Showing posts with label syair. Show all posts
Showing posts with label syair. Show all posts

14 September 2018

senja

lekas-lekas kubingkai masa
di pipimu yang mewarna senja
di rindu yang diam-diam merona

09 August 2018

sebuah definisi

kau memiliki kehangatan aroma segelas kopi
menyegarkan saat pagi menyemi, menyemangati ketika matahari meninggi, dan menemani senja yang mulai memerah di pipi

31 July 2018

my favorite notification


how can you become a distraction when all I do a whole day is waiting a notification from you.

27 June 2016

Jiwa

I have already found a male version of me long years ago. I may have just found a female version of me in you.

25 October 2015

Standup Comedy di Pagatan


kulirihkan padamu
sedikit kaku
lima tahun
maukah kau menunggu?

kau mengangguk
kupikir
aku tak tahu pasti
aku bahkan tak berani menatapmu

kita bertemu lagi
wajahmu bersemu
ini baru lima bulan, kau setengah tak percaya
kita masih bocah belia

kumohon pikirkan sejenak
jika sekarang aku meminangmu
itu karena Allah sayang
itu karena Allah, Sayang
(Kijang Mas, Pelaihari 2015)

Dalam dua jam pertama perjalanan dari Pelaihari menuju pantai Pagatan, suasana di dalam bis masih sumringah. Semua penumpang masih tertawa, disusupi tiupan angin yang menampar wajah. Kami masih sempat berselfie ria menggunakan tongsis yang baru saja dibeli Haerul, khusus untuk mendokumentasikan perjalanan menuju pagatan.


Lambat laun, perjalanan semakin membosankan. Tiupan angin sudah mulai terasa membara. Kalau saja tak ada wanita di dalam bis, sudah saya tanggalkan pakaian karena gerah. Pemandangan sepanjang perjalanan tak lagi hijau. Kemarau menyebabkan rumput-rumput liar menjadi kerontang. Hal ini diperparah dengan debu-debu yang berterbangan menutupi hampir seluruh tanaman-tanaman liar hingga tampak berwarna kecoklatan.

Apalagi kalau sudah memasuki wilayah Sungai Danau. Aroma batubara menusuk hidung, tanah-tanah kering dan berdebu. Tidak ada lagi keindahan yang dapat kau saksikan sepanjang perjalanan. Tanah dan bukit kering menghitam di sepanjang pertambangan batu bara. Area tambang sendiri tidak jauh berkelang antara satu dengan yang lain.

Setelah lima jam perjalanan, rombongan KPPN Pelaihari akhirnya tiba di penginapan yang berada persis menghadap pantai. Saya sekamar dengan Hifni, anak baru penempatan di KPPN Pelaihari. Kesempatan besar untuk mencekokinya dengan pemikiran-pemikiran saya.

Pantainya sendiri tidak begitu indah. Masih sekelas dengan pantai batakan yang ada di Pelaihari. Air laut di sepanjang pantai cenderung kecoklatan. Namun dibandingkan batakan, ombak di pagatan lebih besar dan hantamannya tentu jauh lebih kuat. Disaat seperti ini, jiwa kekanakan saya sering  muncul. Saat gulungan ombak datang, kadang saya menjadi Goku yang sedang mengeluarkan kamehame. Kadang menjadi Chinmi yang sedang berlatih kungfu peremuk tulang.

Saat malam keakraban, para peserta diminta maju untuk memberikan performance masing-masing. Ada yang beracapela, ada yang berkaraoke, ada juga yang bercerita mengenai pengalaman saat penempatan pertama. Saya sendiri saat diminta maju, bingung mau ngapain. Akhirnya saya beranikan diri melakukan standup comedy, dengan cerita yang saya dapat saat mendengarkan Almarhum K. H. Zainuddin, MZ ceramah mengenai santri, lebah dan Al-Mukarromnya.

Itu  adalah untuk pertama kalinya saya melakukan standup comedy. Rasanya ngeri-ngeri sedap cuy! Entah lucu atau tidak. Ada juga teman-teman yang tidak berani karena takut tidak lucu. Saya berani. It's not because I'm over confidence, It's because I am arrogant. Lagi pula menurut saya, pelawak paling lucu adalah pelawak yang tidak lucu. Jadi tak ada salahnya bukan?

Ternyata keberanian saya melakukan standup comedy mendapat apresiasi dari atasan. Peserta yang berani maju dalam acara keakraban diberi hadiap berupa sebuah mug dan wadah makanan. Lumayan buat ngopi!

06 June 2012

Mahar

Sudah kusiapkan permintaan maharmu
Tujuh gram cincin emas, sayang
Tanda kasih yang akan manis melingkar di jarimu

Jangan khawatir, sayang
Kau berhak dan aku mampu

Dua gram untuk kita, katamu
Sebab tujuh adalah sebab kau mau sedikitnya lima anak
menyandang namaku di belakang namanya.

Yang pertama meyakini dua kalimat syahadat
( yang benar-benar mematuhi Allah sebagai satu-satunya Tuhan serta meyakini kenabian Muhammad, sayang
bukan yang menghamba uang dan menjadikannya setara Tuhan,
juga bukan yang menyaksikan Tuhan namun menjadikan setan sebagai panutan )

Yang kedua menjaga sholat
( bukan mereka yang sholat lalu setelah selesai sesama muslim mereka umpat )

Yang ketiga menunaikan zakat
( tentu saja dari harta yang halal,
bukan berzakat hanya untuk menutupi aktivitasnya merampok uang rakyat )

Yang keempat mengerjakan puasa
( agar ketika menjadi pemimpin, ia akan mendahulukan kepentingan mereka yang kelaparan )

Yang kelima melaksanakan haji
( yang ku maksudkan disini mabrur, sayang
bukan untuk sekedar gelar di depan nisan )

Amboi indahnya mimpimu, sayang
Namun beratnya bagi kesungguhanku

Persiapkan saja mahar itu, katamu
Soal anak-anak kita - andai jadi kusunting kamu -
Biar Tuhan yang menilai,
Biar Tuhan yang menentukan,
Adakah kita mampu.

(Gara-gara bca puisi Ikhtiar)

29 May 2012

Jangan Begitu

Jangan begitu,
Aku tak kata cinta
Bukannya tak mau
Aku tak sanggup
Malu,
Melihat wajahmu bersemu

Jangan begitu,
Aku tak ucap sayang
Bukannya tak ingin
Gugup,
Melihat bibirmu mengatup

Jangan begitu,
Aku tak bilang suka
Bukan tak hendak
Gemetar,
Melihat matamu menghujam

Panas terik begitu menyengat
Membuat pipimu merah
Kumaki diri dalam hati betapa bodohnya
Kau tepis
Senyum mengembang, masih dengan pipi yang merah
Tidak, katamu, aku senang


Aku terpaku
Membeku kaku
Hingga puluhan tahun berlalu


Cinta kurasa
Akan terus begitu

01 September 2010

hening

hening,,,
hari-hari yang kulalui tanpa tawamu
tawa yang biasanya karena aku
atau setidaknya menurutku
hei,,, jangan mentertawakan aku
karena itu kamu
satu-satunya hati tempat aku menitipkan raga
atas nama Allah aku melabuhkan cinta
namun saat ini aku menggenggam rindu
seindah bola mata ketika engkau menatapku
sementara aku simpan
dan akan aku kembalikan padamu
utuh
karena aku tau
kamu akan membalas
lebih dari yang bisa aku berikan padamu

Beberapa waktu yang lalu saya nonton tipi. abis magrib. ppt 4. pas iklan, saluran saya ganti-ganti. pengen liat acara lain. mentok di saluran yang nayangin KCB persi sinetron. Biasanya saya lewatin juga. Tapi kemudian saya pantengin lebih lama. Soalnya pas di adegan saat ustadz Ilyas mau ngebacain puisinya Husna. Jadi pengen liat. Secara dah lama juga ga bikin syair.

Ternyata puisinya indah. Menurut saya. Jadilah saya termotivasi buat bikin syair. lagi. Kondisi juga sedang memungkinkan. Sedang jauh dari istri. Saya biasanya cuma bikin syair kalo sedang ada rindu. Dihati. Kalau tidak ada rindu saya bukan ga mau. Tapi ga bisa. Jadilah syair diatas. Yah tolong jangan mual ya, apalagi meneteskan air mata.




hehehehehehe....