Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

12 Februari, 2010

Bahaya Facebook?


Tau dong kalo sekarang lagi heboh berita tentang bahayanya Facebook? Ada Nova gadis 14 tahun yang dibawa kabur pacarnya bernama Ari yang dikenalnya lewat Facebook kemudian mengalami perkosaan (atau katanya atas dasar suka sama suka). Ada lagi Abel gadis 14 tahun yang tadi pagi sempat diwawancarai oleh TVOne yang juga nekat pergi dari Surabaya ke Jakarta demi ketemu dengan teman yang dikenalnya di Facebook yang bernama Jeje atau Januar, walaupun tidak sampe diperkosa tapi HP-nya dicuri. Berita lengkapnya bisa dibaca di sini dan di sini.

Lalu, benarkah facebook berbahaya buat kita?

Kalau menurut aku sih, semua tergantung pada pribadi masing-masing. Jangan karena semua terjadi lewat bantuan Facebook lantas semua menyalahkan Facebook. Masa sih Facebook yang disalahkan? 


Begini deh, kalau kita sendiri meniatkan untuk menjaga diri, ga mau macam-macam, ga gampang percaya sama orang apalagi yang baru dikenal di dunia maya, ga mau ngasih info-info pribadi ke mereka, ga mau kenal lebih lanjut sama orang yang ga jelas kita tahu asal usulnya dengan pasti, ga mungkin kan semua kejadian di atas bisa terjadi sama kita? 

Toh Facebook sendiri udah ngebantu kita untuk ngejaga privacy kita masing-masing di facebook. Agar kita bisa mengatur siapa saja orang yang boleh tau informasi mengenai kita, apalagi di facebook juga mengandung informasi paling pribadi termasuk No Handphone. 


Kalo aku pribadi men-setting private semua data aku di facebook, termasuk profile information dan contact information, aku set only friends yang bisa lihat. Sampe aku inget, suatu hari Riesta nanya kenapa dia ga bisa nemuin account facebook-ku. Hehe, aku baru inget, ternyata aku men-setting cuma friends of friends yang bisa add me as friend.


Itu pun masih aku seleksi. Berapa banyak mutual friends-nya. Kalo ga banyak, cuma 1-2 orang sih maaf maaf aja langsung aku reject, pasti ga kenal soalnya. Kalo mutual friendsnya banyak aku masih harus liat profilenya, kenal ga orangnya? Kalo ga kenal, langsung reject lah.
Privacy Setting - Profile Information 
Privacy Setting - Contact Information
Jadi, kalo aku sih ga setuju banget kalo facebook disalahkan atas semua kejahatan yang terjadi melalui media facebook. Asal kita bisa menjaga diri dan ga mudah percaya sama orang baru tak dikenal, Insya Allah, kita aman-aman saja kok.


Gimana menurut teman-teman?




11 Februari, 2010

Belajar Ikhlas


Apa yang kita rasakan bila kita ga bisa memperoleh apa yang kita inginkan dalam hidup?
Kecewa
Marah
Sedih
Menangis
Mungkin ini reaksi yang umum terjadi.

Kemarin, aku mengalaminya. Aku ga dapat pembimbing tesis yang aku mau. Sigh! Ini sudah yang kedua kalinya aku alami.

1. Waktu S1, aku ga dapet pembimbing TA yang aku mau karena waktu tanganku mengambil undian, isinya kertas kosong. Dari 5 orang yang diundi, cuma aku yang ga dapet.
2. Hasil rapat dosen-dosen, lagi-lagi aku ga bisa dibimbing oleh pembimbing tesis yang aku harapkan, yang sejak awal memberi rekomendasi untuk aku S2, ngasih beberapa rekomendasi untuk beasiswa, bahkan aku udah mulai ngerjain tesisku di laboratorium seminggu! Sigh!!

Rasanya bener-bener kecewa. Kenapa sih, lagi-lagi harus aku yang ngalamin ini?

Aku tahu, dalam hidup kita tidak selalu memperoleh apa yang kita inginkan. Itulah pembelajaran buat kita. Proses untuk pendewasaan kita. Apa kita bisa dewasa dan menerima apa yang sudah Allah takdirkan untuk kita. Apakah kita bisa ikhlas menerima apapun takdir dari-Nya? 

Mudah-mudahan aku bisa ikhlas menerima semua ini. Semoga pembimbing tesisku yang baru nanti bisa membimbing dengan baik. Amiiiiin. 

Aku percaya, suatu hari nanti, setaun mendatang, saat aku seminar tesis, atau mungkin sidang kelulusan S2, atau mungkin saat wisuda meraih gelar M.Si, aku akan teringat hari kemarin, aku akan ingat bahwa begitu banyak hikmah dan pelajaran dari kejadian ini. Mungkin pembimbing baru ini, menurut-Nya adalah yang terbaik unutkku. Amiiiiiiin. 

Tolong ikhlaskan aku menerima ini semua ya Allah ^_^

16 November, 2009

Si Rapi dan Si Berantakan




Setuju ga kalo aku bilang cewe itu cenderung jadi si rapi dan cowo cenderung jadi si berantakan? Yaaa, walopun ada juga yah cewe yang berantakan dan cowo yang rapi. Tapi kalo menurut aku sih lebih banyak cewe yang rapi dan cowo berantakan dibanding sebaliknya.

Rapi dan berantakan di sini dari mulai gaya berpakaian, urusan kerapian kamar, buku catetan kuliah dan sebagainya. Liat aja, cewe itu selalu merhatiin banget urusan penampilan, sampe-sampe kalo mau bepergian suka ribet milih baju yang cocok dan bahkan mix and match-in sama aksesoris, sementara cowo, banyak yang penampilannya slenge-an, pake t-shirt gombrang plus jeans belel, atau kemeja yang udah lusuh, atau kadang pake baju tanpa nyetrika dulu (parah :D ), mereka toh cuek aja (walopun sekarang siih banyak cowo metrosex yang rapi jali heuheu). Urusan kamar? Ada yang pernah liat kamar temen cowoknya? Jauh dari kesan rapi menurut aku (kecuali di rumahnya punya pembantu yang siap beresin kapan aja heuheu). Catatan kuliah cowo? Udah mereka jarang nulis, tulisan ga rapi, bukunya lusuh (walaupun ga semua juga siiih), sementara cewe buku kuliah pake notebook/buku catetan yang lucu-lucu, heu, beda banget yaaa.

Itulah makanya, ditakdirkan cewe dan cowo buat saling berpasangan, biar saling ngelengkapin. Suka denger ga sih kalimat "cowo itu butuh ada yang ngurusin". Nanti kan idealnya istri itu yang nyiapin dan milihin baju suaminya saat akan berangkat ke kantor, atau istri mengatur busana berdua buat ke kondangan biar matching, istri yang mengatur rumah biar rapi dan bersih dan lain-lain sebagainya. Contoh kecil yaaa, dulu aa cuek banget soal penampilan. Pas udah ada aku komentar temen-temennya katanya sekarang aa lebih rapi. Yippie, senang hehe.

Itu sih menurut pendapat aku, gimana menurut temen-temen? Kalau kamu sendiri masuk kategori si rapi atau si berantakan? Kalau aku sendiri sih, kadang muncul sisi rapi dan berantakannya, tapi tetep sih seberantakannya aku ga lebih berantakan dari cowo hehe..(bela diri).

10 November, 2009

Kenali dan Asahlah Bakat Kalian



Setiap orang punya bakat. Ada yang punya punya suara bagus dan berbakat jadi penyanyi, ada yang bakat melukis sehingga bisa jadi pelukis terkenal, bakat menulis hingga bisa menerbitkan novel, bakat menari, atau mungkin balet. Ada juga yang berbakat memainkan alat musik tertentu, seperti piano, celo, biola, dan lain-lain. Cuma masalahnya, ada orang yang mengasah bakatnya tersebut, ada juga yang ga terlalu menganggap bakat yang dia punya, atau orang biasa sebut bakat terpendam gara-gara si orang tersebut ga pernah nunjukin bakatnya tersebut ke khalayak.

Atau ada pula yang lebih parah, orang yang ga menyadari apa bakat yang dia punya. Termasuk aku sendiri, sampai sekarang, aku ga pernah tau apa bakat yang aku punyai. Pernah dulu aku les piano, hasilnya nol, aku malah stres dan pusing kalo lagi les. Aku ternyata ga berbakat. Aku pusing dengan not-not balok yang njelimet. Dan lebih parah aku buta nada hehe.

Bakat melukis? Hmm, jangan tanya. Dulu waktu sekolah aku selalu minta tolong mamaku kalo disuruh gambar. Ampuuun deh kalo disuruh beginian, kalo cuma disuruh gambar pemandanagan sih ok-ok aja ya, tapi kalo udah disuruh gambar manusia. Duuuh, nyerah deh. Makanya aku paling benci acara gambar menggambar kalo psikotes. Nyerah deh.

Apa jangan-jangan aku bakat nulis? Hehe, ga mungkin juga sih. Soalnya aku sering mentok kalo lagi bikin karangan. Sering sih banyak ide-ide muncul buat bikin cerita pendek atau tulisan lain, tapi pas mulai nulis, sering banget hinggap rasa males dan idenya buntu. Dulu pernah belajar bikin beberapa cerpen. Hasilnya? Ga ada yang selesai hehe.

Atau aku punya bakat nari yaa? Soalnya dulu sih waktu kecil aku belajar tari-tari daerah, dan biasa tampil kalo acara kenaikan kelas atau pun acara-acara besar nasional. Tapi ini juga ga bisa dibilang bakat, soalnya aku ga mendalami, dan sepertinya gerakan tari-ku biasa aja, ga mulus lemah gemulai layaknya penari profesional.

Kenapa sih tiba-tiba jadi pengen cerita masalah bakat? Soalnya tadi pas kuliah ada cerita menarik dari dosen aku. Ga tau yaa kalo mungkin temen-temen udah pernah denger cerita ini. Ceritanya tentang anak elang diantara keluarga ayam. Begini ceritanya:

Ada induk ayam yang baru bertelur. Suatu hari dia menemukan telur lain yang ternyata telur elang. Dia erami semua telur sampai semua menetas. Si anak elang ini, karena setiap hari tinggal bersama keluarga ayam, dia mengikuti semua gaya hidup ayam. Suatu hari dia melihat ada elang dewasa terbang dengan gagahnya. Dia bertanya pada induk ayam

anak elang: itu apa yaa bu?
induk ayam: ooh, itu elang nak. Raja dari segala jenis burung.
anak ayam: keren yaa bu, kalo kita bisa terbang kaya gitu.
induk ayam: jangan mimpi nak, kita cuma ayam, ga mungkin bisa terbang seperti itu.

Jadilah si anak elang ini sampe dewasa pun ga pernah bisa terbang. Dia hanya mengikuti gaya hidup ayam sampe dewasa dan ga pernah mengasah kemampuannya yang sebenernya bisa terbang.


Moral cerita ini yaitu, apapun bakat yang kita punya, kita harus mengasahnya. Karena kalo ga diasah, bakat yang kita punya, yang udah dianugerahkan oleh Allah SWT pada masing-masing orang bisa lenyap begitu saja. Padahal mungkin bakat yang kita punya bisa bermanfaat bahkan bisa 'menghasilkan'.

Aku pribadi ngerasa tertampar denger cerita ini tadi. Hmm, mungkin gara-gara aku ga pernah mengasah bakat yang aku punya dari kecil, ya sampe sekarang aku ga tau bakat apa yang aku punya. Mungkin harus mulai dipikirin nih, aku punya bakat apa sebenernya, walopun mungkin terlambat, daripada tidak sama sekali kan? Mudah-mudahan, temen2 blogger tau bakat masing-masing, dan ga ada yang seperti aku hehe.

Gambar diambil di sini

31 Mei, 2009

Pengertian Dewasa


Apa sih dewasa itu? dari sudut pandang mana seseorang bisa dianggap dewasa? dari usia? dari tingkat pendidikan?

Hmm, mungkin banyak pendapat ya tentang dari hal apa kita bisa menilai seseorang dewasa. Dan penilaian kita pada satu orang belum tentu juga loh berlaku pada orang lain.

Ada yang bilang kalo kedewasaan bisa diukur dari usia seseorang. Bahwa kalo semakin tua usia seseorang berarti dia jelas lebih dewasa dibanding orang yang usianya lebih muda. Ini ga selalu berlaku loh. Mungkin kalo ukurannya anak dan orang tua, jelas pasti orang tua lebih dewasa. Tapi terkadang dalam hal tertentu, orang yang jauh lebih muda bisa punya kedewasaan lebih besar.

Contohnya nih, sering banget kejadian antara pria dan wanita. Sering banget kejadian ada pasangan yang wanita berumur lebih tua dari prianya. Sang wanita lantas mengungkapkan alasan kenapa memilih pria lebih muda tersebut salah satunya karena: "walaupun lebih muda, tapi pemikiran dia dewasa loh." Hal ini misalnya terjadi pada Yuni Shara yang katanya digosipin sama Raffi Ahmad (halah ngegosip deh).

Ada yang bilang kalo dewasa dinilai dari tingkat pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin dewasa-lah dia. Semakin panjang gelar namanya, semakin dewasa dia.


Siapa bilang? Ini aku alamin sendiri loh anomali teori ini. Ada temen kenalan aku lulusan S2 UGM yang orangnya temperamen banget. Karena hal kecil aja bisa ngambek, marah2, kalo keinginannya ga diturutin marah2 huaa ga dewasa banget kan? Kaya kelakuan anak kecil ga dikasih permen kesukaan. Salah satu yang aku inget ketidakdewasaan dia, gara-gara aku telat bales sms dia, dia sampe bilang gini:
"OK, mulai sekarang kita ga usah temenan lagi, lagian kamu tuh cuma lulusan S1, ga level sama aku lulusan S2"
Helooo, masa milih-milih temen harus diliat tingkat pendidikannya sih. Ga dewasa banget kan orang ini?

Yang lebih bisa diterima, mungkin dewasa bisa dilihat dari tingkat emosional seseorang. Orang yang dewasa, cenderung tidak emosional, tidak meluap-luap. Karena orang yang dewasa selalu berpikir panjang sebelum bertindak melakukan sesuatu. Sementara orang yang emosional seallu berpikir pendek, mengikuti kata hati dan emosi seketika dalam melakukan hal-hal yang bahkan mungkin diluar logika. Ini nih yang jelas sekali dinamakan GA DEWASA.

Yah, emang ga ada ukuran pasti gimana menilai seseorang dewasa. Yang jelas mungkin, pada dasarnya seseorang dengan semakin berjalannya waktu akan berkembang menjadi lebih dewasa. Namun ini tergantung dari bagaimana orang tersebut bisa mengambil pelajaran/hikmah dari kejadian di masa lalu.

Karena orang yang dewasa adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari kejadian masa lalu dan memperbaiki kesalahan yang diperbuat di masa lampau.

11 Mei, 2009

Alay = Ga Punya Kepribadian


Aku pernah dikasi tau nih sama dosen Biokimia pas lagi kuliah sekitar 3 taunan lalu.. Kalo orang yg kalo ngetik ga jelas, alias kalo bahasa sekarang sering disebut ALAY, alias pake kombinasi angka huruf, kombinasi huruf gede kecil, ngerubah2 bahasa jadi aneh.. adalah ORANG YG GA PUNYA KEPRIBADIAN.. Gini nih contohnya:
H3iy, kAmyU p4 kH46aR? aKyu cHu3nen9 bUan9eth dWeeh b1ccA k3n4L c4mA k4myuH..k4P4n2 qu1t4 j4lan2 yUkkzzz...
Ih, males banget kan bacanya? Emang sih sekarang kebanyakan yg alay gitu anak2 SMP, SMA.. yg ceritanya masi mencari jati diri.. niatnya mau keren kali ya.. tapi malah nyusahin.. adik aku yg masih SMA kelas 1 jg gitu tuh.. bikin pusing kalo baca sms dari dia.. Sekarang parahnya lagi Facebook makin menjamur.. kalo dulu orang-orang alay tuh adanya di Friendster jadi deh alaynya merambah Facebook.. sebaaaaalll... ayo semua.. SAY NO TO ALAY...
 

Just About Me Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei; Image header by Desi Eria R.