Matahari belum juga nyembul
dari timur,
bergegas,
menggulung tanaman ubi.
Daun-daun layu
digelung sunyi.
Hembusan bebiding
tak terelakkan di kulit
Nanti,
dibawa pulang
untuk pakan hewan.
Selagi kokok ayam
belum reda.
Tanah gembur dibongkar
umbi nyembul,
putih kecoklatan.
Dikumpulkan berkarung-karung,
diangkut
ke dalam truk,
meninggalkan jejak
peluh dan harapan.
Umbi Sebelum Matahari
Candaan
Seperti candaan,
mengalir pelan di udara,
menyaring jejak pertemuan,
meninggalkan senyum
yang menjadi kenangan.
Tawa jadi jembatan,
spontanitas menyalakan rasa,
menyatukan hati yang berbeda,
menggeliatkan makna
persahabatan.
Persahabatan
Entah bilangan berapa,
tak lagi kuingat,
tak meninggalkan jejak di sini,
lama pula tak bersua.
Bukan karena penat menata kalimat,
bukan pula hilang rindu
pada sepotong sapa.
Justru aku merindu,
sejumput derai canda,
kejutan-kejutan spontan
yang menambah semarak rasa,
menggeliatkan makna persahabatan.
Langkah di Sawah yang Sepi
Bediding kali ini
mengingatkanku
pagi yang berulang,
takut kesiangan.
Menelusuri sawah
yang kosong
mencari di antara celah
sekadar rumput,
yang hampir kering.
Sampai berpeluh.
Keranjang tetap ringan,
belum juga penuh.
Rupiah dari Daun yang Gugur
Pagi dingin tanpa embun,
seorang wanita tua menyapu
di bawah pohon cengkeh
yang rimbun
Dikumpulkan
ke dalam karung,
digendong
di punggung.
Sebelum matahari tinggi
diserahkan ke pengepul
ditukar
dengan rupiah
yang cepat habis
sebelum senja.
Jejak Coretan
Kita pernah di sini
menyulam angka menjadi cerita,
lembar demi lembar,
menyusuri meja dosen
Dicoret,
disilang,
diremukkan.
Kita bangun kembali
dengan sabar yang tak habis,
mewariskan jejak
pada tiap coretan.
Jalan yang Hilang
Jalan setapak
tertutup rimbun belukar,
tak ada lagi anak-anak
menapak jalan pintas
menuju sekolah
Kusibak perlahan,
belukar menghapus jejak,
menyisakan bekas
yang tak terlacak
aku merindukan
jejak-jejak di ujung jalan ini
langkah yang sering
sendirian
Rasa yang Merampas
Rasa ini
yang tak juga kumengerti,
menyelinap di celah sunyi,
merampas tenang.
Datang tanpa salam,
menyentuh nadi,
menggetarkan jiwa,
meninggalkan jejak
yang sulit
terhapus.
Bayangan itu terus berputar,
seperti pusaran angin,
tak berhenti
mengguncang ruang batin.
Rasa ini,
seperti gelombang
yang tak mengenal pantai,
terus menghantam,
hingga namamu kembali terdengar.
Menyulam Arah
Langkah-langkahku
seperti menimbang waktu,
menyusuri hari
yang penuh riuh
Aku belajar
melepas yang berat,
memilih yang ringan,
menyimpan yang perlu,
membuang yang usang.
Meski terseok,
aku tetap berjalan,
menyulam arah
dari serpihan ragu,
menjadikan langkah
sebagai doa
yang tak berhenti
mengiringi.
Ilalang dan Debu
Melangkah pelan
di jalan berdebu.
Di sela ilalang menjuntai
yang mengering,
bunganya digoyang angin.
Meliuk-liuk.
Pagar bambu
di tepi jalan,
beberapa bilah lapuk,
lepas,
dari ikatan.
Dari barat
matahari mulai redup,
pelan.
Bersembunyi
di balik punggung gunung