan saya pada bidang keilmuan ini sejak dari nol. Ahhh..semakin terbanting-banting kepercayaan diri saya. Menukik turun menyusup jauh ke dasar bumi.

Rasanya saya ingin berlari, membelah ruangan dan tidak kembali lagi. Tapi saya terlanjur di sini. Sibuk sendiri mengatur teori sedangkan hati semriwing tidak tenang. Terlebih lagi, saya belum mempelajari materi yang akan disampaikan oleh pembicara karena baru diberikan kepada panitia pada hari itu juga. Jadi tidak sempat saya baca di rumah.

Pada saat seperti itu, saya pun mengutuki diri sendiri yang sering mengomentari pembicara di talk show, saya menyesali diri yang seringkali mengeluhkan dosen yang kurang pintar memberi penjelasan, penceramah yang membosankan, guru yang bikin ngantuk dan presenter yang tidak sistematis. Sekarang saya merasa terkena karma telah menjelekkan mereka semua. Sekarang saya mulai menghargai usaha keras mereka untuk bisa berbicara di depan banyak orang.

Ternyata, bicara di depan umum itu tidak selalu gampang.

Apalagi di forum seminar seperti ini. Kalau di depan kelas, masih okelah kalau saya keseleo lidah atau tersendat-sendat menjelaskan, toh audiennya teman-teman sendiri yang paling cuma akan meledek. Harga diri saya tidak jatuh-jatuh amat kalau yang meledek mereka. Tapi di sini...., audiensnya adalah para petani hutan rakyat itu sendiri, mahasiswa dari berbagai universitas, dan celakanya adalah...juga para pakar. Relevansi atas semua yang saya lontarkan pasti dipertanyakan, jika saya bicara ngawur tak berdasar.

Waktupun bergulir, saya tersentak saat moderator memberi giliran bicara kepada saya. Tetapi sepertinya, suara hati saya jelas terdengar bapak dosen itu. Mungkin dag dig dug jantung saya sampai juga di indera keenamnya. Jadilah bapak moderator baik hati itu membatalkan peran saya sebagai pembahas.

Legalah saya....karena cuma diminta untuk berbagi pengalaman saja, tidak membahas materi pembicara. Lebih lega lagi ketika dihadiahi plakat keren dari panitia. Hei....padahal saya cuma berbagi cerita saja lho. Bukannya jadi pembahas, sesuai peran yang diberikan panitia.

gambar dari : http://www.geocities.com/scosmo451/mouth.png
read more...

Rabu, 21 Oktober 2009

Bangkit, Melompat, lalu Meningalkan Rutinitas

Flashback sebentar. Mari menumpang mesin waktu menuju masa itu. Ketika saya yang baru lulus bersujud syukur atas karunia-Nya. Saya mendapat pekerjaan yang sesuai dan yang lebih menyenangkan adalah, pekerjaan ini menunjang hobi traveling saya. Itu empat tahun yang lalu...Lah, jadi terlihatlah saya ini sudah tidak muda lagi. Tapi kata Menpora selama masih berumur kurang dari tigalima, bisalah disebut pemuda.

Setahun pertama saya menikmati betul pekerjaan itu. Berangkat kantor di pagi hari, cuma absen, siap-siap lalu meluncur keliling kota, kadang ke luar kota, kadang keliling desa, kadang tersesat di tempat yang indah. Merasa tidak terlalu berdosa karena mendapat paket wisata gratis sambil kerja. Sepulang kluyuran itu, saya balik kantor. Kantor sudah sepi, hanya bisa ketemu satpam dan mereka yang terpaksa overtime dikejar target. Di kantor yang sepi itu, mulailah saya berkutat menyelesaikan laporan hasil kluyuran tadi. Harus selesai hari itu juga kalau besok tidak mau pekerjaan menumpuk. Pernah saya bawa pulang dokumen-dokumen itu ke rumah, yang ada saya malah tertidur di atas hamparan kertas-kertas penting itu. Bukannya beres pekerjaan, malah kacau karena kadang ada saja kertas yang nyelip nggak tau kemana.

Tahun berikutnya, saya dipindah ke bagian yang tidak ada acara jalan-jalannya. Kalau mau, ya jalan-jalan sendiri saat jam istirahat. Nggak enak. Selain nggak ada yang ngongkosin, juga merasa terburu-buru karena jam satu harus sudah tampak manis nampang di depan bos. Intinya, pekerjaan saya tahun itu adalah jadi pegawai kantoran yang rutin datang pagi pulang malam. Pulang malam ? Iyalah...pekerjaan itu seperti belenggu yang memberati kaki saya untuk ngabur pulang sore-sore. Tidak mengapa, di kantor saya banyak temannya kok. Saya bukan satu-satunya si sial yang terpaksa lembur tiap hari. Kadang bekerja malam hari memang memerlukan energi ekstra, otak sudah melambat seperti sepeda yang dikayuh menanjak bukit. Lambaaattt.

Rutinitas seperti itu semakin mempercepat laju turunnya timbangan badan saya. Pernah saya ditolak petugas PMI waktu donor darah gara-gara berat saya di bawah 45 kg. Padahal kan kalo donor bisa dapat bubur kacang ijo gratis....hehehe, maklum penggemar gratisan. Banyak yang bertanya saya ikut program diet apa. Gampang, kata saya, nglamar saja jadi pegawai di kantor saya, dijamin cepat kurus. Padahal makanan berlimpah ruah di meja bersama kalau jam lembur. Entah kenapa teman-teman saya itu banyak yang doyan jajan saat jam lembur. Ada saja yang dibeli. Martabak mesir lah, bebek goreng lah, donat lah, pizza lah, pisang goreng lah...Tapi, makanan itu seperti kereta ekspress, sama sekali tidak mampir di lambung saya, cuma numpang lewat saja.

Rutinitas seperti itu, kadang saya nikmati meskipun telah melumpuhkan banyak dendroit otak saya. Apa sih yang pantas saya keluhkan ? Allah sedemikian baik telah memberi pekerjaan yang enak, gaji oke, teman-teman sekantor yang seperti saudara sekandung, bos yang mengayomi, dan karir yang bisa diharapkan. Namun seringkali semua itu saya pertanyakan dalam keterdiaman saya. Apakah semua ini yang saya ingin raih ? Apa kabar mimpi-mimpi itu ? Apa kabar cita-cita itu ? Kemana perginya sang pemimpi dalam diri saya ? Sudah terjebakkah dia pada rutinitas yang melulu itu.



Sampai kemudian, si pemimpi itu terbangun oleh kata-kata seorang teman kantor yang akan pensiun. Dia cuma berkata begini : "Hati-hati dengan rutinitas ini. Jangan sampai mematikan potensi diri, harus ada kemauan untuk tetap mengupgrade diri loh..."
Hup...dan langsung saja si pemimpi itu terbangun. Mengerjap-ngerjap. Berpikir. Dan tersadar.

Saya mensyukuri apa yang saya peroleh saat itu kok. Tapi saya tidak ingin berada di sana selamanya. Kenapa ? Karena saya memiliki sesuatu yang sangat mengganggu benak, seringkali menarik-narik baju saya dan mengajak terbang menggapai impian-impian yang masih saja sama. Impian sederhana, namun tidak mungkin saya perjuangkan jika saya tetap bertahan di tempat nyaman ini. Pendosakah saya ? Durhakakah saya pada Tuhan jika saya menginginkan hal lain selain yang telah diberikan-Nya saat itu ?

Nyatanya Allah membukakan jalan bagi saya untuk melangkah keluar dari tempat nyaman itu, menuntun saya meraih impian-impian itu. Orang-orang berkata saya nekat. Teman-teman kantor cuma geleng-geleng kepala. Bos saya sudah berusaha menahan saya. Tetapi, sahabat-sahabat terdekat malah antusias menyemangati saya mengejar impian itu. Sekarang saya memang belum sepenuhnya dapat merengkuh mimpi-mimpi itu, namun saya yakin sudah berada di jalan yang benar untuk segera bertemu denganya. Bukan jalan yang mulus sih, tidak mengapa asal jalurnya sudah benar. Saat ini, saya sedang menunggu di depan pintunya, ikut antri untuk segera bisa merengkuhnya. Semoga pengejaran saya ini membuahkan hasil.
read more...

Selasa, 01 September 2009

Belajar dari seorang bayi


Di sebuah rumah sakit bersalin, hari ini. Tentu saja banyak ibu-ibu hamil dan anak-anak balita yang menunggu diimunisasi. Membuat saya tersenyum, serasa memasuki dunia yang telah sangat lama ditinggalkan, dunia kanak-kanak dengan segala keluguannya.

Sebenarnya hari ini saya salah jadwal, dokter kandungan yang ingin saya temui jadwal prakteknya hari Rabu, Kamis dan Jumat. Bukan Selasa, seperti yang saya peroleh dari seorang dokter lainnya. Tak apalah. Toh saya sedang tidak punya jadwal yang ketat untuk ditinggalkan. Akhir-akhir ini saya malah sedang sibuk mencari kesibukan. Maklum, baru lulus dan sedang dalam fase mencari pekerjaan yang sesuai dengan peran baru, sebagai seorang istri yang tidak mau menelantarkan suaminya.

Saya tidak langsung pulang, melainkan duduk sejenak di ruang tunggu yang dipenuhi celoteh riang balita-balita itu dan ibu-ibu mereka yang sibuk memberi peringatan ini itu. Seorang cowok imut berlarian di depan saya, lalu menabrak pintu kamar mandi yang tidak jauh dari tempat saya duduk. Untungnya tidak parah, tabrakkan itu. Pun tidak membuat dia benjol dan terluka. Awalnya dia ingin menangis, tapi melihat ekspresi orang-orang yang tertawa, dia batal menangis. Melanjutkan kembali acara lari-larinya. Anak yang tangguh...

Di dalam hati saya membatin, anak kecil masih memiliki perasaan yang murni, tidak bertendensi, pun tidak memiliki hasrat menyimpan luka lebih lama. Sejenak saja dia telah melupakan apa yang terjadi, lalu menikmati kembali hidupnya yan ceria. Sepertinya saya sudah lupa bagaimana cara melupakan sakit, terutama sakit hati. Kenapa saya sering memelihara sakit hati, yang justru dapat memperparah luka yang sudah ada. Bukankah seharusnya saya bisa seperti kanak-kanak itu, cepat melupakan sakit hati dan melanjutkan hidup kembali dengan keceriaan yang baru. Ah ya, satu pelajaran dari seorang balita.

Rasanya, saya masih betah tinggal di tempat itu. Tapi, apa kata penjaga di sana jika saya tidak segera pergi. Bisa-bisa saya dituduh tuna wisma yang mencari tempat tidur gratis...heheheh...
read more...

Senin, 24 Agustus 2009

Tak akan Berhenti

Kekuatan maghnetik menarik kita pada suatu hal yang kita inginkan dan terkatakan dalam doa. Betapa kekuatan doa teramat dahsyat, menembus ketidakmungkinan menjadi kenyataan yang layak disyukuri. Semua tak ada yang mustahil bagi-Nya.

Sebuah quote menarik yang pernah saya baca menyatakan bahwa : Tugasmu adalah memikirkannya (saya menerjemahkannya dengan berdzikir) dan tugas-Nya lah untuk memikirkanmu. Kalau Dia yang telah mengurus kita, siapa lagi yang mampu menggagalkannya. Maka, mengapa kita seringkali meragu, patah semangat bahkan di awal perjalanan karena ketakutan akan hal-hal yang melintasi pikiran. Seringkali kita merasa putus asa, menganggap perjuangan kita sia-sia belaka. Semestinya kita selalu ingat bahwa kesabaran tak pernah ada batasnya, bahwa perjuangan tidak akan terhenti selama kita belum mencapai tujuan yang diharapkan.

Keyakinan akan menuntun kita pada apa yang kita yakini itu. Keyakinan adalah pemantik yang menyalakan bara semangat. Yakin bahwa tidak ada yang sia-sia, sebab Dia selalu melihat dan menilai apa yang kita perjuangkan. Membicarakan hasil adalah perlu, tapi menyiapkan diri untuk menerima apapun hasilnya adalah keharusan.

Yakin untuk terus berjuang adalah mutlak. Keyakinan dalam berdoa adalah keharusan. Maka, apalagi yang kita takutkan, selain pikiran kita sendiri akan kegagalan.
read more...