207 km

Sial. Saya ditinggal. Sejak Beran tadi sampai simpang empat Tempel sini saya sendirian. Tidak benar-benar sendirian, sebenarnya. Di depan saya ada pesepeda. Tapi saya tak mengenalnya. Kawan-kawan masih tak kelihatan. Barangkali mereka sudah melewati tanjakan di Salam itu dan kini sedang bermain-main bersama angin menuju … Lanjutkan membaca 207 km

Eksesif

“Aku batal,” tulis Mas Ose via aplikasi bertukar pesan. “Ono undangan arisan RT.” Saat mampir ke rumah Wahyu di Giwangan semalam kami sepakat untuk gran fondo ke Secang hari ini jika cuaca cerah. Ternyata cuaca benar-benar cerah. Di musim hujan seperti ini mendapati cuaca cerah … Lanjutkan membaca Eksesif

Gotri

Dari jalan aspal di pinggir Selokan Mataram, Mas Harun membawa kami ke setapak tanah. Langit agak mendung namun nuansa hijau dari perkebunan dan persawahan bikin pagi itu agak semarak. Ito tampak gembira sekali menunggangi sepeda gravel barunya. Ia barangkali sudah lupa bahwa sekitar delapan bulan … Lanjutkan membaca Gotri