Hontou ni, saya pecinta buku gratisan. Dan betapa bahagianya saya karena di toko buku Leksika Kalibata City saya bisa berkesempatan mendapatkan buku gratis *syarat dan ketentuan berlaku* :D
Secara singkat saya jelaskan bahwa Leksika KC setiap hari membagikan buku gratis dengan judul tertentu sebanyak kurang lebih 30 buku. Pembagian buku tersebut dilakukan dalam dua tahap, pk. 13.00 dan pk. 19.00. Nah, di antara dua waktu tersebut, sesi malamlah yang paling mendebarkan. Jika buku gratisnya bagus, best seller, atau harganya mahal, freebook hunter-nya juga makin banyak :P. Jangan harap deh bisa mendapatkan buku gratis kalau kalian baru dateng ke tobuk itu pk. 18.30 wib.
Tapi, do you know, kapan Perang Diponegoro berlangsung? *apa hubungannyaaa?? XD
Kalo dalam edisi lucu-lucuannya sih Perang Diponegoro berlangsung ketika waktu maghrib. Heheh... Tapi kalau pertanyaannya diajukan sekarang, jawabannya bisa nggak tepat. Karena jam 6 sorepun adzan maghrib udah selesai berkumandang *ini kenapa masih juga bahas Diponegoro? #gagalfokus ^^v
Udah ketemu benang emasnya belum?
Begini. Yang paing mendebarkan buat saya jika harus mengantri buku gratis di sesi malam adalah soal waktunya yang berdekatan dengan waktu maghrib. Kalau misalnya selesai menunaikan shalat maghrib pk. 18.30, maka kemungkinan besar ketika tiba di Leksika, jatah buku gratis sudah habis --kecuali bukunya emang kurang bagus jadi mau dateng jam tujuhpun masih masuk antrian 3 besar-- Ini belum termasuk dilema kalo ternyata kajian sebelum isya'-nya menyajikan tema yang bagus --emang bagus2 terus sih, huhu, jadi seringnya malah gagal ngantri freebook.
Dan judul note ini sebenarnya berkaitan dengan cerita yang baru akan saya jelaskan setelah prolog yang entah kenapa jadi sedemikian panjang ^^a
Hari ini saya aslinya memang ada rencana ke Kalibata City untuk suatu keperluan. Lalu ketika mengecek timeline@leksika_kc *yang udah di-bookmark #naiatbangetkan :P*, saya memutuskan untuk ambil "jatah" buku di Leksika KC pada sesi malam ini. Tiba di Kalibata City pk. 17.30, saya lantas dudukduduk dulu di depan gerai Hop Hop Bubble. Ke Leksika nanti saja, jam enam lewat biar nggak dikira pengen banget sama buku gratisan XD. Tepat pk 18.00 ketika saya memasuki areal toko buku kecil itu, saya dikejutkan oleh antrian freebook hunter yang mengular.
Masih satu jam lagi dan saya sudah ada di urutan ke-13, sodara-sodara!!
Segera saja saya whatsapp-an dengan seorang kawan yang kemungkinan mau mengambil "jatah" juga. Sambil menunggu jarum panjang di angka tujuh, saya mengobrollah dengan kawan saya itu. Saya awalnya menceritakan keheranan saya, "Ini 2 cowok di depan gw sholatnya gimana yak?"
"Itulah. Kayaknya sampai bikin orang nggak sholat deh!" balas kawan saya.
Waduh, ngeri banget! Di antara 15 pengantri, laki-lakinya hanya 2 orang. Oke, kalau yang perempuan, saya menganggap mereka semua endometriumnya sedang meluruh, seperti saya :P. Nah, buat yang laki-laki, saya akhirnya milih untuk husnudzon kalau mereka itu mungkin nonmuslim. Yaa amannya begitu aja dah! :D
Tapi kemudian pk. 18.20, ada seorang perempuan yag berdiri dan "izin" sholat ke bapak penjaga antrian. Si Bapak bilang dia nggak boleh kemana2. Peraturannya kalau sudah antri maka nggak boleh meninggalkan antrian, kecuali merelakan antriannya untuk diisi yang lain. Bingunglah si perempuan. Saya yang menyaksikan hal itu juga ikutan panik. Bagaimanakah akhir kisahnya? #halah
Si perempuan kemudian mencoba nego. Bapak penjaga aslinya nggak bermaksud melarang2 orang sholat. Itu tentu hak Si Mba. Bapak Penjaga cuma kasih tahu konsekuensi yang akan ia dapat kalau Si Mba memutuskan untuk pergi. Si Mba pun galau lagi.
Ya Allah.... saya khawatir banget kalau Si Mba lebih milih memperjuangkan buku seharga Rp 69.000 ini dibandingkan menunaikan kewajibannya T-T
Untungnya seorang anak kecil yang sedang bacabaca di kids corner mau diperbantukan untuk menjaga "tempat duduk" Si Mba sementara ia pergi sholat. Alhamdulillah....
.
.
.
Dan di detikdetik sebelum pukul tujuh malam, seorang wanita berjilbab beserta anaknya menghampiri lelaki di depan saya. "Sampai jam berapa sih, Pah?" tanyanya.
Loh? Dia istrinya? Jadi suaminya muslim juga dong? Jadi? Jadi?
Sembari berjalan ke kasir, saya memperhatikan pasutri itu. Kenapa sang istri nggak menggantikan posisi suaminya agar pasangannya tersebut bisa sholat dulu? Yah, mesti hal ini sebenarnya melanggar aturan juga, tapi kan lebih baik sholat toh? Eh, nggak ding, harusnya istrinya aja yang antri karena kalo diperhatikan istrinya pun nggak sholat juga pas waktu maghrib itu.
Bukankah baik istri atau suami harus saling menasehati untuk meraih ketakwaan?
Atau jangan-jangan suaminya memang nonmuslim?
Lah, piye toh? ini jelasjelas lebih nggak diperbolehkan lagi!! X_X
.
.
.
di balik 3 jendela,
14 Mei '13 pk. 23.25 wib
moga ada pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini :)
















*




