Showing posts with label Books and Me. Show all posts
Showing posts with label Books and Me. Show all posts

Tuesday, May 14, 2013

Demi Buku Seharga Rp 69.900


Hontou ni, saya pecinta buku gratisan. Dan betapa bahagianya saya karena di toko buku Leksika Kalibata City saya bisa berkesempatan mendapatkan buku gratis *syarat dan ketentuan berlaku* :D

Secara singkat saya jelaskan bahwa Leksika KC setiap hari membagikan buku gratis dengan judul tertentu sebanyak kurang lebih 30 buku. Pembagian buku tersebut dilakukan dalam dua tahap, pk. 13.00 dan pk. 19.00. Nah, di antara dua waktu tersebut, sesi malamlah yang paling mendebarkan. Jika buku gratisnya bagus, best seller, atau harganya mahal, freebook hunter-nya juga makin banyak :P. Jangan harap deh bisa mendapatkan buku gratis kalau kalian baru dateng ke tobuk itu pk. 18.30 wib.

Tapi, do you know, kapan Perang Diponegoro berlangsung? *apa hubungannyaaa?? XD

Kalo dalam edisi lucu-lucuannya sih Perang Diponegoro berlangsung ketika waktu maghrib. Heheh... Tapi kalau pertanyaannya diajukan sekarang, jawabannya bisa nggak tepat. Karena jam 6 sorepun adzan maghrib udah selesai berkumandang *ini kenapa masih juga bahas Diponegoro? #gagalfokus ^^v

Udah ketemu benang emasnya belum?

Begini. Yang paing mendebarkan buat saya jika harus mengantri buku gratis di sesi malam adalah soal waktunya yang berdekatan dengan waktu maghrib. Kalau misalnya selesai menunaikan shalat maghrib pk. 18.30, maka kemungkinan besar ketika tiba di Leksika, jatah buku gratis sudah habis --kecuali bukunya emang kurang bagus jadi mau dateng jam tujuhpun masih masuk antrian 3 besar-- Ini belum termasuk dilema kalo ternyata kajian sebelum isya'-nya menyajikan tema yang bagus --emang bagus2 terus sih, huhu, jadi seringnya malah gagal ngantri freebook.

Dan judul note ini sebenarnya berkaitan dengan cerita yang baru akan saya jelaskan setelah prolog yang entah kenapa jadi sedemikian panjang ^^a

Hari ini saya aslinya memang ada rencana ke Kalibata City untuk suatu keperluan. Lalu ketika mengecek timeline@leksika_kc *yang udah di-bookmark #naiatbangetkan :P*, saya memutuskan untuk ambil "jatah" buku di Leksika KC pada sesi malam ini. Tiba di Kalibata City pk. 17.30, saya lantas dudukduduk dulu di depan gerai Hop Hop Bubble. Ke Leksika nanti saja, jam enam lewat biar nggak dikira pengen banget sama buku gratisan XD. Tepat pk 18.00 ketika saya memasuki areal toko buku kecil itu, saya dikejutkan oleh antrian freebook hunter yang mengular.

Masih satu jam lagi dan saya sudah ada di urutan ke-13, sodara-sodara!!

Segera saja saya whatsapp-an dengan seorang kawan yang kemungkinan mau mengambil "jatah" juga. Sambil menunggu jarum panjang di angka tujuh, saya mengobrollah dengan kawan saya itu. Saya awalnya menceritakan keheranan saya, "Ini 2 cowok di depan gw sholatnya gimana yak?"

"Itulah. Kayaknya sampai bikin orang nggak sholat deh!" balas kawan saya.

Waduh, ngeri banget! Di antara 15 pengantri, laki-lakinya hanya 2 orang. Oke, kalau yang perempuan, saya menganggap mereka semua endometriumnya sedang meluruh, seperti saya :P. Nah, buat yang laki-laki, saya akhirnya milih untuk husnudzon kalau mereka itu mungkin nonmuslim. Yaa amannya begitu aja dah! :D

Tapi kemudian pk. 18.20, ada seorang perempuan yag berdiri dan "izin" sholat ke bapak penjaga antrian. Si Bapak bilang dia nggak boleh kemana2. Peraturannya kalau sudah antri maka nggak boleh meninggalkan antrian, kecuali merelakan antriannya untuk diisi yang lain. Bingunglah si perempuan. Saya yang menyaksikan hal itu juga ikutan panik. Bagaimanakah akhir kisahnya? #halah

Si perempuan kemudian mencoba nego. Bapak penjaga aslinya nggak bermaksud melarang2 orang sholat. Itu tentu hak Si Mba. Bapak Penjaga cuma kasih tahu konsekuensi yang akan ia dapat kalau Si Mba memutuskan untuk pergi. Si Mba pun galau lagi.

Ya Allah.... saya khawatir banget kalau Si Mba lebih milih memperjuangkan buku seharga Rp 69.000 ini dibandingkan menunaikan kewajibannya T-T

Untungnya seorang anak kecil yang sedang bacabaca di kids corner mau diperbantukan untuk menjaga "tempat duduk" Si Mba sementara ia pergi sholat. Alhamdulillah....

.
.
.

Dan di detikdetik sebelum pukul tujuh malam, seorang wanita berjilbab beserta anaknya menghampiri lelaki di depan saya. "Sampai jam berapa sih, Pah?" tanyanya.

Loh? Dia istrinya? Jadi suaminya muslim juga dong? Jadi? Jadi?

Sembari berjalan ke kasir, saya memperhatikan pasutri itu. Kenapa sang istri nggak menggantikan posisi suaminya agar pasangannya tersebut bisa sholat dulu? Yah, mesti hal ini sebenarnya melanggar aturan juga, tapi kan lebih baik sholat toh? Eh, nggak ding, harusnya istrinya aja yang antri karena kalo diperhatikan istrinya pun nggak sholat juga pas waktu maghrib itu.

Bukankah baik istri atau suami harus saling menasehati untuk meraih ketakwaan?
Atau jangan-jangan suaminya memang nonmuslim?
Lah, piye toh? ini jelasjelas lebih nggak diperbolehkan lagi!! X_X

.
.
.

di balik 3 jendela,
14 Mei '13 pk. 23.25 wib
moga ada pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini :)

Thursday, April 18, 2013

Saat Hujan Turun

Kemarin malam hujan turun dengan derasnya. Dan saya lupa kalau ruang tengah rumah saya bocor. Sebenarnya udah sempat diperbaiki, tapi entah kenapa bocor lagi (-.-  )". Saat hujan turun itu, rumah dalam keadaan kosong. Nggak ada yang menampung air yang pelan-pelan jatuh dari langit-langit ruang tengah.

Setibanya di rumah, saya dikejutkan oleh air yang menggenang bahkan ada pula yang mengalir sampai kamar. Hal ini karena hujan yang benar-benar deras atau kebocoran yang makin melebar yaa? Entahlah. Yang pasti ini gawat banget! Pasalnya rak buku di dekat pintu jadi korbannya.

Rak buku saya nggak pake kaki jadi bagian dasarnya benar-benar menempel ke lantai. Genangan air itu sukses membuat bagian dasar rak basah. Saya khawatir sekali kalau raknya nanti jadi rapuh. Lebih khawatir lagi dengan nasib buku-buku yang tersusun di rak paling bawah itu. Syukurlah hanya beberapa buku yang ujung halamannya basah. Buku-bukupun segera saya keluarkan dari rak sedangkan raknya saya balik agar bagian dasarnya bisa saya keringkan.


Ini mungkin hanya soal buku.
Tapi -entah sejak kapan- saya merasa buku itu sangat berharga hingga harus saya jaga dengan baik.


Beberapa waktu silam saya pernah mendengar berita seorang blogger yang rumahnya kebakaran. Buku-bukunya tak terselamatkan. Tragis. Saya nggak kebayang -eh, udah kebayang sih- gimana kalau nanti saya ada di posisi itu. Buku-buku di rumah saya mungkin memang nggak banyak, tapi saya tentu akan sedih sekali jika bencana itu menimpa saya.

Kita memang nggak pernah tau sih apa yang akan terjadi. Rumah saya sendiri sebenarnya terletak lebih tinggi dibanding rumah tetangga yang lain. Kondisi itu bikin saya merasa jauh dari ancaman banjir. Nyatanya, air tetap bisa masuk ke rumah, lewat jalur atap yang bocor. Maka, bagaimanapun, yang harus disadari kembali adalah buku adalah titipan juga. Suatu waktu bisa hilang, rusak, atau nggak balik lagi setelah dipinjam teman #eh ^^a.

Published with Blogger-droid v2.0.10

Wednesday, November 28, 2012

Kejutan di Kamis Yang Manis

Siang tadi saya mendapat SMS dari nomor tak dikenal. Dari isi pesannya, si pengirim pesan ternyata adalah kurir Mizan yang kebingungan mencari gang rumah saya. Setelah membalas pesan tersebut, saya merenung sejenak #halah. Mizan mau kirimin saya buku? Hmm, ya, kayaknya sih gitu. Gak mungkin kan surat kontrak penerbitan buku saya? Lah, kirim naskah aja belum. Xixi..

Saya kemudian menduga-duga -baiklah, bahasanya mulai lebay-. Jangan-jangan ada teman saya di luar pulau yang belanja via mizandotcom tapi mencantumkan alamat pengirimannya ke rumah saya. Beberapa teman yang mengharap ongkir murah memang biasa menggunakan strategi ini. Tapi dugaan itu langsung patah karena nggak ada satupun teman saya yang konfirmasi kalo belanja di sana.

Lalu karena apa? Menang lomba? Aih, kayaknya saya gak menang kuis aku dan mizan ataupun buser. Jangan-jangan karena saya ngebelain Mizan waktu beberapa orang di Grup Sahabat Qanita komplain karena paketnya gak sampe-sampe. Haha.. ini lebih ngaco! Etapi saya memang hampir gak pernah bermasalah dengan pengiriman buku sih. Biasanya gak sampe seminggu, buku udah tiba di rumah. Pernah sih telat sekali, tapi karena sempat ada miskom di bagian apanya-entahlah-lupa.^^v

Dan sebelum saya sempat berpikir tentang kemungkinan lainnya, Sang Kurir udah tiba di depan rumah. Haha..

"Ini paketnya dari Bandung, Mba," kata Mas Kurir.
"Apa yaa isinya? Kayaknya saya nggak mesan buku apa-apa," ceracau saya. Entah Si Mas Kurir ngedengerin atau nggak. Kayaknya masih asyik dengan catatan laporan pengirimannya.

Dan akhirnya paket buku bersampul putih itupun pindah ke tangan saya. Langsung aja deh intip isinya. Saya pikir awalnya ada beberapa buku, mengingat tebal paketnya sekitar 3 cm. Tapi ternyata hanya ada satu buku. Dan itu adalah buku The Casual Vacancy-nya Tante JK Rowling. Wuiiiiih... Alhamdulillah yah ^^


Sebelumnya udah pernah nyimak woro-woro Mizan tentang buku ini. Di beberapa toko buku juga saya lihat banyak yang pajang buku ini di dekat kasir atau di banner depan tobuknya. Tapi kalo ngeliat harganya, ehm,, jujur saja, buat saya sih kemahalan ^^a. Tapi mungkin sepadan kali yah, soalnya buku ini dikemas dengan sangat eksklusif: hard cover dengan kertas yang ringaaaan banget. Jadi pasti gak ngeberatin deh kalo mau dibawa kemana2.

Oya, melalui surat pengantar dari Penerbit Mizan, akhirnya terungkap bahwa buku ini merupakan hadiah untuk peresensi buku Mizan. Hmm, buku yang mana yaa? #pikun lagi ^^a. Saya emang sempat meresensi buku Mizan dan emang belum dapet buku seperti biasanya sih #eh. Tapi memang gak terpikir untuk dapet hadiah saat itu. Jadi kalo sekarangtiba-tiba dikejutkan oleh dikirimkannya buku sebagai hadiah karena saya pernah ngeresennsi buku Mizan, wah, rasanya jelas seneng banget!

Terima kasih, Mizan.

***
kamar imaji,
29 November 2012 pk. 14.44 wib

NB:
Di grup nulis saya, lagi ada lelang barang bekas berkualitas maupun baru, yang dananya buat sodara2 kita di Palestina. Ini menarik. Teman-teman yang belum menyisihkan uangnya bisa juga loh melakukan kegiatan semacam ini. Pasti di rumah ada barang2 bagus yang gak terpakai atau ingin disumbangkan kan? Entah itu buku, pakaian, peralatan rumah tangga, apapun.

Caranya gampang. Upload barang yang ingin dilelang, tuliskan spesifikasi barang dan kondisinya, buat aturan lelang (start bid dan kelipatannya), dan setelah deal, uang yang terkumpul bisa disumbangkan melalui KNRP, ACT, atau rekening amal lainnya.

Selamat beramal kebaikan! ^^b

Friday, October 19, 2012

Episode Menyampul Buku

Dulu, bisa dibilang saya paling cuek terhadap buku. Mau kavernya lecek, ketumpahan makanan, ujung kertasnya menggulung, no problemo. Eits, tapi ini berlaku buat buku sendiri yah. Kalo buku orang lain, dijamin saya bakal memeliharanya dengan baik. #cumisejati B-)

Tapi seiring rasa cinta saya yang mulai bersemi terhadap buku dan kegiatan membaca, saya mulai merasakan keasyikan sendiri terhadap hal-hal yang berkaitan dengan buku, salah satunya kegiatan menyampul buku dengan plastik mika. Entah setiap berapa bulan sekali saya membeli segulung plastik mika, tapi rasanya tak tentu, tergantung pemakaian -terutama ktersediaan buku baru yang akan disampul XD.

17 buku dan sisa plastik mika

Pekan lalu, saya membeli segulung plastik mika. Setelah diperiksa, ternyata banyak buku yang belum disampul. Dan segulung plastik mika seharga Rp 6.500 itupun akhirnya hanya dapat digunakan untuk menyampul 17 buku dengan ukuran dan ketebalan yang beraneka. Dan sepertinya saya harus membeli beberapa gulung lagi mengingat masih ada buku yang belum disampul. Apalagi bulan ini saya lumayan kebanjiran buku dari hasil giveaways dan lomba resensi. Alhamdulillah yah :D

hadiah lomba resensi ping ^^

Saturday, October 6, 2012

Di Balik Testimoni Sang Pemetik Cahaya

Assalamu'alaikum. Hai Ai, gmn kabarnya? Aku sekarang lagi di Jakarta. Di kemayoran. #sekilas info# ;))
Ohya, Ai maukah engkau memberikan testimoni untuk bukuku yg mrp kumpulan tulisan2 di FB? Buku ini utk sovenir walimah :)

Itulah pesan pembuka tentang tawaran seorang kawan mayaku yang beberapa bulan lalu telah melangsungkan akad nikahnya. Testimoni? Oh, aku sangat menyukainya! ^^

Bukankah menjadi orang yang pertama kali membaca naskah seseorang sebelum bukunya diterbitkan itu menyenangkan? Okelah, tambahannya, nama kita nanti akan terpampang di kaver buku sang penulis. Kita juga bisa membubuhkan embel-embel di belakang nama kita sekehendak kita --dan aku selalu menyukai bagian ini, saat promosi terselubung bukuku dapat terlaksana, hahaha--

Sang Pemetik Cahaya hanya memberiku waktu kurang dari dua hari untuk membuat testimoni. Wews... Sejujurnya, itu terlalu cepat! Terlebih aku membutuhkan suasana yang nyaman, jauh dari keramaian lingkungan, juga kegalauan hati #eaaa. Dan akhirnya aku memang telat mengirimkan testimoniku, hiks.. Maaf MasChif -_-v

SPC dan kertas kado pembungkusnya yang unyu-unyu :D

Satu pekan setelah walimatul 'urs-nya dilangsungkan, kiriman paket itu datang. Sebuah buku dengan ucapan terima kasih dari kedua mempelai tertera di kaver depannya. Yang membuatku terharu, testimoniku ternyata diletakkan di kaver depan buku Sang Pemetik Cahaya --lengkap dengan embel-embelnya, haha--

Mau tau testimoni apa yang kuberikan untuk buku tersebut? Here it is:

"Benarlah bahwa selalu ada cahaya yang bisa dipetik dalam keseharian hidup kita. Setidaknya, itulah yang dilakukan sang penulis. Lewat untaian kata yang puitis, ia membagi cahaya itu pada siapa saja yang membaca buku ini."
Sari Yulianti, Penulis buku Surga di Telapak Kaki Ayah

Aseli, bahasa yang digunakan dalam tulisan Chifrul el Hamasah aka MasChif memang cenderung puitis. Padahal ini bukan puisi loh! Hanya kumpulan kisah-kisah inspiratif yang dialami penulis dalam kesehariannya. Tapi jadinya malah membawa nuansan melankoli, tapi tidak melemahkan. Nah, bingung, kan? Sama. #eh ^^a

Bukunya tipis saja. Hanya 95 halaman --tapi toh masih lebih tebal dibanding bukuku, wekeke-- Rsaanya bisa dibaca sekali duduk. Asyik juga dijadikan teman dalam penantian #apasih --yaa maksudnya kalo lagi nunggu enaknya kan emang baca buku ^o^

Oya, kritikan untuk buku ini --mungkin cenderung teknis, tapi agak nyebelin, hehe--
Ada banyak spasi yang kurang di awal kalimat (setelah tanda titik). Agak terganggu ngeliatnya. Bawaannya pengen tak edit aja. haha.. 

Baiklah, sekian.


di sisi awan, aku menunggui hujan.
sebab, di sinilah pelangi akan jatuh di sekujur badan
di sisi awan, aku-kamu menunggui hujan.
sebab, di sini dada akan menjadi lapang

Pun, seandainya duka mendera, maka tak akan ada yang tahu bahwa dalam gerimis,
ada airmata kita yang tertumpah.

(Sang Pemetik Cahaya, hal. 17)

Saturday, September 8, 2012

Mas Ata Membaca

Namanya Mohamad Hata. Bukan wakil presiden pertama di Republik Indonesia, tapi dia seorang staff di tempat saya mengajar. Yang menarik darinya adalah kegemaran Mas Ata -begitu saya memanggilnya- dalam membaca. Saya seringkali menemukannya tengah asyik masyuk dengan buku yang dibacanya.

Hampir sebulan saya tak menemukan “korban” untuk Reading Everywhere Project. Maka, saat melihat Mas Ata yang tampak begitu serius membaca buku, segera saya ambil ponsel dan mengabadikan momen itu.

reading makes him looks like a boss ^^
 Esoknya, saat kembali menemukan Mas Ata yang sedang membaca, saya meledeknya, “Ciee Mas Ata, kayaknya pengen difoto lagi trus di-upload di Facebook nih?”

“Nggak kok, sebelum Mba dateng, saya juga udah baca buku,” balasnya polos. Saya dan beberapa tutor lain hanya bisa tertawa dibuatnya.

Selepas mengajar, saya istirahat sejenak di ruang tutor dan menemukan Mas Ata yang masih setia dengan bukunya. Ia bukannya tak ada kerjaan. Tugasnya adalah menyiapkan kelas dan snack untuk tutor. Urusan fotocopy bahan mengajar juga Mas Ata yang melakukannya. Di sela-sela waktu kosong itulah ia banyak menghabiskan waktunya untuk membaca.

“Mba, otodidak itu apa?” tanya Mas Ata saat saya tengah memeriksa pesan yang masuk ke ponsel.

“Eh?” Saya yang ditembaki pertanyaan dengan tiba-tiba begitu jadi merasa agak terkejut, “otodidak itu belajar sendiri,” jawab saya sekenanya. Tapi kemudian saya menambahkan dengan contoh.

“Mas Ata lulusan SMK kan yaa? Jurusan apa?”
“Iya. Akuntansi.”
“Nah, kan kemampuan Mas Ata di bidang itu, tapi Mas Ata pengen bisa menjahit, misalnya, maka Mas Ata akan belajar sendiri, otodidak. Bisa dengan melihat orang lain yang menjahit, atau mencari infonya dari buku atau yang lain.”

Saya berusaha menjelaskan dengan bahasa sederhana. Dan untungnya Mas Ata paham. Tapi selanjutnya saya dihujani kosakata lain: imperialisme, implementasi. Semua kata-kata itu berasal dari buku Ranah 3 Warna yang belakangan sedang dibacanya. Hwee.. Saya bisa mengerti maksud kata itu tapi sejujurnya saya agak kesulitan untuk menjabarkannya. *untung di ponsel ada KBBI luring, hehe*

Melihat semangat membaca Mas Ata, terlebih berkaca pada intensitas membaca saya yang akhir-akhir ini sangat menurun, membuat saya terlecut untuk kembali menyemangati diri. Bahwa membaca adalah jendela ilmu. Dengan membaca, saya akan mendapatkan pemahaman yang baru.

Saturday, August 11, 2012

Dear, Bu Ros





Dear Bu Ros,
terima kasih sudah mau membaca buku saya

Perpustakaan Biologi
21 Juni 2012

Samudra Buku

Saat pertama kali memasuki area istora senayan tempat berlangsungnya Pesta Buku Jakarta ini, aku sudah begitu tertarik dengan stan buku yang satu ini. Pasalnya, ratusan komik berjejer rapi di salah satu raknya. Tapi aku urungkan niat untuk mampir mengingat tujuan utamaku saat itu mengejar acara di panggung utama dulu.

Menjelang isya, aku baru mampir ke stan buku ini. Mengintip deretan judul komik serial cantik, nama2 pengarang yang tak asing lagi, sambil mengingat masa-masa remaja yang indah dulu #hahay. Dan, ketemu! Segera saja kuambil buku berjudul Senior karangan Chie Ito itu. Ya, faktor sang pengaranglah yang menarik minatku untuk membeli komik itu. Aku gak punya koleksi komik, tapi bisa dibilang, di rumah yang paling banyak itu komik2 karangannya Chie Ito ini.

Aku lalu berjalan ke rak-rak yang berjajar di sebelahnya. Ada majalah dan buku2 bekas yang memanggil2 untuk diintip juga. Dan setelah sepuluh menit melihat-lihat, lalu bersitatap dengan bapak penjual stan, akhirnya aku ingat bahwa stan ini adalah stan favoritku di PBJ tahun lalu. Saat memutuskan untuk ke PBJ, aku memang meniatkan mencari stan buku ini. Tahun lalu aku mendapat beberapa buku ensiklopedia yang murah meriah dan satu buku tentang Aquascape dengan harga miring pula.

Senang sekali melihat stan ini sekarang berdiri cukup strategis. Dulu, stan ini terletak cukup terpencil. Aku menduga tak banyak yang menyadari stan ini kecuali memang mengitari satu demi satu stan yang ada di PBJ. Tapi aku bisa memastikan, jika ada kesempatan kembali ke PBJ, siapa saja pasti akan menyempatkan diri untuk mampir lagi ke stan ini. Setidaknya, itulah yang kurasakan.

Aku lupa apa nama stan ini di tahun lalu. Yang jelas, nama stan ini sekarang telah berganti menjadi "Samudra Buku". Keren juga.


Butuh kesabaran untuk mengamati satu demi satu judul buku di stan ini. Jika beruntung, kita akan menemukan "harta karun" di antara kumpulan buku-buku bekas ini. Kemarin aku melihat seseorang mendapat buku Filosofi Kopi dengan harga Rp 10.000. Wah!

Oya, jangan harap setiap buku sudah diberi label harga. Kita harus menghadap bapak penjaga stan yang menjadi kasir untuk mengetahui harga buku yang kita inginkan. Kita juga bisa melakukan tawar menawar jika merasa harganya kurang cocok. Beberapa buku mungkin kondisinya sudah kurang bagus, ini bisa jadi poin untuk mengurangi nilai jual.

Aku hampir tak menemukan satupun buku yang klik di hati hingga kemudia kutemukan tumpukan ensiklopedi di dekat sang kasir. Hwaaa... mupeng! Maka, perburuanpun dimulai. Aku rela mengubek-ubek ensiklopedia yang ada, mencari judul yang cocok, juga kondisi buku yang lebih baik. Dan dapat!

Setiap ensiklopedi memiliki harga yang berbeda, tergantung penerbitnya. Ada ensiklopedi yang kubeli seharga Rp 20.000/buah. Ada juga yang harganya Rp 10.000 dan Rp 25.000. Apakah terlalu mahal? Bagiku tidak. Meski sempat melakukan penawaran untuk menurunkan harganya, tapi sejak awal aku sudah sepakat dengan harga itu. Kok kayaknya aku tega banget yaa menghargai buku sebagus itu dengan harga miring? Lagipula, bapak itu meyakinkan aku kalau biasanya ia menjual dengan harga Rp 45.000 *setelah kucek di internet, rata2 tobuk online juga menjual buku bekas itu seharga Rp 65.000.


Rasanya ingin membeli semua ensiklopedi yang ada. Tapi aku sadar diri, nggak punya budget untuk beli ensiklopedi itu. Beli 4 ensiklopedi juga udah jauh banget dari rencana. Bisa dibilang aku menyebut kegiatan belanja buku kali ini sebagai keinginan, bukan kebutuhan. Berhubung buku yang kucari nggak ketemu, akhirnya malah kepincut dengan buku2 di stan ini. Maka, aku hanya bisa kasih tampang mupeng ke seorang bapak yang membeli 2 paket ensiklopedi sekaligus (1 paket isinya 18 judul, hwaaaa...)

note: asyiknya belanja buku di hari pertama bukfer adalah masih banyak buku2 yang bisa dipilih. Hari terakhir mungkin menjanjikan diskon besar, tapi belum tentu semua koleksi bukunya lengkap.

Oya, ternyata Samudra Buku membeli dua stan di PBJ kali ini. Di sisi kanan stan, ada rak buku2 jadul dengan kertasnya yang sudah menguning. Ada juga sebuah etalase berisi buku/teks jadul yang bernilai tinggi. Semakin jadul, semakin mahal jadinya.


Jika ingin mengunjungi stan ini di luar bukfer, bisa datang ke Pasar Festival Kuningan, Bekasi Square atau Bekasi Trade Center.

-o-

[24 Juni 2012 pk. 07.50 wib]

Barter Buku

Sebuah buku dari seorang pembimbing di LIPI
"Semoga menjadi penulis yang baik!"

Senang sekali bisa barter buku dengan Bapak. ^_^

LIPI, 21 Juni 2012

Kunjungan ke Penerbit Bukune

Sharing dengan Mba Iwied, editor Bukune yang ramah ^^

Mba Aniek - Mba Elita - Mba Eni - Mba Iwied

dapet oleh-oleh buku ^^


Saya dan teman-teman di komunitas Be a Writer


Kantor Penerbit Bukune,
9 Mei 2012

Annida Versi Cetak


Bisa memegang kembali Annida versi cetak itu rasanya sesuatu banged! ^^b

Cattleya 108,
5 Mei 2012


Cerita di Balik Buku-buku



Alhamdulillah, siang ini akhirnya aku bisa dateng ke Kompas Gramedia Fair bareng Mba Ani. Aku emang udah berencana untuk dateng, tepatnya ke acara launching buku Travel Writing karya Gol a Gong yang jatuh pada hari Sabtu ini. Tapi ternyata ada dorongan yang semakin menguatkan, yaitu voucher belanja senilai Rp 100.000 yang kudapat dari komen iseng di status GPU hari Kamis lalu. Voucher itu hanya berlaku sbt kegiatan KGF berlangsung. Alhamdulillah yah.. ^^

Kejutan Sebelum Berangkat
"Mbak Sari, ada surat!" seru seorang kurir dari depan rumah. Bukan surat ding ternyata, tapi paket buku dari Mizan. Wah, akhirnya buku Rp 2,5 Juta Keliling Jepang-nya sampe juga di rumah. Buku ini kudapat dari kuis di FB Mizandotcom, hoho.. Kuisnya udah lama banget, sejak aku masih di Gorontalo. Tapi hadiahnya baru sampe sekarang setelah si mimin @mizandotcom aku colek terus. ^^v

Tiba di KGF
Aku langsung ke information center di depan gedung Istora Senayan untuk ambil vouchernya. Mba Ani asyik dengerin accoustik nggak jauh dari situ. Setelah voucher di tangan, masuklah kami ke ruang utama, tempat buku2 terbitan Kompas Gramedia berkumpul. Hwaa... Mulai jaga hati, pandangan, dan dompet nih!

Akhirnya aku memboyong 4 buku ke kasir. Mereka adalah:

Travel Writer
Udah ketemu Mas Gong sejak di ruang utama, tapi baru minta tanda tangan pas acara launching akan dimulai.
mas gong (g): untuk siapa?
aku (a) : untuk Ai
g : -nulis untuk Ayu-
a : Aaa... Ai, bukan Ayu T.T
g : ooh. Maaf -huruf Unya dikasih titik, doenk!-
a : eaa.. ai, a-i
g : -kata ayu dicoret, diganti ai. Gubrak!
a : wah, ganti rugi nih! *bercanda
g : gapapalah, soekarno juga suka salah gitu
a : *pasrah*

Gado gado Poligami
dibeli karena ada satu tulisanku di buku itu. Huehehe..

Rahasia Pengantin Baru
dibeli karena pernah janji mau ngreview buku Mba Ela yang satu ini :p

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
dibeli untuk sebuah keterpaksaan..

Semua buku itu disc 25% jadi total Rp 122.000, tapi berhubung ada voucher belanja itu, jadilah aku cukup membayar Rp 22.000 sahaja..

Pertemuan dengan Madre
Saat hendak sholat ashar dan melewati stand mizan, aku melihat Perahu Kertas. Kataku pada Mba Ani, "Aku mendapatkan buku ini dari sebuah lomba. Filosofi Kopi juga kudapat dari seorang kawan. Tinggal menunggu bagaimana pertemuanku nanti dengan Madre." Lalu, ia membalas cepat, "Eh, aku punya Madre dua." Wah!

Aku tak menyangka takdir secepat itu mempertemukanku dengan Madre *lebay*, tapi ketika akhirnya aku mampir ke rumah Mba Ani untuk sholat maghrhb, aku berkesempatan untuk membawa pulang Madre. Syukur alhamdulillah..

***
di balik 3 jendela
3 Maret 2012 pk. 21.58 wib
Hari ini dompetku aman. Pekan depan, saat IBF berlangsung, aku gak janji... :|

Gila Buku?

Semakin tersadar, ketika hari ini ngerasa sebeeel banget mendapati bukuku yang lecek di bagian kavernya. Duh, kok yang minjem nggak dijaga banget sih bukunya? *Agak2 gak tega komplennya coz itu dipinjem kakak sendiri, hehe..

Tapi yah, bukan cuma itu. Entah sejak kapan aku jadi sayaaang banget sama buku2ku. Selalu seneng pas nyampulin buku. Nggak bosen ngomongin buku. Melonjak kegirangan waktu dapet hadiah buku. Trus jadi iriii banget sama orang2 yang banyak baca buku.

Buku buku buku. Aku sih belum menganggap segila itu sama buku. Tapi kayaknya bibit2nya udah ada nih. Hehe..

Dan terima kasih untuk seseorang yang membuatku kembali mencintai buku.

[2 Maret 2012 pk. 21.00 wib]

Membaca Novel

Lihatlah, aku sekarang sedang membaca novel. Asal kau tahu saja, sampai sekarang sebenarnya aku masih belum terlalu suka membaca novel. Aku hanya terpaksa membacanya. Kau tahu, kan? Aku ingin jadi penulis. Aku ingin juga membuat novel. Tapi bagaimana bisa menulis novel kalau tak pernah membaca novel? Pasti aneh!

Dulu sebenarnya kau juga yang menjadi motivatorku untuk membaca novel. Mungkin diksimu apik pun karena hobimu itu. Jadi kuputuskan, aku tak ingin kalah darimu! Kalau kau bisa melahap banyak novel, kenapa aku tidak bisa juga? Lalu kusadari bahwa membaca novel untuk keperluan belajar menulis novel atau karya fiksi lainnya penting juga. Aku lalu tak terlalu peduli sudah seberapa banyak novel yang kau baca, tapi seberapa banyak pelajaran yang terserap dari novel yang kubaca. Dan itu lebih memusingkan.

Ketika membaca bukan hanya sekadar membaca, di sanalah keruwetan bermula. Jangan sampai berlembar2 halaman yang terbaca tak masuk sedikitpun ke dalam otak. Lebih menyedihkan lagi ketika kau tak mampu mengambil hikmah dari novel itu. Setidaknya aku harus bisa melihat gaya bahasa, diksi, poin2 yang membuat novel itu terasa begitu menarik. Analisa yang memusingkan. Haha... Tapi memang harus dibedah seperti itu.

dan sekarang novel yang belum jua selesai dibaca adalah "please look after mom". Yasudah, aku mau lanjut baca dulu. Sampai jumpa di resensi bukunya yaa! ^^b 

[27 Januari 2012 pk. 07.46 wib]

Book of the Day

Aku membawa 5 buku. Segalanya Bagiku, 7 Keajaiban Rezeki, Ranah 3 Warna, Please Look After Mom, dan Flipped. Kupikir buku2 itu akan dengan mudah kulahap selama di sini. Tapi belakangan aku jadi bertanya2. Aku hanya memberatkan isi koperku atau memang aku tak benar2 suka membaca?

Buku SB berisi kumpulan kisah tentang ibu. Beberapa kubaca di dalam pesawat, satu dua kisah kubaca dalam perjalanan, tapi pada akhirnya buku itu kutinggal di Boalemo sebelum aku menuntaskannya. 7KR sudah kubaca di bulan sebelumnya. Ah, tepatnya sampai bab sepasang bidadari. Dan aku memutuskam lanjut baca meski sepasang bidadari belum lengkap kumiliki. Haha.. Dan R3W serta PLAM sudah kubaca juga di bulan2 sebelumnya. Tapi ketika di sini, 2 buku itu benar2 tak tersentuh.

Kupikir aku butuh bacaan yang ringan selama perjalanan mengunjungi pulau2 kecil hari ini (apalagi pulsaku sedang habis), maka kupilihlah Flipped. Hei, aku suka. Maka, kutuntaskan ia dalam waktu sehari.

***
Kwandang,
25 Des 11 pk 23.22 wita
pas

Juli Dan Keberkahan Yang Menyertai

Siapa yang ultah tanggal 2-10 Juli? Ayo merapat ke postingan ini! ^o^

*

Stand Sygma Publishing di Pesta Buku Jakarta, selepas Isya...

"Mas, ini berapa?" tanya Diah pada seorang pria berkemeja biru yang sedang menikmati makan malamnya. Si Mas (yang entah namanya siapa) menghampiri aku dan Diah yang berdiri di depan tumpukan al Quran dengan terjemahan perkata.

"Rp 135.000, Mba. Disc. 20%," katanya. Belum sempat kami memberikan respons atas penawarannya, Si Mas (yang lumayan manis juga ternyata, haha) kembali berbicara. "Ada yang ultah hari ini?"

Wah, ada apa ini? Jangan2 mau ada double discount?

Dan benar saja... "Nanti diskonnya jadi 35%. Kalau buku2 yang di sana jadi diskon 50%," katanya sambil menunjuk ke arah buku2 di sebelah kiri.

Hyaa...

"Adanya sebelum itu.." celetukku.

"Nggak apa2. Yang penting ultahnya antara tanggal 2 dan 10 Juli."

Eeh? Benarkah?

"Saya tanggal 7," balasku sambil menunjuk diri sendiri. Duh, senangnyaaa.. Perasaan bahagia membuatku begitu ekspresif. Mataku pun mulai mengitari buku2 yang berjajar rapi di stand itu. Padahal mah nggak kelihatan apa2 juga. Haha.. Nggak pake kacamata soalnyah!

"Iya, bisa kok. Asal kasih tanda buktinya aja. KTP atau tunjukin info di facebook gitu.." lanjut Si Mas (yang begitu sabar melayani kami -->emang udah tugasnya kalee!)

Waduh. Gawat! Tas yang kupakai itu minimalis banget. Nggak bawa dompet euy! KTPnya tersimpan manis di sana. Maka, kuperiksa tempat HP di dalam tas mini itu. Ada ATM, KTM, STNK, dan SIM (2 kartu terakhir amat penting dibawa oleh seorang pengendara motor). Yeah, alhamdulillah.. Di SIM itu tertera tanggal lahirku. Asik asik, dapet diskon...!

"Ai pilih aja. Diah yang beliin. Emang rencananya ke sini sekalian mau beliin kado buat Ai juga," kata Diah tiba2. Hwaaa... Jamaah, oh, Jamaaaaah..Alhamdu-lillah :D Bumil-D emang baik banget deh! Beberapa teman yang lain juga menawarkan, "Mau kado apa?" atau "Mau buku apa?" Aiih, jazakillah khair yaa sodaria! Padahal mah kalau mau kasih kado nggak harus nunggu momen milad atuh.. *ditimpuk pake semangka! Ouch!

Dan setelah berputar2 memilih judul buku yang menarik, akhirnya aku dan Diah kembali memandang al Quran yang sejak tadi diamati. Lalu, seorang sales perempuan menghampiri kami. "Kalau ultah tanggal 2-10 Juli bisa dapet diskon 35% loh!" katanya.

"Iya, tadi udah dikasih tau sama Masnya (yang masih terlihat segar di malam yang cukup melelahkan ini, halah. :P)

"Kalau gitu, tolong infokan ke teman2nya yaa tentang hal ini."

"Sip.. Sip!"

*

di kasir..

"SELAMAT ULANG TAHUN...!" Si Mbak (yang tak jua kuketahui namanya) memberi ucapan selamat dengan suara yang cukup kencang.

"Bunga ini hadiah buat yang ultah juga?" tanyaku sambil menunjuk setangkai mawar merah yang diletakkan di meja kasir.

"Oh, bukan. Itu hadiah buat saya. Saya ultahnya kemarin."

"Wah, met ultah juga yaa, Mbak."

"Iyaa, karena saya ultah, makanya diadain diskon ini.. Hehe.."

"Hehe.. Iya gitu?" (meneruskan candaan)

"Pokoknya mah yang lahir bulan July itu hebat2!"

"Hehe.. Betul2.."

Dan itulah transaksi buku terakhir kami di malam minggu ini. Kami pun berlalu pergi sambil mengucap terima kasih kepada Mbak SPG, Mbak Kasir, dan tentu saja pada Si Mas berbaju biru itu. Jyah..

*

Maka, nikmat Allah yang manakah yang akan kudustakan?


***
di Balik 3 Jendela,
10 Juli 2011 pk. 00.37 wib
Skenario-Mu selalu menarik, Yaa Rabb! Selanjutnya apa lagi?

Friday, August 10, 2012

Banjir Buku di Bulan Maret

Sepuluh hari yang kulewatkan di Islamic Book Fair 2011 tepatnya di Ruang Kenanga V nyatanya hanya memberikanku kesempatan sehari untuk belanja buku. Selain karena nggak sempat thawaf selama di sana, keuangan juga baru bersahabat di hari terakhir, hoho..

Baiklah, tak perlu berpanjang kalam, berikut daftar buku2 yang kubeli (untuk konsumsi sendiri, untuk orang lain, titipan teman) dan buku2 yang tak perlu merogoh kocek untuk mendapatkannya *seneng *

Konsumsi Pribadi
  1. Menikmati Demokrasi - Anis Matta
  2. Metode CLING...! Semua Materi Biologi SMA - Forum Tentor
  3. Breaking The Time - Satria Hadi Lubis
  4. Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu - Ibnu Qayyim al Jauziyyah
  5. Majalah Tarbawi edisi lama (8 eks)
Buat Hadiah
  1. Majalah Tarbawi Edisi khusus Ayah
  2. Di Jalan Dakwah Aku Menikah - Cahyadi Takariawan
total pengeluaranku untuk buku2 dan majalah di atas adalah Rp 136.000. apakah cukup murah? aku sih merasa banyak buku yang kudapatkan dengan harga spesial. jadi ngerasa belanjaanku sudah cukup menguntungkan dan nggak kalap juga..

Titipan Teman
  1. Inilah Politikku - Muhammad Elvandi
  2. Majalah Tarbawi Edisi khusus Ayah
sebenernya masih banyak yang nitip buku. tapi berhubung budget-nya ga cukup, akhirnya nggak jadi deh. lagipula ai kan sibuk gimanaa gitu yaa?! hoho..

GRATIIIS...!

  1. Warisan Sang Murobbi - Rahmat Abdullah
  2. Aku dan Al Ikhwan Al Muslimun - Dr. Yusuf Qaradhawi
  3. Hadits Aktifitas Sehari-hari - Sulthan Hadi
  4. Sebelum Jauh-jauh Mencari Solusi Perbaiki Sholat Kita - Sulthan Hadi
  5. Majalah Tarbawi Edisi lama (3 eks)
  6. Majalah Tarbawi Edisi khusus Ayah
  7. Majalah Ummi (3 eks)
  8. Majalah Khalifah (atau khilafah yaa? lupa, hehe..)
ternyata banyakan buku gratisannya dibanding yang kubeli sendiri yaa? hihi.. kalau dicermati, semua buku dan majalah (kecuali Majalah Ummi) merupakan terbitan Tarbawi Press.  3 buku pertama hadiah dari Tarbawi. Disuruh pilih sendiri sebenernya, tapi malah bingung mau judul apa. soalnya buku2 Tarbawi bagus2 siih *mulai promosi lagi, heee..*. Buku ke-4 hadiah dari mba uli tapi syaratnya harus dibuat review-nya. hweee...  bisa ga yaa?

untuk majalah yang terakhir itu, yang memberikannya adalah Pak Wortel aka carrotsoup. Dengan sangat semangat ia menawarkan majalah yang didalamnya ada resensi novel Existere yang dia buat. Noraknya, ia memberi tanda dangan di halaman resensi-nya tersebut sebagai syarat jika ingin mendapatkan majalah gratis tersebut. Hahaha... (magz-signing teraneh yang pernah kulihat). *Maaf yaa Pak, majalahnya lupa saya bawa pulang. Gegara ukurannya lebih besar dibanding tas saya, akhirnya disimpen dulu di meja kasir, eh, pas hari terakhir lupa dibawa. tapi saya udah baca kok resensinya. hehehe...

Gagal Dibeli
  1. 7 Keajaiban Rezeki - Ippo Santosa: belum seminggu, bukunya udah abis. hweee.. padahal ini buku yang utamanya ingin dibeli di IBF.
  2. Mati Tersenyum Esok Pagi - Abu El Basier: ditawarin sebelum hari terakhir, tapi ditunda2 belinya. jadilah buku yang tinggal sat2nya saat itu udah ga ada pas mau dibeli :(
  3. Negeri Sukun - Ahmad Fuady: katanya harga buku ini turun drastis. tapi sampai hari terakhir ga sempat mampir ke republika. bahkan ga sempat liat bedah buku tere liye. huhu..
  4. Buku Sakti Menulis Fiksi - Annida: padahal sama Ummi group stand-nya tetanggan tapi malah lupa untuk beli. ga sempat masuk list soalnya..
  5. Bahagianya Merayakan Cinta - Salim A. Fillah: antara mau dan ga mau beli sih. jadi pas cuma dapet disc 20% jadi urung beli. hee..
  6. Keakhwatan 1-4 - Cahyadi Takariawan: pending dulu aah..
Wish List
  1. Shaid al khatir - Ibnu Jauzi
  2. Mendidik Anak Dengan Cinta - Irawati Istadi
  3. Think Dinar! - Isa Alamsyah
  4. Api Sejarah 1 dan 2
ada yang mau beliin? heee... *ngarep*

...

o, ya.. alhamdulillah, ternyata setelah jatuh bangun ikut lomba QN ala Tobie, akhirnya menang juga dengan kategori peserta yang paling semangat dan pantang menyerah. aiih, semangka gitu looh! *narsis!*

berarti, aku bakal dapet tambahan 7 buku lagi dari Mba Arie. belum tau sih judul bukunya apa aja. moga sesuai dengan yang kutulis di wish list. hoho..

***
Margonda,
15 Maret 2011 pk. 12.04 wib
inget, buku untuk dibaca lalu diamalkan, Ai.. *jlebph!

It's All About Our Skripsweet

buku-buku di Perpustakaan Burung Indonesia
 
selasa dan kamis pekan ini..
ke Bogor bersama dua orang kawan..
mengumpulkan lagi kepingan semangat untuk menyelesaikan skripsi yang sempat terlupakan
(hehe,,gomen yah!)
mendapat banyak cerita (banyak bangeeet!)
dan sedikit oleh-oleh berupa foto yang ditangkap oleh kamera sederhana..
 
Ira, Om Bima, and me
 
bahagia? tentu saja!
i love my skripsi..
because skripsi is sweet ^_^

*semoga begitu hingga akhir perjalanan menuju balairung itu :p
 
my concern ^^
 [16 Oktober 2009 pk. 13.49 wib]