Tampilkan postingan dengan label Motifasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motifasi. Tampilkan semua postingan

Kata-Kata Ku Buat Mu IBU

Jumat, 24 April 2009

Ibu…




Ini adalah tulisan yang sangat indah.

Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah

Jangan tergesa. Ini adalah harta karun

Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah

Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi

Bagi para ibu, kamu akan mencintainya


Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.

’Apakah jalannya jauh?’ tanyanya.

Pemandunya menjawab: ’Ya, dan jalannya berat.

Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini...

Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.’





Tetapi ibu muda itu sedang bahagia.
Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik daripada tahun-tahun ini.
Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka

Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.

Matahari bersinar atas merekad an ibu muda itu berseru:

‘Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.’


Lalu malam tiba bersama badai.
Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan.

Ibu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantelnya.

Anak-anak itu berkata: ’Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat.

Tak ada yang dapat menyakiti kami.’

Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka.
Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah..
Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya:
’Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.’ Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.

Saat sampai di puncak, mereka berkata: ’Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.’

Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata:
’Hari ini lebih baik daripada yang lalu karena anak-anakku sudah belajar daya tahan

menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian.
Hari ini saya memberi mereka kekuatan.’


Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.

Awan perang, kebencian dan kejahatan.
Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.

Ibunya berkata: ‘Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.’

Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi

yang menuntun mereka melalui kegelapan.

Dan malam harinya ibu itu berkata: ’Ini hari yang terbaik
karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.




Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.
Ibu menjadi tua, kecil dan bungkuk.
Tetapi anak-anaknya tinggi, kuat dan berjalan dengan gagah berani..
Saat jalannya sulit, mereka membopongnya.
Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat
sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.
Ibu berkata: ’Saya sudah sampai pada akhir perjalananku.
Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.
Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak mereka ada di belakang mereka.’





Dan anak-anaknya menjawab: ”Ibu selalu akan berjalan bersama kami...
meskipun ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.’
Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri...
dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.
Dan mereka berkata: ”Kita tak dapat melihat ibu lagi tetapi dia masih bersama kita.”
Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan. Ia senantiasa hadir dan hidup.





Ibumu selalu bersamamu….

Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan.

Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci.

Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.

Ibumu hidup dalam tawa candamu.

Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.

Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.

Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu/

Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.

Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.


Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!


Teruskan pada semua ibu dan anak-anak yang kau kenal.

Semoga kita tidak pernah mengabaikan begitu saja ibu kita…


Teruskan juga pada para laki-laki…. Karena mereka juga punya ibu.

Kumpulan Puisi Penyemangat

Sadari (Tak Bisa Kau Terbang Sendiri)

Sekian lama pedih itu kau simpan
Menahan beratnya berjalan sendiri
Dalam kehampaan

Sekian kali kau merasa sepi
Sekian peluh kau tanggung sendiri
Masih adakah sedikit bahagia dalam hatimu

Akankah kau terbang sendiri dengan sayapmu
Menahan beratnya beban di pundakmu
Akankah kau mampu membawa itu semua
Ke dalam mimpimu

A little hope that we believe
Will make much miracles in our life
Percayakan pada semua yang menjagamu
Percayakan hatimu pada diriku

Di sini kita berbagi
Mencari sebuah jalan lain dari kehampaan ini
Aku akan terbang bersamamu
Agar ku bisa menahan peluh di hatimu

Akankah tetap kau terbang sendiri dengan sayapmu
Melalui harimu yang penuh sepi
Sanggupkah kau bertahan selamanya
Di dalam mimpimu

A little hope that we believe
Will make much miracles in our life
Sadari bahwa kau tak bisa terbang sendiri
Melintasi mimpi hidup di dunia ini

Bersama kita lalui
Bersama kita lewati
Leave all the pain
And make our life beginning

End The Rain

Di tengah gelapnya hujan
Menghambat langkahmu
Engkau terdiam… Larut dalam kebekuan

Jangan pernah engkau menyerah
Jangan pernah engkau merasa sendiri
Karena aku akan ada di sana
Aku adalah bagian dari jiwamu

Tak peduli seberapa jauh ku telah melangkah
Ku kan kembali untukmu
Yakinlah kita akhiri bersama hujan ini

Meski harapan itu sangat kecil
Atau bahkan tak lagi ada dalam logika
Berjalanlah terus walaupun kan terjatuh berulang kali
Mulai langkahmu dari awal
Bangkitlah… Awali hidup baru

Tak peduli seberapa besar ku kehilangan waktu
Ku kan ada untukmu
Karena kita adalah satu

Jangan biarkan langkah kita terhenti oleh hujan ini
Bersama kita mengakhiri hujan
Menuju bias pelangi…
Menuju cahaya terang…
Di ujung harapan

Self Titled

Ku ingin setia bersamamu
Beraikan semua noda yang merusak indahmu
Kembalilah dalam mimpimu
Saat kau buka mata
Dari pilunya malam yang gelapkan hatimu
Selimuti dirimu dalam tidur lelapmu

Cinta Seorang Ibu

Jumat, 17 April 2009

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya

Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi

Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”

Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba

Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat

Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya

Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya.

Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu
karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini

Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita..

Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang t ida k bisa dinilai dengan apapun

There is a story living in us that speaks of our place in the world

It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves

Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati
Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan

Gunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar kembali


Kisah Pemimpin

Jumat, 13 Maret 2009

Tangan Umar gemetar mende-ngar kata-kata Abu Bakar itu, seakan ia kejatuhan bara yang menyala. Abu Ubaidah menutup mukanya dan menangis dengan rasa malu yang sangat. Umar bin Khaththab lalu berteriak, “Demi Allah, aku lebih suka dibawa ke depan lalu leherku ditebas walau tanpa dosa, daripada diangkat menjadi pemimpin suatu kaum dimana terdapat Abu Bakar.”

----------

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) wafat, kaum Mus-limin segera mencari pengganti untuk melanjutkan kepemimpinan Islam. Ketika itu Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu (RA) memegang tangan Umar bin Khaththab RA dan Abu Ubaidah bin Jarrah RA sambil mengatakan kepada khalayak, “Salah satu dari kedua orang ini adalah yang paling tepat menjadi khalifah. Umar yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang dengannya Allah memuliakan Islam dan Abu Ubaidah yang dikatakan Rasulullah sebagai kepercayaan ummat ini.”

Tangan Umar gemetar mende-ngar kata-kata Abu Bakar itu, seakan ia kejatuhan bara yang menyala. Abu Ubaidah menutup mukanya dan menangis dengan rasa malu yang sangat. Umar bin Khaththab lalu berteriak, “Demi Allah, aku lebih suka dibawa ke depan lalu leherku ditebas walau tanpa dosa, daripada diangkat menjadi pemimpin suatu kaum dimana terdapat Abu Bakar.”

Pernyataan Umar ini membuat Abu Bakar terdiam, karena tidak mengharapkan dirinya yang ditunjuk menjadi khalifah. Dia menyadari dirinya sangat lemah dalam mengendalikan pemerintahan. Tidak setegas Umar dan tidak sebijak Abu Ubaidah.

Tapi akhirnya pikiran dan perasaan semua orang terarah kepada Abu Bakar. Karena dialah sesungguhnya yang paling dekat, ditinjau dari berbagai aspek, untuk menduduki jabatan khalifah yang teramat berat ini.

Setumpuk alasan dapat dikemukakan untuk menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah. Dialah orang yang dianggap paling dekat dengan Rasulullah SAW dan paling kuat imannya, sesuai pernyataan Nabi, “Kalau iman seluruh ummat Islam ditimbang dengan iman Abu Bakar, maka lebih berat iman Abu Bakar.”

Maka terangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Nabi SAW. Saat pertama kali Abu Bakar menginjakkan kaki di mimbar Rasulullah, ia hanya sampai pada anak tangga kedua dan duduk di situ tanpa berani melanjutkan ke anak tangga berikutnya, sambil berpidato, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku diangkat menjadi pemimpin kalian, tapi aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat kesalahan, maka luruskanlah aku. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat di sisiku, hingga aku berikan hak kepadanya. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika aku durhaka, janganlah kalian taat kepadaku.”

Sang khalifah berusaha menjaga wibawa kepemimpinan. Tapi dalam kedudukannya sebagai seorang pemimpin dia berusaha meyakinkan orang yang di bawah kepemimpinannya bahwa jabatan adalah amanah yang menuntut tanggung jawab, bukan penguasaan. Pengu-asa adalah satu orang di antara ummat, bukan ummat dalam satu orang. Abu Bakar tidak mengi-nginkan karena jabatan, dia jadi jauh dengan ummat. Sebaliknya, dia ingin semakin dekat dengan mereka. Terhadap ketentuan Nabi dia menyatakan, “Saya lebih rela diterkam serigala daripada mengubahnya.”

Demikianlah gambaran ketegangan yang terjadi pada waktu pemilihan jabatan khalifah. Semua orang menolak jabatan, padahal kapasitas para sahabat sangat memadai untuk memegang kekuasaan.

***

Ketika Abu Bakar wafat, Umar bin Khaththab disepakati tampil sebagai pengganti. Umar yang memegang amanah selama dua dekade (10 tahun) lebih 6 bulan dan 4 hari, berhasil menggurat sejarah yang mengubah peta dunia.

Lelaki perkasa yang digambarkan kekuatannya saat menentang Islam di zaman jahiliyah sama dengan kekuatan seluruh kaum Quraisy, telah tampil dengan perkasa pula di zaman Islam membela kebenaran, membayar dosa-dosa jahiliyahnya.

Dia larutkan dirinya dalam pengabdian mewujudkan pemerin-tah yang bersih dan bertanggung jawab. Kontrolnya berjalan efektif, sehingga seluruh rakyatnya tidak ada yang luput dari perhatiannya.

Ketika penduduk pinggiran kota kena paceklik, Umar sendiri yang memikul gandum di pundaknya, lalu mengantarkan ke rakyatnya yang tengah dilanda kelaparan. Lalu penduduk itu segera dipindah-kan ke kota untuk mempermudah pemantauannya.

Suatu malam, kota Madinah kedatangan kafilah yang membawa barang dagangan. Diajaknya Abdurrahman bin Auf menemani penjaga kafilah itu semalam suntuk. Tapi tidak jauh dari tempat kafilah itu ada bayi yang selalu menangis, tidak mau diam. Umar berulangkali menasihati, bahkan memarahi ibunya, karena tidak dapat mendiamkan anaknya.

Ibu sang anak itu lalu berkomentar bahwa, “Inilah kesalahan Umar, karena hanya anak yang tidak menyusui yang diberi tunjangan, sehingga anak yang usianya baru beberapa bulan ini terpaksa saya sapih.” Umar sangat terpukul mendengar kata-kata ibu itu.

Ketika menjadi imam shalat Shubuh, bacaan ayatnya tidak jelas karena diiringi tangis. Usai shalat, Umar langsung mengumumkan bahwa seluruh anak kecil mendapat tunjangan dari baitul mal, termasuk yang masih menyusu.

Tegas dan Sederhana

Prinsip ketegasan dan kesederhanaan dipegang kuat oleh Umar. Para gubernur yang bertugas di daerah cukup kewalahan dengan sikap itu.

Pernah ‘Amru bin Ash, gubernur yang sangat berjasa menaklukkan Mesir, diberi hukuman cambuk karena seorang rakyat Mesir melapor bahwa dirinya pernah dipukul sang gubernur. Orang yang melapor itu sendiri yang disuruh memukulnya.

Pernah juga Abdulah bin Qathin, seorang gubernur yang bertugas di Hamash, dilucuti pakaiannya lalu disuruh menggantinya dengan baju gembala, kemudian disuruh menggembala domba beberapa saat. Sebelumnya ada yang diperintahkan membakar pintu rumahnya, karena salah seorang rakyatnya bercerita setelah ditanya oleh Umar tentang keadaan gubernurnya. Dia menjawab, “Cukup bagus, hanya sayangnya dia mendirikan rumah mewah.”

Kemudian gubernur itu disuruh memasang kembali pintunya dan dipesan, “Kembalilah ke tempat tugasmu tapi jangan berbuat demikian lagi. Saya tidak pernah memerintahkan engkau memba-ngun rumah besar,” tegas Umar.

Sebaliknya, terhadap gubernur-nya yang sederhana, Umar sangat sayang. Seperti yang dilakukannya terhadap Sa’ad bin Al-Jamhi yang diprotes rakyatnya karena selalu terlambat membuka kantornya, tidak melayani rakyatnya di malam hari dan tidak membuka kantor sehari dalam seminggu. Itu dilaku-kan karena Sa’ad tidak memiliki pembantu sehingga dia membantu istrinya membuatkan adonan roti. Nanti setelah adonan itu mengembang, barulah berangkat ke kantor.

Sa’ad tidak melayani rakyatnya di malam hari karena waktu itu digunakan untuk bermunajat dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sengaja tidak membuka kantor sehari dalam seminggu kecuali di sore hari karena ia harus mencuci pakaian dinas dan menunggu hingga kering.

Kalau di zaman sekarang, model kepemimpinan seperti ini mungkin dianggap tidak efektif. Orang menyebutnya manajemen tukang sate, yakni harus mengiris daging sendiri, menusuk sate, dan membakarnya sendiri.

Tentu letak perbedaannya ada pada pola pikir dan cara pandang. Para sahabat Nabi sangat takut terhadap pertanggungjawaban di akhirat. Sekecil apapun persoalan ummat menjadi perhatiannya. Berbeda dengan kebanyakan kepemimpinan saat ini dengan prinsip yang penting ada pembagian tugas, lalu pandai membuat laporan. Tidak peduli laporan itu fiktif atau bukan. Ditambah dengan lemahnya kontrol dan pemantauan, maka dimana-mana terjadi penyelewengan.

Sungguh dapat kita bayangkan seperti apa nasib negeri kita kalau orang-orang yang duduk di puncak kekusaan memiliki orientasi berpikir seperti itu. Sangat mengerikan.

Sungguh tidak keliru bila ummat di zaman kini kembali berkaca kepada kesederhanaan sahabat. Alangkah mulianya pribadi Umar bin Khaththab yang membuat peraturan untuk para gubernurnya:

1. Jangan memiliki kendaraan istimewa

2. Jangan memakai pakaian tipis (halus dan mahal harganya)

3. Jangan mengkonsumsi makanan yang enak-enak

4. Jangan menutup rumahmu bila orang memerlukanmu

Semua itu dimaksudkan agar para gubernur dapat merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat yang dipimpinnya.

Semoga pemimpin di negeri ini dapat merenungi beratnya tanggung jawab memegang amanah rakyat. Bila tidak, bisa jadi akan diadili oleh mahkamah sejarah. Lebih menge-rikan lagi tuntutan tanpa pembela di mahkamah akhirat nanti.* (Manshur Salbu/Hidayatullah).

Cerita Tentang Persahabatan

Minggu, 25 Januari 2009

Hari ini aku mengingat masa-masa itu

Pada awal kita menginjakan kaki di ITS

Kawan-kawan pertamaku

Saat kita bertemu di sebuah Welcome Party

Saat kita dimarahi OC di TC Garden

Masa-masa indah dan masa-masa kebodohan kita

Aku masih ingat saat kita pagi-pagi nyari susu sapi di Ngagel

Saat kita malam-malam nyari baju hitam

Saat kamar tidur Chiman yang kecil itu penuh seperti ikan pindang

Saat Kario ngebut jam 2 pagi ke Sinar Bintoro

Saat Dede’ ngebut dari Ngagel ke TC

Saat kita berdebat, bertengkar dan dilakukan di depan SC

Aku juga masih ingat saat-saat itu,

Saat kita TPB di Tekkim

Saat kita ngobrol dengan anak-anak jurusan lain

Saat kita nemenin Huda yang masih patah kaki

Jalan dari Tekkim ke TC

Aku juga ingat saat-saat itu,

Saat kamp neraka di kebun Purwodadi

Saat kita dipressing anak-anak kecil

Saat aku harus jalan di jembatan yang terus goyang

Saat kita harus make baju yang sama selama 3 hari 3 malam

Saat kita nyeburin OC ke kali

Aku juga masih ingat saat-saat itu

Saat kita membagi nasi bungkus ke anak jalanan

Aku masih ingat senyum di wajahnya

Saat kita berikrar untuk melakukan ini setiap tahun

Untuk menyentuh kehidupan anak jalanan itu

Walau hanya sebatas buka puasa

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita praktikum bersama

Saat Surya dan Adi dengan sabar ngasih tutorial

Saat kita mencari baceman yang bersliweran

Saat kita takut-takut melobi asisten

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita nggarap TC Cup

Saat Dana pontang-panting

Saat Teman-teman menjadi ballboy

Saat aku jadi IP abadi

Saat kita ingin menghajar senior yang seenaknya sendiri

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita bekerja bersama di Hima

Saat nggeruduk Primagama

Saat kita menyusuri Surabaya mencari SMU

Saat roadshow di SMU

Saat pontang-panting ngerjain seminar wireless

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita bermain dengan api politik

Saat kita dengan bangga menyatakan sebagai HMTC-P

Saat kita berani bertindak beda

Saat dendam itu mengalir, dan mengatakan kita beda

Tapi benarkah kita berbeda?

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita mengkader gundul-gundul penerus kita

Saat kita marah-marah di tengah panas

Saat kita harus madamin api di Poltek Elka

Saat kita kamp melawan debu dan panas

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita kembali bermain politik

Saat kita terpecah dan berperang

Mencari pemimpin HMTC

Luka yang terus berdarah

Sampai perang terbuka di OpenTalk

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita jadi penikmat kamp 2004

Saat aku diperas ke Pak Soleh

Saat aku diperas lagi di Cuban Talun

Saat kita harus nunggu truk yang baru datang jam 10 malam

Saat kita baru sampai jam 1 pagi di TC

Saat kita langsung nggeletak tak berdaya di Hima

Aku juga ingat saat-saat indah itu

Saat cangkrukan di TA

Saat kita gitaran dan nyaingin pengamen di sana

Saat kita makan di Pecel Pucang

Saat kita makan di Pecel Bioskop

Saat kita jalan-jalan ke kampus ‘D’

Saat nyari jus jam 3 pagi

Saat muterin Surabaya malam-malam

Saat-saat nyari hadiah buat temen yang ultah

Saat kita berdebat tanpa ujung dan akhirnya kembali ke selera asal

Saat kita melakukan ritual kita di TP, Es Monas di Pujasera

Aku ingat guyonan-guyonan kita saat itu

Guguk yang perut karung

Huda yang selalu tidur waktu pulang

Dan Chiman yang selalu milih jalan rusak biar Huda bangun

Hain dengan Cak Iwannya

Selera Luckham soal Irba

Knip yang dipanggil Gunmodsum

Hendra yang ganti nama jadi Fauzan

Aku masih ingat saat kita jalan-jalan ke Kediri

Saat kawinannya mas Ajun

Saat bingung dengan petunjuk arah penduduk

Saat mas Kamal nabrak orang

Saat kita mendengar kutipan mas Khol

“Jangan salahkan magnet yang ditempeli besi”

Aku juga ingat saat-saat itu

Saat kita dibantai waktu main AOE

Saat diskusi-diskusi postgame

Saat kita cangkrukan di Hima

Saat kita menimba ilmu dari para senior kita

Saat kita diprovokasi membentuk HMTC-P

Saat aku ngabisin 2 minggu buat namatin Dragonball GT

Saat kita muak ndengerin “Berhenti berharap” yang diputer mas Khol

Saat komputer kita mendobrak dominasi 99

Saat komputer kita mendominasi Hima

Saat komputer kita mulai tergusur

Oh, masih banyak memori itu

Tak terucapkan, Begitu berharga

Hal-hal sepele, hal-hal penting

Saat-saat kebersamaan kita

Semoga saat-saat indah itu terus terkenang

Dan persahabatan kita kekal sampai kita tua nanti

(sumber : http://dnial.wordpress.com/2006/05/01/cerita-tentang-persahabatan/)

(di ambil hari Minggu Tanggal 25 Januari 2009 jam 05.25 WIB)

Abdul Haris Heryani, S.Pd. Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip

Categories