Apa yang terjadi jika emak-emak beranak satu yang lari jalan nya paling jauh 10 km ini nekat ikut trail run sejauh 30 km di tanah orang yang belum pernah terjamah?
Sudah dipastikan ia akan berjalan terseok-seok.
Sebenarnya ia tak gegabah dan sesumbar untuk mencoba rute 30 km tersebut, hanya saja ia terlambat daftar…dan slot untuk Bali Trail Ultra yang 18 km itu terjual habis, maka si emak yang tak punya kenalan orang dalam itu, terpaksa memberanikan diri membeli slot yang kategori 30 km senilai 1,3 juta rupiah.
“Orang gila ya, bayar mahal hanya untuk disiksa.”
Acara masih dipertengahan Mei 2026, dan pendaftaran sudah diselesaikan di bulan Desember 2025. Ia berpikir, masih ada waktu untuk menyiapkan mental, fisik dan stamina. Dan mulailah ia mengorek informasi dan melakukan sesi konsultasi dengan artificial intelligence gratisan untuk memudahkan aksinya.
“Strength training ya,” ia menggumam. Selama ini belum pernah sama sekali ia mencoba kegiatan tersebut. Belum tahu manfaatnya. Tapi karena si AI yang menyarankan untuk latihan beban agar otot menguat dan kuat menahan beban saat jalan turunan, maka ia mencoba juga beserta saran-saran asupan nutrisi yang dipaparkan.
Bulan puasa, satu pekan ia berlatih beban 3 kali. Konsumsi whey protein coklat pertamanya yang bikin eneg, ia paksa. Telur rebus yang awalnya ia benci, dipaksa masuk.
Demi apa? Demi ototnya bertumbuh. Makin kuat.
Mandatory gears telah dilengkapi. Energy gel apalagi. Mental…sebisanya saja lah, untuk latihan pun masih ala kadarnya lari dicampur jalan di jalanan (banyak jalannya) dan naik turun bukit yang elevasinya pun tak lebih dari 500. Dibandingkan dengan rute 30 km dengan puncak gunung Batur yang elevasinya 1300an, ya jelas kalah jauh. Di Kalimantan hanya bukit, tak ada perubahan suhu, tak ada perubahan kadar oksigen. Hanya suhu saja yang menyengat tiada ampun.
Hari H
Perjalanan pertama ke Bali setelah 23 tahun. Sudah banyak perubahan. Menuju ke Venue seorang diri pun ternyata penuh perjuangan karena membawa barang yang cukup banyak sebab sekalian freediving kemarin. Awal ia datang disambut dengan banner membuat dada dan sanubarinya menggemuruh dengan kencang. Racepack sudah diambil dan ia cukup terkejut karena isinya cukup banyak.
Malam itu ia habiskan menginap di Toya Devasya, selain aksesnya yang dekat dari venue Batur Natural Hot Spring, tapi juga menawarkan fasilitas berendam air panas alami serta termasuk makan pagi dan makan malam. Ia suka sekali sama mujair nyat-nyat, sesuai dengan lidahnya yang Indonesia taste.
Hari pertama ia berlari mulai pukul 6 pagi. Fajar mulai merekah dah sinar jingganya yang keemasan menyusup di sela-sela pepohonan pinus yang ia lewati. Hawa yang dingin sedikit melembut hangat dengan balutan halimun yang kian menipis. Tubuhnya mulai memanas di kilometer awal karena tanjakan yang mulai terasa dilanjutkan menapaki ladang warga dengan latar belakang gunung Batur dan sesekali tercium samar aroma kotoran sapi. Warga yang mulai beraktivitas, jeep yang melintas menjadi pelengkap panorama pagi itu. Ia sempat menangis haru saat awal flag off, tak menyangka akhirnya ia bisa mencoba kesempatan ini.
“30 km cut off 8 jam, bisa aja itu walau jalan santai.” Temannya mengompori. Secara hitungan normal, hal itu harusnya wajar dan masuk akal. Targetnya memang dibawah COT, mepet pun tak apa. Jauh dari Bontang dan sebatang kara untuk mengikuti acara ini, sayak jika semuanya sia-sia.
Namun, ia sadar akan satu hal, ini bukan Kalimantan, ini tanah orang. Setelah water station pertama, ia dihadapkan dengan tanjakan gunung Batur berpasir dan berkerikil.
“Ayolah, kau tak sekali saja menghadapi situasi mirip seperti ini kan.”
Trek seperti itu ternyata menyulitkan, kaki dan nafasnya terasa memberat, memburu. Pukul Setengah sepuluh ia mencapai puncak batur yang berkabut Bersama rekan rekan lainnya. Pisangnya sempat direbut monyet, tak ia hiraukan, langsung meluncur menuju bawah dengan paha yang mulai sakit.
Dua punggungan ia lalui, sudah mencapai elevasi sekitar 800 meter. Ah, 300 meter lagi pikirnya. Ia lihat statistik elevasi sudah lumayan landai, dan hanya tersisa satu tanjakan yang berat.
“Bisa aku push ini.”
Turunan dengan pasir vulkanik panas ia lalui dengan sedikit tergesa, alhasil jempolnya ngilu, ia melepas Sepatu dan merilis pasir yang menggelitik telapaknya. Ah, dikiranya ada WS setelah turunan Culali jika sesuai race plan, nyatanya masih 3 kilo lagi.
Sedikit terseok ia kembali berjalan dengan cemberut. Medali di kepalanya mulai menguap melihat sisa waktu sekira 4 jam itu. Cuaca mulai panas, tapi ia bertekad untuk bertarung mati-matian di stage Black Lava.
Apa itu benar? Nyatanya ia putus asa setengah mati di stage black lava. Jarak tempuh yang jauh, cuaca yang panas, batuan tajam, pasir panah yang menyusup di sepatunya membuat telapaknya terasa mengeras dan sakit. Tak hanya sekali ia melihat rekan seperjuangannya yang meringis sakit dan selonjor karena kram. Kameramen amatir yang menyapanya mulai dibalas dengan cemberutan yang buruk. Berjalan di jalur neraka sejauh 5 km ini sungguh menyiksa mentalnya. Bayangan medali di kepalanya sudah benar-benar pupus, berganti dengan hot spring yang akan merilekskan tubuhnya.
Lepas dari black lava, ia memaksa berhadapan dengan tanjakan aspal sepanjang 1 kilometer. Lalu ia paksakan untuk kembali berlari, persetan dengan medali, ia harus segera tiba dan merilekskan diri.
Selanjutnya ia bertemu dengan black lava kedua sejauh tiga kilometer. Kakinya serasa kebas, berteriak pun tiada guna lagi. Ia pantang menyerah menyelesaikan rute itu walau sangat susah dan sudah Lelah untuk berlari.
Ia benci black lava. Benci.
Sesuai prasangkanya, ia benar-benar tak dapat medali, di WS terakhir ia sudah lebih 30 menit dari COT. Ia tak sendiri, banyak yang menyandang status Do Not Finish dengan keluhan iri kepada peserta kategori 18 K dengan COT 7 jam tanpa black lava. Cukup banyak pula peserta lain yang sudah kecewa dan menyerah di WS terakhir, memilih menumpang ojek dan merelakan BIBnya dicoret. Entah karena sudah lelah atau sempat cedera. Ia pun ditawari ojek berkali-kali maupun menumpang pick up warga, tapi ia bersikeras menolak dan berusaha menyelesaikannya walau didepan tampak tanjakan aspal.
“Ternyata ini bukan masalah medali, tapi masalah mental." Ia melihat rekannya yang lain, yang merasa fisik lebih kuat dan berjalan lebih cepat, pada akhirnya ia menyerah dan tak mau melanjutkan. Aku boleh kalah secara fisik, tapi mentalku mentalku tetap harus kuat.”
Ia menamatkan rute 30 K (tepatnya 29 K) tepat 9 jam dengan elevasi sekitar 1300 m. Ibu satu anak itu sungguh tidak berharap medali kali ini, hanya membayangkan berendam di hot spring dan setelahnya menyantap dua porsi mujair nyat-nyat.
Benar, perutnya sangat lapar. Mentalnya pun sudah (agak) terkapar untuk kali ini. Tapi ia senang dapat menyelesaikannya tanpa cedera.





