Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Monday, February 04, 2013

Menikah, Anak, dan Rumah

Engkau adalah Rumah
Cerpen Dianing Widya

MATAHARI pecah di kepalaku. Kebahagiaan di depan mata itu, engkau hancurkan Layla. Tanggal pernikahan yang kita sepakati bagai mainan bagimu. Ponselmu tak pernah aktif. Apartementmu kosong. Teman-teman kantormu hanya bilang kamu pindah tanpa meninggalkan alamat kerja baru. Kedua orangtuamu, saudaramu hanya mengangkat bahu ketika aku tanya keberadaanmu.

Berbilang tahun aku memilih sendiri. Aku tak punya hasrat dengan siapa pun selain dirimu. Lalu hampir setiap aku pulang kampung, selalu saja pertanyaan yang berulang ibu tanyakan kepadaku. Kapan menikah Ganang? Pertanyaan ibu yang berulang, kesulitanku membunuh bayanganmu membuat aku frustasi. Aku harus menenggelamkan diri untuk melupakanmu Layla, hingga aku menemukan duniaku. Mengumpulkan anak-anak jalanan untuk aku sekolahkan bersama beberapa teman.

* * *

Darahku berdesir saat aku temukan engkau di sebuah sekolah dasar dengan menggandeng seorang anak laki-laki. Sampai hatimu Layla. Engkau meninggalkanku demi laki-laki lain. Sekarang di sampingmu seorang anak laki-laki menambah hatiku teriris. Engkau menggandengnya dengan penuh kasih.

Tentu karena kamu adalah ibunya.Aku pun menyekolahkan seorang anak di sini. Sayang dia bukan anak kandungku, melainkan anak yang terlantar. Ayahnya meninggalkannya setahun lalu saat ia berusia lima tahun. Kakaknya saat ini kelas dua SMP. Untuk menyambung hidup ibu mereka menjadi pencuci baju di tiga rumah.

Layla, banyak dari anak-anak yang aku dan teman-teman sekolahkan datang dari keluarga berantakan. Suami yang pergi mendadak lalu bertahun-tahun tanpa kabar, ayah yang sembunyi-sembunyi menikah lagi dan memilih menceraikan istri pertama, setelah istri pertama mengetahui dan tidak menerima. Ada lagi suami yang mengusir istri dan anaknya setelah ia menikah lagi.

Layla, engkau tak akan percaya dengan ceritaku, seperti halnya saat pertama aku menghadapi kenyataan. Banyak istri yang dizalimi suaminya lalu anak-anak ikut terseret di dalamnya. Ironisnya mereka dari kaum papa, lalu pendidikan anak-anak terbengkalai karena si istri harus bekerja sendirian. Untuk melupakanmu Layla aku dan temanku menggalang dana. Menyelamatkan anak-anak mereka.

Pelan-pelan pergaulanku dengan mereka, membuat aku merasa mereka bagian dalam hidupku. Aku bahagia di sini Layla. Aku menghela napas sembari melihatmu dari kejauhan. Seandainya dulu engkau tetap menikah denganku tentu bahagiaku sempurna.

Melihat anak yang engkau gandeng itu, aku menautkan kening. Kita berpisah belum genap lima tahun. Kini engkau menggandeng anak usia tujuh tahunan. Logikanya jika engkau langsung hamil setelah menikah anakmu baru berusia empat sampai lima tahun. Anak siapa dia Layla. Mungkinkah engkau meninggalkanku untuk menikah dengan duda kaya raya?

* * *

Layla, sejak pertemuan kita di sekolah itu, aku ingin tahu keberadaanmu. Aku ingin tahu tetapi sejenak hatiku susut. Tak pantas jika aku menelusuri jejakmu, sementara kamu sekarang adalah istri orang. Maka setiap aku mengantar anak yang aku sekolahkan itu, aku hanya berani melihatmu dari jauh. Tetapi tahukah kamu Layla, sungguh aku sangat ingin menyapamu meski hanya sekedar bertanya kabar.

Hingga suatu hari aku berpikir mengapa kamu selalu sendirian mengantar anakmu sekolah? Aku belum pernah melihatmu bersama suami. Hal ini membuatku menduga-duga tentang kamu. Mungkinkah kamu kini menjanda. Pikiran curangku berujar itu jauh lebih baik. Aku mau menjadi suamimu Layla. Tak peduli kamu adalah janda dengan beberapa anak.

Satu tahun sudah cukup bagiku untuk menuntaskan rasa penasaranku. Di hari pengambilan rapor kamu datang sendiri. Engkau terkejut ketika aku menyapamu. Semula engkau melihatku seperti melihat hantu di siang hari. Terlihat engkau ingin berlari tetapi sikap santun yang engkau punya membuatmu bertanya kabarku. Tentu kabarku sangat buruk.

Engkau lalu menghela napas. Menunduk. Tiba-tiba anak kecil yang selalu engkau antar itu menghampirimu, bergelayut di pinggangmu.
"Tante pulang." Jantungku berhenti berdetak. Anak itu memanggilmu tante, bukan ibu atau mama.

"Attar," tiba-tiba seorang gadis menghampiri anak laki-laki itu dan merayunya untuk mau pulang dengannya. Anak itu mengiyakan.

"Mbak, Attar pulang sama saya ya," ujar gadis itu. Engkau mengangguk. Aku lihat anak laki-laki bernama Attar itu sangat akrab dengan gadis itu. Terdengar juga ajakan gadis itu ke sanggar untuk mengambil buku bacaan baru.

Sekarang tinggal aku dan engkau. Sekolah satu persatu ditinggalkan penghuninya. Siang itu aku beranikan diri memintamu berbincang sejenak. Tanpa aku duga engkau malah mengajakku ikut ke mobilmu. Aku terpana. Bagaimana mungkin seorang istri satu mobil dengan laki-laki yang bukan suaminya? Aku ragu tetapi engkau dengan santai menggandeng lenganku.

Jantungku bergemuruh Layla saat engkau bimbing lenganku, terlebih ketika kita benar-benar berada dalam mobil. Aku panas dingin. Aku takut jika ada yang melihat kita dan mengadu ke suamimu. Engkau malah tersenyum tipis ketika aku sampaikan kecemasanku. Membuat aku menduga-duga tentang suamimu.

"Aku belum pernah menikah Ga," ucapmu tanpa menolehku. Aku tertegun. Lima tahun lalu engkau pergi begitu tiba-tiba. Sekarang engkau mengaku belum menikah. Lalu anak yang selalu kau antar sekolah itu anak siapa. Engkau menjelaskan jika anak itu bukan anakmu. Aku belum tahu ke mana arah bicaramu. Tak lama kamu belokkan mobil ke kiri. Terus masuk ke dalam, sepanjang jalan adalah rel kereta api. Kamu terus melajukan mobil tanpa aku tahu arah tujuanmu.

Tak lama kemudian engkau hentikan mobil. Aku memandangmu sejenak. Di depan sana sampah menggunung. Engkau menurunkan kaca mobil lalu mematikan mesin. Engkau memandang ke gunungan sampah itu.
"Attar aku temukan meringkuk di situ." Aku mengikuti arah telunjukmu. Sebuah batu besar.

"Tubuhnya memar-memar, dia bilang dipukuli oleh ayahnya." Aku menunduk. Bagaimana mungkin seorang ayah memukuli anaknya yang masih kecil. Jauh di lubuk hatiku, aku sangat ingin memiliki keturunan. Aku ingin uang dari keringatku bisa dinikmati anak dan istriku. Betapa menyenangkan punya anak sendiri. Pulang kerja kita disambut anak, hilang sudah letih karena senyum dan tawa mereka. Setiap pekan aku bisa membawa anak-anakku keluar rumah. Makan di rumah makan favorit, atau jalan-jalan ke taman, atau pergi ke bioskop. Alangkah senangnya melihat anak-anakku bersama perempuan yang aku cinta, Layla.

Dadaku terasa sesak. Kenyataan menamparku keras. Air ludah yang aku telan terasa perih di kerongkongan. Aku menghela napas lagi. Aku sebut nama Layla dalam-dalam menelusuri rongga dadaku.

"Attar menolak. Ia ketakutan ketika aku ingin mengantarnya pulang," ucapmu diantara rasa nyeri hatiku. Lalu panjang lebar engkau cerita. Sejak berpisah denganku engkau mengaku patah hati. Aku terpana. Apakah engkau tak tahu Layla? Aku remuk redam karena kepergianmu? Aku terpana lagi ketika engkau mencari anak-anak yang ditelantarkan orangtuanya untuk kamu sekolahkan, kamu tampung di sebuah rumah, kamu bimbing mereka untuk memiliki semangat untuk maju. Engkau katakan itu sebagai pelarianmu.

"Aku ingin mereka punya impian," ujarmu kemudian.Aku diam. Duduk di sampingmu akan menjadi sia-sia jika aku tak mendesakmu untuk mengatakan alasanmu tak menikah sampai sekarang.

"Aku tak mungkin menikah Ganang." Aku terhenyak. Tanpa menunggu pertanyaanku engkau menjawab dengan terbata-bata. Penyakit yang engkau derita tak memungkinkan untuk hamil. Aku tercengang ketika engkau menyebut nama penyakit yang menyeramkan itu. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkanmu rahimmu harus diangkat. Kamu jelas tak bisa hamil. Satu hal yang aku sesalkan mengapa engkau tak pernah cerita.

"Aku takut," ucapmu pendek sambil menunduk.
Aku lemas. Aku sandarkan kepala di jok mobil. Memejamkan mata. Tak aku sangka sama sekali.

"Kita hampir menikah Layla, kita sudah memesan undangan. Tiba-tiba ..." "Aku bingung, frustasi tak tahu harus bagaimana. Menikah denganmu sangat tidak mungkin. Laki-laki mana yang mau menikah dengan perempuan yang tak bisa memberi keturunan." Aku menghela napas dalam-dalam. Aku angkat kepalaku. Memandangnya lekat-lekat. Aku memintanya untuk diantar pulang.

* * *

Aku rebahkan tubuhku di atas kasur. Penjelasan Layla tadi siang mengoyak batinku. Pelan-pelan mengalir perasaan iba padanya. Lima tahun bukan waktu pendek untuk kesendirian. Aku sampai detik ini masih menyimpan perasaan sayang kepadanya. Aku memang ingin menikahinya, lalu dari rahimnya lahir anak-anakku. Aku menggeleng. Layla tak bisa memberiku keturunan. Apa arti hidup tanpa keturunan, aku tak bisa membayangkan begitu hari-hari senyap tanpa anak-anak.

Betapa kejamnya aku jika meninggalkan Layla karena kanker ovarium yang diderita. Haruskah ia menanggung sendiri sakitnya?

Ini tidak adil. Pantaskah aku meninggalkannya setelah tahu ia tak bisa memberiku anak? Aku beranjak dari tempat tidurku. Akan aku temui Layla. Akan aku mohon padanya untuk mau menikah denganku. Tak peduli ia tak bisa memberiku anak. Bersamanya aku ingin menyekolahkan banyak anak lagi. Anak-anak dari kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tanganku, Layla juga kita.***

* Depok, Oktober 2011

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 5 November 2011

Friday, January 25, 2013

Cerpen Dianing

Penjara Dalam Tubuh
(Dianing Widya)

IBU mengantar keluarga Frans hingga ke halaman. Aku di sini memandang dari kursi tamu dengan kepala penuh lintasan kereta api. Dari jauh ribuan lintasan kereta api dengan raungan sirine, saling berebut. Telingaku hampir tak sanggup menampungnya.

Aku lihat Ibu masih setia menunggu satu persatu keluarga Frans masuk ke mobil. Gerakan tubuh mereka begitu lamban, terlebih pada Frans. Kekasih yang setia menemaniku sejak delapan tahun lalu itu, tampak lunglai seperti serdadu kalah perang. Kekasih? Dadaku selalu bergemuruh jika keluargaku menganggapnya sebagai calon suami.

Aku menunduk menekuri lantai yang diam. Aku baru saja menolak lamaran Frans. Bukan karena dia tak tampan atau tak menjanjikan secara finansial. Bukan juga karena ia tak memberitahuku sebelumnya, jika dia hendak berkunjung ke rumah bersama keluarga besar dengan tujuan meminang. Terdengar suara mesin mobil yang mulai dihidupkan. Aku mengangkat kepala. Tak seperti biasa, ketika Ibu mengantar kepulangan Frans. Ibu selalu melambaikan tangan, kali ini tidak.

Ibu mulai menuju ke dalam. Aku dengar helaan napasnya yang berat. Aku belum siap mendengar pertanyaan Ibu akan penolakanku pada Frans. Dan di ambang pintu, wajah Ibu menyiratkan pertanyaan mengapa aku menolak pinangan Frans. Aku menggeleng. Beranjak lalu berlari menuju tempat paling nyaman. Kamarku.

"Maafkan aku Frans," lirih aku berujar. Delapan tahun bukan waktu yang pendek. Waktu itu merentang panjang. Mengurungku dalam penjara yang dindingnya teramat tebal dan tinggi. Penolakanku inilah Frans, yang membebaskan tubuh, hati, jiwa dan rasa. Tetapi penolakan ini pula yang mencipta bentangan penjara baru. Penjara yang ada sejak aku masih kanak-kanak. Genderang perang bertalu-talu di detak nadiku ketika pintu kamar diketuk dari luar, diiringi panggilan Ibu. Aku hanya sanggup memandangi pintu, panggilan Ibu terus terdengar.

"Noura."
Aku persilahkan Ibu masuk. Aku dengar langkahnya yang berirama pelan begitu pintu terbuka. Ibu memandangiku dengan wajah menyimpan sejuta heran. "Mengapa Noura?" Aku menggeleng. Ibu duduk di samping kananku. Aku menunduk. Belasan tahun aku simpan deritaku sendiri. Penderitaan atas pertanyaanku yang tak juga rampung. Pertanyaan yang muncul sejak pertamakali aku jatuh cinta pada teman sekolah. Saat itu aku masih kelas tiga sekolah dasar.

Di dalam kelas, aku selalu mencuri pandang untuk bisa melihat wajahnya yang mencipta semesta dalam diriku. Perasaanku padanya terlampau indah, Ibu. Semula aku pikir hanya perasaan biasa. Hanya kekagumanku yang wajar, nanti akan hilang. Kenyataan tidak. Perasaan itu kian mengental dari waktu ke waktu.

Aku jatuh hati padanya Ibu. Anak perempuanmu ini tak sanggup menyingkirkan pesonanya hingga aku selesai sekolah menengah atas. Aku sangat beruntung. Ia mau berteman dan dekat denganku sejak sekolah dasar. Menginjak SMP kami tambah akrab. Waktu pun berpihak padaku. Selama tiga tahun, kami selalu satu kelas. Aku dan dia sama-sama suka olah raga dan seni. Aku sering menikmati harum keringatnya, juga butiran keringatnya saat meluncur dari sela-sela rambut di pelipisnya, saat tengah bermain volley bersama. Kami satu team dengannya di setiap lomba antar kelas. Aku sangat menikmati wajahnya saat keningnya saling bertaut, karena soal matematika yang rumit. Dia pesona tanpa batas.

Menginjak kelas dua SMU aku didera cemburu. Hatiku perih setiapkali melihatnya bersama Rexi, teman laki-laki yang ia perkenalkan padaku sebagai pacar. Sejak memiliki pacar, waktunya bersamaku jadi berkurang. Jika dulu pulang dan pergi sekolah selalu bersamaku, sekarang Rexi yang menggantikan posisiku. Saat istirahat sekolah, Rexi sudah menunggu di ambang pintu. Lama-lama aku tersingkirkan. Dia yang aku puja tanpa ia sadari, sibuk dengan Rexi. Ketika itu aku merasa dunia tak berpihak padaku. Untuk melupakannya aku menenggelamkan diri dengan pelajaran sekolah. Aku ingin diterima kuliah di universitas terbaik. Tekadku terwujud. Aku senang, tetapi tak mampu aku menepis bayangannya.

Ibu, aku tak tahu apa yang tengah aku alami sejak bertahun-tahun silam. Aku mencintai seseorang yang tak mungkin bisa aku rengkuh. Perasaan cinta itu seringkali ingin aku bunuh, tetapi aku tak pernah bisa. Semua yang melekat di tubuhnya, mewangi dalam fantasiku. Bayangannya tak pernah beranjak dari pikiranku. Siang malam aku terkenang olehnya. Saat hendak tidur dan terjaga hati selalu ingat padanya.

Ibu, cintaku padanya mencipta sembilu. Mencabik-cabik nadiku. Aku terpuruk oleh rasa ini. Cinta yang tak mungkin terbalas hingga matahari pecah sekali pun.

"Kau tak mau cerita sama Ibu," ucap ibu ditengah lamunanku. Aku pandangi wajah Ibu. Aku menggeleng lagi. Diraihnya tanganku.
"Kau ada masalah dengan Frans?" aku menggeleng. "Ada yang kurang dari Frans?" aku menggeleng lagi.

"Lalu?" Kepalaku mampat. Kereta api berseliweran dengan raungannya yang memanjang di sini. Jangan desak aku Ibu. Aku belum bisa menjawab semua pertanyaan yang sesungguhnya mudah aku jawab. Semua masalah bermuara pada tubuh dan emosiku. Bukan karena Frans.

"Noura." Aku mulai merasa didesak. Panjang lebar Ibu mengatakan jika semua orang tahu aku pacaran sangat lama. Semua tetangga melihat Frans adalah calon suamiku. Ibu harus menjawab apa jika ada tetangga tahu, pinangan Frans ditolak. Bagaimana dengan tanggapan orang-orang?

Aku menelan ludah. Aku pandangi lagi wajah Ibu. Kali ini Ibu mengalihkan pandang ke pintu kamar yang terbuka. Menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ibu merisaukan respon tetangga. Aku mengerucutkan mulut.

"Noura siap jadi bahan gunjingan, Bu. Duapuluh sembilan tahun belum menikah dan mungkin tak akan pernah menikah."
"Apa!"

Glekk. Aku seperti tak sadar mengucapkannya. Kalimat itu meluncur saja. "Kau tak akan menikah?" bola mata Ibu menghunjam tepat di jantungku.
"Apa maksudmu?" kali ini suara Ibu memekik tajam meski lirih.

Aku adalah bungsu dari empat bersaudara. Semua kakakku perempuan. Sejak kecil aku sangat berbeda dengan kakak-kakakku. Jika mereka suka memakai rok, mau didandani Ibu, aku memakai rok kalau mau berangkat sekolah saja. Jika ketiga kakakku memanjangkan rambut lalu diekor kuda, aku lebih suka memangkas rambutku sampai ke batas telinga. Semua tetangga selalu membandingkan aku dengan ketiga kakakku yang ayu. Aku, mereka bilang tomboy. Aku sendiri tak merasa seperti itu. Aku pikir aku biasa-biasa saja.

Baru ketika aku menginjak kelas tiga SD, aku mulai mau memanjangkan rambut meski hanya sampai sebahu. Aku mulai mengenakan baju yang beraroma perempuan. Itu karena aku menaruh hati dengan teman sekelasku.

Semua kakakku sudah berkeluarga. Jika mereka pulang di waktu-waktu tertentu seperti lebaran atau liburan sekolah, selalu pertanyaan yang itu-itu saja. Kapan aku menikah.

"Menikahlah dengan Frans."
"Hah!," keterkejutanku membuat Ibu amat terperangah.

"Bukannya selama ini hubunganmu dengan Frans, baik-baik saja. Apa kekurangan dia. Dia baik, pekerjaan ada, mendukungmu terus bekerja biar pun sudah menikah." Aku pusing.
"Kau akan menjadi perempuan sempurna, dengan melahirkan anak-anak Frans." Aku tambah pusing.
"Kau ..."

"Tidak. Tak mungkin aku menikah dengan Frans." Aku raih bantal. Aku sembunyikan wajahku. Ibu, sesungguhnya ingin aku tumpahkan semua pergulatan batinku selama ini, tetapi aku tak tahu dari mana memulainya.

Delapan tahun bersama Frans aku lalui dengan hambar. Hasrat ingin mengatakan putus, selalu terhalang oleh perasaan kasihan. Seringkali aku ingin jujur pada Frans juga Ibu, siapa sesungguhnya sosok yang aku cinta. Seringkali seribu keberanian aku himpun untuk membuka identitasku. Seribu keberanian itu meleleh oleh bayangan ketakutanku sendiri. Aku takut Frans dan Ibu tak bisa menerima kejujuranku.

Ibu menghitung helai demi helai rambutku. Seringkali dalam sendiri aku bertanya pada Tuhan. Mengapa ia bedakan aku dengan lainnya. Mengapa aku mencintai seseorang yang tak boleh aku cinta atas nama norma. Bahwa perempuan selayaknya jatuh cinta dan menjalin sebuah pertalian dengan seorang laki-laki. Aku justru tertarik kepada sesama perempuan, tragisnya aku tak kuasa menolaknya. Perasaan cinta yang tak pernah aku sengaja ini, yang seringkali membuatku tersisih, terbuang dan kesepian. ***

* Depok, Maret 2012

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 5 Mei 2012

Thursday, January 03, 2013

Cerpen Beni Setia

Kokok Ayam Tengah Malam

"I don't want close my eyes, I don't want go sleep cause I miss you, baby, and I don't want miss a thing" (Aerosmith) 

WANTI lahir di Surabaya, besar, dan bersekolah di Surabaya. Ketika mendapat SK penempatan sebagai guru di Madiun, pada usia dua puluh tiga tahun lebih, baru ia meninggalkan Surabaya. Kami bertemu ketika sama-sama bekerja di SMP yang sama, sebab aku,asli Madiun,ditempatkan di sana. Berhubungan dua tahun dan menyetujui adagium "produk dalam negeri itu lebih unggul", yang awalnya anjuran agar kami itu berpacaran dan menikah karena sama-sama jomblo dan telah punya pekerjaan dan gaji tetap sehingga sangat siap berumah tangga. Permainan comblang yang sukses. Kini kami punya dua orang anak. Semua bersekolah di SD yang sama, masuk ke SMP yang sama, dan ada di SMA yang sama.

Dan meski pernah masuk di sekolah di mana kami bekerja, kami tidak pernah bersedia menjadi guru mereka. Bukan apa-apa, hanya mencoba untuk menempatkan mereka dalam situasi kompetisi dan tidak terlalu mengandalkan subyektivitas evaluasi belajar mereka. Nilai itu usaha untuk menguasai materi dan menaklukkan varian pertanyaan, dan bukan relasi, supaya mereka terbiasa dituntut bersaing dan mempertahankan kompetensi untuk bersaing yang tinggi. Kata Wanti, "Jangan melihat kami. Marahilah mereka seperti memarahi siswa lain,jangan terlalu mempertimbangkan keberadaan kami."

Yang nomor satu sedang menyusun skripsi, dan si nomor dua baru masuk tahun pertama kuliah. Yang membuat Wanti merasa sangat kehilangan karena setelah pamit ke Surabaya ia tak akan sering pulang ke Madiun, seperti kakaknya yang paling depat pulang tiga bulan sekali. Mungkin karena mereka kos di rumah neneknya,ibu Wanti. Di rumah kini kami cuma tinggal berdua. Menurut perkiraanku, si sulung tak mungkin pulang, dan kalau pulang pasti akan pergi lagi, mengejar kerja dan hidup baru sebagai manusia dewasa.

Menikah dan punya anak, dengan sesekali pulang buat ber-Lebaran. PPPKita akan kesepian b&,OOO kata Wanti. Lupa bila (dulu) ia meninggalkan orang tuanya di Surabaya selama tiga puluhan tahun. Aku juga telah meninggalkan orang tuaku, meski bisa didatangi dalam sepuluh menit, selama tiga puluh delapan tahun. Lima tahun berkuliah, pulang tiga tahun, dan pisah rumah karena menikah selama tiga puluh tahun Anak itu sesuatu yang datang lewat kita, lantas hilang dari tatapan kita sesuai kodratnya yang diadakan dan mencari pasangan untuk mengadakan yang lebih muda. Apa yang tersisa bagi orang tua?

* * *

PERNIKAHAN kami dilakukan malam hari-akad nikah serta resepsi sederhana ala kampung diselenggarakan di malam hari. Di Surabaya hal itu biasa, dan saya tahu: itu biasa dilakukan di malam hari. Tapi bagi kami yang besar di Madiun hal itu agak mengejutkan-bahkan nyaris satu pernyataan adati yang memalukan. Ada tradisi lokal, yang mengatur kalau pernikahan seorang gadis dilakukan tepat di tengah hari,meski akad nikahnya disiselesaikan pagi hari. Karena, bagi kami, yang namanya pernikahan itu upacara Temu Kemanten, yang rumit ritualistik bersipat amat adati. Kalau upacara Temu Kemanten disilakukan di petang hari, itu menandakan si yang melakukan Temu Kemanten itu janda, dan kalau disilakukan malam hari-bahkan di tengah malam, itu menandakan si pengantin perempuan hamil duluan. Pernikahan aibiah.

Tapi seingatku tak pernah ada acara Temu Kemanten yang disilakukan di tengah malam, bahkan tidak pernah ada yang dilakukan petang hari, tidak peduli si kemanten putrinya janda dan bahkan si gadis tak perawan yang telah hamil terlebih dulu. Semua dilakukan di tengah hari. Di mulai jam 12:00 dan berakhir pada 16:00, bahkan sampai jam 17:30. Tampaknya semua sanksi adat itu tak dijalankan secara konsekuen. Yang disiutamakan itu justru acara Temu Kemanten, yang disilakukan oleh pihak orang tua penganten wanita, dan tiga hari kemudian oleh orang pengantin lelaki,acara Ngunduh Mantu. Wajib dan harus meriah. Karena kalau tak disirayakan, maka si orang tua akan malu dan (bahkan) mengalami sekarat panjang. Lantas siapa berani menjalani sekarat panjang? Maka acara Temu Kemanten harus disirayakan,tak peduli mereka menjadi si terlilit utang dan terpaksa menjual tanah? Dan acara Temu Kemanten ulang kami itu, acara Ngunduh Mantu itu, dilakukan dengan bayangan mendung prasangka: Wanti telah hamil sebelum menikah. Untung Wanti tak mengerti, dan aku tak pernah mengatakan itu meski di kantor disindiri oleh beberapa teman. Aku bertekad hendak menunjukkan fakta sesungguhnya-kami tidak melakukan hubungan seks di luar nikah, dengan memaksa Wanti segera hamil, lalu melahirkan anak di atas hitungan sembilan bulan dari titik kami ada menikah. Si anak pertama kami memang lahir terlalu cepat karena jadi proyek pembuktian: Wanti tidak hamil sebelum menikah, dan setiap tempat itu punya adat dan kebiasa tersendiri. Anak lain lahir sesuai rentang anjuran KB.

* * *

WANTI lahir di Surabaya, besar dalam tata pergaulan khas kota besar Surabaya, dan memiliki asumsi adatiah yang aneh dan menurutku,yang kelahiran Madiun, yang di pedalaman Jawa sini, dan sangat kuat dipengaruyhi budaya Mataraman-amat lucu. Mungkin asumsi adatiah itu terbawa oleh fakta nenek Wanti dari garis ibu asli orang Lamongan,padahal kakek dari pihak ibu asli Surabaya, yang terinternalisasi sebagai mekanisme kontrol etika di luar fakta si ibu Wanti terlahir di Surabaya. Fakta bahwa ayah Wanti itu asli Surabaya juga tidak bisa melunturkan asumsi adatiah itu. Atau itu asumsi adatiah yang orsinil Surabaya? Saya tak tahu. Mungkin cuma mitologia yang diciptakan secara internal dan diturunkan sebagai acuan kontrol etika keluarga. Suatu uang eksklusif bersipat famili.

Saya tak ingin tahu. Saya mencoba bersikap pragmatik. Percaya kalau semua itu memang asumsi adatiah eksklusif keluarga, suatu rujukan yang merupakan campuran antara Surabaya serta Lamongan. Asumsi kalau ada ayam berkokok di tengah malam bermakna ada gadis, perawan, si yang belum menikah atau terikat pernikahan,hamil. Semacam keyakinan yang dengan teguh dipertahankan oleh Wanti ketika aku berkali menyangsikannya. "Pasti ada perawan hamil,tunggu saja kalau Mas tidak percaya," katanya,berkukuh. Aku tertawa. Kemudian terbukti kalau Ngatinah, janda, ternyata hamil dan terpaksa gegas dinikahkan tanpa ada upacara Temu Kemanten, tak pernah dilakukan ketika mereka kemudian bercerai, kemudian Ngatinah itu menikah lagi dan punya anak lagi. "Bukan gadis," kataku. Wanti merengut dan bersikukuh kalau kokok ayam tengah malam itu pertanda dari alam, bahwa ada yang hamil di luar nikah.

Dan terpikir, mungkin fakta yang hamil itu masih gadis atau sudah janda terkait dengan waktu si ayam itu berkokok. Sebuah pernyataan dari alam, akan sesuatu yang tidak benar dan harus dibenarkan sebelum terbukti itu tak benar, nyatanya sering baru dibetulkan setelah ketahuan oleh orang sekampung. Dan meski aku melupakan hal itu Wanti tetap peka akan ihwal itu, ia selalu menjagakan aku dan mengatakan kalau ada ayam yang berkokok di tengah malam lagi. Aku terjaga dan mulai menimbang semua anak gadis tetangga. Menyelidik, dan kemudian terhanyak ketika ketahuan kalau si A, si B atau si C telah hamil senelum menikah dan gegas dikawinkan. Celakanya, semua upcara pernikahan dilakukan sesuai urutan normal yang sangat memsipertimbangkan hitungan hari baik, bahkan dengan ritual Temu Kemanten di selepas tengah hari,tetap dimanifestasikan sebagai gadis dan masih perawan.

Apa itu mekanisme buat menjaga kehormatan, untuk tak mempermalukan meski semua orang di kampung mengerti? Dengan kata lain, sanksi adatiah yang bersitujuan menjaga kemurnian etika itu sengaja dimanipulasi, dan semua itu disimaklumi semua orang. Tapi saat toleransi sosial sengaja bermain maka kecenderungan melonggarnya moralitas jadi meningkat, bahkan bersibalik dinikmati sebagai semacam keguyuban.

Sementara keteguhan akan kepekaan alam yang termanifestasikan secara alami-ayam berkokok tengah malam, akan membuat seseorang berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan yang bukan muhrim? Saya tak tahu. Tapi saya percaya kalau ihwal itu akan menjaga anak-anak saya yang perempuan itu kuliah di Surabaya-dengan kos di rumah Neneknya dijaga oleh Pakde dan istri dan sepupunya. Terasa aman meski di kota besar itu moralitas mengendor dan kecenderungan buat berseks bebas meningkat. Saya percaya, dengan landasan acuan agama yang terinternalisasikan, permisivitas hubungan seks di luar nikah, yang akan menghancurkan moral itu masih dikendalikan oleh alam, dengan memicu isyarat ada kehamilan di luar nikah, kokok ayam di tengah malam. Sederhana tapi menakutkan bagi yang peka dan tahu. Insya Allah! ***

Suara Karya, Sabtu, 10 November 2012

Tuesday, December 04, 2012

Seragam


Cerpen AK Basuki


Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.


Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.



ia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?”

”Kenangan.”

”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”

Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.

Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.

Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.

”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.

”Tanggung,” jawabnya.

Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.

Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.

Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!

”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!

Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.

Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.

”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.

”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”

Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.

Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.

Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.

”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”

”Ulahnya?” Dia mengangguk.

”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.

Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.



Sumber : Kompas Minggu, 12 Agustus 2012

Thursday, November 08, 2012

Mengenal Fiksi Mini

Fiksi MIni Kurniawan Junaedhie


Fiksi mini karya Kurniawan Junaedhie (KJ) berikut ini merupakan bagian dari buku ANTOLOGI 600 FIKSI MINI yang memuat lebih dari 600 buah fiksi mini sejenis. 

Fiksi mini adalah medium ekspresi yang sedang hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Bentuknya karya fiksi yang berformat mini, hanya beberapa kalimat saja.. Meski dalam ukuran mini, para pengarang –yang umumnya penyair dan prosais— ini mencoba mengajak pembacanya ke alam kesadaran baru. Kadang berupa tawa, yang tak semua menghibur memang, karena kadang ada ironi di dalamnya. Yang jelas, pembaca dibebaskan menafsirkan sendiri sesuai imajinasi, ilusi dan fantasinya.

Berikut salah satu contoh fiksi mini karya KJ. Semoga memberi inspirasi



BUKU
Buku itu melotot ke arah saya. Dia membetulkan kacamata saya. Iqra, katanya.

TIDUR DI DEPAN TELEVISI
Pacarku bertanya, “sedang apa, Sayang?” Kujawab, “aku sedang ditonton televisi, Darling.”

DI RANJANG
Tengah malam, aku dibangunkan guling. “Sudah berapa malam ya, kamu tidur bersama ranjang?”

ADIK BARU
Suami memeluk dari belakang. “Si bungsu pengen punya adik,“ bisiknya. Istri menyepak tangannya. “Beli saja kalau besok kamu ke kantor.”

SAPI
Kepala itu menggelinding. Masih terngiang suara gunting.

INGATAN
BU : Disewakan sejumlah kenangan. Masih segar dalam ingatan.

FRENCH KISS
Setelah kami berciuman, aku pingsan. Ternyata bibirnya berbisa.

CIUMAN YUDAS
Setelah dia menciumku, besoknya aku flu dan batuk-batuk.

PENANTIAN
Di lapangan bola, istri pemain sepakbola itu berkata: “Aku akan setia menunggumu 1000 tahun lagi.” Setahun berlalu, lapangan sepakbola itu sudah jadi supermall.

KEKASIH
Astaga. Kekasihku nyaris dinodai suaminya.

ISTRI
Jauh di hati dekat di mata.

BUKAN ISTRI
Jauh di mata dekat di handphone.

KESETIAAN PEREMPUAN
Sementara tangan kanannya mengerik punggung suaminya, tangan kirinya menulis pesan singkat untuk kekasihnya: I love you!

SEKOLAH BARU
Ini halaman sekolah anak konglomerat, Nak. Bukan halaman buku puisi Bapak!

INDEKOS
Kekasihku indekos di rumah suaminya.

LAGU MALAM
Setiap malam, kekasihku tidur bersama suaminya.

LUNA MAYA
Satpam muda itu nyelonong ke kamar kerjaku. “Akulah anakmu yang benihnya kamu buang ke got waktu kamu mandi.” Astaga, mirip benar dia dengan Luna Maya.

3 MENIT
Pacarku kirim SMS: “Jangan ganggu aku 3 menit saja. Aku lagi bertengkar dengan suami.”

TIDUR
Setiap malam aku baru tidur jika sudah ada yang bangun.

SAJAK
Begitu siuman dari pingsannya, kata-kata dalam sajak melihat arlojinya. Aneh, ambulan yang membawa ilham ke rumahsakit belum juga tiba, katanya.

CIUMAN BATAL
Kami mendekat. Nafasnya memburu. Kupejamkan mata. Kumonyongkan bibirku. “Miauw!” tiba-tiba seekor kucing melesat di kaki.

KUCING
Kamu mencuri hatiku dan meletakkannya di tempat tersembunyi sampai suatu hari seekor kucing menggondolnya dan membawanya pergi.

CERMIN
Di cermin, jerawatnya bertemu rembulan. “Numpang tanya, salon terdekat mana ya?”

DI JAKARTA
Aku naik busway. Jalanan riuh rendah. Sopir ngebut. Debu berhamburan. Sebuah kepala hinggap di pangkuan.

Sumber: kurniawan-junaedhie.blogspot.com

Sunday, October 28, 2012

Cerpen Bali Sipleg Oka Rusmini

Sipleg
Cerpen Oka Rusmini 



LUH SIPLEG nama perempuan tua itu. Perempuan kurus dengan beragam kerut-kerut tajam yang membuat takut orang yang menatapnya. Menurutku, Sipleg perempuan aneh, yang selalu memandang orang dengan mata penuh curiga. Penuh selidik, penuh tanda tanya. Kadang, dia juga seperti perempuan kebanyakan. Serba ingin tahu. Sering juga kulihat dia diam seperti batu kali. Aku menyukai gayanya yang naif itu. Bagiku, Sipleg perempuan dengan buku terbuka. Tak sembarang orang bisa membacanya. Akulah salah satu perempuan yang dibiarkan memasuki masa lalunya dengan santai. Tanpa dia pernah tahu aku telah mendapatkan cerita tentang hidupnya tanpa dipaksa. Aku juga tidak pernah merengek.

Aku menyukai perempuan-perempuan kuat seperti Sipleg. Dia perempuan kuno, yang tidak bisa membaca dan menulis. Bahasa Indonesianya pun putus-putus. Kadang aku tak paham apa yang dia katakan dalam bahasa Indonesia. Dia terlihat cerdas dan luar biasa bila bercerita tentang pengalaman hidupnya menggunakan bahasa Bali, lebih ekspresif, dan aku dibuat terpukau. Sorot matanya tajam, gerak tubuhnya seperti aktor tunggal dalam sebuah pementasan di panggung. Berapa umur perempuan kurus ini? Tubuhnya yang tua masih terlihat seksi dan menggairahkan? Hidupkah yang memberinya tambahan hidup? Penderitaankah yang membuatnya lebih berkuasa dari hidupnya sendiri?

Perempuan itu tinggal di sebuah desa terpencil. Umur 16 tahun kedua orang tuanya mengawinkan perempuan tipis itu dengan seorang lelaki desanya, Wayan Payuk. Orang tuanya yang tidak jelas penghasilannya berharap perkawinan yang dilakukan Sipleg dengan pemilik tanah mampu mendongkrak kehidupan mereka. Menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Di punggung Sipleglah impian dan harapan itu dibenamkan secara paksa. Hasilnya, rangkaian kemarahan terus beranak-pinak di otak dan aliran darahnya. Dia juga tidak percaya pada kata-kata.

Makanya dia menjelma jadi perempuan bisu. Yang berbicara hanya matanya yang cekung dan tidak ramah. Cenderung menganggap semua hal yang dibicarakan orang-orang tidak ada artinya, tidak berguna bagi hidupnya. Sipleg tidak membutuhkan saran, yang dibutuhkannya adalah bagaimana mencari jalan keluar agar hidupnya lebih baik.

Diam baginya adalah pilihan yang tepat untuk berhadapan dengan mulut-mulut manusia yang tidak pernah berhenti memberi saran ini-itu. Tidak pernah bisa menguliti beratus penderitaan yang ditoreh di lilitan napasnya, usianya, dan jantungnya. Menjelmalah Sipleg perempuan yang jarang bicara, matanya adalah suaranya. Orang desa sering menganggap dia perempuan aneh. Mereka juga beranggapan perempuan tipis dan tinggi itu bisu, dan mengalami sedikit gangguan mental!

“Aku tidak percaya pada semua manusia yang selalu ingin tahu kehidupan orang lain. Payuk, lelaki baik. Tetapi aku tidak menyukai lelaki yang kerjanya hanya pasrah. Menyerahkan hidup pada alam, Tuhan, dan takdir. Tolol namanya manusia seperti itu! Tidak bisakah kita menentang alam, Tuhan, dan takdir? Aku ingin melawan mereka dan jadi pemenang! Melawan apa yang selama ini tabu bagi kehidupan manusia. Aku ingin memiliki jalan sendiri, jalan hidup yang kubangun dan kupercayai sendiri.”

“Hidup itu sudah ada bagian-bagiannya, Sipleg. Yang penting kita terus bekerja. Dengan bekerja hidup kita jadi lebih baik.”

“Aku tidak percaya bahwa hidup sudah dijatah. Kita memang orang miskin, orang-orang yang dianggap terkutuk! Menyusahkan. Tapi kau lihat, bagaimana berbinarnya orang-orang kaya melihat kita? Karena kita bisa diupah semaunya, kita mau bekerja apa saja untuk bisa makan. Aku tidak mau kau suruh mempercayai pikiranmu! Mulai besok, aku ikut ke sawah. Aku ikut mencangkul, menanam padi, dan memberi makan ikan!”

“Kau sedang hamil!”

“Aku tidak bisa seperti ini terus-menerus. Duduk diam. Menunggumu dan mendengarkan meme-mu mengeluh di kupingku. Mengatakan aku perempuan miskin yang tidak menguntungkan! Perempuan penuh kutukan yang bisa menulari seluruh hidup keluarga suaminya!”

Menikah dengan Payuk tidak membuat Sipleg memiliki hidup yang lain. Kemarahannya pada takdir miskin yang dicangkokkan sang Hidup di tubuhnya membuat perempuan bertubuh tipis itu selalu memeram kemarahan yang dalam. Matanya sering dipenuhi debur ombak yang ganas. Kadang, kalau dia sedang diam dan tepekur di pinggir dapur sehabis memasak, orang bisa mendengarkan gemerutuk giginya yang diadu. Matanya bisa setajam taji. Siap dilempar untuk melukai orang-orang yang berada di dekatnya. Perempuan itu merasa tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Jam tiga pagi dia sudah bangun. Mengangkat air dari sungai. Memasak untuk perempuan tua nyinyir yang menganggap dirinya adalah kutukan! Menularkan kesialan dan kemiskinan bagi anak satu-satunya, Wayan Payuk. Lalu siapa yang menyuruh lelaki bertubuh hitam, berurat keras, itu meminang dirinya?

“Kata Payuk kau tidak bisu. Kenapa kau tak pernah bicara?” Suatu hari perempuan tua nyinyir itu mendekat. Bagi Sipleg perempuan tua yang mulai berbau tanah kuburan itu berusaha mencuri perhatiannya. Mungkin dia mulai sadar, tak ada manusia lain yang bisa diajak berbicara selain dia dan Payuk. Mungkin Payuk pernah berkata padanya, istrinya tidak bisu. Sejak kawin, Sipleg memang tidak pernah bicara. Usia perkawinan mereka sudah delapan tahun. Bahkan waktu mertua lelakinya mati, tak seorang pelayat pun diajak bicara.

“Kau marah padaku?” tanya perempuan tua itu.

Sipleg semakin jijik. Mendengar suara perempuan itu sering membuat kemarahan pada hidupnya memuncak. Teringat perempuan tua itulah yang membeli dirinya untuk Payuk. Perempuan tua itu sengaja meminjamkan uang pada ibunya. Karena perempuan tua itu tahu, ibunya tidak mungkin memiliki uang untuk membayar utang. Adik-adik Sipleg banyak. Lelaki satu-satunya di rumah hanya bapak, yang hanya bisa menaburkan benih di perut ibu. Enam adik, semua perempuan. Ibunya mirip pabrik bayi dibanding manusia. Kerjanya hanya mengandung, sampai tidak sempat merawat diri. Tubuhnya kurus. Bayi yang dilahirkan selalu prematur. Semua itu karena perempuan tolol itu sangat percaya pada lelaki yang mengawininya.

Kata bapak, perempuan yang tidak bisa melahirkan bayi lelaki, perempuan sial! Hidup tanpa keturunan lelaki, kiamat! Hidup itu sudah mati tanpa lelaki! Dan, si tolol itu percaya. Sipleg tidak bisa menghitung berapa puluh bayi yang dilahirkan mati! Hanya untuk mendapatkan bayi lelaki, perempuan itu membiarkan tubuhnya dititipi daging terus-menerus. Daging yang memakan isi tubuhnya.

Sering Sipleg berpikir, mungkinkah daging-daging yang tumbuh di perut ibunya memakan isi otaknya? Perempuan tolol itu lebih mirip benda mati dibanding benda hidup. Sipleg tak pernah mendengar suara perempuan itu memanggilnya penuh kasih. Padahal Sipleglah anak tertua. Anak yang selalu menyaksikan perempuan itu berteriak ketika mengeluarkan isi perutnya. Perempuan yang dipanggil memeitu seperti makhluk asing yang tidak dikenalnya. Tanpa suara, tanpa mimpi, tanpa keinginan, tanpa kasih sayang, tanpa tujuan. Hidup apa yang sedang dijalani perempuan itu?

Hari-harinya diisi dengan mempersiapkan segala keperluan lelakinya. Lelaki yang selalu pulang larut malam dan mendengkur sampai siang hari, kadang sampai sore. Sipleg memanggil lelaki itubape, bapak. Dia juga makhluk asing, yang tidak pernah memangkunya, memanggilnya dengan kasih. Kalau lelaki itu bicara selalu berteriak, kasar, dan menjijikkan. Dia tidak pernah tahu betapa perempuan-perempuan di rumah ini sudah seperti gundik-gundik yang tidak boleh memiliki keinginan. Ibunya pernah disiram kopi panas, karena dia lupa memberi gula.

Ada keanehan yang sering membuat Sipleg bertanya pada dirinya sendiri: ibunya tidak pernah menangis? Padahal perempuan itu sering dipukul, dimaki, dan diperlakukan sangat tidak manusiawi oleh bape. Dia hanya diam.

Suatu pagi, ketika Sipleg akan berangkat ke ladang, dia mendapati ibunya sedang menggunting rambut di atas ubun-ubunnya. Wajah perempuan itu dilumuri darah yang terus mengalir dari batok kepalanya.

“Meme, Meme kenapa?” Sipleg menggigil. Perempuan itu terdiam. Lalu bergegas berlari ke ladang. Mencabuti serumpun tanaman kunyit. Menggerus kunyit itu dan menempelkannya di ubun-ubun. Tak ada suara. Tak ada tangis, tak ada rintihan. Dua menit kemudian, darah tidak mengalir lagi dari batok kepalanya. Sepulang dari ladang memetik sedikit cabe dan sayuran.

Sipleg membersihkan kamar bape. Sebuah linggis tergeletak di depan pintu. Penuh darah. Bahkan seprei dan baju lelaki itu penuh percikan darah. Lelaki sial itu masih mendengkur. Benar-benar binatang, lelaki yang satu ini. Pelan-pelan Sipleg menyentuh tubuh linggis itu. Terasa dingin dan membuatnya menggigil. Tubuh kecilnya tiba-tiba saja berkeringat. Dielusnya tubuh benda tumpul itu. Begitu kasar dan terasa menggairahkan.

Hyang jagat berapa usia perempuan kecil itu sekarang? Tiga belas? Empat belas? Atau dua belas tahun? Sipleg merasakan ada hawa yang lain mengalir dalam tubuhnya. Sebuah kenikmatan yang aneh. Terlebih ketika linggis itu didekapnya ke dada. Terasa dingin dan nikmat. Seolah linggis itu memiliki jari-jari kokoh dan liat, menyentuh dua bukit kecil yang mulai mengeras di dadanya. Bukit itu jadi terasa lunak dan Sipleg merasakan kenikmatan yang belum pernah dirasakannya. Sebuah pelukan yang dia impikan. Benda penuh darah itu membuat perempuan kecil itu menemukan kenikmatan yang selama ini hanya bisa dibayangkan. Luar biasa rasanya.

Sipleg pun meraba keruncingan tubuh linggis itu. Dia menciumnya. Merapatkannya ke bibirnya yang kecil. Tekanan yang kuat pada linggis itu membuat bibir Sipleg tergores. Sipleg membuka mata dan menjilati darah yang menetes dari bibir atasnya. Sipleg mengangkat tubuh linggis itu pelan-pelan. Matanya yang tajam melucuti tubuh lelaki yang tergeletak dengan damai di atas kasur. Hawa panas menaburi tubuhnya. Tiba-tiba saja Sipleg mengangkat tubuh linggis itu, tangannya yang kecil gemetar. Betapa inginnya dia menancapkan tubuh linggis di dalam dekapannya ke dada lelaki besar itu. Lelaki yang telah melumat tubuhnya. Dia bergerak mendekat….

“Sipleg….” Sebuah suara mematahkan langkahnya.

“Sedang apa kau di sini!” Perempuan itu berkata dingin.

“Bukankah Meme yang menyuruhku membersihkan kamar bape?”

Perempuan kurus itu menatap mata anak perempuannya tajam. Sipleg menunduk. Ada sesuatu yang tidak bisa ditentang dalam tubuh Ni Nyoman Songi, matanya yang selalu ingin mengupas tubuh perempuan lain. Sipleg tidak habis pikir, kenapa dia yang selalu dimusuhi perempuan ini. Kenapa bukan I Wayan Sager, lelaki yang mendengkur tanpa dosa di depan mereka. Sipleg menurunkan linggis dari dadanya, menancapkan tubuh linggis itu di lantai. Penuh kemarahan sampai lantai semen di kamar itu retak. Lelaki setan itu tetap mendengkur. Sipleg merasa telah menancapkan di lubang otak lelaki itu. Songi tetap menancapkan matanya di tubuh anak perempuannya. Sampai perempuan kecil itu keluar dari kamar dengan tetap mendekap linggis di dadanya. Seperti mendekap boneka-boneka mahal yang dijual di toko-toko mainan. Tiba-tiba saja tubuh perempuan ini ambruk, lalu melangkah keluar dari kamar Sager dengan hiasan darah di selangkang kakinya. Dia menyeret tubuhnya mendekati balai-balai di depan kamar Sager.

“Sipleg…,” jeritnya terbata-bata. Sipleg terdiam. Dia sudah hapal harus melakukan apa.

***

Seorang dukun dipanggil dari seberang desa. Perempuan tua dengan bau tubuh aneh. Mulutnya selalu disumbat tembakau. Rambutnya gimbal. Giginya hitam. Kukunya juga hitam. Bau kain yang menyelimuti tubuh perempuan itu anyir dan membuat Sipleg selalu bersin. Bau darah yang mengering. Orang-orang di lingkungan desanya sering berbisik pada Sipleg, “Bawalah meme-mu ke puskesmas. Seorang bidan akan menolongnya.”

“Apa kau tidak takut melihat mata perempuan tua itu?”

“Dari baunya yang aneh sudah membuat bulu kudukku berdiri.”

“Aku tidak percaya padanya. Dulu, ketika meme-ku melahirkan adikku semua mati ditolong perempuan itu. Kata orang-orangmeme-ku melahirkan sebelas anak. Tak ada yang hidup kecuali aku.”

“Perempuan itu sakti. Memakan bayi-bayi untuk menambah kesaktiannya. Umurnya ratusan tahun. Dia tidak mungkin mati. Bayi-bayi yang ditolongnya dipakai untuk menebus usianya.”

“Aku merasa perempuan itu menukar bayi Songi dengan bayi mati. Kau pernah melihat bayi-bayi yang dilahirkan Songi? Tubuh bayi itu biru. Bau busuk menguap dari kulitnya. Seperti bau mayat busuk puluhan hari.”

“Aku juga pernah memandikan mayat bayi Songi. Lehernya seperti habis dicekik.”

“Ada juga yang kepalanya membesar. Tanpa jari-jari tangan. Pernah kulihat dia melahirkan bayi yang sudah ada giginya. Mulutnya menyatu dengan saluran hidung.”

“Bukankah perempuan tua itu hampir buta. Siapa nama perempuan itu?”

“Ni Ketut Grubug.”

“Namanya membuat aku merinding. Terdengar aneh.”

“Sepertinya kedatangannya akan membawa bencana.”

“Nama yang mengancam hidup orang lain.”

“Bukankah artinya bencana?”

“Ya, bencana yang mengerikan.”

“Apakah benar dia membunuh bayi-bayi yang dikeluarkan dari tubuh perempuan-perempuan desa ini?”

Semua perempuan kampung itu terus bicara. Sipleg hanya terdiam. Berpikir, apakah perempuan-perempuan hanya bisa bergosip? Ingin tahu semua urusan orang? Dan, bersorak girang atas bencana yang dialami oleh perempuan lain. Termasuk dirinya. Apakah perempuan-perempuan itu juga punya perhatian serius pada hidupnya? Hidup seorang perempuan kecil. Sipleg menggigit bibir. Aku juga seorang perempuan! Sama dengan mereka!

***

Bocah kecil itu terus berlari menembus gelap, menebas udara dingin. Kaki kecilnya tanpa sandal, sudah hapal membaca arah. Sudah terbiasa ditumbuhi duri dan beling. Sudah terbiasa terluka. Nikmat rasanya bila darah keluar dari kakinya. Sipleg sering membiarkan rasa nyeri menggerogoti kakinya, seolah ikut melemaskan tulang-tulang, juga pikirannya. Rasa nyeri yang aneh. Bila dia berjalan pincang, seluruh tubuhnya seperti berolahraga. Sipleg sangat menikmati. Tetapi perempuan yang tubuhnya sering ditumbuhi daging selalu mendelik. Lalu dengan kasarnya dia akan menyeret tubuh kecil Sipleg ke dapur. Matanya mendelik. Tangannya mencengkeram tubuh Sipleg dengan keras. Biasanya Sipleg pasrah. Kadang ada aliran aneh bila tubuh perempuan itu menyentuh tubuhnya. Sipleg merasa punya teman. Dia pun tidak bergerak ketika tubuh ibunya mendudukkan tubuh kecilnya di dapur. Dia begitu cekatan memarut kunyit, dan menggosokkannya ke kaki kecilnya. Dengan penuh amarah. Sipleg tidak meringis, sekalipun kaki itu sudah membengkak.

Rasanya senang membuat perempuan itu bisa sedikit berpaling dari urusan daging di perutnya. Sipleg senang kalau tubuhnya terluka. Songi akan terus mengawasi kondisinya dengan sorot mata yang sangat tidak ramah. Tubuhnya akan berkeringat bila mengobati bagian-bagian tubuh Sipleg yang berdarah. Tangannya begitu terampil. Napasnya turun naik. Dan, sebutir keringat akan jatuh dari keningnya mengenai kulit Sipleg. Udara yang panas akan menjelma sejuk. Sipleg pun akan terus menatap mata Songi yang selalu tidak ramah. Rasanya ingin sekali membuat persoalan besar yang bisa membuat perempuan yang pernah mengandung tubuhnya itu menjerit. Marah. Atau menangis, atau berteriak-teriak karena Sipleg nakal dan memuakkan. Atau tangannya akan mencubit tubuh kecilnya yang liat. Atau menepuk pantatnya yang tipis. Atau…. Apa ya? Semua itu tidak pernah dilakukan Songi. Sipleg masih berlari, sambil terus menerawang membayangkan hidupnya, tubuhnya, mimpinya, keinginannya….

Pikirannya segera tergulung, perempuan tua yang berdiri di hadapannya sudah berdiri kaku di pintu rumahnya. Tanpa bicara perempuan itu menyuruh Sipleg pergi. Sipleg pun akan berlari kencang. Anehnya dia selalu kalah. Perempuan tua itu pasti sudah ada di ambin ibunya ketika dia masuk ke halaman. Bau ketuaan. Bau darah. Bau usia, bau dauN-daun aneh yang diusapkan di perut ibunya. Mata dukun beranak itu dingin. Tak pernah ada senyum. Mulutnya tak pernah mengeluarkan suara. Perempuan inikah yang mengeluarkan dirinya secara paksa dari perut ibunya? Sipleg menggigil. Setiap perempuan itu datang Sipleg ingin membakarnya hidup-hidup. Perempuan itu selalu menyuruhnya menunggui ibunya yang menjerit-jerit kesakitan. Bahkan Sipleg pernah melihat sepasang bambu dijepitkan di kepala adiknya yang baru lahir. Suatu kali, batang bambu itu menggores kepala adiknya yang tipis. Darah muncrat, matilah adiknya.

Bagaimana perempuan tanpa perasaan seperti itu menolong sepotong kehidupan? Bapak tak pernah menunggui ibu. Kadang dia mabuk dan memaki-maki. Marah dengan teriakan ibu yang melolong keras. Banyak daging yang tumbuh dalam perut ibu mati. Perempuan itu memang tak punya jiwa. Dia masih terus membiarkan tubuhnya ditumbuhi daging. Tak pernah peduli pada anak-anaknya yang lain. Usia adik-adik Sipleg tidak sampai lima tahun, mereka mati satu demi satu. Ibu tetap tidak peduli. Perempuan apa yang telah melahirkan aku? Satu-satunya manusia yang bisa bertahan hidup adalah dirinya. Seorang perempuan! Hanya lelaki yang bisa melanjutkan keturunan. Memuja leluhur. Meneruskan garis keluarga. Makanya, perempuan kumuh dan kurus itu tega menjual Sipleg ke Payuk. Tanpa hati, karena perempuan dekil itu memang tidak punya hati. Tidak punya rasa. Membiarkan adik-adiknya kelaparan, makanya banyak adik Sipleg yang mati. Perempuan itu juga tidak punya air mata. Dia terus mengandung, tanpa pernah merasakan apa-apa. (*)


Denpasar-Bali
Sumber: Jawa Pos, 25 April 2010

Friday, October 12, 2012

Palung Oka Rusmini

Palung
Cerpen Oka Rusmini 


PEREMPUAN itu mengurai rambutnya yang mulai berwarna kelabu. Cermin di depannya membuatnya selalu merasa ingin berpaling. Ya, dia ingin sekali menonton wajahnya. Membaca remah-renah yang membuat warna kerutan di wajahnya makin keras, seperli goresan garis di kanvas. Setiap garis memiliki maknanya sendiri. Semua lekuk dan kerut itu pasti memiliki cerita. Kelamkah? Ia ingin sekali mengenal dengan detail setiap wajahnya. Seperti sebuah lekuk peta. Oh, bukan. Bukan peta, mungkin lebih tepat palung.

Lengkungnya, kekasarannya, juga deburan air yang menampar-nampar, menyakiti setiap sisi dari keratan tubuhnya. Meninggalkan rasa gilu. Rasa sakit yang tidak mungkin bisa diobati. Rasa sakit yang nikmat? Adakah rasa sakit yang nikmat itu? Begitulah air melukai palung itu, seperti melukai seluruh perjalanan hidup. Tapi palung tidak pernah mengeluh, memaki, atau mengumpat dengan beragam sumpah serapah. Seperti dirinya yang selalu mengumpat dan marah. Kemarahannya seringkali menganggu orang-orang yang berada di dekatnya. Kata orang-orang, kemarahannya begitu mengerikan.

Hanya perempuan yang terluka bisa membunuh dirinya sendiri. Hanya perempuan yang terluka bisa memakan hidup-hidup anak yang dikandungnya. Hanya perempuan terluka yang bisa menggorok batang leher anak yang dikandungnya. Hanya perempuan yang terluka bisa meremas daging hidup yang meletus dari rahimnya lalu membuangnya di tong sampah. Semua itu dilakukannya tanpa beban.

Lalu, kemana hatinya? Kemana perasaannya? Kemana rasa keibuannya? Bukankah perempuan itu makhluk yang membuat bumi damai. Penyejuk yang lebih menyejukkan dari beragam penyejuk. Sapuan angin pegunungan juga tidak bisa mengalahkan rasa sejuk yang lahir dari tubuhnya.

Bagaimana kalau dia perempuan yang terluka? Dikhianati. Ditikam dari belakang. Pikiran, hati, jantung, perasaan, juga seluruh perjalanan hidupnya digerus. Salahkah kalau perempuan itu meradang? Mengamuk! Menghancurkan seluruh makhluk hidup juga benda mati yang muncul di depan matanya?

Pernahkah kau menemukan perempuan yang terluka? Dan bertanya padanya, apakah yang diinginkannya? Obat apakah yang bisa menyembuhkan lukanya?

“Tak ada obat yang bisa menyembuhkan perempuan yang terluka hati, jantung, pikirannya?”

“Aku bisa mencarikan balian, dukun.”

“Tak ada balian yang bisa menyembuhkanku.”

“Bagaimana kalau kutawarkan sepiring menu lelaki. Kau bisa memilihnya. Kau patah hati?”

“Ini lebih dari patah hati?”

“Maksudmu? Adakah yang melukai makhluk hidup bernama perempuan selain patah hati?”

“Ada.”

“Apa?”

“Apa yang ada di otakmu ketika hatimu dicabut paksa. Lalu, di depan matamu hatimu diiris-iris. Untuk sebuah pesta cinta di tengah malam. Sejoli burung malam muncul penuh aroma cinta. Kedatangan di tengah malam. Tamu yang tak pernah diundang. Mereka datang diiringi lagu cinta, kata-kata cinta, puisi-puisi mabuk. Mereka datang-pergi tanpa mengetuk pintu. Juga tidak membuka jendela. Tanpa suara, tanpa bau.”

“Burung apakah itu?”

“Burung pengecut!”

“Kau benar-benar perempuan terluka?”

“Adakah yang lebih tepat dari terluka?”

“Kau terluka?”

“Sangat dalam.”

“Kuhidangkan menu lelaki?”

“Masihkah kuperlukan mahluk itu? Tak adakah pilihan yang lain? Menu yang lebih menggairahkan lagi? Mungkin semangkuk salad perempuan?”

“Tak ada menu perempuan. Kau masih menyantap lelaki kan? Kau bisa memakannya satu demi satu. Kau pilih menunya?”

“Aku ingin hatiku kembali.”

“Apakah sejoli burung malam itu telah memakan hatimu?”

“Mereka tidak hanya makan hatiku. Juga makan jantung dan pikiranku.”

“Apakah kau masih hidup?”

“Mungkin tidak. Lukaku lebih dalam dari luka.”

“Sejoli burung malamkah yang membunuhmu?”

“Mereka tidak hanya membunuhku. Adakah yang lebih kelam dari kematian? Adakah yang lebih menyakitkan dari kebohongan?”

“Kau benar-benar luka parah.”

“Lebih parah dari apa yang sedang kau pikirkan. Perempuan yang terluka itu seperti makhluk buas yang siap menelan apa pun. Kau tahu itu? ”

“Tidak.”

“Jangan pernah membuat perempuan terluka.”

“Kenapa tidak kau bunuh sejoli burung malam itu? Di mana bisa kutemukan pasangan itu? Kalau kau tidak bisa membunuhnya, aku akan datang pada mereka.”

“Mereka sejoli yang cerdik…. Datang ketika kau tertidur…. Pulang ketika kau terbangun. Bagaimana kau akan membunuhnya? Senjata apa yang akan kau pakai?”

“Aku akan bersembunyi menunggu kedatangan mereka.”

“Mereka pecinta yang ulung. Yang lelaki begitu sabar menunggu, berjam-jam dia bisa menunggu sampai kau kelelahan. Dia begitu sabar menunggumu sampai kau benar-benar tertidur. Setelah kau tidur, sejoli itu muncul. Mereka datang tanpa pernah mengetuk pintu. Kedatanganya begitu misterius. Mereka punya kode-kode khusus yang hanya mereka pahami. Mereka juga punya panggilan khusus yang lelaki bernama: Mata Air. Yang perempuan bernama: Bintang.”

“Mata Air?”

“Nama yang indah.”

“Ya. Nama yang terlihat suci, ganas, gaduh, tetap dingin. Kadang-kadang juga terlihat terhormat.”

“Bintang?”

“Karena perempuan itu hanya muncul pada malam hari. Tak ada bintang ketika subuh.”

“Kau terluka?”

“Sangat dalam.”

“Tidakkah kau ingin membunuh mereka?”

“Adakah yang lebih ganas dari kata membunuh?”

“Kau kenapa?”

“Terluka sangat dalam.”

***

PEREMPUAN itu benar-benar ingin menjadi palung. Aku tidak pernah paham, kenapa dia selalu ingin menjadi palung. Kadang, ketika duduk berdua, aku sering memandang matanya yang teduh. Mata yang begitu penuh cerita. Mata yang membuatku merasa nyaman berada di sisinya. Menyentuh kulitnya yang keriput. Atau menatap matanya yang bulat. Mata seorang penari. Mata yang memikat. Mata yang membuat semua orang percaya, bahwa dia seorang perempuan Bali. Perempuan yang biasa menari. Perempuan yang menjajakan tubuhnya hanya untuk para dewa.

Aku belum pernah melihat perempuan yang memandangku begitu tulus. Penuh cinta dan gairah. Tatapannya membuatku bergairah. Seperti magnet yang menarikku. Aku selalu ingin menjatuhkan kepalaku di pangkuannya. Atau aku ingin menangis di dadanya. Atau bercerita lirih di telinganya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa perempuan ini ketika muda? Makhluk apakah yang tega mencabik-cabiknya. Merusak seluruh sistem kehidupannya. Merampas hari-hari dan masa depannya.

Lelakikah? Yang merusaknya?

“Aku ingin menjadi palung. Yang tidak pernah sakit hati dan terluka ketika disakiti?”

“Adakah manusia yang kuat disakiti?”

“Makanya aku ingin jadi palung.”

“Kau tidak pernah tahu. Mungkin saja luka palung lebih kuat dari lukamu?”

“Aku ingin cantik dan tegar seperti palung?”

“Sejoli malam itu membuatmu sering meracau.”

“Aku tidak meracau. Kau tahu, sejak sejoli malam itu datang di tengah malam dan pulang menjelang subuh. Aku telah kehilangan lelakiku.”

“Lelakimu?”

“Ya. Kupikir dia telah menjelma jadi makhluk asing ketika aku tertidur.”

“Kau tahu yang dilakukannya?”

“Tidak. Aku tertidur. Tetapi aku merasakan lelaki itu mengiris-iris hatiku. Juga mencangkuli jantungku. Mereka selalu datang malam hari menanak pikiranku, menggoreng hati, dan membuat sop jantung untung pesta cinta mereka. Kurasakan kehadiran sejoli malam itu di mimpiku. Lelakiku sering mengigau sambil memanggil sebuah nama. Lalu mereka bercumbu…. Meninggalkan darah yang tercecer dari: pikiran, jantung dan hatiku. Setiap malam mereka datang.”

“Ketika kau tak ada.”

“Ya. Ketika aku tak ada.”

“Bunuhlah!”

“Jejaknya tak ada. Jejaknya tertinggal di otakku.”

“ Aku tahu sekarang. Kenapa kau sering menjerit-jerit sambil meracau.”

“Aku tidak meracau. Aku membaca mantra?”

“Mantra?”

“Ya. Mantra untuk memanggil hati, jantung, dan pikiranku yang bocor dan teriris. Hati, jantung, pikiranku mulai membusuk. Aku tidak meracau! Aku merapal mantra….”

“Ya. Ya. Jangan mengamuk.”

***

PEREMPUAN itu ingin menjadi palung. Keinginan yang sangat aneh! Aku telah jatuh cinta padanya. Sejak melihatnya pertama kali. Jantungku berdegup. Wajah perempuan itu begitu berkarakter. Pipinya yang licin. Hidungnya yang tegak. Matanya, ya, aku suka matanya. Begitu hidup dan membuatku sangat bergairah. Gairah yang tidak pernah kudapatkan dari perempuan mana pun. Ketika dia bercerita, begitu mempesona. Ceritanya begitu runut. Wajahnya terlihat makin cemerlang. Kupikir: perempuan itu adalah perempuan tercantik yang pernah muncul dalam hidupku.

Aku juga menyukai jari-jarinya yang panjang. Kukunya terawat rapi. Kelihatan sekali kalau dia perempuan yang pajam memanjakan tubuhnya.

Aku kembali menatapnya.

“Apakah aku masih terlihat cantik?” Kali ini untuk pertama kali dia berkata padaku. Padahal sudah hampir sepuluh tahun dia tidak bicara. Dia bicara dan menyatakan keinginannya dengan pensil yang selalu digantungkan di lehernya yang jenjang. Kali ini dia bicara?! Aku bergidik. Girang.

Hyang Jagat, perempuan satu-satunya di dunia yang sangat kukagumi. Kubayangkan dia ketika sepuluh tahun yang lalu. Betapa cantiknya. Betapa menggairahkan. Yang menjadi beban pikiranku, kenapa perempuan itu begitu terobsesi menjadi palung. Palung di tengah laut. Sendiri. Kedinginan. Kesepian. Siapa yang bisa membaca perasaan palung di tengah laut?


“Aku bisa merasakan perasaan menjadi palung di tengah laut.” Suaranya terdengar pelan. Lalu kembali sunyi. Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibirnya yang merekah merah. Dia benar-benar perempuan menggairahkan.

***

“KAU memang sudah gila. Bila jatuh cinta dengan perempuan itu. Aku akui dia cantik. Tapi bisakah kau berpikir, apakah kau tidak takut digiling seperti daging ayam potong di mesin blender? Seperti dia menggiling suaminya? Atau memotong anak-anaknya, karena dia merasa hidup anak-anaknya tidak bahagia?”

“Tapi kau tidak mengenalnya?”

“Kau yang tidak mengenalnya! Melihat matanya, aku seperti melihat mata yang mengerikan. Mata yang akan menelanku hidup-hidup!”


“Matanya, begitu cantik. Mata seorang penari!”

“Dulu!”

“Masih terlihat keindahannya!”

“Hah? Keindahan?”

Tak ada seorang psikiater pun bisa melihat keindahan perempuan itu. Aku tahu dari surat-surat yang dikirimkan padaku. Dia perempuan yang terluka, yang merasa disayat-sayat hidupnya. Ditikam dari belakang. Walaupun lelaki yang mengawininya tidak pernah menggores kulitnya seinci pun. Tapi dia perempuan yang terluka. Yang selalu terjaga di tengah malam, melihat suaminya menjelma jadi sejoli burung malam. Bermesra dan mengumbar kata-kata cinta di rumahnya, sambil memutar lagu-lagu cinta picisan yang dibeli di pasar malam.

Perempuan aneh yang tidak pernah tidur, selalu waspada. Dia akan tidur pukul empat pagi. Dan selalu terjaga dengan sorot mata pucat dan kecewa. Dia perempuan yang benar-benar terluka. Perempuan terluka yang bisa memakan apa saja yang telah mematahkan hati, jantung, pikiran, dan kepercayaannya. Perempuan yang membakar radio yang memutar lagi-lagu cinta. Mengumpat tak jelas. Tapi aku mencintainya. Perempuan tercantik dan jujur dengan luka menganga di seluruh perjalanan hidupnya. (*)

.

Denpasar, 2008-2009-2010

Oka Rusmini, saat ini tinggal di Denpasar, Bali. Ia menulis puisi, novel dan cerita pendek. Bukunya yang telah terbit: Monolog Pohon(1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003),Patiwangi (2003), Warna Kita (2007) , Erdentanz, novel Tarian Bumi edisi bahasa Jerman (2007), Pandora (2008) dan Tempurung(2010).

Sumber: Jawa Pos, 24 April 2011

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook