Tampilkan postingan dengan label brainstorming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label brainstorming. Tampilkan semua postingan

Jumat, Januari 20, 2017

Mental Anak Kos : Tahan Lapar

​Ini adalah hari ketiga dimana setelah maghrib saya menghabiskan waktu hanya dengan bengong menatap televisi yang bahkan tidak saya nyalakan. Sendirian pula. Ya, sendirian, karena ada keperluan mendesak,  istri dan anak saya masih berada di kampung halaman sampai tulisan ini dibuat. Saya jadi bujang lokal. Meskipun istilah ini sebenarnya lebih mending ketimbang bujang lapuk. 

Disini, saya sibuk menghabiskan waktu mikirin menu untuk makan pagi, siang, malam. Mikirin menu makan sungguh sangat memusingkan. Banyak tuntutan : harus ada protein, sayur, dan karbo yang cukup. Sambal, karena manusia Indonesia tidak bisa lepas dari sambal. Padahal harga cabe naik, tetep aja dicari. Beda kalo harga sempak naik, masih bisa dibalik. 

Plus buah, supaya tidak berakhir dengan sembelit. 

Akibat hidup terlalu manja -menggantungkan perut pada masakan istri setiap pagi, siang dan malam-, mental anak kos-kosan yang dulu sempat saya pupuk ketika menuntut gelar Sarjana Ekonomi di Undip perlahan sirna. 

Dulu, saya mampu hidup dengan makan 2 kali sehari, hanya dengan lauk yang sama : satu butir telur dibagi dua, setengah untuk pagi, sisanya untuk malam. Untuk sensasi 'kemewahan', cukup ditambahkan kecap dan saus sambal botolan. Syukur-syukur bisa beli kerupuk. 

Mlempem pun tidak apa-apa. Jangan ditanya bagaimana nikmatnya. Asal tidak sakit maag, itu saya sudah Alhamdulillah banget.

Mental anak kos sebenarnya identik dengan mental survival, apalagi mendekati akhir bulan. Ketika kiriman uang dari uang tua sudah menipis-atau bahkan habis. Pilihannya adalah berhemat atau ngutang. Ngutang bisa dikatakan pilihan paling hina, karena dua hal. Pertama, tidak semua orang bisa diutangin, apalagi warung-warung makanan. Tatapan sinis dari penjual, antara mengejek atau takut tidak dibayar, bisa menghancurkan harga diri. Kedua, karena saking banyaknya utang, kita bahkan gak tau berapa utang kita atau kita udah ngutang sama siapa saja. Apes jika ternyata pas kita minta utangan, ternyata kita lupa udah utang pada orang yang sama dua kali. Dan belum dibalikin duitnya pula.

Berhemat adalah pilihan yang logis bagi anak kos. Maka tidak heran, ketika jadi anak kos terlihat kerempeng, namun ketika sudah bekerja menjadi gemuk. Ya, maklum, namanya juga menikmati jerih payah. 

Namun tampaknya, hal tersebut tidak berlaku bagi presiden kita. Entah kenapa dari jaman mahasiswa sampai jadi presiden kok malah kerempeng terus. 

Terlalu banyak cerita. Sampai lupa mau makan apa. Ahirnya, saya memutuskan untuk menyantap makanan selera Indonesia yang luar biasa bergizi : Supermie. 

Alamat besok sembelit lagi. 

Rabu, Januari 04, 2017

Panggilan

​Tujuh belas tahun berdiam di lereng gunung merbabu, turun gunung menuju kota yang didirikan oleh Pangeran Pandan Arang. Mencari bekal disana selama empat tahun. 

Ada petualangan  yang memanggil. Tanah Sunda merayu saya untuk datang dan meminta  untuk tinggal. Dua setengah tahun. Memang tidak lama, tapi kenangannya masih berbekas sampai sekarang. 

Dari tanah Sunda, singgahlah saya sebentar sekedar menikmati Cotto dan Palu Basa. Enam bulan saja. 

Karena Borneo memberikan undangan. Jelajahi. Sampai ke ujung. Sampai kamu puas. Tawarannya tak bisa ditolak. 

Lima setengah tahun. Sampai kemudian, datanglah panggilan lain. Dari kota yang terendap lumpur. 

Kali ini, Jawa Timur menunggu saya

Salatiga.... 

Maaf, meskipun sungguh saya ingin pulang dan mendekapmu, petualangan saya masih belum boleh berakhir. 

Setidaknya, bukan di Jawa Timur.

Karena, saya ingin awal dan akhir yang sama. Memulai darimu dan mengakhirkan semua di kamu. Lalu, saya akan punya banyak kisah untuk diceritakan. 

Jumat, Desember 23, 2016

Lampu Merah, Berhenti atau Mati

diambil dari sini

Sempak adalah umpatan yang relatif sopan ketika lampu lampu lintas perempatan berwarna hijau, kamu mau lurus, tapi tiba-tiba dari arah kirimu ada motor nikung mau belok kanan.

Umpatan lain yang masih dalam batas wajar adalah Asu tenan! Meskipun sopan, jika kamu ngumpat ketika sedang memboncengkan ibumu, bisa dipastikan bibirmu dislomot ke knalpot oleh ibumu sendiri.

Kolaborasi antara mental nekad dan SIM nembak, hampir selalu menimbulkan kecelakaan. Plus dibarengi dengan kesadaran berlalu lintas yang setipis pembalut wanita membuat jalan raya Indonesia ibarat arena bunuh-bunuhan. Terserempet, tertabrak, terlindas, atau terserempet-tertabrak-kemudian terlindas. Yang terakhir ini, sungguh beruntung jika wajahnya masih bisa dikenali.

Seandainya Indonesia punya hukum tembak ditempat untuk pengguna lalu lintas yang ugal-ugalan.

*)ditulis setelah kejadian ibu-ibu nerobos lampu merah di perempatan dan hampir aja nabrak saya

diambil dari sini

Kamis, Desember 22, 2016

Pribumi, Tanpa Embel-Embel

"Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! ~Soekarno


Lama-lama, saya gerah juga lihat tulisan-tulisan tak bermoral yang menyebut pribumi-non pribumi. Apalagi disebarkan oleh media jurnalistik online abal-abal, tanpa redaktur, tanpa editor, bahkan tanpa wartawan. Kerjaannya : copy paste berita, plintir-plintir, bikin judul bombastis, kalau perlu pakai tanda tanya-biar sok-sok ambigu.

Pribumi atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa bukan pendatang dari negeri lainnya. Pribumi bersifat autochton (melekat pada suatu tempat). Secara lebih khusus, istilah pribumi ditujukan kepada setiap orang yang terlahir dengan orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut. ~wikipedia



Sejak Tahun 1998, Pemerintah Indonesia telah menghentikan istilah pribumi dan non pribumi melalui sebuah Instruksi Presiden.

Diktum Kedua Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi Dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, Ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan (“Inpres 26/1998”), maka pejabat penyelenggara pemerintahan wajib untuk memberikan perlakuan dan layanan yang sama kepada seluruh WNI dalam penyelenggaraan layanan pemerintahan, kemasyarakatan dan pembangunan, dan meniadakan pembedaan dalam segala bentuk, sifat serta tingkatan kepada WNI baik atas dasar suku, agama, ras maupun asal-usul dalam penyelenggaraan tersebut.

Lah, ini kok sekarang kita kembali ke zaman penjajahan dulu. Zaman ketika masyarakat Indonesia sengaja digolongkan oleh kolonial Hindia Belanda demi tujuan politis.

Istilah "Pribumi" sendiri muncul di era kolonial Hindia Belanda setelah diterjemahkan dari Inlander (bahasa Belanda untuk "Pribumi"), istilah ini pertama kali dicetuskan dalam undang-undang kolonial (Reglement Regering) Belanda tahun 1854 oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk menyamakan beragam kelompok penduduk asli di Nusantara kala itu, terutama untuk tujuan diskriminasi sosial.

Pasal 163 Indische Staatsregeling (IS) adalah sebuah pasal yang mengatur pembagian golongan dihadapan hukum pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Pasal ini baru berlaku sejak Indische Staatsregeling mulai berlaku pada tahun 1926 sebagai pengganti Reglement Regering . Pasal ini secara ringkas menjelaskan bahwa  Belanda menanamkan sebuah rezim segregasi (pemisahan) rasial tiga tingkat; ras kelas pertama adalah "Europeanen" ("Eropa" kulit putih); ras kelas kedua adalah "Vreemde Oosterlingen" ("Timur Asing") yang meliputi orang Tionghoa, Arab, India maupun non-Eropa lain; dan ras kelas ketiga adalah "Inlander", yang kemudian diterjemahkan menjadi "Pribumi". Sistem ini sangat mirip dengan sistem politik di Afrika Selatan di bawah apartheid, yang melarang lingkungan antar-ras ("wet van wijkenstelsel") dan interaksi antar-ras yang dibatasi oleh hukum "passenstelsel". Pada akhir abad ke-19 Pribumi-Nusantara seringkali disebut dengan istilah IndonesiĆ«rs ("Orang Indonesia").

Sekarang, di Tahun 2016 ini, masih ada teriak-teriak pribumi non pribumi. Mau balik ke zaman kolonialisme, mas?

Atau jangan-jangan sampeyan itu yang penjajah?

Kasus penistaan agama kemarin, sebenarnya cukup sebagai kasus penistaan saja. Saya sendiri sepakat kasus tersebut memang harus digiring ke ranah hukum, karena -menurut saya- unsur penistaan agamanya jelas kok.

TAPI!

Saya tidak setuju dengan sebagian orang yang memperkeruh sehingga menyinggung masalah ras. Parahnya lagi, dari yang sebagian ini, kemudian malah jadi semakin besar gara-gara tindakan provokatif, amoral, menyebarkan berita-berita tidak benar, memecah belah masyarakat Indonesia.

Bedebah.

salah satu demo paling ga jelas. diambil dari sini


Sampai sekarang, Whatsapp dan feeds Facebook saya masih dibanjiri pernyataan dan istilah provokatif : ancaman non pribumi, pemimpin KTP non pribumi, apalah.

Seharusnya istilah pribumi-non pribumi ini dipakai dalam kondisi yang tepat.

Misalnya :

RIBUAN TURIS DARI PLUTO RAMAIKAN OM TELOLET OM

ULTRAMAN KUASAI USAHA PENGHANCURAN GEDUNG

Barulah, kita manusia Bumi mulai terancam. Nasib pribumi terancam oleh pri-planet lain.

Tetapi, sesungguhnya yang paling seram adalah : ketika pribumi, dikuasai oleh primata.

*)tulisan ini dapat dibaca di https://adapapadisini.wordpress.com/


Sabtu, Desember 17, 2016

(Memilih) Dijajah Medsos



"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."



Indonesia, tidak bisa lepas dari sejarah panjang kolonialisme. Dijajah, diperbudak, bersatu, berjuang, kemudian merdeka. 
gambar diambil dari sini

Era kolonialisasi Eropa atas Nusantara dimulai pertama kali pada Tahun 1511 ketika pelaut kenamaan Portugis, Afonso de Albuquerque, berhasil menaklukkan Malaka. Penaklukan Malaka ini, menjadi awal Portugis merajai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa melalui monopoli perdangangan cengkeh di Ternate (1512). Pada rentang waktu yang tidak terlalu jauh (1521), Spanyol datang ke Tidore. Kedatangan Spanyol ini, membuat Portugis meradang, karena dianggap melanggar Perjanjian Tordesillas (1494). Kemudian timbulah perselisihan diantara keduanya. Untuk mengatasi perselisihan tersebut, maka ditandatanganilah Perjanjian Saragosa (1529) dengan isi perjanjian adalah Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kegiatan di Filipina dan Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku.

Tahun 1596, Cornelis De Houtman, pelaut Belanda, menginjakkan kaki di Banten. Kemudian, 2 tahun setelahnya, Jacob Van Neck, pelaut Belanda lain, kembali datang ke Banten. Kedatangan bangsa Belanda ini, menjadi cikal bakal berdirinya Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), sekaligus menjadi awal sejarah panjang penjajahan Belanda di Indonesia.
gambar diambil dari sini

Masa panjang penjajahan Belanda, kemudian berganti dengan penjajahan oleh bangsa Jepang (1942-1945) seiring dengan berlangsungnya Perang Dunia II. Masa penjajahan Jepang, dapat dikatakan, masa paling terburuk dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Rakyat Indonesia saat itu mengalami siksaan, hukuman mati, atau terlibat dalam perbudakan seks.

Dan kemudian, penjajahan yang sedemikian panjangnya itu berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika Soekarno-Hatta, atas nama bangsa Indonesia, memproklamirkan kemerdekaannya.



Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaannya....



Tujuh dasawarsa kemudian.

Kebutuhan pokok manusia Indonesia mulai bergeser : sandang, pangan, papan, smartphone dan akun media sosial.

Media sosial, adalah segala jenis media komunikasi  yang terhubung dengan internet yang memungkinkan setiap orang untuk berbagi informasi. Ya, berbagi informasi. Semua informasi. Tapi, seperti kata ilmuwan komputer terkenal, Newton Lee,  



“Information is power. Disinformation is abuse of power.”


Wikipedia mengartikan, Disinformation  is intentionally false or misleading information that is spread in a calculated way to deceive target audiences. Intentionally ini kalau kita artikan dalam bahasa Indonesia, adalah "dengan sengaja".


Jadi, ketika seseorang dengan sengaja menyebarkan informasi yang tidak benar atau salah, menurut Newton Lee, maka ini termasuk penyalahgunaan kekuasaan.

Sekarang, coba kita lihat fakta yang ada di lapangan:

Facebook, perlahan mulai menjadi sarana bagi pihak, yang menurut saya -brengseknya luar biasa jahat-, untuk menyebarkan informasi yang bahkan kebenarannya nihil. Mereka melihat, keragaman Indonesia, selain menjadi kekuatan, bisa menjadi kelemahan yang vital. Isu SARA disebarkan, dimulai dari menyudutkan ras-ras tertentu, agama tertentu. Entah mau menguasai Indonesia lah, mau menghancurkan tempat ibadah lah, pokoknya, yang penting sebar saja kebencian.

Lalu, seperti api yang disulut pada tumpukan jerami, dengan cepat segera membesar. Saling hina, saling sikut, merasa semuanya benar, padahal berawal dari hal yang salah. Media sosial menjadi sarana yang sangat efektif. Bikin saja judul yang provokatif, lalu segera saja tersebar di feed Facebook. Judul saja, tidak perlu isi. Karena memang tren sekarang adalah share, baca nanti saja. Meskipun, kalian bikin judul "Nenek Diperkosa Minta Lagi" padahal isinya jualan pulsa, orang-orang lebih tertarik buat share. 

Atau ketik "Amin". 

Bhinneka Tunggal Ika, terancam menjadi dongeng.

Sadarkah, taktik ini pernah digunakan penjajah untuk meruntuhkan Nusantara.


Merupakan politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.
adu domba woi! bukan domba kawin! gambar dipinjam dari sini

Rupanya bangsa Indonesia sekarang, masih belum belajar dari sejarah.

 
Kemarin dijajah negara ini, sekarang lebih memilih dijajah media sosial.