• Homepage
  • PORTOFOLIO (BOOKS)
  • About Me
Was ist los, Une?

Apa yang terjadi jika emak-emak beranak satu yang lari jalan nya paling jauh 10 km ini nekat ikut trail run sejauh 30 km di tanah orang yang belum pernah terjamah?

Sudah dipastikan ia akan berjalan terseok-seok.
Sebenarnya ia tak gegabah dan sesumbar untuk mencoba rute 30 km tersebut, hanya saja ia terlambat daftar…dan slot untuk Bali Trail Ultra yang 18 km itu terjual habis, maka si emak yang tak punya kenalan orang dalam itu, terpaksa memberanikan diri membeli slot yang kategori 30 km senilai 1,3 juta rupiah.
“Orang gila ya, bayar mahal hanya untuk disiksa.”
Acara masih dipertengahan Mei 2026, dan pendaftaran sudah diselesaikan di bulan Desember 2025. Ia berpikir, masih ada waktu untuk menyiapkan mental, fisik dan stamina. Dan mulailah ia mengorek informasi dan melakukan sesi konsultasi dengan artificial intelligence gratisan untuk memudahkan aksinya.
“Strength training ya,” ia menggumam. Selama ini belum pernah sama sekali ia mencoba kegiatan tersebut. Belum tahu manfaatnya. Tapi karena si AI yang menyarankan untuk latihan beban agar otot menguat dan kuat menahan beban saat jalan turunan, maka ia mencoba juga beserta saran-saran asupan nutrisi yang dipaparkan.
Bulan puasa, satu pekan ia berlatih beban 3 kali. Konsumsi whey protein coklat pertamanya yang bikin eneg, ia paksa. Telur rebus yang awalnya ia benci, dipaksa masuk. 
Demi apa? Demi ototnya bertumbuh. Makin kuat.
Mandatory gears telah dilengkapi. Energy gel apalagi. Mental…sebisanya saja lah, untuk latihan pun masih ala kadarnya lari dicampur jalan di jalanan (banyak jalannya) dan naik turun bukit yang elevasinya pun tak lebih dari 500. Dibandingkan dengan rute 30 km dengan puncak gunung Batur yang elevasinya 1300an, ya jelas kalah jauh. Di Kalimantan hanya bukit, tak ada perubahan suhu, tak ada perubahan kadar oksigen. Hanya suhu saja yang menyengat tiada ampun.

Hari H
Perjalanan pertama ke Bali setelah 23 tahun. Sudah banyak perubahan. Menuju ke Venue seorang diri pun ternyata penuh perjuangan karena membawa barang yang cukup banyak sebab sekalian freediving kemarin. Awal ia datang disambut dengan banner membuat dada dan sanubarinya menggemuruh dengan kencang. Racepack sudah diambil dan ia cukup terkejut karena isinya cukup banyak. 
Malam itu ia habiskan menginap di Toya Devasya, selain aksesnya yang dekat dari venue Batur Natural Hot Spring, tapi juga menawarkan fasilitas berendam air panas alami serta termasuk makan pagi dan makan malam. Ia suka sekali sama mujair nyat-nyat, sesuai dengan lidahnya yang Indonesia taste.
Hari pertama ia berlari mulai pukul 6 pagi. Fajar mulai merekah dah sinar jingganya yang keemasan menyusup di sela-sela pepohonan pinus yang ia lewati. Hawa yang dingin sedikit melembut hangat dengan balutan halimun yang kian menipis. Tubuhnya mulai memanas di kilometer awal karena tanjakan yang mulai terasa dilanjutkan menapaki ladang warga dengan latar belakang gunung Batur dan sesekali tercium samar aroma kotoran sapi. Warga yang mulai beraktivitas, jeep yang melintas menjadi pelengkap panorama pagi itu. Ia sempat menangis haru saat awal flag off,  tak menyangka akhirnya ia bisa mencoba kesempatan ini.
“30 km cut off 8 jam, bisa aja itu walau jalan santai.” Temannya mengompori. Secara hitungan normal, hal itu harusnya wajar dan masuk akal. Targetnya memang dibawah COT, mepet pun tak apa. Jauh dari Bontang dan sebatang kara untuk mengikuti acara ini, sayak jika semuanya sia-sia.
Namun, ia sadar akan satu hal, ini bukan Kalimantan, ini tanah orang. Setelah water station pertama, ia dihadapkan dengan tanjakan gunung Batur berpasir dan berkerikil. 
“Ayolah, kau tak sekali saja menghadapi situasi mirip seperti ini kan.”
Trek seperti itu ternyata menyulitkan, kaki dan nafasnya terasa memberat, memburu. Pukul Setengah sepuluh ia mencapai puncak batur yang berkabut Bersama rekan rekan lainnya. Pisangnya sempat direbut monyet, tak ia hiraukan, langsung meluncur menuju bawah dengan paha yang mulai sakit.
Dua punggungan ia lalui, sudah mencapai elevasi sekitar 800 meter. Ah, 300 meter lagi pikirnya. Ia lihat statistik elevasi sudah lumayan landai, dan hanya tersisa satu tanjakan yang berat.
“Bisa aku push ini.”
Turunan dengan pasir vulkanik panas ia lalui dengan sedikit tergesa, alhasil jempolnya ngilu, ia melepas Sepatu dan merilis pasir yang menggelitik telapaknya. Ah, dikiranya ada WS setelah turunan Culali jika sesuai race plan, nyatanya masih 3 kilo lagi.
Sedikit terseok ia kembali berjalan dengan cemberut. Medali di kepalanya mulai menguap melihat sisa waktu sekira 4 jam itu. Cuaca mulai panas, tapi ia bertekad untuk bertarung mati-matian di stage Black Lava.
Apa itu benar? Nyatanya ia putus asa setengah mati di stage black lava. Jarak tempuh yang jauh, cuaca yang panas, batuan tajam, pasir panah yang menyusup di sepatunya membuat telapaknya terasa mengeras dan sakit. Tak hanya sekali ia melihat rekan seperjuangannya yang meringis sakit dan selonjor karena kram. Kameramen amatir yang menyapanya mulai dibalas dengan cemberutan yang buruk. Berjalan di jalur neraka sejauh 5 km ini sungguh menyiksa mentalnya. Bayangan medali di kepalanya sudah benar-benar pupus, berganti dengan hot spring yang akan merilekskan tubuhnya.
Lepas dari black lava, ia memaksa berhadapan dengan tanjakan aspal sepanjang 1 kilometer. Lalu ia paksakan untuk kembali berlari, persetan dengan medali, ia harus segera tiba dan merilekskan diri.
Selanjutnya ia bertemu dengan black lava kedua sejauh tiga kilometer. Kakinya serasa kebas, berteriak pun tiada guna lagi. Ia pantang menyerah menyelesaikan rute itu walau sangat susah dan sudah Lelah untuk berlari.
Ia benci black lava. Benci.
Sesuai prasangkanya, ia benar-benar tak dapat medali, di WS terakhir ia sudah lebih 30 menit dari COT. Ia tak sendiri, banyak yang menyandang status Do Not Finish dengan keluhan iri kepada peserta kategori 18 K dengan COT 7 jam tanpa black lava. Cukup banyak pula peserta lain yang sudah kecewa dan menyerah di WS terakhir, memilih menumpang ojek dan merelakan BIBnya dicoret. Entah karena sudah lelah atau sempat cedera. Ia pun ditawari ojek berkali-kali maupun menumpang pick up warga, tapi ia bersikeras menolak dan berusaha menyelesaikannya walau didepan tampak tanjakan aspal.
“Ternyata ini bukan masalah medali, tapi masalah mental." Ia melihat rekannya yang lain, yang merasa fisik lebih kuat dan berjalan lebih cepat, pada akhirnya ia menyerah dan tak mau melanjutkan. Aku boleh kalah secara fisik, tapi mentalku mentalku tetap harus kuat.”
Ia menamatkan rute 30 K (tepatnya 29 K) tepat 9 jam dengan elevasi sekitar 1300 m. Ibu satu anak itu sungguh tidak berharap medali kali ini, hanya membayangkan berendam di hot spring dan setelahnya menyantap dua porsi mujair nyat-nyat.
Benar, perutnya sangat lapar. Mentalnya pun sudah (agak) terkapar untuk kali ini. Tapi ia senang dapat menyelesaikannya tanpa cedera.

0
Share

Awal-awal bisa freediving dan memiliki lisensi, secara psikologis normal saja jika aku langsung menggebu-gebu ingin mencoba seluruh destinasi selam bebas di seluruh dunia...eh Indonesia dulu deh, karena biayanya tak kalah besar dengan mengunjungi Maladewa atau Panglao sepertinya. 

Menjangan menjadi salah satu destinasi yang terbersit di kepalaku. Tertarik akan underwater cave dan gua-gua menggemaskan di dasar lautnya. Sepertinya seru, menantang, dan estetik ! Walau aku sedikit keder membaca depth record yang dijelaskan oleh beberapa freediver handal, karena kedalaman gua-gua tersebut di bawah 10 meter, sekitar 12 meter. Mampus lah saya, kemarin pas sertifikasi paling dalam 12 meter kan, dan pernah dapat masukan bahwa jangan memaksakan menyelam di batas kedalaman maksimal yang pernah kamu selami, karena kondisi alam dan tubuh tidak selalu sama.

Menapakkan kaki pertama di Ketapang, Kelurahan paling timur di pulau Jawa dan terkenal dengan pelabuhan penyebrangan feri menuju Gilimanuk, sekaligus menjadi tempat transit bagi para pejalan untuk menikmati sunrise, laut yang cantik ataupun titik aawal menjelajah pegunungan Ijen, Gunung Raung, ataupun savana Baluran. Paket lengkap pokoknya di Ketapang ! Aku menumpang kereta Mutiara Timur dari Stasiun Surabaya Pasar Turi menuju Ketapang, dengan jarak tempuh sekitar 6,5 jam. Untuk penginapan aku memilih lokasi di dekat stasiun dengan jarak sekitar 150 meter saja, dan kupastikan ada warung makan serta minimarket terdekat hehe. Untuk akomodasi mudah saja, tinggal sewa motor per hari 100 ribu rupiah. Didekat penginapan ada pecel pagi enak banget, namanya warung Isun.



Mas Aceng, guide sekaligus kapten kapal Barrameru yang aku tumpangi untuk explorasi di Menjangan. Beliaulah yang akan menjagaku (elah) dan mengambil dokumentasiku selama perjalanan selam bebas ini. Oh iya, aku ambil private trip dari Alam Indonesia dimana pesertanya hanya aku seorang diri. Jadinya bebaslah aku menjelajah sana sini dengan my own pace tanpa gangguan sana-sini.

Saat itu mas Aceng ditemani dengan dua awak kapal lainnya (aku lupa namanya). Saat itu ombak selat Bali rada sinting, tubuhku terhentak sana-sini. Mataku pedas terciprat air garam hingga memerah. Sesaat ketika mengering garam kasar mulai teraba di wajahku. Wah, bagaimana aku bisa menyelam dengan tenang kalau ombaknya seperti ini? Bisa bisa baru dua meter sudah gelagepan.

"Santai saja mbak, ombak selat Bali memang gini. Coba saja kalau sudah sampai di perairan Menjangan. Tenang seperti kolam renang." salah satu awak kapal menenangkanku. Dan ternyata benar saja, ketika sudah mendekat ke pulau Menjangan, ombaknya jauh lebih tenang walau tak seperti kolam renang, dan birunya mulai cerah tak sekelam sebelumnya.

"Jadi mau ke spot mana aja ini? Dikasih 3 pilihan aja," Mas Aceng menawarkan opsi.

"Ngngng...gua..gua. Gua Avatar atau yang gua ada celah-celahnya gitu. Di Kalimantan nggak ada." 

"Ohh ini?" ia menggeser layar ponselku. "Avatar, Coral Tower, dan Underwater cave. Best seller spot itu mbak,"

Aku mengangguk sambil berdebar.

"Kita eksplor pulau Menjangan dulu ya, foto-foto sambil keliling. Kalau beruntung bisa ketemu rusa. Oh iya, jangan lupa ganti wetsuitnya."

Pulau Menjangan termasuk dari Taman Nasional Bali Barat. Saat aku berkunjung, wisatawan tak terlalu padat, tapi airnya jernih sekali dan panas terik tiada duanya.

Ahhh...impianku...

Disana aku hanya mengitari setapak sekitar 300 meter, lalu berfoto di bibir pantainya yang sedikit kotor karena sampah organik berwarna kecoklatan. Lalu berganti dengan wetsuit 3 mm yang baru pertama kupakai di lautan.

"Pertama ke coral tower," Mas Aceng berkata padaku sambil menggaruk telinganya yang bertindik. Perahu motor berhenti tak jauh dari dermaga Menjangan, dan akupun bersiap.

"Ombaknya agak kencang ini." ia menambahkan tanpa sedikitpun menakutiku. Pikiranku sendiri yang gentar. "Yuk kita coba saja."

Karena ombaknya yang lumayan, berkali-kali aku terbatuk menelan air laut yang terasa cadas di tenggorokan. Tenggorokanku perih dan kering, dan tetap mencoba masuk kedalam dengan sedikit susah payah. Kuakui, Mas Aceng memang penyelam handal, karena memang dia warga lokal Watu Dodol spesialis spearfisher dan dive master. Jadi dia bilang no fins pun bukan kendala mayor.

Angkat saya menjadi muridmu, Master Aceng!

"Ayo...finningnya yang bagus, yang rapi jangan seperti kayuh sepeda." ucapnya. Baik juga ia mendadak jadi instrukturku, demi keestetikan konten menurutnya.

Dan beliaupun memang separuh manusia ikan. Kuat banget tahan nafasnya. Sabar menungguku yang banyak ulah dan ragu mau turun kebawah, haha!

Setelah sekitar 45 menit dengan kedalaman maksimal 8 meter dengan visibilitas yang sangat baik eksplorasi di Coral Tower, agenda selanjutnya sebenarnya menuju Avatar Cave, tapi Mas Aceng bilang kalau spot gua-gua underwater masih berombak semua seperti ini. Opsinya main di Sandy Slope dulu sembari menunggu ombak sedikit reda, harapannya seperti itu. Padahal...Sandy Slope kurang menarik karena cuma bergaya centil sambil main pasir menurutku haha😆

Seusai main pasir, kami makan siang sambil berharap ombak menjadi sedikit tenang. Nyatanya tidak, tetap sama seperti tadi. Agak kesal juga, tapi jika aku kesal, maka aku menyalahi pemberian sang maha kuasa. 

"Jadi gimana mbak, mau tetap ke gua-gua atau coral garden aja. Kalau gua-gua ya begini kondisnya. Ombak."

"Ya tetap ke gua-gua aja mas. Mau bagaimana lagi. " Ujarku menguatkan diri.

"Jadi ke?"

"Underwater cave."

Uh, diriku nekat sekali kesana. Kan itu dalam. Bagaimana kalau...bagimana bagaimana...

"Agak ketengah, ombaknya agak kencang, tapi aman. Visibilitasnya bagus dibawah, arusnya tidak ada. Harusnya aman. Memang awalnya kelihatan gelap, tapi dalamnya nggak kok."

"Coba kamu pakai snorkelmu, itu sangat membantu di ombak seperti ini,"

Aku mencoba snorkel ungu yang kebanyakan nganggurnya, sebenarnya enak, namun karena tak terbiasa, air laut tandas masuk ke tenggorokanku malah membuatnya panas dan perih. Aku terbatuk kuat melepeh air asin itu. Mas Aceng geleng-geleng kepala.

"Bisa nggak ya?" kataku gamang dan ragu.

"Gampang aja ini mbaakk....aku no fins bisa. Ayo dicoba aja mbak, sudah sampai sini !" ia menyemangatiku, lalu memberi contoh. Ah, aku memang harus coba !

Percobaan pertama, tak kusangka berhasil lolos dengan kedalaman 12,5 meter tapi dengan sedikit terburu-buru dan waktu selam sekitar 35 detik. Percobaan kedua, ragu-ragu, baru tiga meter aku berusaha naik lagi ke daratan.

"Baguss kok mbak ! Coba lagi ya pelan-pelan."

Tapi...memang tidak semenyeramkan pikiranku. Biasa saja, hanya saja dia bawah kedalaman 10 meter sudah mulai terasa mask squeeze, yaitu kondisi dimana mata terasa seperti tersedot keluar, namun bisa diatasi dengan mask equalize. Percobaan kedua lebih santai, finning rapi dan sempat bergaya estetik dengan memanfaatkan netral bouyancy di kedalaman 10 meter.

"Mau lagi?"

"Sudah sudah mas, menyerah aku dengan ombaknya. Mau meninggoy." 

Mas Aceng ketawa. Kami kembali ke kapal dan bersiap menuju meeting point Grand Watu Dodol. Sepanjang perjalanan ombaknya jangan ditanya, makin gila. Tapi aku suka.

0
Share

Kesampaian juga! Senengnya!  Berawal dari video kereta panoramic yang memiliki jendela super lebar dan atap terbuka sering mondar-mandir di beranda youtube milikku, aku hanya bisa berharap dalam hati : Kapan ya bisa cobain? Sudah berkeluarga gini pasti repot atur waktu dan lain-lain.

Eits, kalau kamu jadi kaum mendang-mending selamanya tak akan pernah mencoba.


Awal tahun, Januari 2026 waktunya mengambil cuti. Rencana awal ke Bandung ingin wisata kecil-kecilan sambil nengok adik laki-laki sekalian coba jadi mermaid di JAQS (pada postingan sebelumnya), dan tentunya mengajak si kecil yang sebentar lagi berusia 3 tahun ! Harapannya, dia sudah bisa mengingat memori baik yang terjadi, serta bisa belajar banyak mengenal hal baru. Usia 3 tahun otaknya berkembang pesat, mudah meniru dan mempelajari hal yang baru, maka harus kita ajak eksplorasi banyak hal !
Tiket keberangkatan ke Bandung dibeli lewat aplikasi tiket.com, untuk 6 orang (termasuk orang tuaku dan satu pengasuh) dengan tarif tiket masing masing sekitar Rp 500,000 ,- (jika dibandingkan eksekutif Rp 350,000,-). Untuk gerbong panoramic tersedia di KA Pangandaran, tujuan Gambir - Banjar tapi kami turun di Stasiun Kota Bandung. Kami berharap saja cuacanya cerah, sehingga bisa menikmati jalur kereta yang konon paling cantik di Indonesia ini.
Saat hari keberangkatan, paginya hujan deras dan mendung pekat. Aduh, agak sedih rasanya, tapi harus tetap semangat. Setidaknya hujan sedikit reda sehingga bisa menikmati panorama yang ditawarkan tanpa terhalang kaca kereta dengan semburat titik air hujan.
Keberangkatan kami pukul 9 pagi, hujan agak mereda, walau rintik sedikit. Barang bawaan kami cukup banyak karena ketambahan stroller bocil yang cukup menyusahkan jika dibawa, dan sangat menyusahkan jika tidak dibawa (karena bocil hobi tiba-tiba tidur atau mager jalan). Alhasil pak suami kepayahan bawa barang sampai keringatan wkwkkw.😂

Kereta Panoramic sendiri terinspirasi dari kereta panoramic yang sudah ada duluan di Swiss, seperti Glacier Express yang bisa menikmati panorama Zermatt dengan pemandangan 360 derajatnya. Pas awal kami masuk rangkaian gerbong Panoramic yang jumlahnya cuma 1 di rangkaian kereta, wewww kesan luxury langsung dapat dengan melihat interiornya, berasa sultan anyar hahaha. Jendelanya besar banget, kursinya bisa diputar menghadap jendela dan atapnya juga terbuka (namun disediakan tirai penutup jika pengunjung merasa silau). Dan jangan khawatir bakal panas, karena gerbongnya sejuk dan nyaman. Ini sih beneran buat wisata senang-senang, salut buat PT KAI inovasinya yang keren ini. Aku berharap aja sepanjang jalan aman, nggak ada manusia laknat yang lempar sesuatu ke kaca kereta api hingga melukai penumpangnya 💩
Di gerbong panoramic ini, semua penumpang bisa free refill minuman seperti teh, kopi, maupun coklat, dan juga mendapat snack dari XXI café seperti pastry dan popcorn manis.

Toilet di rangkaian Panoramic ini juga cakep banget, wangi, mewah dan Ketika menggunakan closet, pantat agak anget di dudukannya, katrok deh ibu-ibu anak satu ini 😉

Nah, karena ditujukan sebagai wisata, maka Prama/Prami selalu menginfokan panorama atau atraksi apa yang akan dilewati, sehingga penumpang bisa siapkan alat tempur dokumentasinya, seperti terowongan, ataupun areal persawahan cantik. Selain itu mereka juga bisa membantu kami untuk mengubah arah kursi menghadap ke jendela ketika melewati panorama yang cantik. 
Kalau arah Bandung yang bagus duduk disebelah mana? Arah kanan atau kiri sama-sama mendapat panorama yang unik. Jika kiri dominan persawahan cakep, kanan dapat pegunungan dan jembatan terpanjang yang dibangun di jaman penjajahan.
Minusnya apa? Bagiku, minusnya satu aja siih…ada layar televisi, kukira buat menampilkan stasiun yang akan dituju atau perkiraan waktu tiba ke stasiun selanjutnya. Nyatanya nggak update sama sekali…padahal bagiku lebih baik kalau ditampilkan infografis atau informasi mengenai kereta, seperti : kecepatan laju, tujuan stasiun berikutnya, info tempat wisata di masing-masing kota, waktu shalat, atau tampilan kereta saat berjalan (kamera di depan). Masukan ini aja sih…selebihnya untuk service sangat oke !
Yang penting, bocil senang (walaupun bobok dan sempat boring dia), ortu senang, dan didoakan ortu lancar rejekinya bisa mengajak naik kereta panoramic di Swiss !

0
Share



Tahun 2025-2026 menjadi tahun divingku.

Menjadi mermaid mungkin adalah Impian dari Sebagian bocil cewek atau mungkin juga bocil cowok. Namun, dulu aku sama sekali berpikir tak mungkin lah aku bisa berenang seperti putri duyung, toh aku juga nggak bisa renang, masuk air sebentar sudah gelagapan. Boro-boro yakan…

Tapi agaknya mimpi jadi mermaid itu nggak hanya tumbuh di pikiran para bocil, tapi juga baru tumbuh di pikiran bocil lebih 30 tahun ini. Kenapa? Karena sudah punya uang. Yup…mermaiding pun setidaknya harus butuh modal untuk latihan dalam air, setidaknya punya mermaid fins dan ilmu freediving biar lebih aman, karena bagaimanapun juga mermaiding adalah olahraga pengembangan dari freediving.

Melihat Ria Ricis yang mengenakan kostum mermaid dan berlenggak lenggok di air, membuat tanganku gatal untuk membeli sebuah Mahina Mermaid Fins. Awalnya memang agak kesulitan menggunakan fins ini karena belum ngerti sama sekali tentang freediving dan hanya nonton tutorial lewat youtube. Latihan pun sendirian 😔

Entah kenapa video Ria Ricis yang main di Jakarta Aquarium Safari nongol di beranda, aku mikir kayaknya seru ya bisa main disana, tapi bagaimana caranya aku bisa renang di Aquarium, jangan-jangan dia karena aktris, jadi punya privilege bisa jadi ikan disana.

Ternyata enggak dong. Ada komunitas putri duyung Indonesia yang merupakan komunitas mermaid di Indonesia yang digagas oleh Mermaid Pia, menyediakan mermaid experience package di Jakarta Aquarium Safari. Waduh, gatal pengen nyoba rasanya. Tapi pe er lagi buat nyari jadwal ke Jakartanya kapan, apalagi pengen pamer ke si bocil juga.

Setelah curi cari waktu, dapatlah waktu pada awal Januari saat kerjaan masih free di awal tahun. Bisa sekalian bawa bocil, suami dan orang tua buat pamerin skill mermaid bunda/istri/anaknya ini. Segeralah aku kontak admin Putri Duyung Indonesia (PDIN) untuk booking jadwal di hari Sabtu, biar rame pengunjung, walau skill masih kentang yang penting percaya diri dulu.

Jakarta, 16 Januari 2026.

Sedikit galau kemarin, karena admin PDIN menginfokan bahwa JAQs baru pergantian manager, jadi untuk Mermaid Experiencenya menunggu Keputusan manager yang baru. 

“Duh kak, aku udah jauh-jauh dari luar pulau ini kak,” aku merengek melas.

“Loh, kukira dari Jakarta ajaa..maksimal sore ya aku infokan jadwalnya kembali.”

Alhasil hatiku gak tenang selama itu. Namun kabar baiknya, ternyata diijinkan, hore !

Jakarta, 17 Januari 2026.

Hari yang dinanti pun tiba. Dari Bontang aku sudah bawa hijab yang agak berkibar saat dalam air dan outer brokat biar kayak putri duyung beneran. Yang wajib dibawa hanya belt, dan mask. Untuk weight dan skin masuk di paketnya. 

Karena jadwal ‘show’ jam 11 siang, maka setidaknya jam 10 aku sudah berangkat. Tapi sayangnya si bocil malah bobo pulas mulai jam setengah 10. Mood baikku hilang, masa aku show tanpa menghibur bocil? Hiks. Tapi karena sudah bayar, maka harus jadi. Jam setengah 11 (yang ternyata bocil masih pulas, dan terpaksa kutinggal) aku berangkat sama orang tua menuju ke Neo Soho, dan ditengah jalan abang grab malah antri bensin, duh hatiku makin kacau.

“Kak sudah sampai? Kita hanya punya waktu satu jam saja ya karena hari ini ada show.” Kak Pia mengirimku pesan singkat. Aku panik.

“Kak, sebentar, ini abangnya masih beli bensin 😓”

“Oh..ya kak kalau sudah sampai langsung ke main tank saja ya. Minta tolong anter mbak petugasnya, saya masuk duluan karena mermaid satunya sudah datang.”

Hatiku berdebar, duh gimana ya menggambarkannya. Ini pengalaman pertama, telat, bocil nggak ikut. Gimana, apa bisa tenang di dalam air? Apalagi aku jarang Latihan dengan monofins, bisa nggak ya? 

Setibanya disana aku langsung ke JAQs. Antrian mengular, kukira aku bisa langsung masuk ternyata harus antre juga biar dapat gelang pengunjung (walau sudah bayar tiket masuk package). Ya Allah mau nangis deh rasanya, tapi kulihat antrean nggak panjang, mudah-mudahan nggak lama karena sekalian belikan tiket orang tua.

Setelah administrasi, aku diantar masuk sama petugas ke main tank. Untuk orang tuaku kuminta nunggu di main tank untuk lihat anaknya berubah jadi ikan. Hahaha. Setelah masuk main tank, aku bertemu Kak Pia dan satu mermaid lainnya untuk melakukan aksinya hari ini. Hahaha akhirnya.

Ganti kostum sat set, dan segera pemanasan di air. Pokoknya jam 11:25 aku baru siap. Awalnya kami disuruh berenang dengan merfin di aquarium terbesar se Indonesia ini dengan kedalaman 4,5-5 meter ini, kagok sih karena lama banget nggak latihan. Setelah oke, kami disuruh mencoba dan diajarkan berbagai macam pose dan basic mermaid tricks didalam air. Seperti butterfly sommersault dan bubble ring yang aku selalu gagal.  Dan…yang paling ditunggu-tunggu adalah menyapa pengunjung dari dalam aquarium ! Waahh..pengunjung saat itu rame banget nget….dan aku celingukan cari bocil. Itu dia! Dia memang bingung mengenaliku karena saat itu aku pakai mask. Jadi dia ragu untuk tersenyum, hihihi…senyumnya memang mahal.

“Bisa loh kalian lepas mask, biar lebih real. Di JAQS airnya nggak pedih di mata sama sekali, karena airnya tawar, dan kadar salinitasnya disamakan seperti air laut asli (air laut buatan).” Begitu Kak Pia menjelaskan, tapi aku paling lemah kalau lepas mask. Mata selalu perih dan buram rasanya, malah panik. Padahal asyik loh kalau lihat model gak pakai mask, kayak betulan aja gitu mermaidnya.

“Sama satu lagi, jadi mermaid harus bisa pose centil ya, ayo ayo tangannya dimainkan !”

Waduh, ini nih yang paling aku nggak bisa. Pose centil. Takut bablas kecentilan wkwkw😜.

Aku bolak-balik lirik jam, jam 12 lewat 15, bentar lagi disuruh keluar karena mau ada show di main tank. Alhamdulillah, ada extra time gara-gara kecerobohanku hari ini, jadi nggak bentar-bentar amat menikmati pengalaman yang menyenangkan ini, bisa ketemu dengan penghuni aquarium raksasa ini, seperti para ikan hiu, pari, dan penyu Sherly yang tampaknya sudah lansia karena tubuhnya yang besar dan keriputan, hihihi.

Oh ya, untuk mermaiding ini aku Bersama kak Mipa, yang merupakan calon instruktur Mermaid yang berasal dari Bandung, dan Kak Pia (Mermaid Pia) yang merupakan instruktur Mermaid pertma di Indonesia. Cuma aku aja yang belum pernah Pendidikan formal mermaid, tapi menurutku masih cukup lah dengan skill freediving kemarin, selama tidak untuk professional dan komersial.

Jadi..fakta menarik kali ini adalah : Jika kemarin aku belajar freediving dengan instruktur freedive pertama di Indonesia, maka sekarang belajar mermaid dengan Instruktur Mermaid pertama di Indonesia pula.

0
Share
Older Posts Home

AUTHOR

AUTHOR
Seorang wanita yang seperti kera sakti : Tak pernah berhenti, bertindak sesuka hati dan hanya hukuman yang dapat menghentikannya.

Labels

Bali Berkeluarga INFLIGHT ITALY JAWA TENGAH Jambi KALIMANTAN TIMUR KUTAI TIMUR Lumajang NETHERLAND NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR Perancis SULAWESI SELATAN SUMATERA BARAT Sulawesi Utara Yogyakarta deutschland jakarta jawa barat jawa timur kalimantan selatan rusia

Popular Posts

  • Berbagi Pengalaman Ketika Aku Joinan Tes D3 ITS-PLN
    Oy...sebelumya si Une minta maaf dulu, fotonya dibuat kayak hantu biar gak ada pemalsuan identitas, penghubungan alamat, walaupun aku pun...
  • ABOUT ME | ÜBER MICH
    "Allah menciptakanku saat sedang tersenyum, begitu pula ibu melahirkanku dengan senyum pula." Terlahir di Surabaya, 20 Juni ...
  • #1 Babak Kedua Gunung Gergaji : Mengulang Pengembaraan di Barisan Karst Sangkulirang-Mangkalihat
     "Maaf ya, jika pesanmu baru bisa aku balas kira-kira hari Jumat."  Sejenak aku mengetik pesan terakhir padamu sebelum melanjutkan...
  • PORTOFOLIO (BOOKS)
    Kategori : Nonfiksi - Travel  Judul : Bekerja, Tidur, dan Berjalan di Kutai Timur Penulis : Unesia Drajadispa Penerbit : Stiletto Indie Book...
  • Resensi Komik : PIANO HUTAN - The Perfect World of kai
    Apa teman-temon udah pernah baca komik PIANO HUTAN ini? Aku udah, tapi cuma 20 buku aja, soalnya yang ada baru 20 jilid, dan seperti biasa a...
  • Deutschland für Anfänger (Pameran Jerman Untuk Pemula)
    Guten tag Leute :) Sebenarnya jujur, kejadian ini udah berlangsung sekitar sebulan yang lalu, tetapi nggak sempat ceritanya karena bentro...

INSTAGRAM : @FRAUNESIA

Copyright © 2015 Was ist los, Une?

Created By ThemeXpose