Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

HIDAYAH

Selasa, 02 Agustus 2011

Sayup-sayup terdengar suara azan Maghrib berkumandang disela-sela keramain dan macetnya jalan raya. Sebagian pengendara menepikan atau membelokkan kendaraan mereka menuju mesjid yang ada tidak jauh dari  pinggir jalan raya. Selain untuk memenuhi panggilan Allah dan melaksanakan sholat, mereka juga memanfaatkannya untuk beristirahat dari penat mengendarai kendaraan di tengah jalan yang macet. Tapi sebaliknya dengan Andi, ditengah azan yang berkumandang dia malah bersiap-siap pergi untuk menemui temannya. Dengan jaket hitam kesayangan dan jins belel yang melekat dikakinya, Andipun melangkah sambil bersiul-siul…
“Heh..mau kemana kamu?” Tanya Mba Ira, kakaknya.
“Biasalaaah…cari angin. Kelamaan dirumah bikin otak buntu, sumpek! Lagipula apa urusanmu tanya-tanya?” ujar Andi dengan nada sinis.
“Memang bukan urusanku kamu mau pergi kemana tapi pakai otak dong…! suara azan belum juga berhenti, tunggu dulu sampai azan selesai atau sholat dulu kek...”
“Sholat..? Heh, buat apa?” Andi sambil tersenyum sinis.
“Lho…kok buat apa! Sholat itu tiangnya agama…”
“Lalu apa…?” potong Andi.
“Apa yang dikatakan kakakmu itu benar Di. Paling tidak, dengan sholat kamu telah menjalankan apa yang menjadi perintah Allah. Dengan menjalankan perintahNya, itu akan bisa membantumu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang salah dan mana yang benar” sambung Ibu Andi.
“Maaf Bu, bukan Andi nggak mau melaksanakan sholat. Tapi Andi cuma tidak ingin jadi orang yang munafik, yang menjalankan sholat atau menjalankan perintahNya tapi juga sekaligus melanggar laranganNya. Andi masih ingin senang-senang juga berbuat sesuka hati, dan aku tidak mau mencampur adukkan keduanya. Sholat ya sholat….lalu jauhkan diri dari segala maksiat, itu yang benar!”
“Maksud kamu apa, bicara seperti itu…?” Tanya Kak Ira.
“Heh...dengar ya!Aku tidak mau sholat cuma karena takut sama Ibu, aku juga tidak mau sholat kalau cuma ingin menjadikannya kedok untuk menutupi perbuatan hina dan nista  seperti yang kau lakukan.”
“Astagfirullah…Andi!!” teriak Kak Ira.
“Apa…? Makanya ngaca dulu kalau mau ceramahin orang…” ujar Andi sambil menstarter motornya. Ia sempat melihat Ibunya terisak dan menitikkan air mata namun kebenciannya akan Kak Ira membuatnya tidak perduli. Dan iapun langsung tancap gas meninggalkan derum knalpotyang memekakkan telinga. Seperti yang sepintas dilihat Andi, Ibunya memang hanya bisa terdiam menahan isak tangis. Air mata mulai menggenangi pelupuk mata lalu perlahan mulai mengalir membasahi pipi…
“Ya Allah ampunilah hambaMu ini. Ampuni aku yang tidak mampu membimbing anak yang Kau titipkan padaku. Kumohon ampunilah dia, berikanlah dia hidayah agar kembali hidup di jalanMu, jalan yang Kau ridhoi. Ya Allah…hanya kepadaMu-lah aku berserah diri dan hanya kepadaMu-lah aku mengadu dan berkeluh kesah…” sebait doa terucap disela isaknya.


*****

Selepas meninggalkan rumahnya, Andi mulai mengurangi kecepatan motornya. Masih terbayang wajah ibunya yang sedih, walau seringkali mengabaikan perkataan ibunya namun ia tetap tidak sampai hati melihat ibunya menangis. Dalam keadaan apapun, ibu selalu lemah lembut dalam berkata-kata. Memarahi, menasehati dan juga mengingatkan untuk selalu menjalani perintah Allah, semua dilakukannya dengan penuh kelembutan. Lain halnya dengan Kak Ira, belum sebulan tinggal kembali bersama ibu sudah kelihatan banyak tingkah. Meminta bantuan atau menyuruhnya melakukan sesuatu bagai memerintah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Berteriak, membentak bahkan tidak jarang mengucapkan kata-kata kotor. Andi juga sudah muak dengan sikap Kak Ira yang berlagak sok suci dan alim, apalagi Andi selalu merasa Kak Ira hanya melaksanakan itu cuma untuk formalitas saja alias cuma menyenangkan hati ibu  padahal implementasinya dalam kehidupan sehari-hari sungguh bertolak belakang. Contohnya sekarang ini, gara-gara kepergok berzinah dengan orang lain, sekarang Kak Ira diusir dan diceraikan suaminya. Oleh sebab itu sekarang dia kembali tinggal dirumah ibu dan mulai merecoki kehidupannya. Bagaimana dia bisa melakukan hal nista seperti itu bila ia benar-benar sholat? Apakah dia pikir sholat itu cuma untuk main-main saja? Andi menggeleng-gelengkan kepala karena tidak mengerti jalan pikiran Kak Ira.

Selepas Isya Andi sampai di rumah Yanwar, tempat ia dan kawan-kawannya biasa berkumpul, berpesta juga mabuk-mabukkan. Didalam sudah ada beberapa kawannya juga dua orang wanita yang baru dilihatnya tapi kali ini ia kurang berminat. Diambilnya sebotol black label lalu iapun keluar rumah dan duduk diteras, wajah ibunya masih saja membayang dalam benaknya walau alkohol perlahan mulai meracuni aliran darah ditubuh. Keasyikannya terusik saat matanya menangkap gerakan tidak wajar di sekeliling rumah Yanwar ini, ia merasa beberapa pasang mata sedang mengawasi. Perlahan ia bangkit dari duduknya, masuk kedalam dan mengingatkan kawan-kawannya. Andi segera berlari ke pintu belakang dan menghambur keluar lalu berlari sekencang-kencangnya, tidak diperdulikannya lagi apakah kawannya mengikuti atau tidak yang penting dirinya aman.

Dugaan Andi memang tidak salah. Beberapa warga dan satuan polisi memang sedang mengepung rumah Yanwar karena sudah lama dicurigai sebagai tempat pesta miras, narkoba bahkan sex bebas. Apalagi sudah mendekati bulan suci ramadhan, dan biasanya para petugas lebih giat memberantas penyakit-penyakit masyarakat. Tidak berapa lama kemudian, kawan-kawan Andi ditangkap tanpa ada perlawanan karena mereka sudah terlalu mabuk untuk bisa melarikan diri. Sedangkan Andi masih terus berlari walau harus tersandung-sandung digelepan malam juga perih menusuk telapak kaki karena ia tidak sempat memakai alas saat kabur tadi. Ia menggapai tembok yang tingginya kira-kira 2 meter lalu meloncatinya, namun untung tidak dapat diraih malang tidak dapat ditolak. Ternyata dibalik tembok itu, permukaan tanahnya tidak rata dan agak menurun sehingga saat Andi mendarat tubuhnya terhempas lalu jatuh terguling. Rasa sakit luar biasa tiba-tiba dirasakan Andi di pangkal paha kanannya. Rasanya seperti patah saja dan ia tidak tahu apa yang tertabrak kakinya, batu, kayu atau akar pohon? Entahlah, ia tidak tahu pasti. Ia hanya bisa teriak dan mengerang kesakitan lalu tidak sadarkan diri.

Entah berapa lama Andi pingsan namun kini terlihat tubuhnya mulai sedikit bergerak. “Terima kasih Tuhan…” desisnya ketika menyadari ia masih hidup. Andi mencoba bangkit namun ia kembali merintih kesakitan dan merasa kaki kanannya benar-benar tidak bisa digerakkan, bergerak sedikit saja sudah menyisakan nyeri yang amat sangat. Sambil meringis, matanya nanar menatap dalam gelap. Samar-samar dilihatnya sebuah titik cahaya lampu dari kejauhan dan ia berpikir barangkali disanalah ia akan bisa mendapat pertolongan, tapi bagaimana?

“Ya Allah tolonglah aku. Ibu….ibu…maafkan aku” desahnya sambil menitikkan airmata. 

Lalu sambil menahan rasa sakit, Andi merangkak perlahan menyusuri tanah dengan sisa-sisa tenaganya. Namun penderitaannya tidak sampai disitu saja, ketika cahaya lampu itu mulai terlihat jelas tiba-tiba saja hujan turun cukup deras. “Mampus gua…” umpat Andi dalam hati. Iapun coba bersandar di  bawah pohon sambil coba menutupi kepala agar tidak langsung terkena air hujan. Wajah ibunya kembali terbayang dan iapun sesegukkan menahan tangis tapi segera ia menghentikan tangisnya saat sayup-sayup terdengar seseorang membaca ayat-ayat Alquran dan bagai irama yang mengalun dengan indahnya. Dan suara itu terdengar dari gubuk dimana cahaya lampu itu terlihat. Tiba-tiba saja semangatnya bangkit, iapun kembali merangkak ditanah becek untuk segera sampai ke cahaya lampu yang ternyata cahaya lampu dari gubuk seorang pemulung. Dengan nafas tersenggal-senggal dan tubuh berlepotan lumpur, akhirnya Andi sampai juga di depan gubug itu. Andi menengadahkan wajahnya keatas langit dan tersenyum…lalu jatuh tidak sadarkan diri kembali.

*****

Alunan ayat-ayat Alquran keluar dari mulut Andi, dihadapannya duduk seorang laki-laki yang sekali-sekali membetulkan ucapan Andi dalam membaca ayat Alquran tersebut. Andi sudah kembali mendekatkan diri kepada Allah, mulai kembali menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Andi tidak merasa karena ia sakit, barulah mendekatkan diri kepada Allah. Tapi itu semua semata-mata karena ia merasa bahwa Allah telah menunjukkan kuasaNya. Dan peristiwa yang dialami menyadarkannya bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sehingga ia masih diberi kesempatan untuk hidup juga dipertemukan dengan orang yang bisa membimbingnya meniti jalan yang di ridhoiNya. Mendalami makna dari isi Alquran dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari juga selalu bersyukur atas semua berkah dan rahmat yang telah diterimanya adalah menjadi tujuan hidupnya kini. Ibu Andi tersenyum bahagia melihat perubahan dari anaknya...
”Alhamdulillah…terima kasih ya Allah, Kau telah menurunkan hidayahMu dan kini anakku telah kembali…” sambil meneteskan airmata bahagia. 
Selengkapnya...

MEMANG HARUS BERAKHIR

Kamis, 06 Januari 2011

Diatas tanah curam dekat bibir pantai dan ditemani semilir angin yang berhembus perlahan, dua insan duduk dalam diam. Andi menatap resah gumpalan awan-awan hitam yang kemudian menyelimuti langit biru menjadi kelam, ada sesuatu yang ingin dikatakannya pada Widya namun ia khawatir hari-harinya akan menjadi kelam seperti langit itu. Andi menarik napas dalam-dalam.....
" Aku mulai merasa aneh dengan hubungan kita Wid. Hati kecilku mengatakan kita harus segera menyudahinya " Ujar Andi sambil menatap mentari jingga yang mulai turun perlahan.
" Kamu serius Mas.?" Tanya Widya dengan nada pelan. sepertinya ia tak terkejut dengan apa yang barusan diucapkan Andi, ia masih sibuk mencabuti bunga-bunga liar lalu membiarkannya terbang terbawa hembusan angin.
" Entahlah...begitu banyak keraguan dalam benakku, disatu sisi aku sangat membutuhkanmu namun disisi lain aku merasa berdosa dan amat bersalah "
" Maksudmu bersalah karena menghianati kekasihmu...?"
" Tidak..tidak Wid, tidak sama sekali. Kamu pasti ingat mengapa kita jadi dekat, kamu juga pasti masih ingat apa yang telah menyatukan kita berdua. Aku merasa bersalah bukan karena dia tapi kamu...selama ini kamu telah membantuku membalut luka hati, kamu begitu baik....begitu pengertian tapi aku tak pernah bisa berjanji dapat memberi lebih dari yang kau harapkan " Widya berhenti mencabuti bunga-bunga liar, memandang wajah Andi lamat-lamat lalu tersenyum dan kemudian mengalungkan kedua belah tangannya di leher Andi.
"  Mas ku yang baik....Aku mengerti kegundahan hatimu, tapi mengapa ? Bukankah aku tak pernah menuntut lebih dari apa yang telah kudapat darimu. Kita disatukan karena rasa yang sama, kekecewaan yang sama, sakit hati yang sama dan kitapun sepakat bahwa kita bersama hanya mengobati semua rasa sakit itu....tak lebih "
" Ya memang...Tapi tetap saja Wid perasaan bersalahku padamu tetap ada. Seringkali aku berpikir, barangkali bila kamu dengan seseorang yang lain, kamu bisa mendapatkan lebih daripada hanya sekedar tempat pelarian bagiku "
" Kau memang baik Mas....sangat baik malah. Terkadang aku heran mengapa ada orang yang tega membuat mu sakit hati, rasanya terlalu bodoh berbuat itu terhadap orang sebaik kamu. Saat ini aku belum memikirkan lelaki lain yang akan menjadi kekasihku atau mendampingi hidupku kelak, luka hatiku belumlah kering. Tapi bila memang saat itu datang, tentu aku bersedia menyudahi kebersamaan kita ini dengan baik-baik, aku janji  mengatakan kepadamu. Tapi tolong....please...! Jangan saat-saat ini, aku masih sangat membutuhkanmu....hanya kamu yang bisa membuatku tersenyum dipagi dan malamku " Andi menatap mata Widya yang mulai basah, tergurat kesedihan dibalik tatapannya. Keharuan mulai menyelimuti benak Andi, perlahan ia merengkuh tubuh Widya dan memeluknya erat-erat.
" Akupun begitu Wid, rasanya tak mudah berpisah denganmu....tak semudah itu " Bisik Andi.
Dan Andipun membiarkan satu episode dalam hidupnya terus berjalan tanpa tahu kapan lakon itu berakhir. Dan iapun tak pernah tahu apakah lakon itu berakhir dengan happy ending atau sebaliknya. Ia merasa hanya seorang pemain sandiwara dan menjalani peran  yang memang sudah digariskan untuknya.

* * * * * *

Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak tadi pagi menyisakan kemacetan di jalan-jalan utama ibukota akibat genangan atau banjir di mana-mana. Kendaraanpun merayap pelan dalam antrian beratus-ratus meter panjangnya. Andi duduk gelisah dibelakang kemudinya, biasanya ia begitu gusar dan kesal bila terjebak dalam kemacetan seperti ini. Klakson mobil tak henti berbunyi bila ia melihat kendaraan didepannya tak beranjak dari tempatnya, namun kali ini ia banyak termenung dan terlihat seperti menikmati kemacetan ini. Sejak berangkat tadi hatinya memang diliputi perasaan gundah, entah apa yang membuatnya seperti itu...iapun tak tahu. Pikirinnya melayang pada penggalan-penggalan episode dalam hidupnya dan tiba-tiba ia teringat Widya...Bagaimana dia ? Sehatkah dia ? Sedihkah dia ? Sudah beberapa hari ini ia memang tidak berhubungan dengannya walau sebatas telepon. Andi memang sengaja menahan diri untuk tidak menghubungi Widya, sejak pertemuan terakhir ia sudah merasakan sesuatu yang salah dengan hubungan mereka yang tak wajar itu. Hubungan itu terjadi memang akibat kekecewaannya yang mendalam terhadap Larasati ,kekasih yang menghianatinya. Pertemuan dengan Widya yang mempunyai masalah yang hampir sama, sakit hati yang sama membuat mereka lebih cepat akrab dan dekat. Namun perlahan Andi mulai sadar, kesalahan tak semestinya dibalas dengan kesalahan, balas dendam juga bukanlah suatu solusi namun ia tak mengingkari kedekatannya itu menumbuhkan benih-benih kasih disisi lain hatinya. Walau ia tak pernah mengakui itu secara terus terang dihadapan Widya. " Nggak usah terlalu dalam Wid...just be apart of our life, anggap saja hubungan kita salah satu episode dalam sandiwara kehidupan yang kita mainkan " Pinta Andi saat bersepakat dengan Widya untuk menjalani hubungan tidak terikat dengannya. Andi tersenyum kecut mengingat itu..." kata-kata itu hanya pantas keluar dari seorang bajingan...seharusnya bukan aku " pikirnya. Andi segera mengambil handphone yang berdering di sakunya....
" Hai...Apa kabarmu Mas ? Kok sombong sih...Dah lama nggak telepon-telepon aku..."
" Eh...Widya, apa kabar juga. Duh...maaf Wid, kamu kan tahu pekerjaanku...akhir-akhir ini aku sangat sibuk, jadi maaf bila aku tak sempat menghubungimu. Lagipula kamu sendiri mengapa tak menghubungiku ?"
" Ah..nggak enak sama kamu Mas, takut mengganggu..."
" Lho..kamu tahu kan kalau aku tak pernah merasa terganggu bila kamu yang telepon. Eh..kapan kita ketemu lagi ?"
" Mmm...sebenarnya aku memang ingin bertemu denganmu Mas tapi siang ini aku akan berangkat ke Surabaya untuk beberapa hari. Rasa-rasanya nggak tenang juga menunda apa yang ingin kubicarakan denganmu..."
" Ya sudah Wid..By phone it's oke aja kok ! Memangnya ada apa sih Wid ? Bicara saja...Kamu juga kan tahu kalau aku selalu siap mendengar kesahmu "
" Tapi yang ini lain Mas." Ucap Widya pelan seperti ada keraguan.
" Katakan saja Wid...aku siap mendengarkan...."
" Aku sudah punya seseorang Mas..."
" Seseorang..? Maksudnya..?"
" Yah...sesuai janjiku, aku ingin menyampaikan padamu bila aku kini mulai dekat seseorang. Aku merasa ia cukup baik walau aku belum tahu apakah ia sebaik kamu, namun aku merasa ia cocok untuk menjadi kekasih hatiku dan barangkali ia yang akan mendampingi hidupku kelak " Andi terhenyak.....Ucapan Widya dirasakannya bagai palu godam yang menghantam dada, sesak rasanya.
" Mas...kau dengar aku kan ? Semoga saja ini dapat menghapus semua kegundahan dihatimu..."
" Oh..i..iya Wid, maaf suaramu terputus-putus.." Ujar Andi menutupi keterkejutannya.
" Makasih Mas atas semua kebersamaan kita selama ini, waktumu juga perhatianmu tak pernah aku lupakan. Dan mungkin seperti yang pernah kamu ucapkan, kebersamaan kita akan menjadi episode yang paling manis dalam sandiwara hidupku. Itu tak akan bisa dan tidak akan pernah aku lupakan....Maafkan aku Mas, sebenarnya aku sayang kamu Mas " Ujar Widya terdengar sedikit terisak.
" Sudahlah Wid...tak perlu ada yang kamu risaukan. Aku yang seharusnya minta maaf karena aku  hanya dapat memberikan kebahagian semu selama ini, semoga kamu dapat menemukan kebahagian sesungguhnya dengan dia. Bahagiamu adalah bahagiamu juga..."
" Makasih Mas atas doanya. Ya sudah ya Mas... sampai ketemu di lain waktu...bye !"
" Bye Wid..."

Andi terpaku beberapa saat setelah nada sambung terputus, rasanya ia tak percaya dengan isi pembicaraan singkat itu. Seharusnya ia senang mendengar semua itu namun disisi lain ada rasa tak rela menggayut di benaknya, ia cemburu...." Mengapa secepat ini Wid ? " . Andi menarik napas panjang untuk meredam rasa gundahnya, rupanya ini yang membuat hatinya gelisah sejak tadi. Tapi rasanya ia tak pantas merasa kecewa, tak seharusnya juga ia merasa cemburu. Barangkali ini memang sudah digariskan, satu episode dalam sandiwara hidupnya harus berakhir sampai disini.



Selengkapnya...

KURELAKAN DIA BAHAGIA

Kamis, 29 Juli 2010


Sore ini langit terlihat mendung, rintik-rintik hujan yang turun sejak siang hari masih saja menghiasi langit. Mataharipun seakan telah kembali ke peraduan yang berselimutkan awan gelap. Ferdi duduk terpaku diatas kursi rodanya, matanya menatap lurus ke arah kolam-kolam ikan yang letaknya tak jauh dari pondok kecilnya. Rintik-rintik hujan yang jatuh diatas permukaan kolam menimbulkan riak-riak kecil yang tak henti bergerak, terus memendar dan menyebar keseluruh permukaan kolam. Ferdi menaikkan resleting jaket yang dikenakannya sampai sebatas leher, coba menghindari semilir angin dingin yang coba menelusup dan mencari celah untuk bercumbu dengan pori-pori kulitnya. Lalu ia mengusap-usap pipinya untuk mendapat sedikit kehangatan namun saat mengusap bekas luka yang ada dipipi kanannya, Ferdi malah teringat peristiwa yang tak akan pernah bisa dilupakannya. Peristiwa yang kini membawanya duduk disini, diatas kursi roda ini. 

Braaakkkkk....!!! Suara hantaman terdengar begitu keras dan menghentak warga yang ada disekitar. Sontak wargapun berhamburan mendekati asal suara dan mencari tahu apa yang terjadi. Rintik-rintik hujan gerimis yang mulai terasa bertambah deras tak menghalangi keingin tahuan mereka. Terlihat sebuah kijang Innova ringsek dan hampir tak berbentuk, teronggok dipinggir rel kereta api tak jauh dari pintu perlintasan kereta api. Bagian depannya hancur dan terlihat seorang pengemudi terkulai lemas dengan darah membasahi sekujur tubuhnya. Tubuh dan kakinya terhimpit bagian depan yang ringsek dan butuh hampir 2 jam untuk mengeluarkan tubuhnya dari dalam kendaraan.
" Tidak..tidak, ini tidak mungkin. Tidaaaakkk...!!" Teriak Ferdi histeris sambil meronta-ronta, setelah mengetahui kedua belah kakinya diamputasi sampai sebatas lutut. Ibunya hanya bisa menangis sambil memeluk tubuh Ferdi. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain, semua larut dalam kesedihan. Hanya ayah Ferdi yang terlihat lebih tabah dan terus mencoba menenangkan Ferdi dengan menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.

Waktu 3 bulan rasanya terlalu singkat bagi Ferdi untuk bisa menerima kenyataan pahit yang harus dialaminya. Ia begitu shock dan tak siap menerima semua itu, berjuta tanya selalu menghantui benaknya. Bagaimana kehidupannya kelak ? Bagaimana pekerjaannya juga masa depannya ?. Padahal dengan kerajinan serta ketekunannya dalam bekerja, ia baru saja menerima promosi jabatan di kantornya. Namun kini semua berantakan. " Ini semua gara-gara kamu Hen..!!" Umpat Ferdi saat pertama kali menyadari dirinya sudah cacat. Wajar jika Ferdi berpikir seperti itu karena sebelum kejadian ia sempat bertengkar hebat melalui telepon dengan Heni kekasihnya. Lalu iapun terburu-buru membawa kendaraan untuk menemui Heni dan dalam perjalanan ia tak menyadari telah menerobos pintu perlintasan kereta api sehingga terjadilah kecelakaan itu. Namun kini ia menyadari rasanya tak pantas menyalahkan Heni, ia sama sekali tak bersalah. Barangkali pertengkaran dengan Heni hanya merupakan media untuk Ferdi menemui takdirnya dan barangkali pula memang sudah takdirnya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kedua kakinya buntung atau cacat. Sekarang, perlahan Ferdi mulai membangkitkan semangat hidupnya. Ia bertekad menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Ferdipun mencoba menghapus bayang-bayang keraguan akan masa depannya, menghapus bayang-bayang masa lalu. Mencoba melupakan cintanya dan melupakan Heni. " Biarlah..ia tak perlu tahu apa yang terjadi padaku. Rasanya aku sudah tak pantas dan layak untuknya dan biarlah ia menemukan kebahagiaan walau bukan aku yang ada disisinya kelak. Walau ia tahu, cinta tidak semata-mata diukur dari fisik seseorang namun ia tak mau berharap. "Barangkali lebih baik begini, baik untukku juga baik untuknya " Gumam Ferdi dalam hati.

Dan kini Ferdi mencoba untuk mulai menikmati kehidupan barunya. Mencoba menyepi dan menjauh dari hiruk-pikuk ibukota dengan membeli sebidang tanah di suatu daerah yang sejuk nan asri. Sebenarnya ini sudah lama diidam-idamkannya, tinggal didaerah yang sejuk, sepi dan jauh dari keramaian. Mendengar gemericik air dari sungai yang mengalir begitu menentramkan jiwanya. Suasana seperti itu membantunya untuk mengeluarkan ide-ide yang ada dalam benak untuk dijadikan sebuah tulisan, satu hoby yang kini mulai mengisi hari-harinya. Selain itu, dengan dibantu beberapa karyawannya ia membuat beberapa kolam ikan sebagai sumber penghasilan. Bagi Ferdi, apapun akan dilakukannya dan cacat ditubuh tak akan menghalanginya untuk berbuat sesuatu.

* * * * * * 

Sambil bersandar di jok mobilnya yang lembut, Heni memandangi pemandangan yang dilewatinya. sesekali ia tersenyum dan melirik Kusuma, suaminya yang sedang mengendarai mobil. Heni memang terlihat begitu sumringah karena hari-harinya sebagai pengantin baru selalu diisi dengan kebahagiaan, setidaknya itu yang dirasakannya kini. Apalagi ia merasa sangat beruntung memiliki seorang suami yang lembut dan penuh perhatian seperti Kusuma. Barangkali memang pembawaan dari suaminya itu yang berprofesi sebagai seorang dokter yang kesehariannya harus bersikap sabar dan perhatian terhadap pasien-pasiennya. Hari ini Kusuma mengajak Heni memancing, padahal ia sendiri sama sekali tidak mempunyai hoby memancing. Kusuma hanya ingin menyenangkan hati Heni karena ia tahu istrinya itu sangat suka memancing. Sedangkan bagi Heni, sebenarnya memancing justru mengingatkannya pada sosok Ferdi. Mantan kekasih yang meninggalkannya begitu saja tanpa kabar juga pesan, dan karena Ferdilah ia menyukai dan mendapatkan kesenangan dari memancing. Tapi Heni tak mau larut dalam kenangan itu.
" Memangnya mau memancing dimana sih mas, masih jauh ya ?" Tanya Heni sambil mencoba mengalihkan ingatannya.
" Ooh..nanti kita memancing di tempat temanku, Mas Anton namanya. Tenang saja...ngga lama lagi sampai kok, tempatnya juga enak. Aku jamin kamu akan kerasan disana " Jawab Kusuma sambil tersenyum dan disambut senyum pula oleh Heni yang coba kembali menikmati pemandangan. Dan tak lama kemudian mereka pun sampai ditempat yang dituju.
" Nah..kita sudah sampai ! coba kamu lihat, sudah banyak terlihat pemancing disana" Ujar Kusuma pada Heni. Heni tak langsung menjawab, matanya menatap beberapa pemancing yang duduk menghadapi jorannya bahkan ada yang terlihat sedang menarik jorannya karena kail telah mendapatkan ikan. Senyum Heni mengembang, rasanya ingin segera ia merasakan sensasi menarik ikan seperti yang pernah ia rasakan dulu.
" Pagi pak..! bisa bertemu dengan Mas Anton..?" Tanya Kusuma pada seorang lelaki yang sedang berdiri mengawasi para pemancing.
" Oh..Pak Anton, beliau ada disana mas..! Nah..itu yang sedang memberi umpan ikan.." Ujar lelaki itu sambil mengarahkan jari telunjuknya. Heni menatap kearah yang ditunjuk, ia melihat seorang lelaki yang duduk diatas kursi roda  sedang melemparkan sesuatu kearah kolam ikan.
" Temannya Mas Kusuma, yang itu mas ?" Tanya Heni penasaran karena tak menyangka teman yang dimaksud adalah seorang yang cacat.
" Ya..itu Mas Anton ! Anton Ferdiansyah lengkapnya. Dulu ia pasienku, kebetulan aku yang menanganinya saat ia mengalami kecelakaan. Dan kebetulan pula aku sangat kagum akan semangatnya karena dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya, ia tak putus asa dan gampang menyerah.." Jelas Kusuma sambil menggandeng tangan Heni untuk menghampiri orang yang dimaksud. Heni sedikit terkesiap dan hampir saja menghentikan langkahnya saat mendengar nama Anton Ferdiansyah, nama itu seperti akrab ditelinganya. Dan hatinya terus bertanya-tanya bahkan sampai mereka persis dibelakang lelaki itu.

" Selamat pagi Mas Anton..!" Sapa Kusuma ramah. Lelaki yang disapa perlahan menolehkan kepalanya dan memutar kursi rodanya. Heni terkesiap dan terpaku, Ferdi...? rasanya tak percaya ia dapat melihat kembali wajah yang begitu dikenalnya. Iapun langsung bergidik ngeri melihat parut diwajahnya dan bertambah terkejut ketika melihat kedua belah kakinya buntung sebatas lutut. Mengapa Ferdi ? Apa yang terjadi ? Pertanyaan yang langsung menghiasi benaknya. Terkejut karena pertemuannya kembali dengan Ferdi dan juga shock melihat keadaannya, membuat Heni limbung dan kemudian tak sadarkan diri. Ferdi hanya bisa terpaku melihat itu karena iapun tak menyangka sama sekali bisa bertemu dengan Heni kembali, namun hanya satu yang diharapkannya.... " Semoga Kusuma hanya menganggap Heni pingsan karena shock melihat fisikku dan bukan shock karena bertemu kembali denganku mantan kekasihnya, dia tak perlu tahu itu. Aku tak mau merusak kebahagiaan mereka " Gumam Ferdi dalam hati.

Cerpen ini sengaja dibuat untuk mengikuti kontes yang diadakan oleh  Sang cerpenis yang di dukung oleh VIXXIO  , untuk menyambut postingan mba Fanny yang kini hampir mencapai 1000 postingan.

Seandainya menang, saya pilih novel Larasati ( Pramoedya Ananta Toer ). Biar bisa belajar menulis yang baik dari seorang sastrawan hebat.

Bagi sahabat-sahabat yang ingin ikut, silahkan mampir Di Sini.  
Selamat beraktivitas....salam hangat selalu.

Selengkapnya...

BIBI SUMIRAH ( 2 )

Rabu, 07 Juli 2010

Tidak seperti biasanya, malam ini selepas Maghrib para jamaah baik bapak-bapak atau ibu-ibu yang melaksanakan sholat berjamaah tidak langsung kembali ke rumah tak terkecuali bibi Sumirah.  Mereka duduk bersila berhadapan dengan pak haji Sunardi sesepuh kampung yang juga selalu menjadi Imam saat sholat berjamaah. Saat ini disisi pak Sunardi duduk seorang pemuda yang berhias jenggot dan brewok yang tercukur rapi diwajahnya, senyum yang selalu menghias dibibirnya mengesankan kalau dia adalah seorang yang ramah.

" Saudara-saudara, malam ini  kedatangan  tamu . Rasanya kita merasa beruntung karena saudara kita yang ada disamping saya ini adalah seorang ustaz, barangkali beliau juga tidak berkeberatan untuk berbagi ilmu  yang kita harapkan dapat meningkatkan kualitas keimanan kita. Silahkan pak ustaz.." Ujar pak haji Sunardi. Anak muda yang dipanggil ustaz itupun tersenyum.
" Terimakasih pak haji atas kesempatannya. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati, saya amat tersanjung disebut sebagi ustaz tapi terus terang saya bukanlah ustaz seperti yang pak haji sebutkan. Ilmu agama saya rasanya belum cukup kuat untuk menyandang gelar seberat. Saya memang sempat mengenyam pendidikan di pesantren tapi sebenarnya belum selesai.." Ujar lelaki itu sambil mengumbar senyum. Para jamaahpun ikut tersenyum, kemudian ada beberapa diantara mereka yang saling berbisik. Entah apa yang mereka bisikkan ? mungkin cara lelaki itu berbicara, perawakan lelaki itu atau mungkin juga penampilannya.
 " Bapak-bapak...ibu-ibu, saya berada disini sekali lagi bukan untuk berceramah karena sekali lagi saya berterus terang kalau ilmu saya belumlah cukup untuk itu. Saya hanya ingin mencoba menyampaikan kisah hidup saya yang bagi saya itu terasa sangat pahit. Mudah-mudahan kisah yang saya sampaikan nanti dapat mengandung hikmah dan berguna untuk menambah nilai keimanan kita " sambung lelaki itu yang disambut amin oleh para jemaah dan lelaki itupun memulai kisahnya 

Ia mengisahkan kehidupannya sejak kecil sampai dewasa, mengisahkan siapa yang mengajarinya tentang nilai-nilai agama juga mengisahkan tentang kehilangan orang tua hingga pengembaraannya mencari seseorang yang ia yakini dapat memberikan kebahagiaan. Para jemaah mendengarkan  dengan tekun apa yang dikisahkan lelaki itu. Ada kesedihan  dari kisah yang disampaikannya dan sebagian ibu-ibu tak urung meneteskan airmata keharuan. Diantara ibu-ibu itu bibi Sumirah justru merasa bingung. Ia merasa ada bagian dari kisah yang  diceritakan lelaki itu hampir mirip dengan pengalaman hidupnya saat menjadi pembantu rumahtangga pada sebuah keluarga. Hatinya diliputi penuh tanda tanya. Sambil meneruskan kisahnya lelaki itu menyapu pandangan ke arah para jemaah, satu persatu ia pandangi hingga pandangannya jatuh pada sosok bibi Sumirah. Dadanya bergejolak dan terlihat airmata mulai menggenangi pelupuk matanya tapi ia tetap tersenyum dan melanjutkan kisahnya.

" Maaf..bukan saya bermaksud sombong  tapi kalaulah boleh saya katakan, dulu saya termasuk anak dari keluarga berada. Tapi setelah ayah  ibu saya melakukan kesalahan dan terakhir mengusir pembantu rumah tangga kami, keluarga kami bagai mendapat karma. Keluarga kami berantakan, ayah saya jatuh sakit dan kemudian meninggal karena perusahaan kami bangkrut. begitu juga dengan ibu saya, beliau hampir gila karena tak siap menerima kenyataan hidup dan kemudian juga jatuh sakit lalu menyusul ayah saya. Pembantu yang diusir itulah yang menanamkan dasar-dasar agama pada saya, yang menyayangi saya seperti anak sendiri juga yang melindungi saya. Dan ketika saya sebatangkara yang teringat  pertamakali oleh saya adalah beliau, kasih sayangnya amat saya rindukan. Kerinduan itu membawa langkah saya mengembara, sambil memperdalam ilmu agama saya mencarinya dan terus mencarinya bagai saya mencari ibu kandung saya sendiri " Airmata lelaki itu mulai menetes, kemudian ia bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan sampai ia tepat berdiri di dekat bibi Sumirah. 

Berjuta tanya yang sejak tadi ada dibenak bibi Sumirah kini serasa mulai memenuhi dadanya, matanya hanya bisa menatap saat lelaki mulai bersimpuh dihadapannya.
" Maafkan saya ibu, apakah ibu bernama bibi Sumirah " Tanya lelaki itu dengan lembut. Bibi Sumirah tak langsung menjawab, ia merasa dadanya begitu sesak. Rasanya ia tak sanggup mengucapkan kata-kata dan iapun hanya bisa mengangguk lemah diiringi airmata yang terus menggenang dipelupuk matanya.
" Ibu...saya Dudi bu, ibu masih ingat ?" Tanya lelaki itu lagi masih dengan nada lembut. Dan kali ini bibi Sumirah benar-benar terkejut, matanya nanar menatap lelaki yang mengaku bernama Dudi itu.
" Dudi....benarkah kamu Dudi nak..?" Tanya bibi Sumirah lirih
" Ya..bu, saya Dudi..." Jawab lelaki itu seraya meraih tangan bibi Sumirah dan menciumnya. Dan seketika meledaklah tangis keduanya dalam pelukan. Suara tangis mereka menggema disemua sudut surau, para jemaah yang lain tak kuasa menahan tetes-tetes airmata keharuan seraya mengucapkan..." Alhamdulillah...Tuhan telah mempertemukan mereka kembali ".
Selengkapnya...

BIBI SUMIRAH ( 1 )

Selasa, 06 Juli 2010

Siang mulai terasa terik, sinar matahari sesaat lagi akan jatuh tepat diatas ubun-ubun kepala. Sekelompok anak bermain riang di petak sawah yang belum lama di panen. Mereka mencari keong, ikan ataupun berlomba menangkap capung yang beterbangan dan tak menghiraukan panas yang menyengat. Seorang wanita paruh baya duduk di bale-bale bambu pada sebuah gubuk yang tak jauh dari petak-petak sawah. Matanya nanar menatap anak-anak yang bermain, peluh terlihat disela-sela dahi dan pipinya yang mulai mengeriput. Ia merasa waktu yang dipinjamnya dari Sang Maha Pencipta rasa-rasanya mulai menipis namun tak setitikpun bahagia mengisi waktu-waktu yang ia pinjam. Duka dan nestapa bagai sarapan yang harus ia telan di setiap paginya, hidup yang ia tempuh bagai jalan yang berliku, licin dan berbatu juga penuh lubang yang siap menjerumuskannya. Terlihat wanita itu menghela napas pelan namun segera ia beristighfar, rasanya tak pantas ia mengeluh dan menyalahkan nasib karena ini hanyalah garis hidup yang harus dijalaninya walau pahit. " Seharusnya aku tabah dan tawakal menerima cobaan yang mendera walau seberat apapun " pikirnya. Matanya kembali menatap satu-persatu anak-anak yang bermain, ada setitik rasa kerinduan dalam hati akan kehadiran seorang anak disisinya. Walau ia sudah pernah menikah namun belum pernah dikaruniai seorang anak dan mungkin sudah ditakdirkan tidak akan punya anak. Satu-satunya anak yang pernah jadi bagian hidupnya adalah Dudi anak majikannya. Ah...iapun kembali terhempas dalam ingatan pada kperistiwa yang mengubah jalan hidupnya.

" Jangan mas...! jangan kau lakukan itu. Istighfar mas...istighfar, kita bisa masuk penjara !" Ujar Sumirah kepada suaminya yang hendak melakukan niat jahatnya.
" Sudahlah jangan kau halangi ! ini jalan satu-satunya agar kita punya uang.." Balas Kirno suaminya.
" Jangan mas...jangan !" Cegah Sumirah sambil memegangi tangan Kirno yang hendak masuk kekamar majikannya. Namun dengan seketika Kirno mengibaskan tangannya dan menampar pipi Sumirah, iapun terjerembab ke lantai.
" Sudah kubilang diaaam..! bila kamu tak mau membantuku, biar aku sendiri dan jangan ikut halangi aku !" Bentak Kirno sambil menunjuk-nunjuk wajah Sumirah. Lalu masuk kamar dan mengacak-acak isi lemari pakaian untuk mencari barang berharga. Sumirah hanya bisa menangis melihat tingkah laku suaminya.
" Biiiii..." Suara anak kecil yang kira-kira masih berumur 6 tahun memanggil dan lari menghampiri Sumirah yang menangis. Sumirah langsung memeluk anak itu karena rasa ketakutan lain dalam hatinya, ia langsung ingin mengajak anak itu menjauh tapi suaminya sudah keluar dari kamar sambil menggenggam beberapa perhiasan ditangannya.
" Kalau perlu anak itu akan aku bawa sekalian, biar bapaknya nanti menggantinya dengan uang tebusan !" Kata Kirno sambil menyeringai. Sumirah terkesiap, segera ia mengeratkan pelukannya pada anak itu untuk melindunginya. Ketakutan yang dirasakan anak itu kini mulai merayapi jantungnya namun belum sempat ia berkata apa-apa tiba-tiba terdengar suara kendaraan yang masuk pekarangan rumah majikannya. Kirno seketika panik, tanpa berkata apa-apa iapun langsung berlari keluar rumah. Sayangnya pengendara mobil yang ternyata bu Dewi sang pemilik rumah melihat Kirno yang lari tergopoh-gopoh.
" Hei...siapa itu ? berhenti...berhenti...!!" Teriak bu Dewi spontan. " Rampok....rampok...!!!" Seketika lingkungan rumah mulai gaduh, beberapa orang yang mendengar teriakan bu Dewi langsung mengejar Kirno. Dan tak lama kemudian Kirno tertangkap dan langsung dihakimi massa dengan barang bukti beberapa perhiasan berupa kalung, gelang emas juga cincin berlian di sakunya. Kemudian aparat kepolisianpun datang.
" Oh...jadi itu suamimu Sum ! rupanya kalian mau kerjasama ya menguras harta saya. Hebat sekali kamu, saya tidak menyangka sama sekali " Ujar bu Dewi sinis.
" Tidak bu...tidak, saya tidak seburuk yang ibu kira. Tak ada niat sedikitpun.." Jawab Sumirah namun langsung dipotong bu Dewi.
" Huh...ngga ada niat katamu !? maling mana ada yang mau mengaku. Sudahlah...bawa saja pak dan jebloskan saja ke penjara bersama suaminya " Kata bu Dewi ketus.
" Bu...jangan bu, kasihanilah saya.." Ujar Sumirah sambil menangis sesegukan. Namun ia hanya bisa pasrah saat 2 orang polisi menggamit lengannya.
" Biii...ikut bi ! ma....bibi mau kemana ? jangan ma...bibi ngga jahat " Ujar Dudi menangisi kepergian Sumirah. Ia menarik-narik baju ibunya namun tak dihiraukan. Sumirah yang melihat itu hanya bisa menangis dengan penuh rasa penyesalan. Dudipun meraung-raung saat mobil patroli polisi beranjak meninggalkan rumah dan membawa bi Sumirah. 

Tak terasa air mata meleleh dipipi Sumirah, ingatannya akan peristiwa itu bagai mengoyak luka yang tak pernah sembuh. Dan kini luka itu bertambah pedih....perih. Suara azan Zuhur yang berkumandang menyentak lamunan Sumirah, lalu disekanya air mata yang mengalir dan kemudian ia melangkahkan kaki menuju pancuran. Air wudhu yang mengusap wajah dirasakannya  bagai hujan yang membasahi ladang hatinya yang gersang dan perlahan mulai menentramkan jiwanya.

Bersambung....

Selengkapnya...

TERNYATA MULAN.....( 2 )

Selasa, 25 Mei 2010

Hari ini Ridwan pulang lebih awal dai tempat kerjanya, ia berencana ke rumah orangtuanya di Pondok Gede. Ayah dan ibunya berencana mengadakan pesta penyambutan kedatangan Dito, adik kesayangan dan adik yang dibangga-banggakan Ridwan. Selama hampir 2 tahun Dito berada di luar negri untuk bekerja di salah perusahaan minyak internasional dan selama itu pula ia tidak pulang ke tanah air. Ridwan teringat masa-masa kebersamaan dengan adiknya itu, umur mereka memang tak terpaut jauh sehingga cukup dekat layaknya seorang sahabat. Cukup banyak kesamaan antara mereka dan yang membedakannya mungkin cuma satu, Dito terlihat lebih pandai bergaul, terbuka dan agresif dalam mendekati wanita sedangkan Ridwan lebih tertutup. Dering telepon genggamnya sedikit mengagetkan dan membuyarkan lamuannya...

" Hallo bang...!, aku sudah samapai bandara nih. Abang dimana...?" suara Dito
" Eh...sudah sampai Dit ? landing jam berapa..?", tanya Ridwan
" Ah.baru saja kok, sesuai jadwal. Eh...tapi tolong sampaikan ke ibu bila aku agak malam sampai dirumah, ada yang mau aku jemput terlebih dahulu..!"
" Mau jemput... jemput siapa ?"
" Ada deh pokoknya ! kalau aku beritahu sekarang bukan kejutan dong namanya..."
" Ooh..itu toh kejutannya, memangnya nggak bawa dari sana atau memang nggak ada yang mau..?" ujar Ridwan sambil terkekeh.
" Sembarangan..!, kalau aku mau sih..gampang tapi aku masih suka yang lokal kok. Lagipula yang satu ini sangat istimewa, tinggi..cantik..putih dan cukup setia. Pokoknya selera abang banget deh...!" balas Dito sambil tertawa.
" Setia...!?, bagaimana kamu tahu kalau dia setia sedangkan kamu sudah hampir 2 tahun tidak pulang " ujar Ridwan kembali bergurau.
" Ah...pokoknya abang lihat sendiri nanti. Eh..sudah dulu ya bang, sampai nanti.."

Honda Jazz yang dibawa Ridwan mulai memasuki halaman rumah. Sebenarnya iapun hanya seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali menyambangi rumah ini. Sejak Dito pergi rumah ini menurutnya menjadi sepi, lagipula ia merasa capek harus pulang pergi bekerja dari sini karena jalan-jalan di Jakarta sudah sedemikian parah kemacetannya. Di beranda depan, ayah dan ibunya sudah berdiri menyambutnya sedangkan beberapa teman-teman Dito yang sengaja diundang sedang sibuk menyiapkan pesta penyambutan di bagian belakang rumah dan tak lama Ridwanpun turut larut dalam kesibukan itu. Pukul sembilan malam, Dito yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Bersamanya terlihat wanita cantik lagi anggun yang menebarkan pesonanya lewat senyuman, jari jemarinya  yang lembut tak  lepas dari genggamannya Dito. Saat itu hanya ayah dan ibunya yang menyambut karena Ridwan dan teman-temannya masih terlihat sibuk dan tak menyadari kedatangan Dito.
" Bang Ridwan....!" panggil Dito kepada Ridwan setengah berteriak. Teman-teman Dito yang mendengar teriakan langsung lari berhamburan menghampiri, mereka memeluk dan menyalami Dito tapi tidak dengan Ridwan. Kakinya terasa berat melangkah laksana beribu-ribu pasang mata mencekal pergelangan kakinya, dia hanya bisa berdiri mematung. Matanya menatap tajam ke arah wanita yang digandeng Dito dan jantungnyapun bergemuruh hebat. Ingin rasanya ia menampar wajah, mencubit lengannya dan berharap ini hanya sebuah mimpi.
" Mulan...!?" desisnya. Ridwan hampir tak percaya bahwa yang digandeng adiknya adalah Mulan, namun ia sangat yakin bahwa ia tak salah lihat. Ia mengenal betul sosok Mulan, wanita yang selama ini mengisi hari-harinya...bersamanya mereguk berlaksa-laksa kenikmatan duniawi. Dan kini Mulan ada dihadapannya bersama adik yang sangat disayanginya, adik yang dibangga-banggakannya. Mulan sendiri tampak terlihat pucat pasi dan terus merunduk, ia sama terkejutnya dengan Ridwan dan tak menyangka sama sekali bahwa Ridwan adalah kakak dari Dito kekasihnya. Bibir Ridwan terasa bergetar, lidahnya kelu dan tak sepatah katapun mampu terucap dari mulutnya. Dan saat Dito menghampiri lalu memeluknya, Ridwan hanya bisa menangis dan menangis....
Selengkapnya...

TERNYATA MULAN........( 1 )

Kamis, 20 Mei 2010

Ini cuma fiksi...!

Ridwan beranjak dari pembaringan, sejenak matanya menatap wanita yang masih tertidur pulas. Dengan hanya berselimutkan baju tidur yang beraturan ditubuhnya, ia terlihat cantik dan menggemaskan. Ridwan tersenyum, tampak sekali rona kepuasan tersirat dari wajahnya. Lalu dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendeknya ia beranjak dari kamar menuju beranda bungalow yang disewanya kemarin malam. Ia duduk dihadapan sebuah kolam kecil yang gemericik airnya terdengar merdu, udara dingin hawa pegunungan tak ia hiraukan. Nun jauh disana terhampar pemandangan alam pegunungan yang tampak asri walau ada satu dua villa atau bungalow milik para pejabat menyeruak ditengah hutan-hutan pinus. Dengan kedua kakinya yang ditumpangkan diatas meja, Ridwan menyalakan sebatang rokok dan kemudian menghisapnya dalam-dalam. Asap rokok yang bergulung-gulung diatas kepalanya lama kelamaan mulai mengabut dan mulai menghantarkannya ke dalam lamunan. Ada rasa gundah , rasa janggal dan juga aneh telah menyelimutinya hatinya. Hal ini terkadang mengganggu pikirannya dari hari ke hari sejak pertemuannya dengan Mulan dua bulan lalu.

Pertemuan dengan Mulan baginya adalah suatu proses pertautan hati yang cukup singkat dan terasa cukup mudah bagi seorang Ridwan yang dikenal sebagai sosok pendiam, pemalu dan kurang pergaulan. Walau sebenarnya Ridwan tidaklah sependiam seperti yang disangka orang, namun sejak dihianati kekasihnya ia lebih memfokuskan perhatiannya untuk membantu adik menyelesaikan kuliahnya. Dan setelah adiknya selesai kuliah dan kini bekerja diluar negeri, untuk memulai hubungan yang baru dengan seorang wanita masih belum menjadi prioritasnya sampai ia bertemu dengan Mulan. Akan tetapi seiring semakin dekat  dan semakin tumbuh rasa cintanya terhadap Mulan, semakin Ridwan tak mengerti akan Mulan. Ia selalu mencoba menghindar bila Ridwan memulai pembicaraan yang serius tentang hubungan mereka, bahkan terkesan tidak suka atau malah tertawa saat Ridwan mencoba mengungkapkan isi hatinya.

" Kamu lucu...!", jawaban dari Mulan sambil tertawa ketika Ridwan mulai menyinggung kembali tentang hubungan mereka. Lalu apa yang dia cari...? pertanyaan yang selalu menggayut di benak Ridwan. Cinta..? sepertinya tidak, lalu apa...uang ? rasanya juga tidak.  Tapi sekarang Ridwan tak mau ambil pusing lagi, dan rasanya terlalu naif bila masih ingin tahu apa yang dicari Mulan dan apa yang Mulan mau. Toh...Mulan sendiri sepertinya tak perduli, lagipula sampai saat inipun hubungan mereka baik-baik saja dan saat dibutuhkan Mulan selalu ada disisinya. Bahkan saat Ridwan mengutarakan hal itu kepada teman-temannya, ia malah menjadi bahan tertawaan.
" Sudahlah Wan.., untuk apa kau pusingkan statusmu dengan Mulan. Toh...dia juga tidak perduli !", ujar Sony teman kerjanya.
" Betul Wan, nikmati saja yang ada !" sambung Yanto sambil tersenyum.
" Wah...memangnya gado-gado dinikmati, lagipula aku kan belum kenal siapa istrimu. Bagaimana bila Mulan itu ternyata istrimu..?", balas Ridwan.
" Siaaalan...!", ujar Yanto sambil memukul bahu Ridwan yang disambut tawa Sony juga Budi yang baru bergabung. Ridwan tersenyum-senyum sendiri mengingat hal itu dan iapun kembali menghisap rokoknya dalam-dalam lalu kembali memandangi lampu-lampu villa yang satu persatu mulai dinyalakan karena hari mulai menjelang senja. Dan Ridwan kembali tersenyum saat terdengar suara Mulan memanggil, iapun bersiap untuk menghabiskan malam ini seperti malam-malam kemarin.

Bersambung.....

( Untuk sahabat-sahabat yang sudah mampir dan berkenan membaca, adakah yang berkenan untuk  menebak kira-kira diantara nama-nama lelaki yang ada dalam cerita, siapa kekasih Mulan sebenarnya ? . Tidak ada maksud apa-apa tapi hanya ingin tahu apakah kira-kira jalan pikiran kita sama , atau  barangkali ada yang mau usul gimana ending dari cerita ini biar lebih seru walau draft cerita versi saya sudah saya buat )


SALAM HANGAT & SUKSES SELALU
Selengkapnya...

TAMU TAK DIUNDANG

Jumat, 09 April 2010


Terus terang, ini bukan gaya saya dalam membuat cerpen. Agak sulit rasanya membuat cerpen dengan gaya remaja seperti mba Fanny karena saya merasa masa itu sudah jauh terlewati, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba bukan..!? 


" Wah…banyak juga nih yang pesta minggu ini Yul…! tahu darimana ?” Tanya Nita sedikit takjub melihat daftar acara resepsi pernikahan yang diberikan oleh Yuli.
“ Ya sudah, ngga perlu tahu. Yang penting lo pilih deh mana yang kita mau datangi “ Balas Yuli. Nita tak langsung menjawab, mulutnya masih disibukkan dengan mengunyah baksonya. Nita hanya berpikir dalam hati “ wah..kalah gue sama Yuli, minggu kemarin gue cuma dapat 3 tempat resepsi sekarang Yuli dapat 6 tempat resepsi “
“ Heh..kok malah bengong !? yang mana..?”
“ Sabar dong Yul..gue juga lagi mikir nih..!”
‘’ Mikir apa mikir ? ‘’ Gurau Yuli yang geli melihat Nita yang tak memberi kesempatan mulutnya beristirahat dari mengunyah, untungnya setiap makan selalu Nita yang bayarin. ‘’ Kalau aku yang bayarin..,wah bisa bangkrut deh.. !’’
‘’ Iya...iya, sabar atuh non ! ntar gue habisin dulu nih... ‘’ ujar Nita sambil meminum es teh manisnya. ‘’ Eh..yang ini aja deh Yul.. ! dilihat dari gedungnya kayaknya oke nih.. ‘’
‘’ Ya sudah, gue sih terserah elo.. !. Yang penting kita bisa seneng-seneng, iya nggak.. !? Ujar Yuli disambut tawa Nita.
Sejak sebulan yang lalu, kedua sahabat kental ini memang punya kegiatan yang cukup unik. Mereka datang ke tempat resepsi pernikahan dan berpura-pura jadi orang yang diundang, padahal mereka hanya bermaksud mendapat kesempatan mencicipi makanan sepuas-puasnya dan tentu saja gratis. Tentunya tempat-tempat yang mereka datangi juga telah mereka seleksi atau paling tidak acara resepsi milik kalangan menengah keatas sehingga makanan yang adapun terjamin menggugah selera makan. Ide unik itu dari Yuli yang mendengar gerutu kakaknya Nadya yang mendapati amplop dari tamu di pesta pernikahan mereka yang hanya berisi uang seribu rupiah.
“ Ih..nggak tahu malu tuh orang…!” gerutu Kak Nadya yang didengar oleh Yuli.
‘’ Kenapa sih kak ? penganti baru kok jutek gitu... !?’’
‘’ Bagaimana ngga kesel..masak hari gini masih ada yang kasih amplop isinya cuma seribu rupiah ‘’
‘’ Hah..beneran tuh kak.. ?’’
‘’ Ya iyalah..masak aku bohong sih.. !?’’
‘’ Dari siapa kak ?’’
‘’ Mana aku tahu ? wong diamplop tidak ada namanya ‘’
‘’ Yah..namanya juga pesta di kampung kak. Barangkali temen bapak atau temen kakak sendiri sedang bokek, atau barangkali ada orang yang cuma mau numpang makan ‘’ Ujar Yuli sambil tertawa cekikikan.

Saat Yuli mengutarakan ide anehnya pada Nita, tak disangka ternyata mendapat sambutan yang antusias padahal Nita termasuk anak dari keluarga berada. Tapi memang itulah Nita, dengan tubuh lumayan bongsor ia memang terkenal doyan makan. Dan salah satu hobby dari Nita adalah ikut orang tuanya datang ke resepsi pernikahan dari teman kerja papanya, walau saat Nita mengatakan itu pada Yuli sempat membuat Yuli tergelak..” hobby  kok..kondangan ?”
“ Hai Yul...sedang apa nih..!?” Sapa Adit yang membuat Yuli dan Nita agak terkejut karena tak menyadari kehadirannya. Buru-buru Nita menyembunyikan kertas yang tadi di pegangnya.
“ Eh..itu kertas contekan ya..?” Tanya Adit sambil bergurau.
“ Ih..sembarangan, ini coret-coretan puisi tau...!” Kilah Nita sedang Yuli hanya senyum-senyum saja. Walau dalam hatinya dia agak khawatir kalau apa yang mereka bicarakan diketahui Adit. “ Wah..mau ditaruh mana muka gue..?” Pikir Yuli.
“ Kalau memang contekan, ngga apa-apa lagi..! siapa sih yang ngga pernah nyontek. Eh Yul.. ! hari minggu kita jalan yuk.. ‘’ Ujar Adit yang membuat hati Yuli sedikit lega karena ternyata Adit tak mengetahui apa yang mereka rencanakan.
‘’ Jalan kemana.. ? ‘’ Tanya Yuli
‘’ Ya.. kemana kek ! yang penting bisa seneng-seneng “
“ Ehm..ehm..gue ganggu ya ?” Ujar Nita sambil berdehem dan berniat bangkit dari duduknya.
“ Ngga kok Nit..!” Balas Yuli sambil memegang tangan Nita .
“ Aku lihat dulu ya.. Dit, kalau aku tak ada kegiatan..aku mau “
“ Eh..kayaknya tiap minggu kamu sibuk terus.., punya kegiatan apa sih ?”
Ada deh..! biasalah urusan cewe..” Sela Nita yang membuat Adit sedikit jengkel, sedang Yuli hanya tersenyum.
“ Ya..oke deh ! tapi sepulang sekolah, aku tetap bisa mengantarmu pulang kan Yul..?” Tanya Adit yang sedikit sebel karena pertanyaannya selalu Nita yang menjawab, dan Aditpun berlalu setelah melihat Yuli merespon pertanyaannya dengan anggukkan kepala.
            
Setelah berpisah dengan Nita yang menaiki mobil jemputan pribadinya, Yuli menghampiri Adit yang sedang menunggu. Aditpun langsung membukakan pintu Honda Jazznya buat Yuli, hal itu membuat cewek-cewek lain yang melihat merasa iri.
“ Aku heran sama kamu Yul, sudah beberapa minggu ini setiap minggu siang kamu selalu tidak ada di rumah. Ada kegiatan apa sih..? jangan-jangan kamu pergi sama cowok lain ya..?” Tanya Adit masih penasaran.
“ Iiiih..cemburu ya..? ngga kok, percaya deh…”
“ Ya tapi kenapa setiap minggu..?”
“ Lho..kan sudah di kasih tahu Nita tadi. Kalau ini urusan cewek..”
“ Iya..tapi urusan apa dong ? masak aku ngga boleh tahu sih..!” Yuli hanya tersenyum-senyum saja mengetahui Adit makin penasaran. “ Begini deh.., minggu ini ngga apa-apa aku nga bisa ngajak kamu jalan tapi minggu depan, sekaliiii saja kamu mau ikut denganku..ya ? pliiiiiiiiiss ! “ Pinta Adit sambil merajuk. Yuli tercenung, sebenarnya ia tak akan menolak mendengar ajakan Adit tapi bila ia sudah terlanjur janji sama Nita tentunya Yuli lebih memilih menepati janjinya dengan Nita.
“ Lho..kok malah bengong sih, bagaimana..mau nggak ?” Tanya Adit membuyarkan lamunan Yuli.
“ Emmm..gimana ya ? lihat nanti deh..memangnya ada apa sih “
‘’ Pokoknya bilang oke aja dulu, kalau oke nanti baru aku kasih tahu. Yang pasti ini bukan cuma urusan cowok ’’
‘’ Yee...nyindir nih.. ? ‘’ Ujar  Yuli yang disambut tawa Aditya

* * * * * * * * * *

“ Ck..ck..ck..banyak banget ambilnya Nit..! nanti ngga bisa cobain cicipin yang lain lho…” Ujar Yuli pada Nita saat mereka mengambil potongan-potongan daging kambing guling.
“ Tenang Yul...dijamin masih muat kok..!” Balas Nita sambil menepuk-nepuk perutnya.
“ Iya deh...percaya !“ Ujar Yuli sambil cekikikan. Sambil menyantap daging kambing guling itu Nita menatap beberapa menu makanan yang terhampar di hadapannya, seakan-akan menantang untuk segera di santap. Sepiring daging kambing guling di santapnya dalam sekejap, Yuli hanya tersenyum geli melihat cara makan sahabatnya itu.
“ Huh...hah...pedes Yul ! gue mau ambil minum dulu Yul...” Ujar Nita sambil megap-megap kepedasan. Nita ke tempat aneka macam minuman berada, setelah membawakan Yuli segelas coctail Nita kembali lagi untuk mengambil semangkuk bubur ayam.  Sedang kan Yuli sibuk memperhatikan kedua mempelai yang terlihat tersenyum bahagia sambil menjabat tangan para tamu yang mengucapkan selamat. Dilihat dari beberapa ornamen yang menghias ruang resepsi juga wajah-wajah para tamu yang datang sepertinya memang kedua mempelai dari keluarga yang cukup berada. Dan Yuli agak sedikit risih ketika ia membandingkan pakaian yang ia kenakan dengan pakaian yang di pakai oleh para tamu yang datang.
‘’ Hei...malah bengong ! gimana mau cicipin semua kalau bengong terus... ‘’ Tegur Nita mengagetkan Yuli.
‘’ Ah..sialan lo. Ngagetin gue aja... ! ‘’
‘’ Nggak usah pakai acara bengong kaleee... ! nanti makanannya keburu habis..”
‘’ Biarin aja..yang ini aja belum habis ‘’
‘’ Ya sudah cepet habisin, nanti nyesel lho... !’’ Ujar Nita mulai melahap bubur ayamnya. Yuli meneruskan makannya sambil menyisihkan irisan-irisan cabai rawitnya karena ia mulai merasa kepedasan. Namun saat Yuli sedang meneguk coctailnya tiba-tiba ia merasa ada yang menyentuh pundaknya.
‘’ Lho.... ! katanya ngga mau datang Yul...’’ Sapa Adit tiba-tiba. Karena kaget minuman yang sudah terlanjur ada di mulut nya tersembur keluar, sedang Nita suapan buburnya tertelan tanpa sempat dikunyah karena tak kalah kagetnya. Adit segera mengambilkan tissue untuk Yuli dan diterima Yuli dengan malu-malu, wajahnya bersemu merah karena tak menyangka bertemu Adit disini.
‘’ Pelan-pelan dong Yul... ! masih banyak kok...’’ Gurau Adit yang membuat Yuli makin tersipu.
‘’ Kok kamu ada disini Dit.. ?’’ Tanya Yuli basa–basi untuk menghilangkan rasa malunya.
‘’ Ya iyalah..., ini kan resepsi pernikahan kakakku. Kamu sendiri kok mau datang kesini, dapat undangannya ya..?’’ Adit balik bertanya, Yuli tergagap dan bingung mau jawab apa. Untunglah Nita cepat tanggap.
‘’ Gue yang ajak Dit ! gue yang diundang mempelai prianya, dia sahabat gue..’’ Ujar Nita asal.
“ Oh...ya..!?” Adit tergelak dalam hati, karena dia tahu benar Nita cuma berbohong. Tak mungkin Nita bersahabat dengan kakaknya karena selama ini kakaknya itu bekerja pada perusahaan minyak asing di Kalimantan, lagipula semua undangan para tamu Aditlah yang mengurusnya sehingga paling tidak ia tahu siapa-siapa yang diundang.
“ Ya sudah..dilanjut deh menikmati makanannya. Aku tinggal dulu ya Yul...” Ujar Adit. Sepeninggal Adit, Yuli dan Nita saling berpandangan dan berusaha menahan tawa mereka. Ada rasa geli dan juga malu yang meliputi perasaan Yuli dan Nita karena tak menyangka bertemu Adit dan rasa malu mereka makin bertambah ketika tahu bahwa sahabat-sahabat Adit di sekolah juga datang. Yulipun akhirnya hanya bisa menahan malu bila berpapasan dengan teman-teman Adit di sekolah. “ ngga kondangan lagi non...!?’’ Gurau mereka. Yuli hanya bisa terdiam sambil bergumam dalam hati...” ngga lagi-lagi deh...!!!”


* * * *  00 OOO 00  * * * * *






Selengkapnya...

KETIKA AJAL MENJEMPUT CINTA

Selasa, 09 Februari 2010

Seorang lelaki setengah baya dengan rambut yang mulai memutih dan bertubuh tirus terlihat sedang duduk terpaku dalam diam. Dari tempat ia duduk matanya tak lepas barang sedetikpun menatap jembatan yang berdiri kokoh membelah arus sungai Ciliwung. Jembatan yang belum lama berselang diresmikan bapak Lurah Srengseng Sawah dibangun untuk menggantikan sebuah jembatan gantung yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi sarana penghubung desanya dengan desa atau daerah lainnya. Sebuah jembatan gantung yang tak akan dapat dilupakan seumur hidupnya, jembatan yang mengubah jalan hidupnya, jembatan yang membuat ia kini duduk termenung disini…saat ini.


“ Ayolah Marni..kita harus segera pulang, hari sudah mulai menjelang larut malam. Saya khawatir, ayahmu akan murka nantinya..” Bujuk Jumadi kepada Marni yang bersikeras tak mau pulang karena hendak menemui kekasihnya.
“ Sebentar saja kang…! Ayah tak akan marah kok…akang tenang saja “ balas Marni.
“ Tapi Marni…kamu diijinkan kesini hanya untuk mengaji dan itu sudah kamu lakukan. Sekarang…pulanglah “ Bujuk Jumadi lagi. Ia sangat pantas untuk merasa khawatir karena pak Parmin.. ayah marni menugaskannya untuk mengawal dan menjaga Marni “ Ingat Madi…jaga dia baik-baik ! jangan biarkan kulitnya yang halus tergores barang setitikpun dan satu lagi, jangan sampai pulang larut malam. Tepat jam 21.00 Marni harus sudah ada tepat di hadapanku !” Kata-kata pak Parmin teriang kembali di telinganya. Jumadi mendekatkan jam tangan kearah matanya, cahaya yang remang-remang sedikit menyulitkannya melihat jam. 10 menit telah berlalu dari pukul 20.00, Jumadi menghela napas dengan berat.
“ Ya sudah kang…akang tunggu saja dimulut jembatan, saya tak akan lama..! “ Ujar Marni sambil berlalu meninggalkan Jumadi yang tidak bias berbuat apa-apa.

Jumadi duduk pada sebuah batu besar dipinggir jalan dekat mulut jembatan gantung. Sekilas matanya menatap jembatan yang hanya terbuat dari tali kawat baja dan bilah-bilah bambu sebagai alasnya, lalu matanya menatap cahaya dari obor yang sengaja dipasang penduduk dimulut jembatan. Cahaya itu kini terlihat bagai menari-nari ditiup sang angin malam, tariannya seakan sedang menghibur hati Jumadi yang saat ini sedang gelisah. Detik demi detik berlalu, keringat dingin mulai membasahi kening dan sekujur tubuh Jumadi. Jalan yang sepi serta gelap malam yang hanya diterangi lembutnya sinar rembulan dan sedikit cahaya dari obor tadi menjadikan suasana malam terasa begitu mencekam. Suara riak air dari arus sungai dan juga nyanyian jangkrik-jangkrik seakan tak mampu sedikitpun menghibur hatinya. Jumadi kembali melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Sudah terbayang jelas dalam benaknya akan kemurkaan pak Parmin ayah Marni. Jumadi bergidik…rasa takut mulai menjalari jiwanya, ia tahu benar pak Parmin akan melakukan apapun demi Marni anak kesayangannya. Ingin rasanya ia menyusul Marni, tapi dimana..?

Dalam kegelisahan dan kebingungannya yang semakin memuncak, tiba-tiba terdengar olehnya derap suara langkah tergesa. Perlahan sosok Marni yang sedang ditunggu-tunggunya mulai terihat. Hati Jumadi terasa sedikit lega namun kelegaan itu dengan cepat berubah menjadi sebuah kebingungan disertai kekhawatiran. Marni terus berlari tanpa sedikitpun menghiraukan Jumadi yang sejak tadi menunggunya. Yang lebih membingungkan Jumadi, Marni berlari sambil menangis terisak-isak.
“ Ada apa Marni ? hey..tunggu…tunggu…!” Tanya Jumadi sambil berusaha menahan Marni.
“ Lepaskan aku kang.., lepaskan..! dia memperkosaku…dia memperkosaku..!” Tangis Marni semakin keras sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Jumadi.
“ Apa….siapa !? Tanya Jumadi, ia bingung sekaligus terkejut mendengar ucapan Marni.
Marni berhasil melepaskan diri dan iapun langsung berlari menuju jembatan, Jumadi langsung mengejar. Jembatan gantung itupun bergoyang dahsyat saat dua anak manusia berkejaran diatasnya, tepat ditengah jembatan Jumadi berhasil mencekal tubuh Marni yang masih terus menangis.
“ Lepaskan aku kang…! Sudah tak ada gunanya lagi…aku sudah ternista…” Rengek Marni disela tangisnya.
“ Tenang..tenangkan dirimu dan jelaskan padaku…” Ujar Jumadi setengah berteriak.
“ Dia memperkosaku kang…aku sudah kotor. Aku mau mati saja…!!”
“ Ya..tapi siapa…siapa yang memperkosamu ?” Tanya Jumadi dengan nada geram sambil mengguncang-guncang bahu Marni.

Marni hanya menangis dan menangis, disatu kesempatan ia melepaskan diri lagi dari Jumadi dan dalam sekejap ia meloncat kearah sungai. Jumadi begitu terkejut dengan perbuatan nekat Marni, ia sempat melompat dan merengkuh baju yang dikenakan Marni namun baju itu sobek dan tubuh Marnipun meluncur deras di jantung arus sungai yang mengalir deras diiringi teriakan Jumadi…” Marniiii….Marniiiii…!!” Teriakan Jumadi tak ada gunanya lagi, tubuh Marni telah tenggelam dalam pelukan arus sungai yang ganas. Gelapnya malam membuat Jumadi tak mampu melihat tubuh Marni, ia hanya bisa mendengar suara berdebur saat pertama kali tubuh Marni menyentuh permukaan air. Jumadi terpaku lemas tak berdaya, seluruh tenaganya seakan tersedot oleh rasa keterkejutannya, ia seakan-akan tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. Rasa bingung, rasa sesal, rasa kehilangan dan juga rasa ketakutan yang luar biasa akan kemurkaan pak Parmin membuat tubuhnya bergetar hebat. Berdiripun rasanya ia tak mampu, seakan lututnya tak mampu lagi menopang tubuh. Kini Jumadi hanya bisa memegang kawat baja jembatan sambil menangisi kebodohannya.


* * * * * * * * *

Lelaki setengah baya itu berusaha bangkit dari duduknya. Dengan bantuan sebuah tongkat kayu, perlahan ia mengangkat tubuhnya yang ringkih. Kedua kakinya mulai bergetar saat tubuhnya sudah berdiri tegak kemudian ia melangkah perlahan menuju jembatan. Warga yang melintas diatas jembatan agak sedikit heran dengan gerak-gerik lelaki setengah baya itu. Sejak sebulan yang lalu setelah keluar dari penjara, lelaki setengah baya itu memang selalu ada di sekitar jembatan sejak pagi hingga menjelang petang setiap harinya. Matanya selalu menatap kearah jembatan, apa yang diinginkannya dan apa yang dipikirkannya tak seorangpun tahu. Ia hanya melihat dan menatap dari kejauhan, tak sekalipun ia mendekati jembatan apalagi melewatinya tapi tidak kali ini.

Beberapa langkah lagi, kaki dari lelaki setengah baya itu sampai di mulut jembatan. Langkah gemetar dari kaki-kaki kurusnya membuat hati sebagian warga yang melihat merasa trenyuh. Langkah-langkah kaki itu seakan membuka mata hati mereka dan mulai meyakinkan mereka bahwa lelaki setengah baya yang dipanggil pak Jumadi itu bukanlah pembunuh Murni. Tapi apapun yang ada di benak warga semuanya tak berarti dan tak akan merubah apapun, setidaknya itu yang ada dibenak pak Jumadi saat ini. Kini ia telah berdiri tepat ditengah jembatan dan matanya lurus menatap arus air di bawahnya.
“ Marni…cukup sudah 25 tahun aku menangisi kebodohanku, menyesali ketololanku. Aku menyesal tak mampu menjagamu…aku menyesal tak mampu menyelamatkan hidupmu, maafkan aku Marni…maafkan aku ! Dan kali inipun rasanya cukup sudah aku memendam rasa dan asa padamu, kali ini kuberanikan diri untuk mengungkapkan bahwa aku sangat mencintaimu…sejak dulu dan sampai kapanpun. Semoga engkau mendengar suara hatiku…Marni. Namun bila tidak, biarlah angin senja membawa serbuk-serbuk sari cintaku lalu menaburkannya pada kelopak bunga-bunga nirwana…dan biarkan, biarkan bersemi selamanya “.

Warga memang tak terlalu memperdulikan apa yang dilakukan pak Jumadi diatas jembatan, namun saat terdengar suara air berdebur dan pak Jumadi tak terlihat lagi diatas jembatan, mereka panik dan berhamburan menuju jembatan. Nyawa pak Jumadi tak dapat terselamatkan, titik-titik airmata mengiringi kepergian pak Jumadi namun jasad pak Jumadi terlihat tengah tersenyum, tersenyum karena kini ia akan menjemput cintanya. Dengan ajalnya ia akan menjemput cinta Marni.



Kampung Sawah, 07 Februari 2010
Selengkapnya...

DUH...KATENI

Rabu, 20 Januari 2010




           
Hujan rintik-rintik  yang turun membasahi bumi seakan turut mengiringi kesedihan dan kepedihan Kateni yang begitu mendalam. Pakaian serba hitam juga kerudung yang menutupi helai-helai rambutnya belum juga ia lepaskan. Ia masih duduk bersimpuh di ruang depan kamar kostnya yang tak berkursi, matanya menatap sendu pada daun jendela seraya memandangi bulir-bulir air hujan yang mengetuk-ngetuk kaca lalu mengalir meliuk-liuk kebawah seakan berlomba dengan air mata yang mengalir perlahan dari pipinya. Disela isak tangisnya yang tertahan, terselip tanya dalam benaknya. Haruskah aku menangis..?, pantaskah bila aku menangisinya..? . Pertanyaan-pertanyaan senada juga sering hinggap dalam rongga-rongga dadanya di beberapa hari terakhir, pantaskah aku mencintainya..?. Cinta..? kata itu serasa aneh bila keluar dari mulutnya yang mungil, rasanyapun kini selalu asam atau pahit dan tak sekalipun manis. Sebuah kata yang selama dua tahun belakangan  coba ia kubur dalam-dalam di perut bumi atau ia larung di samudera lautan yang luas, kata-kata itu telah ia hapus dari lembar-lembar diary hatinya. Kata-kata itu telah mati dan hangus terbakar rasa amarah karena dikhianati Herman, suaminya.

“ Bila kamu terus seperti ini, sebaiknya kamu berhenti saja..!” Bentak Herman yang menuduh Kateni berselingkuh dengan teman kerjanya.
“ Ya Tuhan,..kamu tidak percaya mas..?, aku pulang malam karena memang ada pekerjaan. Silahkan kamu tanya pada Pak Aceng..!”
“ Hallah..!! nggak usah banyak alasan. Kenapa mesti tanya pak Aceng..? atau malah pak Aceng yang jadi teman selingkuhmu..” Ucapan suaminya itu bagai palu godam yang menghantam dadanya, napasnya terasa mulai sesak. Hatinya terasa begitu sakit mendengar tuduhan suaminya yang tak berdasar dan sama sekali tak benar. Air matanya mulai mengalir membasahi pipi, matanya menatap sayu wajah suaminya .
“ Kamu tega mas..! demi Tuhan..aku tidak akan melakukan hal seperti itu, buat apa..?” Ujar Kateni lirih sambil menahan tangisnya.
“ Mana aku tahu..! cuma kamu dan laki-laki pecundangmu yang tahu.., sudahlah..nggak usah pura-pura menangis. Bila memang kamu tak melakukannya, ya... sudah berhenti saja, beres kan..?”
“ Ya Tuhan mas..kamu tahu sendiri kan, bila di Jakarta cari pekerjaan begitu sulit.  Lalu bila aku berhenti kerja, bagaimana keluarga kita bisa makan..? bagaimana biaya sekolah Dita yang sebentar lagi masuk SMP. Bila kamu saat ini bekerja mungkin tak masalah bila aku berhenti, tapi kamu sekarang menganggur. Bagaimana aku mengharapkanmu..?’
“ Oh.. jadi sekarang kamu merasa yang paling berjasa membiayai sekolah Dita. Hanya karena aku kini seorang penganggur kamu lupa siapa kamu, kamu mulai sombong...!” Ujar Herman marah karena merasa tersudut.
“ Demi Tuhan..bukan begitu mas. Maksudku...”
“ Sudah...! aku tak mau dengar lagi ocehanmu. Bila memang menurutmu aku tak berharga lagi sebagai suamimu, aku pergi. Aku sudah muak...! Ujar Herman sambil menyambar beberapa potong pakaian yang kemudian dimasukkannya ke dalam tas ransel. Kateni mencoba mencegah niat Herman namun dengan kasar suaminya itu menghempaskannya ke sudut kamar lalu pergi sambil membanting pintu.
“ Mas...!! “ Pekik Kateni, namun Herman tak lagi memperdulikannya. Kateni hanya bisa menatap kepergian suaminya itu dengan berurai air mata.
            Bukan sekali ini saja suaminya berperilaku seperti, marah-marah lalu pergi dari rumah dan baru dua atau tiga hari kemudian kembali. Katenipun hanya bisa menangis dan tak tahu harus berbuat apa, ia tak mengerti jalan pikiran suaminya. Menyuruhnya berhenti bekerja hanya karena perasaan cemburunya sungguh-sungguh tidak masuk nalar Kateni. Tak pernah terlintas dalam benaknya , apalagi membayangkan ia melakukan tindakan menjijikkan itu. Dadanya begitu sesak bila memikirkan semua itu, kini ia hanya bisa menangis untuk mengurangi beban perasaannya. Satu bulan berlalu, tak terdengar sedikitpun kabar mengenai keberadaan Herman suaminya. Kateni masih sempat bertanya kesana kemari, mulai dari sanak saudaranya sampai kepada teman-teman dekat Herman tapi semuanya nihil. Dua bulan..tiga bulan tak jua ada kabar, Katenipun mulai pasrah. “ Barangkali memang mas Herman tidak mau hidup bersamaku lagi “ Pikir Kateni. Namun ketika terdengar kabar bila Herman telah menikah lagi, tetap saja Kateni limbung dan tak berdaya.

* * * * * * * *
            Dua tahun telah berlalu, Kateni berusaha tegar menghadapi suratan takdir yang telah digariskan untuknya. Ia merasa harus kuat dan tabah menjalani hidupnya sendiri, rengek Dita akan baju seragam dan buku baru menguatkan tekadnya untuk terus melangkah walau apa yang terjadi. Walau terkadang hatinya gamang dengan status yang disandangnya, bila ia dianggap seorang istri tapi tak ada seorang suami yang mendampinginya dan bila ia dianggap janda tak sekalipun terbetik kabar bila Herman menggugat atau mengurus perceraian mereka. Di lingkungan tempat kontrakan maupun di tempat kerja gunjingan bila Kateni kini hidup sendiri mulai terdengar, dan itu mulai dirasakannya beberapa hari yang lalu. Namun Kateni tetap berusaha untuk menutup rapat-rapat apa sesungguhnya yang telah terjadi, dan seringkali ia harus menutup telinganya rapat-rapat bila ada tetangga atau teman lelaki yang menggodanya.
            Hari masih pagi saat Kateni mulai melangkahkan kakinya menuju tempat bekerja, ia sudah bangun dari tidurnya sejak subuh tadi. Walau ia sudah terbiasa tidak menyiapkan sarapan untuk anaknya atau membuatkan kopi untuk suaminya tetapi masih membuat Kateni bingung apa yang harus dikerjakannya pagi ini. Sejak suami meninggalkannya, hidup terasa begitu sepi baginya. Niat untuk mengajak anaknya ke Jakarta agar dapat menemaninya ia urungkan karena rasanya ia tak sanggup memenuhi biaya sekolahnya. Karena merasa tak ada lagi yang harus dilakukan dirumah ia memutuskan untuk berangkat kerja saja “ Ah..biarlah aku berangkat lebih awal, barangkali disana ada yang dapat aku kerjakan..” Pikir Kateni. Kateni bekerja sebagai pembantu ditempat usaha fotocopy, tapi teman-temannya sendiri sering menjulukinya PU atau pembantu umum. Karena selain pekerjaannya menjaga kebersihan ruko, lalu menyediakan minuman untuk para pekerja ruko yang berjumlah 7 orang terkadang ia juga diminta melayani pekerjaan fhotocopy bila pekerjaan yang ada begitu padat dan tak terpegang oleh pegawai yang lain.
            Tepat pukul 06.30 wib, Kateni telah tiba didepan ruko. Terlihat mas Joko yang menjadi orang kepercayaan pak Aceng sang pemilik ruko sedang membuka rolling door. Mas Joko memang dipercaya pak Aceng untuk menjaga ruko dan ia selalu tidur di ruko setiap harinya. Hanya pada hari sabtu sore ia kembali kerumahnya di Bogor untuk menemui anak dan istrinya. Selama kerja beberapa tahun di tempat itu, Kateni baru menyadari dan baru kali ini memperhatikan perawakan mas Joko yang ternyata cukup gagah dan wajahnyapun tampan. Tiba-tiba ia merasakan dadanya berdebar, suatu perasaan yang telah lama tak dirasakannya. Dan saat mas Joko meminta dibuatkan segelas kopi tiba –tiba ia merasa gugup dan wajahnya langsung bersemu merah karena malu sendiri.
            Dan pagi ini Kateni merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya, entah karena datang lebih pagi membuatnya lebih santai dalam menyiapkan minum pegawai atau karena merasakan sesuatu yang berbeda dari mas Joko. Sehingga keesokan harinya ia kembali berangkat lebih pagi seperti sebelumnya, ia ingin mas Joko kembali memintanya dibuatkan segelas kopi. Ada rasa senang dan ada kepuasan tersendiri bila dapat membuat mas Joko senang. Karena seringnya pertemuan antara mereka berdua saja, keduanyapun tak canggung lagi untuk saling bertegur sapa atau berbincang. Dan beberapa hari kemudian  terlihat mereka berdua sedang berbincang serius. Kateni sudah tidak canggung lagi untuk mengungkapkan keluh kesah yang ada dalam dirinya pada mas Joko, terlihat mata Kateni berkaca-kaca seperti menahan tangis..
“ Saya turut prihatin dengan apa yang telah mba Teni alami, tapi saya pikir mba harus kuat dan tetap tabah. Bila dalam pikiran mba selalu ada anak, saya yakin mba pasti bisa..” Ujar mas Joko mencoba bijak.
“ Iya mas..saya sudah mencobanya selama dua tahun ini, tapi tetap saja terasa berat mas apalagi saya seorang perempuan..”
“ Saya yakin bisa mba..tergantung kemauan. Saya saja bisa..” Ujar Joko lagi.
“ Maksud mas Joko..?” Tanya Kateni bingung dengan ucapan mas Joko barusan.  Joko tak langsung menjawab, ia tersenyum sambil menghirup kopi hangatnya.
“ Saya juga pernah mengalami apa yang mba alami sekarang, saya juga pernah merasakan kepedihan yang sama..” Kateni agak terkejut mendengar ucapan mas Joko, ia tak menyangka mas Joko pernah mengalami hal yang sama dengannya. “ Apakah karena hal itu maka kini mas Joko menjadi seorang yang pendiam..? “ Tanya Kateni dalam hati.
“ Kenapa bengong.., mba tidak percaya..? “
“ Emmm.. saya cuma minta maaf, barangkali saya secara tak sengaja membuka luka lama mas Joko “
“ Oh..nggak masalah mba ! walau masih tersisa dendam dihati, tapi saya dapat melupakannya kok dan saya yakin mba Teni juga bisa..”
Dan sejak itu Kateni merasa menemukan teman bicara, teman berbagi kesedihan dan kepedihan. Ia juga merasa menemukan tempat dimana ia dapat menuangkan dan mengungkapkan segala keluh kesah tentang kepedihannya, kesedihannya juga kebingungannya. Dan segala keluh kesahnya seringkali ditanggapi secara bijak oleh mas Joko sehingga Katenipun merasa nyaman saat berbicara dengannya.
            Namun apa yang telah menjadi hukum alam tetaplah tidak bisa dipungkiri, kedekatan keduanya menumbuhkan perasaan yang sebenarnya saling mereka pendam, cinta..nafsu..entahlah..?. Namun bagi Hati Kateni yang sebelumnya bagai batu karang yang sekian lama di hantam dan dihempas deburan-deburan ombak kenestapaan dan kepedihan akhirnya luruh saat hembusan angin cinta mendera. Belaian dan sentuhan kasih sayang yang sejak lama didambakannya kini mengalir lewat tangan dan bibir mas Joko yang membuat ia lupa dengan semua yang menjadi beban di pikirannya. Kepedihan, kesedihan seakan terhempas dan  berangsur-angsur menghilang dan iapun mulai tenggelam dalam kenikmatan secawan hasrat yang memabukkan. Gelora birahi hampir saja membakar nalar serta nilai-nilai kepatutan, beruntung gelora itu padam saat yang tepat. Mereka tersentak dan terkejut mengetahui kesalahan yang telah mereka perbuat. Sambil tersipu Kateni segera merapikan pakaiannya sedang mas Joko perlahan meninggalkan Kateni sambil berulang kali mengucapkan kata maaf. Kateni duduk tercenung di ruang dapur yang sempit..” Duh gusti..! apa yang telah saya lakukan..” Kutuknya dalam hati. Apa yang telah dilakukannya sama saja sebuah pembenaran dari apa yang telah dituduhkan suaminya dua tahun lalu, dan apa yang telah dilakukannya adalah penistaan dari sumpah yang pernah ia ucapkan. Iapun merasa malu dengan mas Joko, “ Setelah apa yang terjadi..apa yang dia pikirkan tentang diriku ?. Mungkinkah dia berpikir bahwa aku hanya wanita murahan yang dengan mudah dijamah seorang lelaki. Duh seandainya mas Joko berpikiran seperti itu betapa malunya aku, tidak..! ini tidak akan terulang..! “ Janjinya dalam hati. Namun semakin ia berusaha menepati janjinya dan tak memikirkan apa yang telah ia lakukan namun semakin besar pula keinginannya untuk mengulanginya lagi. Apa yang ada di pikiran mas Joko tentang dirinya kini tak diperdulikannya lagi, baginya menuntaskan hasrat yang telah terpendam sekian lama menjadi hal yang terpenting. Tak ada lagi sekat-sekat kokoh yang membatasi antara nafsu dan norma-norma, walaupun ada kini hanya dibatasi sekat tipis yang mudah rapuh.      
            Diantara rasa senang dan bahagia yang ia rengkuh dari mas Joko, seringkali ia menangis dan sangat menyesali betapa rapuh dirinya. Selaksa tanya juga menggayut dalam benaknya,  salahkah aku bila coba menggapai sedikit asa..?. Salahkah aku bila masih berharap..?. Disisi lain Kateni juga merasa amat berdosa, barangkali apa yang telah dilakukannya telah mengganggu kehidupan orang lain terutama istri mas Joko. Barangkali juga apa yang dirasakannya saat mengetahui suaminya berhubungan dengan orang lain kini bisa saja sedang dirasakan istri mas Joko. “ Duh..gusti..! mengapa nasib terasa begitu tak adil bagiku..”  Keluh Kateni dalam hati. Malam semakin larut, tawa riuh beberapa anak muda yang asik bermain kartu kini tak terdengar lagi, namun Kateni tetap saja tak dapat memejamkan mata. Kateni dihadapkan pada sebuah dilema untuk memutuskan apa yang seharusnya ia lakukan. Memutuskan kedekatannya dengan mas Joko dengan konsekwensi musnahnya segala asa untuk menggapai kebahagian yang ia dambakan. Lalu hidupnya akan kembali diisi dengan hari-hari sepi tanpa semangat hidup. Atau tetap mempertahankan hubungannya dengan mas Joko walau hari-harinya akan diisi perasaan bersalah dan berdosa. Kedua pelupuk matanya kian lama kian lemah untuk tetap terjaga, kantuknya mulai menyerang namun ia sudah mempunyai satu keputusan sebelum terlelap tidur.
            Hari ini Kateni berangkat ke tempat kerja agak siang, selain karena semalam ia tidur agak larut saat ini  ia juga kehilangan gairah untuk bekerja. Hanya satu yang masih bisa menyeret langkahnya ke tempat kerja yaitu mas Joko, hari ini ia harus bertemu mas Joko untuk mengatakan apa yang telah ia putuskan semalam. Ketika akan sampai ke depan jalan raya, tiba-tiba terdengar suara mendecit lalu disusul suara benturan yang cukup keras. Kateni cukup terkejut mendengar suara tersebut namun tak tahu apa yang terjadi, beberapa orang terlihat berlarian menuju asal suara sehingga iapun turut mempercepat langkahnya. Dari kejauhan ia melihat banyak orang berkerumun persis didepan ruko tempatnya bekerja. “ Ada apa..? “ tanya Kateni dalam hati ketika melihat orang-orang yang berkerumun. Sampai didepan ruko Kateni melihat sebuah mobil toyota avanza ringsek menabrak sebuah warung kecil yang terletak persis di depan ruko, begitu juga dengan warungnya yang kini sudah tak berbentuk lagi. Namun hatinya kembali bertanya-tanya saat melihat mba Eka yang menjadi kasir ditempatnya bekerja sedang menangis tersedu-sedu, Katenipun mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi. “ Mas Joko meninggal mba...!” Jawab mba Eka sambil tersedu. Laksana petir disiang bolong yang menyambar jantungnya, Katenipun roboh pingsan tanpa sempat berkata apa-apa. Setelah siuman barulah Kateni mengetahui kejadian yang sebenarnya, mas Joko tertabrak mobil yang berusaha menghindari tabrakan dengan motor yang berjalan zig-zag di depannya. Saat itu mas Joko sedang membeli rokok dan tak sempat menghindar karena kejadian yang begitu tiba-tiba. “ Duh..gusti ! mengapa mas Joko harus meninggal bila hanya untuk memisahkan aku dengannya. Padahal hari ini aku sudah memutuskan untuk menghentikan hubunganku dengannya, berpisah tanpa ada tangis..tanpa ada yang disakiti, tapi kini...? “ Tangis Kateni kembali menggema dan memang hanya ini yang bisa ia lakukan..menangis dan menangis...



Kp. Sawah, 12 September 2009






Selengkapnya...