Tak terasa tapi harus dijalani, kadang rindu, kadang sepi terngiang-ngiang masa kecil betapa tak ada beban saat itu, beban serasa hanya dipaksa tidur siang dan makan tepat waktu.
Ulang tahun ke 37 tahun ini adalah moment mendalam untuk bersyukur atas perjalanan hidup, karena telah berhasil melewati banyak tantangan kehidupan yang mendewasakan diri.
Teriring komitment untuk terus menjadi pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan lebih mendekat diri kepada Allah SWT. Bukan hanya sekedar merayakan ego, bagaimana caranya agar sisa umur lebih membawa keberkahan dan kebahagiaan.
Terimakasih untuk suami dan anak-anakku Huda Syaza yang telah menjadi “rumah” untuk pulang bagi umi
6/365 Tahun 2026 baru berjalan 6 hari, yang semestinya harus sudah memiliki resolusi yang tepat untuk menghadapai 359 hari lainnya di tahun ini. 2026 ini hanya ingin less-expecting saja sepertinya, pernah berada di posisi punya expektasi terlalu tinggi dan seolah ingin mengatur Allah tentang harapan personal demi mengejar kesempurnaan. Sekarang ini mencoba untuk senantiasa hadir dan melepaskan semua ekspektasi duniawi versi manusia. Gimana baiknya saja ya Allah
Tahun ini semakin bertambah umur, tak terasa 3 tahun lagi menuju 40an. Raga sudah mulai meminta haknya, orang tua tak terasa sudah semakin menua, begitu pula anak-anak semakin membutuhkan diri ini sisi. Dulu suka sekali cari validasi demi memuaskan ego diri, kini entah mengapa lebih memilih jaga vibrasi, dulu bangga bgt rasanya punya banyak kesibukan, sekarang nyaman kalau seharian tenang dirumah, hmm
2026, kurang-kurangi judging nya ya, semakin bertemu banyak orang rasanya semakin ga mau terlibat urusan mereka, fokus dengan self improvement saja. Bismillah 2026 penuh rejeki, semakin sehat badan ini
Tak terasa 2025 hanya tinggal menghitung minggu, serasa sekali memang gedebag gedebug 2 tahun terakhir ini, mulai dari membuka kembali buku-buku IELTS akhir tahun 2023, mencoba peruntungan berbagai beasiswa sampai kampus S3 yang penuh drama, dan memang Allah tak pernah mengizinkan saya mengecap manis perjuangan tanpa menyertakanNya di setiap proses berjuang saya, terimakasih ya Allah, dengan ini saya tahu sedang mendewasa.
Hingga akhirnya kini pun, sedang berproses terus, kadang galau, kadang juga [berusaha] bahagia terus sambil membersamai 2 bocil yang lagi butuh-butuh nya perhatian emaknya ini, bukannya tak bisa membagi waktu, saya merasa malah punya sangat banyak waktu dirumah, hanya saja belum bisa fokus untuk disertasi saya. Saya hanyalah ibu yang mudah sekali kedistrak apalagi berhubungan dengan anak-anak.
Tahun 2024-2025 adalah tahun berjuang, yang tak tahu akan berujung seperti apa, tapi saya yakin akan ada yang indah menanti di depan sana, insyaALLAH
Dan tak terasa pula, awal Desember ini semester Ganjil akan berakhir, minggu UAS penuh tantangan dan target. Semoga hasilnya sesuai harapan ya Allah
Tahun 2026, 2027 dst semoga penuh moment bahagia dan hikmah, Aamiin YRA
Nano nano rasanya, iyah seperti hal yang saya pikirkan sebelumnya tapi saya tak menyangka akan sebegini membebani pikiran wkwk, klo kata suami saya baru aja 2 bulan santai aja, bagaimana tidak perjalanan 2 bulan studi ini harus berjibaku dengan laporan 3 klaster, belum lagi tugas MK dan kewajiban menulis sebuah sysrev dan draft proposal disertasi yang harus sudah dimulai. Saya pernah membaca sebuah utas jikalau studi doktoral adalah perjalanan sunyi dan melelahkan. Perjalanan yang berfokus pada tantangan intelektual dan emosional yang harus bisa dihadapi secara mandiri, perjalanan ini juga memberikan saya kesempatan untuk introspeksi mendalam apa sih yang sebenarnya saya inginkan, menuntut pemahaman yang lebih baik tentang diri, kekuatan, dan kelemahan diri saya, apresiasi terhadap aspek lain kehidupan seperti pentingnya komunitas akademik yang mumpuni. Perjalanan ini juga membuat saya banyak merenung tentang diri sendiri, meskipun terkadang bisa terasa sangat melankolis, wkwkw
Banyak hal lain juga yang berputar putar di kepala, salah satunya adalah gagalnya aplikasi beasiswa PDDI saya beberapa bulan lalu, cukup syok, sedih sekali rasanya, Allah ternyata memilih saya untuk menjalani keputusan terberat ini, akan tetapi waktu menuntut saya harus segera mengambil keputusan apakah akan lanjut dengan bea mandiri ataukah menunda lagi sambil berpacu dengan usia, iyaahh akhirnya saat ini, saya menempuh studi Doktoral (S3) dengan status izin belajar, status yang dulunya sangat seram dipikiran saya, bagaimana mungkin saya bisa menjelma menjadi ibu, isteri, dosen sekaligus mahasiswa jikalau tanpa kekuatan dari Allah SWT. Saya sangat yakin akan banyak hikmah atas perjalanan saya ini, insyaAllah. Terimakasih ya Allah bimbing saya, mudahkan selalu jalan saya
Dan pertengahan Agustus lalu saya kembali ke Bandung (foto bawah), kota yang selalu membuat rindu, kota penuh perjuangan, tak dinyana akan menginjakkan kembali kaki saya sejak 2017 lulus magister (foto atas). Auranya masih sama tapi perjuangannya harus lebih lagi ya Mil, 2 tahun bisa lulus insyaAllah, Aamiin. 2 Hari masa registrasi saya manfaatkan betul untuk bertemu promotor dan diskusi rencana Disertasi saya.
Saya percaya menjadi mahasiswa Doktor itu harus bisa menghadapi tekanan besar, rasa ragu, dan keharusan untuk menavigasi masalah penelitian sendiri, yang memerlukan ketahanan mental dan emosional yang kuat.
Foto bersama saat sosialisasi kurikulum S3 bersama Kaprodi S3 Prof Agnes dan teman teman seangkatan. Meskipun penuh tantangan, saya yakin perjalanan ini membantu saya menemukan banyak perspektif baru tentang peran sebagai seorang akademisi dan kontribusi lebih saya pada masyarakat. InsyaAllah
Setelah 10 tahun mengikuti Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP UNPAD) untuk jenjang magister tahun 2015 lalu, siapa sangka akan membuka web itu lagi untuk jenjang Doktoral saya, Alhamdulillah, berikut langkah-langkah yang saya jalani kemarin, cek it out
Kemudian cek semua persyaratan, program studi yang dibuka beserta daya tampungnya, disini sudah sangat lengkap prosedur serta kriteria penilainnya, dan yang tak kalah penting BPP yang ditetapkan untuk setiap program studi juga sudah ada disini.
Berikutnya adalah Pembuatan Account SMUP dan Layanan Tes Lainnya di bagian pendaftaran kita diminta untuk mengisi data lengkap beserta password untuk masuk ke akun nantinya.
Sebelum membuat account, harus dipersiapkan:
Scan Foto berukuran rasio 3×4 (portrait), misalnya berukuran 300 pixel x 400 pixel, wajah terlihat jelas, berpakaian dan berpose formal untuk keperluan akademik.
Scan/foto KTP (atau Surat Keterangan Pengganti KTP Sementara atau Kartu Keluarga bila tidak ada).
Jika belum memiliki KTP, NIK bisa diperoleh/dilihat di Kartu Keluarga.
Sebelum klik Buat Account, pastikan Nomor HP & Alamat Email yang dimasukkan telah benar dan masih aktif, karena nomor HP dan alamat email tersebut akan digunakan oleh sistem untuk mengirimkan informasi-informasi penting seputar seleksi di UNPAD. Nama Lengkap diisi dengan nama lengkap TANPA GELAR, sesuai dengan Akta Kelahiran/Ijazah, karena akan digunakan untuk sertifikat dan/atau ijazah jika anda lulus nanti, serta untuk keperluan pelaporan data ke Dikti.
Setelah berhasil membuat akun, login menggunakan NIK dan password yang telah dibuat tadi.